How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00144. La dernière demande du voyageur temporel (Permintaan terakhir sang penjel



00144. La dernière demande du voyageur temporel (Permintaan terakhir sang penjelajah waktu)


“Apa sekarang Anda merasa takut karena bicara dengan seorang pembunuh?”


Dengan santai dan gamblang, pemilik wajah baby face yang dapat menipu siapa pun itu melontarkan pertanyaan pada lawan bicaranya. Seolah-olah kebenaran yang baru saja ia ungkapkan tidak memiliki bobot sama sekali.


“Saya Charteris Killian de Meré telah membunuh saudara kembar saya sendiri, Chatarina Kannelite de Meré pada kehidupan sebelumnya. Saya masih mengingat dengan jelas bagaimana cara saya menghabisi nyawanya dengan cepat dan tepat.”


Lawan bicaranya tampak masih terpaku dengan tubuh membeku. Siapa juga yang tidak terkejut jika mendengar ungkapan pembunuhan secara gamblang. Pria bernama lengkap Charteris Killian de Meré itu bukan psychopath, kan? Ia hanya seorang penjahit yang memiliki banyak ide cemerlang. Namun, bagaimana bisa ia dengan gamblang mengungkapkan kejahatan yang dibawa dari kehidupan sebelumnya?


“Saya belajar teknik pedang khusus dari algojo professional yang berasal di Prancis dua tahun lamanya. Semua itu saya lakukan—“


“Cukup!” potong Kayena dengan kedua tangan menutup daun telinga. “Aku tidak mau lagi mendengar cerita kelam dari masa lalu.”


“Kenapa, Yang Mulia?” Killian masih menampilkan raut wajah tenang. Terkadang diselingi seringai jenaka. Seolah apa yang ia muat dalam topik pembicaraan ini tidak mengerikan sama sekali. “Saya hanya ingin menyampaikan kebenarannya. Anda tidak perlu merasa takut, karena saya hanya bertindak keji pada orang-orang yang keji.”


“Jadi, menurutmu Katarina dan ayah kalian termasuk orang keji?”


“Benar.” Killian menjawab dengan tegas. “Mereka membunuh orang-orang tidak bersalah karena mengejar ambisi yang tidak ada habisnya. Saya tidak mau diam saja melihat mereka bahagia di atas kesengsaraan orang lain. Mereka memang pantas mendapatkan hukuman.”


Killian berkata demikian bukan karena tidak lagi memiliki kasih sayang. Justru karena perasaan tersebut ia sempat terperdaya, kemudian harus menghadapi kenyataan jika wanita yang dicintai meregang nyawa karena ulah ayah dan kembarannya. Ia sangat menyayangi kembarannya, namun perasaan tulus itu malah dimanfaatkan. Pada akhirnya, ia memilih untuk membelot ketika posisi ayah dan adiknya sudah terdesak.


Pada kehidupan kali ini—lima tahun sebelum kejadian kelam di masa lalu—Killian telah menemukan banyak perubahan semenjak mengetahui bahwa wanita yang ia cintai di masa lalu mendapat kesempatan istimewa untuk mengulang kehidupan.


Bersama dengan kesempatan yang diberikan, ada tindakan perbaikan yang harus dilakukan. Namun, perlu diingat bahwa setiap tindakan perbaikan yang bertujuan untuk mengubah nasib—takdir di masa lalu—agar menjadi lebih baik, ada konsekuensi yang harus ditanggung. Contoh kecilnya, di masa lalu pada masa yang sama dengan saat ini, Chatarina Kannelite de Meré masih menduduki posisi sebagai wanita paling beruntung di Robelia. Sedangkan pada masa kini, banyak yang telah terjadi, sehingga hubungan antara Chatarina Kannelite de Meré dengan Raja Robelia merenggang lebih cepat.


Efek dari tindakan Kayena yang berusaha keras untuk memutus benang merah antara dirinya dan Kaizen pun membuat peristiwa besar di masa lalu terulang lebih cepat, contoh terbongkarnya identitas orang tua Katarina, yaitu Archduke Klautviz de Meré Karla Kannelite. Padahal pada masa lalu, identitas Katarina sebagai anak Archduke Klautviz de Meré Karla Kannelite baru akan terbongkar setelah Kayena melahirkan anak ke-tiga.


“Saya bukan merasa bangga pernah menjadi seorang pembunuh. Tetapi saya merasa harus melakukannya, demi mewujudkan perdamaian dan menghentikan ketamakan mereka.”


Sampai detik ini, Kayena yang menjadi lawan bicara Killian tidak memberikan banyak respon. Killian paham dengan keterkejutan Kayena. Jadi, ia tidak mengharapkan balasan apa-apa ketika bercerita, karena memang niatnya ingin menyampaikan kebenaran tersebut.


“Pada kehidupan ini, Anda telah berjuang keras untuk sampai di titik ini,” ucapnya kemudian, bersamaan dengan gemercik angin yang membelai daun-daun kuning kemerahan di sekitar. “Saya juga telah menyelesaikan sebagian tugas saya pada kehidupan ini,” lanjutnya. “Saya ikut bahagia untuk pernikahan dan kehamilan Anda.”


“Bagaimana kamu bisa tahu?” Kayena bertanya dengan pendar mata tidak percaya.


“Tentu saja yang bisa dengan mudah mengetahuinya, karena pada kehidupan sebelumnya saya telah melewati banyak peristiwa selama berada di sisi Anda, termasuk peristiwa empat kehamilan Anda. Saya masih ingat betul, di mana pada kehamilan terakhir, Anda selalu meminta dibawakan bunga sweet pea.” Killian bercerita dengan pendar mata hanya tertuju pada Kayena. Objek paling menonjol di matanya. “Bunga yang melambangkan kesenangan atau kebahagiaan itu rupanya memiliki arti lain sebagai cara yang ideal untuk mengucapkan selamat tinggal.”


Kayena mulai terpengaruh. Ingatan dari kehidupan sebelumnya sedikit demi sedikit merasuki kepala, membenarkan ucapan Killian.


“Sekarang ada Pangeran Kaezar yang akan selalu menemani Anda selama masa kehamilan, proses melahirkan, hingga membesarkan malaikat kecil itu bersama-sama. Anda tidak butuh ksatria tidak tahu diri seperti saya lagi.”


Kayena menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca. “Aku berhutang budi padamu di kehidupan sebelumnya. Berhenti bicara omong kosong.”


Killian mengangguk seraya tersenyum tipis. “Saya juga ingin membagi sebuah rahasia kepada Anda. Selama saya menjelajahi dimensi waktu, hanya ada satu nama wanita yang terus mengisi hati saya. Nama yang terus abadi, walaupun saya tahu tidak akan pernah bisa memilikinya.”


Senyum itu masih berkembang ketika Kayena menatapnya dengan air mata yang mengalir. Tidak ada yang terucap dari bibir ranumnya, tetapi ia tahu betul siapa yang dimaksud oleh Killian.


“Maaf.”


“Untuk apa? Anda tidak pernah bersalah untuk apa pun yang berkaitan dengan saya,” jawab Killian cepat. “Berbahagialah bersama Pangeran Kaezar yang sangat tulus mencintai Anda. Dia adalah pria yang rela memberikan segalanya agar bisa bersama Anda.”


Kayena mengangguk dengan kedua tangan meremas bagian samping bawahan gaunnya. Setelah berhasil mengendalikan emosi, ia menatap Killian dengan air mata yang telah diseka. “Kamu juga, belajarlah untuk mencintai wanita selain wanita itu. Hiduplah bersama wanita yang dapat mencintai kamu sama besarnya.”


“Baik. Saya akan mencari wanita seperti itu dalam pengembaraan,” balas Killian dengan suara yang tetap hangat dan ceria seperti biasa.


“Hiduplah dengan baik, Killian. Jangan lagi terbelenggu oleh masa lalu. Kamu berhak hidup bahagia, terlepas dari apa yang terjadi di masa lalu.”


“Anda juga. Pergilah ke tempat yang sangat jauh. Tempat di mana hanya ada kebahagiaan bersama keluarga kecil Anda.”


Lagi, Kayena mengangguk seraya tersenyum kecil. Ia pasti akan mengejar kebahagiaan bersama pria yang tepat pada kehidupan ini. Tidak ada lagi alasan untuk melihat ke belakang, apalagi terbelenggu oleh masa lalu. Semua yang terjadi di masa lalu, biarlah berlalu. Kini waktunya mengisi lembaran baru.


“Boleh saya minta satu hal kepada Anda?”


“Apa yang kamu inginkan? Jika bisa, aku pasti akan memberikannya.”


“Hanya sebuah pelukan,” jawab Killian tanpa pikir panjang. “Tetapi jika Anda merasa keberatan dengan permintaan saya, cukup pegang tangan—“


“Maaf, Killian,” potong Kayena dengan tangan kanan yang telah meraih tangan kiri lawan bicaranya. Ia juga telah maju beberapa langkah, sehingga jarak yang tersisa di antara mereka hanya setitik. “Ada hati yang harus aku jaga. Hanya ini yang bisa aku berikan,” lanjutnya dengan kepala tertunduk di depan dada bidang sang penjelajah waktu.


Killian memejamkan mata seraya membuang muka. Untuk sesaat, ia membiarkan mereka bertahan dalam posisi tersebut.


“Terima kasih.”


Killian kembali buka suara setelah membalas genggaman tangan wanita yang dicintainya dari waktu ke waktu. Merasakan hangat tangan kecilnya untuk pertama dan terakhir kalinya.


“Ini adalah pengalam pertama dan terakhir yang membuat saya merasa begitu dekat dengan Anda,” lanjut Killian seraya menunduk. Dari jarak ini, ia bisa melihat keseluruhan visual cantik wanita di hadapannya. Hatinya yang gersang, kini terasa kembali sejuk.


Angin yang berdesir pelan, membelai dengan kasih sayang. Membiarkan sepasang anak Adam itu mengukir momen untuk pertama dan terakhir kalinya di kehidupan ini. Kedepannya, mereka telah memiliki tujuan masing-masing untuk membuka lembaran baru.


Sementara itu dari arah berlawanan, tiga orang pria yang tadi menyingkir untuk mendiskusikan sesuatu telah kembali. Langkah lebar mereka sesekali diselingi oleh obrolan terkait keputusan untuk mempercepat kepulangan.


“Keberadaan Kayena telah diketahui oleh Raja Tiran itu. Kita harus bergegas pergi dari sini. Selain itu—“


Cesare yang tadinya fokus pada topik utama obrolan mereka, tiba-tiba berhenti melangkah karena kakak serta calon adik iparnya juga berhenti.


Tidak mendapat respon, Cesare lantas melirik calon adik iparnya yang diam saja dengan ekspresi biasa; flat alias datar. Lalu, pandangnya berpindah pada sang kakak yang juga tampak biasa saja, datar tidak berekspresi. Tubuh kekar keduanya saja yang otomatis membeku.


“Kenapa kalian hanya diam saja melihat kembaran si itik buruk rupa beraksi dengan sangat berani? Kalian tidak mau menjauhkannya dari kesayangan kita?”


Melontarkan pertanyaan lagi, kali ini ada jawaban dari salah satunya. “Tunggu dan lihat bagaimana Kayena menyelesaikan masalah yang belum selesai di antara mereka.”


Cesare melipat tangan di dada pasca mendengar respon sang kakak. Sebenarnya bukan perkara besar yang mereka lihat, hanya momentum yang bisa dibilang cukup intim untuk sepasang anak manusia yang tidak memiliki hubungan dekat. Namun, momentum itu juga tidak berlangsung lama.


Setelah saudara kembar dari si itik buruk rupa bicara beberapa patah kata, ia kemudian meninggalkan Kayena begitu saja. Tidak sampai sepuluh detik, Kayena pun berbalik dan berjalan menjauh. Ketika wajahnya mendongkrak, pandangannya secara otomatis bertemu dengan tiga orang pria tampan yang sudah menunggunya.


Senyum hangat Kayena mengembang begitu saja, membuat ke-tiga pria itu didera rasa lega, akan tetapi mereka masih bisa dengan jelas melihat jejak air mata.


“Kalian sudah kembali rupanya.”


Itu adalah kalimat sambutan ketika Kayena mendekat dengan senyum yang masih mengembang di bibir. Secara otomatis, ia mengambil posisi di samping kekasihnya.


“Kamu sudah selesai bicara dengan ke-dua kakakku?”


Anggukan kepala diberikan sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut. Tangan kekarnya kemudian terulur guna membuat sebuah tautan tangan. “Kita akan pulang lebih cepat.”


“Kenapa tiba-tiba jadwal kepulangan kita dimajukan?” tanya Kayena dengan rasa bingung. “Ada sesuatu yang terjadi?”


“Ya,” balas Kaezar seraya menjatuhkan satu kecupan di pucuk kepala sang kekasih. Tindakan yang bukan saja mengejutkan kekasihnya, tetapi kedua kakak dari kekasihnya juga. Namun, ia tidak peduli. Ia hanya ingin meredam gejolak yang sempat timbul di hati.


“Raja Robelia mengirim mata-mata ke Kekaisaran Astoria.” Cesare akhirnya ikut buka suara. “Sekarang Raja Tiran itu sudah mengetahui keberadaan kamu sekaligus pengangkatan Kaezar sebagai Pangeran Kwang Min. Tidak menutup kemungkinan juga jika dia telah mengetahui soal kondisi kamu yang sedang mengandung.”


Mendengar informasi tersebut, Kayena tentu saja terkejut. Secara alami salah satu tangannya mendarat di permukaan perut. Seolah-olah tengah melindungi kehidupan yang baru saja tumbuh di dalamnya. Perasaan gelisah yang tiba-tiba ia rasakan, disadari pula oleh kekasihnya. Terbukti dari tindakan pria itu yang ikut menenangkan lewat tangan kekarnya yang mendarat di permukaan yang sama. Memberitahukan pada malaikat kecil mereka jika ada dirinya yang siap pasang badan.


“Selain itu, saat ini Robelia sedang dilanda krisis internal yang disebabkan oleh pemberontakan. Ada kemungkinan jika Raja Tiran itu akan menunda keputusan untuk mengejar kamu, karena masalah ini. Oleh karena itu, kita harus menggunakan kesempatan sebaik mungkin.”


Cesare kembali memberikan alasan yang harus membuat mereka segera angkat kaki dari Astoria. Khayansar juga sudah membicarakan rencana kepulangan mereka yang dipercepat pada Kaisar Astoria. Bagaimanapun juga sang Kaisar Astoria telah berjasa besar dalam melindungi Kayena. Tidak mungkin mereka langsung pergi begitu saja, tanpa adanya diskusi terlebih dahulu. Apalagi saat ini Kaezar adalah bagian dari Kekaisaran Astoria.


“Kaezar, antarlah Kayena kembali ke kamar kalian. Dia sudah cukup beraktivitas di luar raungan hari ini,” perintah Cesare tiba-tiba. “Wanita yang sedang mengandung di usia muda sangat rentan mengalami keguguran. Kayena harus istirahat yang cukup dan jangan terlalu banyak pikiran.”


Cesare melanjutkan seraya berjalan ke arah sang adik. “Istirahatlah dengan tenang. Jangan memikirkan apa pun. Kami yang akan mengurus masalah kepulangan.”


Kayena hendak menyuarakan suara, namun Khayansar sudah lebih dulu menengahi. Kakak sulungnya itu setuju dengan ucapan Cesare yang lebih berpengalaman dalam menangani wanita hamil. Jadi, saran apa pun yang keluar dari mulut Cesare dianggap sebagai pelajaran yang diambil dari pengalaman pribadi.


Pada akhirnya, Kayena tetap dibawa kembali ke paviliun tempat tinggal barunya bersama Kaezar. Sedangkan Khayansar dan Cesare berpisah dengan mereka. Kedua putra Grand Duke Pexley itu berencana untuk bicara secara langsung pada Kaisar Kwang Sun yang belakangan tengah menyibukkan diri dengan tugas kenegaraan.


“Istirahatlah. Dengarkan perkataan Kakak ke-dua.”


Tiba di tempat tujuan, Kaezar langsung memperingati sang kekasih yang masih enggan untuk diam.


“Hari ini pasti melelahkan untuk kamu. Jadi, istirahatlah, Rein.” Kaezar kembali berkata seraya menunjuk tempat istirahat mereka dengan sorot matanya.


“Aku akan istirahat nanti saja. Saat ini aku sedang—“


“Rein,” potong sang kekasih dengan suara lembut. “Perasaanku sedang tidak nyaman,” adunya tiba-tiba.


“Kamu pasti terkejut karena informasi yang datang dari Robelia.” Kayena akhirnya mengambil jarak supaya mereka semakin dekat. “Bagaimanapun juga Robelia adalah tanah kelahiran kita. Jika ada bahaya yang mengancam Robelia, kita juga pasti akan merasa cemas.”


“Bukan itu saja yang membuat perasaanku tidak nyaman.” Kaezar semakin mempersempit jarak di antara mereka. Tebakan sang kekasih memang benar, sebagian rasa cemasnya disebabkan oleh informasi terkait Robelia. Selebihnya diakibatkan oleh masalah pribadi.


“Apa sebelumnya hubungan kamu dengan pria itu dekat?”


Kayena sempat kebingungan ketika kekasihnya bertanya demikian seraya menjatuhkan wajahnya di bahu. Bersamaan dengan itu kedua lengan kekarnya melingkar di sekitar pinggang.


“Maksud kamu Killian?”


“Hm.”


Kayena yang sempat dibuat cemas oleh informasi yang datang dari Robelia, langsung merasakan perubahan mood ketika sang kekasih menjawab pertanyaannya dengan jujur dan teramat singkat. Ia tersenyum ketika menyadari jika pria berjuluk Elang Muda Kekaisaran itu tengah merajuk. Atau mungkin tengah cemburu?


“Dia adalah penjahit berbakat dan pemilik toko busana yang sempat ramai diperbincangkan oleh wanita kalangan bangsawan ibu kota Robelia,” jawab Kayena seraya membelai rambut hitam legam milik kekasihnya dengan lembut. “Hubungan kami dimulai dari kesepakatan kerjasama antara penyedia jasa jahit pakaian dengan pihak yang membutuhkan jasa tersebut. Tidak ada yang spesial dalam hubungan kami. Pria bodoh itu juga sempat salah paham dan berpikir pendek—mengira Killian itu simpananku. Tetapi aku tegaskan sekali lagi, tidak ada apa-apa di antara aku dan Killian.”


Kaezar tidak merespon. Namun, Kayena bisa merasakan kecupan lembut di area perpotongan bahu dan leher. Diam-diam ia tersenyum seraya terus membelai rambut hitam legam kekasihnya dengan penuh kasih sayang. “Tidak perlu berpikir yang aneh-aneh, karena hatiku sudah memilih kamu. Bahkan kehidupan yang belum lahir dari perutku pun sudah memilih kamu.”


“Hm.”


Itu adalah respon dari kekasih Kayena yang membuat wanita cantik itu menyunggingkan senyum kian lebar.


“Kalian memang milikku,” tambah Kaezar kemudian dengan tangan kian mengeratkan rengkuhan di pinggang Kayena. Sedangkan si empunya hanya bisa tertawa kecil sembari meng-iyakan. Ia baru sadar jika kekasihnya juga bisa posesif.


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 27-08-23