How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00117. Une dette irremplaçable (Hutang budi yang tak terganti)



00117. Une dette irremplaçable (Hutang budi yang tak terganti)



Hutang budi merupakan sesuatu yang tidak dapat dibayar dengan harta, bagi keluarga Kwang yang merupakan keluarga kekaisaran Astoria. Mereka yang lahir dengan marga Kwang selalu memenuhi janji, serta membalas budi dengan setimpal. Jika mereka tidak dapat memenuhi atau membalasnya tepat waktu, maka keturunan mereka akan diberi tanggung jawab untuk memenuhi janji atau balas budi dari masa lalu. Begitu pula perihal hutang budi pada Raja Carl Clausewitz of Icrea—kakek Kaezar of Icrea.


Di masa lampau, keluarga Kwang belum sempat membalas budi Raja Carl Clausewitz of Icrea setelah membantu Kaisar Astoria sebelumnya—suami dari nenek Kaisar Kwang Sun. Pada kesempatan berikutnya, ayah Kaisar Kwang Sun juga tidak membalas kebaikan Raja Carl Clausewitz of Icrea, karena pada masa pemerintahannya, kerajaan Icrea sudah mulai mengalami kemunduran yang diakibatkan oleh perebutan wilayah kekuasaan dengan Robelia. Selain itu, kerajaan Icrea juga mendapat pukulan bertubi-tubi, dikarenakan sekutu yang selama bertahun-tahu membantu, tiba-tiba ikut berkhianat.


Sekarang, nenek Kaisar Kwang Sun masih diberi umur sehingga berkesempatan untuk berjumpa dengan garis keturunan Raja Carl Clausewitz of Icrea. Keiza of Icrea adalah putri semata wayang dari Raja Carl Clausewitz of Icrea. Raja Carl Clausewitz of Icrea diketahui hanya memiliki satu orang istri—sempat dikabarkan memiliki selir hingga mistress atau wanita simpanan—kendati demikian, hingga kerajaan Icrea mengalami keruntuhan, tidak ada lagi keturunan Raja Carl Clausewitz of Icrea yang muncul, kecuali Keiza of Icrea yang harus menjalin pernikahan politik dengan Raja Robelia, yaitu Klein Alexander Kadheston.


“Mereka berdua akan segera melangsungkan pernikahan.”


Nenek Kaisar Kwang Sun kembali mendapatkan kesadaran, setelah cucunya kembali bersuara. Perlahan namun pasti, ia mengalihkan pandangan dari sang cucu ke Kaezar dan Kayena. Ia tidak pernah menyangka jika selama ini cucunya hanya menjaga jodoh orang lain. Di tambah lagi, “orang lain” itu adalah garis keturunan terakhir dari Raja Carl Clausewitz of Icrea, di mana ia pernah berjanji; jika masih diberi kesempatan untuk bertemu keturunan Raja Carl Clausewitz of Icrea, maka ia akan membalas budi serta kebaikan di masa lalu. Nenek Kaisar Kwang Sun juga akan mengangkat garis keturunan terakhir dari Raja Carl Clausewitz of Icrea sebagai bagian dari keluarganya sendiri, bahkan jika berjenis kelamin perempuan, ia memiliki rencana untuk menjadikannya menantu di keluarga Kwang.


“Kamu adalah putra dari Putri Keiza?” tanya nenek Kaisar Kwang Sun dengan suara yang hampir tercekat.


Kaezar sendiri belum dapat mencerna alasan dibalik keterkejutan nenek sang Kaisar, ketika mengetahui identitas keluarganya dari pihak ibunya. “Benar. Keiza of Icrea adalah ibu saya,” jawabnya kemudian.


“Jadi, Putri Keiza sempat melahirkan seorang putra sebelum meninggal dunia?”


Kaezar mengangguk. “Setelah dilahirkan, saya dikirim ke Robelia. Ibu saya meninggal dunia pasca persalinan.”


Mengetahui jika sang kekasih tidak baik-baik saja ketika memori tentang ibunya diulik, kini giliran Kayena yang memberikan dukungan lewat genggaman tangan di antara mereka. Ketika Kaezar menoleh kepadanya, ia tanpa sungkan menerbitkan senyum hangat.


Mendapat dukungan dari sang kekasih, Kaezar tentu saja merasa senang. Selama ini ia selalu menghadapi masalahnya sendiri, sekarang ia memili pendamping yang mau menemaninya dalam menghadang berbagai rintangan.


“Saya dibesarkan di Robelia, namun bukan di istana. Melainkan balai Ksatria Kyen, di bawah kepemimpinan Grand Duke Pexley. Wajar jika Yang Mulia tidak mengetahui soal keberadaan anak buangan seperti saya.”


Orang-orang di tempat tersebut sejatinya terkejut. Namun, melihat bagaimana Kaezar berkata dengan begitu leluasa, mereka bisa melihat setegar apa dirinya bertahan ketika hadirnya tidak dianggap. Sedetik kemudian, semua orang dikejutkan dengan tindakan nenek Kaisar Kwang Sun yang tiba-tiba beranjak dari tempat duduk, berjalan ke arah Kaezar. Kaezar sendiri ikut berdiri, karena yang lain juga melakukan hal yang sama.


“Siapa yang berani menyebut kamu sebagai anak buangan?” ketika berdiri tepat di hadapan Kaezar, nenek Kaisar Kwang Sun kembali bersuara. “Nak, aku dan suamiku telah lama mencari keluarga kerajaan Icrea yang masih hidup. Dulu, ketika kerajaan Icrea mengalami kemunduran secara drastis, ayah Kaisar Kwang Sun hendak membantu. Namun, situasi di Icrea sudah tidak tertolong lagi.”


Kaezar tentu saja terkejut mendengarnya. Perubahan sikap nenek Kaisar Kwang Sun juga mengejutkan Kaezar, termasuk semua orang. Kaisar Kwang Sun sendiri juga keheranan mendapati sang nenek mau bicara informal pada orang asing.


“Keluarga kekaisaran memiliki hutang budi pada Raja Carl Clausewitz of Icrea. Hingga detik ini, hutang budi itu masih belum terganti.”


“Maksud Yang Mulia, hutang budi apa?” tanya Kaezar tanpa mengurangi rasa hormat.


“Hutang budi atas bantuan yang diberikan oleh Raja Carl Clausewitz of Icrea. Kakek kamu telah menolong kakek Kaisar Kwang Sun secara suka rela, sehingga dia dapat kembali dengan selamat.”


Kaezar sekarang paham. Rupanya hutang budi yang dimaksud nenek Kaisar Kwang Sun adalah pertolongan yang diberikan oleh Raja Carl Clausewitz of Icrea atau kakeknya.


“Yang Mulia, jika kakek saya menolong mendiang Kaisar Astoria secara suka rela, itu berarti tidak ada yang perlu diberikan sebagai balasan.”


“Tidak, tidak.” Nenek Kaisar Kwang Sun mengulurkan tangannya untuk meraih telapak tangan Kaezar. “Ini adalah simbol ikatan dua keluarga, kekaisaran Kwang dan kerajaan Icrea. Keluarga Kwang selamanya akan berhutang jika belum dapat membayar kebaikan Raja Carl Clausewitz of Icrea.”


Kaezar tersenyum tipis, kemudian menerima benda yang mirip plakat tersebut. Ada dua lambang keluarga di dalamnya, yaitu lambang keluarga kekaisaran Astoria, serta lambang keluarga kerajaan Icrea. “Yang Mulia tidak perlu lagi merasa berhutang, karena kakek saya menolong mendiang Kaisar Astoria dengan suka rela. Selain itu, saya juga ingin mengucapkan terima kasih banyak, karena Kekaisaran Astoria telah menerima kekasih saya dengan baik. Terlebih lagi Kaisar Kwang Sun. Berkat bantuannya, kekasih saya tidak kekurangan apapun selama berlindung di Astoria.”


Kaezar memberikan penghormatan setelah berkata demikian. Baginya, masalah hutang budi tidak perlu diperpanjang lagi. Bagaimana pun juga, pihak terkait sudah kembali ke sisi-Nya. Justru ia ingin berterima kasih pada Kaisar Kwang Sun yang telah menjaga kekasihnya.


“Murah hati,” puji nenek Kaisar Kwang Sun seraya menepuk bahu Kaezar. Memberikan isyarat agar pria muda itu tidak perlu lagi memberikan hormat. “Pembawaan kamu sama persis seperti Raja Carl Clausewitz of Icrea. Hanya ada perbedaan pada rupa, karena kamu lebih mirip Raja Klein Alexander Kadheston.”


Kaezar tertegun mendengarnya. Selama hidup, ia jarang dibilang mirip ayahnya, karena orang-orang lebih sering memuji ketampanan sang kakak yang mirip dengan ayah mereka. Ia juga baru tahu bahwa pembawaannya terbilang mirip kakeknya yang tidak pernah ia jumpai selama hidup. Kaezar hidup tanpa mengenal sosok kakek dan nenek dari kedua belah pihak—ibu maupun ayah. Kaezar bahkan tidak mengenal baik sosok ibunya, karena mereka harus berpisah setelah ia dilahirkan. Sosok ayahnya pun tidak dapat ia pahami dengan baik, karena terlalu banyak kesalah pahaman yang dibuat mendiang Raja Robelia itu, demi melindungi Kaezar.


“Aku juga melihat sepasang mata cerdas yang diturunkan oleh Putri Keiza,” tambah nenek Kaisar Kwang Sun. Walaupun tidak pernah bertemu secara resmi, nenek Kaisar Kwang Sun pernah bertemu dengan ibu Kaezar ketika berkunjung ke Eropa.


Pada saat itu ibu Kaezar masih sangat kecil, gadis cantik yang memiliki sepasang mata cerdas. Mereka tidak sengaja bertemu di salah satu toko perhiasan popular yang ada di London. Berbanding terbalik dengan pembawaan Raja Carl Clausewitz of Icrea yang dapat membuat lawan bicara merasa berada di medan pembunuhan karena auranya, kehadiran istri serta putrinya justru membawa ketentraman serta kedamaian. Konon katanya, nenek dari Kaezar adalah keturunan suci dari keluarga taat beragama yang dikenal akan kebajikannya.


“Untuk kedepannya, jangan lagi merasa sendirian. Jika kamu tidak memiliki keluarga, ada keluarga Kwang yang akan menerima kamu dengan tangan terbuka.”


Kaezar terkejut? Tentu saja. Jangankan Kaezar, Kaisar Kwang Sun, Kayena, Khayansar, Cesare, serta dua Nona Muda yang ada di sana juga dibuat terkejut dengan pernyataan Janda Ratu Kerajaan Agung itu.


Pemilik nama Kwang sudah jarang ditemukan, karena memang kebanyakan dari mereka melahirkan anak perempuan. Kelahiran anak laki-laki terbilang jarang, namun sekalinya anak laki-laki lahir dari marga Kwang, maka kebaikan serta keberkahan akan senantiasa menyertai.


“Yang Mulia Kaisar, Nenek ingin meminta satu hal hari ini.”


“Iya, Nek?” Kaisar Kwang Sun langsung siaga. Kira-kira apa yang diinginkan oleh neneknya? Apa ada kaitannya dengan Kaezar?


“Turunkan dekrit Kaisar tentang pengangkatan Pangeran Kaezar sebagai bagian dari keluarga kekaisaran. Mulai hari ini, Nenek mengangkatnya sebagai cucu. Secara otomatis, Kaezar of Icrea akan menjadi adik angkat dari Kaisar Astoria yang saat ini berkuasa.”


Keterkejutan kembali menghampiri, pasca nenek Kaisar Kwang Sun dengan gamblang menyatakan keputusannya untuk mengangkat Kaezar sebagai cucu.


“Setelah resmi diangkat sebagai adik Kaisar, Pangeran Kaezar akan menggunakan marga Kwang.” Seolah belum puas, nenek Kaisar Kwang Sun tidak memberikan jeda pada mereka yang masih dilanda keterkejutan. “Nama baru bagi Pangeran Kaezar adalah Kwang Min yang berarti penuh cahaya kecerdasan.”


Kwang Sun berarti penuh cahaya kebaikan, sedangkan Kwang Min berarti penuh cahaya kecerdasan. Bukankah nama calon kakak-beradik itu serasi?


Sebenarnya nama itu dipersiapkan untuk calon penerus Kaisar Kwang Sun. Namun, karena hingga detik ini belum ada tanda-tanda jika cucunya akan segera menikah dan memiliki keturunan dalam waktu dekat, tidak apa jika nama yang telah dipersiapkan digunakan.


“Hak serta kewajiban lain yang akan diberikan pada Pangeran Kwang Min akan nenek bicarakan langsung dengan sekretaris kerajaan.” Ada senyum yang menghiasi wajah tua nenek Kaisar Kwang Sun ketika berkata demikian. “Kamu akan segera menjadi bagian dari keluarga Kwang. Selain itu, kamu juga akan memiliki nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan, serta saudara laki-laki.”


Kaezar tidak tahu harus memberikan respon seperti apa. Sebelumnya, ia telah melepaskan segala tahta serta status kebangsawanan. Sekarang, semua itu kembali menghampiri tanpa diduga-duga.


“Saya minta maaf karena tidak dapat menerima niat baik Yang Mulia. Saya datang ke Astoria untuk menjemput kekasih saya. Sebelumnya, saya bahkan telah melepaskan gelar serta status kebangsawanan di Robelia, supaya dapat hidup sederhana bersama keluarga kecil saya. Saya sudah muak dengan kehidupan bangsawan.”


Nenek Kaisar Kwang Sun sempat tertegun. Kaisar Kwang Sun juga hendak angkat suara untuk menengahi, namun sang nenek memberi kode agar tidak ikut campur.


“Apa yang akan diberikan kepada kamu tidak bersifat mengikat. Itu artinya, kamu memiliki hak serta kebebasan untuk tinggal dan memilih jalan hidup. Namun, ketika kamu kembali ke Kaisaran Astoria, kamu tetap akan diperlakukan sama, seperti seorang Pangeran pada umumnya. Jika kamu tidak menyukai kehidupan para bangsawan yang terasa memuakkan, tinggal lah di paviliun bulan ketika singgah ke Astoria. Paviliun itu terletak di bawah kaki gunung, tempat mendiang Pangeran ke tiga menghabiskan sisa hidupnya sebagai cendikiawan dan ahli pertanian. Lokasinya sangat dekat dengan sumber mata air hangat serta sumber mata air suci, yin dan yang.”


Tidak memberikan celah untuk menolak, sepertinya itu adalah tujuan dari nenek Kaisar Kwang Sun.


“Kamu tidak perlu merasa keberatan. Ini bukan balasan untuk memenuhi hutang budi terhadap Raja Carl Clausewitz of Icrea, hanya keinginan kecil seorang janda tua untuk memberikan rumah baru bagi anak kerabat lama yang sudah dianggap seperti saudara sendiri.”


Setelah berkata demikian, nenek Kaisar Kwang Sun tersenyum hangat. Detik selanjutnya, ia mengambil langkah menuju cucunya yang masih mencoba untuk mencerna segalanya.


“Maafkan nenek. Rupanya nenek telah salah paham,” ucapnya ketika berdiri di samping cucunya. Ia bicara dengan bahasa asli Astoria yang sudah jarang digunakan. “Nak, jangan bersedih. Biarkan dia bahagia bersama saudara laki-laki mu. Kwang Min berhak bahagia.”


“Lalu bagaimana dengan ku, nenek?” siapa sangka, itu adalah kalimat yang dipertanyakan sang kaisar dengan wajah datar. Padahal hatinya kian dilanda kebingungan. Jika Kaezar menjadi saudara laki-lakinya, kemudian menikah dengan wanita yang dicintainya, itu berarti wanita cantik itu otomatis menjadi adik iparnya?


“Tidak kah nenek juga ingin aku bahagia?”


“Tentu. Matahari kebanggan nenek berhak bahagia. Namun, jika bukan bersama dia, percayalah bahwa masih ada wanita lain yang mampu membuat kamu bahagia.” Nenek Kaisar Kwang Sun berkata seraya tersenyum hangat. di mata tuanya terdapat pancaran kasih sayang yang tidak pernah surut. “Kamu bebas memilih wanita manapun untuk dijadikan Permaisuri. Nenek tidak akan menghalangi kebahagiaan kamu lagi. Namun, jangan pernah merebut sesuatu yang tidak ditakdirkan menjadi milikmu.”


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Kalau masih mau lanjut komentar next yang banyak 😁


ADA YANG MAU BACA CERITA KAISAR SAD BOY SECARA TERPISAH? Kalau ada, bakal aku buatkan cerita khusus sang Kaisar.


Ada design undangan pertama buat nikahan Kayena & Kaezar juga 👇



Gimana menurut kalian, ini masih desain kasar?


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 28-08-23