
00128. La plus haute caste amoureuse (Kasta tertinggi dalam mencintai)
Siang hari itu—ketika para pria pergi berburu, Kayena diundang untuk hadir ke paviliun tempat tinggal Janda Ratu Kerajaan Agung, yaitu nenek Kaisar Kwang Sun. Wanita yang dikenal juga sebagai Ibu Suri Agung secara khusus mengirimkan sanggung (dayang istana senior peringkat 5) yang merupakan kepala dayangnya untuk menjemput calon istri dari calon cucu angkatnya, Pangeran Kwang Min.
“Duduklah di sini.”
Beda dengan perlakuan terakhir kali, siang itu nenek Kaisar Kwang Sun tampak menyambut Kayena dengan sangat ramah. Kayena juga diberi tempat duduk di barisan kanan paling depan, berhadapan dengan Nona Muda dari keluarga Min dan Kim yang duduk bersisian. Rupanya di barisan paling kiri adalah para Nona Muda serta Putri dari keluarga serta kerabat kekaisaran. Sedangkan di sebelah kiri, dipersiapkan untuk para wanita yang telah mendiami harem kekaisaran, mulai dari Selir mendiang Kaisar terdahulu yang bergelar Gwibi, dan Sukbi (senior tingkat 1), hingga selir bergelar Bin dan Gwiin (senior tingkat 1 dan junior tingkat 1). Ada pula istri dari Pangeran (gun) yang bergelar Gunbuin.
Nenek kaisar Kwang Sun juga mengatakan bahwa nantinya, jika Kayena dan Kaezar sudah resmi menikah—saat Kaezar sudah dilantik dan diakui secara resmi sebagai Pangeran Kekaisaran Astoria, maka Kayena akan menerima gelar yang sama, yaitu Gunbuin. Gelar yang diperuntukkan untuk istri seorang Pangeran (gun).
“Jadi, dari ketika pria rupawan yang baru saja kembali bersama Yang Mulia, yang mana Pangeran Kwang Min?” seorang selir mendiang Kaisar terdahulu bergelar Gwibi yang duduknya terhalang satu kursi dari Kayena, bertanya ketika dari kejauhan tampak rombongan Kaisar baru saja memasuki area istana.
“Di sini ada calon istrinya, biar dia yang menjawab,” ucap nenek Kaisar Kwang Sun.
Kayena tersenyum kecil. Ia kemudian menyipitkan mata ke arah datangnya rombongan Kaisar Kwang Sun. “Penunggang kuda hitam di samping Kaisar Kwang Sun,” ucapnya kemudian.
Kaezar memang berkuda di samping sang Kaisar. Kehadirannya mudah dikenali dengan kuda hitam yang dinaiki. Wajah tampan nan rupawan para pria itu memang memukau setiap mata, namun bagi Kayena, Kaezar yang paling mencolok. Mungkin karena ketampanan Khayansar dan Cesare yang paripurna sudah biasa ia lihat sejak bayi. Sedangkan ketampanan sang Kaisar sudah tidak berada dalam ranah yang harus dikagumi lagi. Sang kaisar memang tampan nan rupawan, namun di matanya, sang kekasih lebih mencolok.
“Lalu siapa Tuan Muda yang menaiki dua kuda coklat di belakang Yang Mulia Kaisar serta Pangeran Kwang Min?” pertanyaan itu dilontarkan oleh salah satu onju—putri dari Kaisar dan selir—yang belum menikah kepada Kayena.
Dari tempatnya duduk, Kayena dapat melihat pancaran kagum yang ditunjukkan sang onju pada Tuan Muda yang dimaksud. Keduanya memang tidak kalah bersinar di belakang dua putra cahaya.
“Penunggang kuda coklat di sebelah kiri adalah Kakak pertama saya, Khayansar de Pexley. Sedangkan di sebelah kanan, Kakak kedua saya, Cesare de Pexley,” tutur Kayena, memperkenalkan saudara-saudaranya yang selalu bersinar di manapun mereka berada. Sekalipun di medan pertempuran, mereka selalu tampak seperti jantung samudra yang cerah dan indah dengan kelangkaannya. “Di antara mereka, Kakak kedua—Cesare de Pexley yang sudah memiliki istri. Mereka bahkan baru dikaruniai seorang putra.”
Sang onju yang tampak seperti bunga sakura yang baru mekar di musim semi, sempat kehilangan sedikit rona di wajah cantiknya. Ternyata, Cesare lah yang menarik perhatian sang onju. Sayang, Cesare sudah memiliki pawang yang tidak dapat dikalahkan wanita manapun.
“Tunggu. Jadi, Tuan Muda pertama dari keluarga Nona Kayena masih belum menikah?”
Kayena tersenyum seraya memberikan gelengan kepala. “Kakak saya yang bernama Khayansar sudah sibuk dengan dunia militer sejak kecil. Ketika menginjak usia 20 tahun, Kakak memutuskan untuk menetap di medan pertempuran. Sekembalinya dari medan pertempuran, Kakak saya memutuskan untuk meninggalkan Robelia, kemudian tinggal di Britania Raya sebagai Duke termuda. Mungkin karena kesibukan tersebut, Kakak masih menunda keinginan untuk mencari pendamping.”
“Duke? Semacam jabatan dalam struktur pemerintahan?”
“Adipati.” Kayena membenarkan. “Kakak saya diangkat sebagai Adipati sekaligus Mayor Angkatan Laut. Saat ini wilayah yang dipegang Kakak sebagai Adipati adalah daerah bernama Edinburgh.”
Para wanita yang ada di sana tampak takjub mendengar penjelasan Kayena yang sebenarnya terbilang singkat. Ia hanya memperkenalkan identitas luar sang kakak yang sudah dikenal banyak orang. Belum sampai ke ranah memperkenalkan keluarganya yang masih memiliki garis keturunan bangsawan asli yang dianggap sangat suci.
Kembalinya sang Kaisar bersama rombongan dari kegiatan berburu, kemudian menarik perhatian semua orang. Apalagi tiga pria tampan dan rupawan yang katanya sejak kecil sudah berkecimpung di dunia militer. Selain sang Kaisar, keberadaan mereka bertiga tentu saja menarik perhatian. Bersamaan dengan itu, pertemuan singkat para wanita pun diselesaikan. Mereka kemudian datang untuk menyambut kepulangan sang Kaisar bersama rombongannya.
“Little peach of June,” panggil Cesare ketika melihat adik cantiknya ada di antara para wanita yang datang menghampiri.
Setelah memberikan penghormatan pada nenek Kaisar Kwang Sun, Cesare bergegas untuk menjumpai adiknya. Walaupun sudah menikah, bahkan sudah memiliki seorang putra, bagi Cesare, kasih sayangnya pada sang adik tidak pernah berubah sedikitpun. Ia yang terkenal sangat dingin pada wanita lain, akan berubah 160° ketika bersama adiknya.
“Tadi Kakak menemukan pohon peach liar yang masih berbuah di tengah hutan. Kakak memetik beberapa buah untuk kamu,” lapor Cesare setelah menjatuhkan satu kecupan di kening sang adik. Barang bawaan yang ia maksud kemudian diberikan pula.
“Terima kasih, Kak.”
Cesare mengangguk dengan senyum hangat yang masih terpatri. Dari tempatnya berdiri, Kayena bisa melihat bahwa interaksi mereka telah mencuri banyak perhatian. Termasuk perhatian sang onju yang kini berdiri tidak jauh dari Kaisar Kwang Sun.
“Kakak mendapat tangkapan yang bagus hari ini?” tanya Kayena ketika melihat Khayansar juga datang mendekat kepadanya.
“Ya,” jawab pria gagah tersebut seraya mengelus pucuk kepala adiknya dengan sorot mata dipenuhi kelembutan. “Namun buruan Kakak dilepaskan begitu saja oleh seseorang,” lanjutnya seraya melirik pria muda di sampingnya lewat ekor mata.
Kayena tertawa kecil, paham dengan maksud sang kakak. “Jadi apa yang baru saja dilakukan oleh calon Ayah satu ini?” interogasinya, ketika Khayansar memilih untuk segera bergabung dengan Cesare.
Yang mendapat pertanyaan demikian tampak tersenyum kikuk, sebelum membawa telapak tangan kanannya ke permukaan perut sang kekasih yang masih ramping. “Aku sengaja membiarkan buruan kita lepas,” ungkapnya, jujur.
“Kenapa?”
Penjelasan tersebut membuat Kayena semakin paham. Kaezar memang selalu bertindak dengan logika, seumpama seorang pria. Namun, ia juga tidak pernah mengesampingkan perasaan ketika memutuskan sesuatu. Pasti ada alasan kuat yang mendasari tindak-tanduknya yang berlawanan dengan opini orang lain.
Di sisi lain, interaksi Kayena dengan kedua saudaranya, termasuk bersama calon adik angkatnya juga diperhatikan oleh sang Kaisar. Setelah menyapa nenek, selir mendiang ayahnya, kemudian saudari dari selir mendiang ayahnya, ia ikut-ikutan mendekati Kayena. Wanita hamil itu memang layaknya magnet di antara segerombol wanita yang menyambut kepulangannya. Hatinya memang belum baik-baik saja, namun ia sudah memutuskan untuk menerima serta melepaskan segalanya dengan ikhlas.
Kasta tertinggi dalam mencintai adalah merelakan seseorang yang kita cintai hidup bahagia, walaupun bersama orang lain bukan? jika benar, maka sekarang itulah yang tengah dilakukan oleh Kaisar Kwang Sun. Ia merelakan wanita yang dicintainya hidup bersama pria lain untuk kedua kalinya. Mungkin, Tuhan hanya ingin mereka mungkin dipertemukan, didekatkan, namun tidak untuk dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
“Hari ini kita akan menikmati hasil buruan di paviliun dekat danau teratai.” Kaisar Kwang Sun berkata ketika selesai berdiri di hadapan Kayena, lebih tepatnya bersisian dengan Kaezar. “Jangan lupa membawa pakaian hangat. Ketika malam tiba, udara di tempat terbuka seperti paviliun danau teratai sangat dingin. Tidak baik untuk kesehatan kamu dan bayi kalian,” lanjutnya dengan diakhiri senyum tipis.
Sebelum pamit pergi, sang Kaisar sempat mengelus pucuk kepala Kayena dua kali, di depan tunangan, kedua kakak, neneknya, serta orang lain yang ada di sekitar mereka. Pria itu tampak santai dengan segala perlakuannya, lebih tepatnya tidak peduli pada opini orang lain. Toh, sekarang mereka sudah tahu bahwa Kayena merupakan calon istri dari saudara angkatnya, yaitu Pangeran Kwang Min. maka yang tersisa dari mereka—para wanita—hanyalah rasa iri terhadap Kayena yang hidupnya dikelilingi oleh pria tampan, rupawan, serta sempurna sebagai seorang gentleman.
Sementara itu di Robelia, para dokter kerajaan dibuat bingung dengan Raja mereka yang tiba-tiba mengeluh mual dan muntah ketika mencium aroma yang menyengat hingga pekat. Mulai dari aroma bawang, aroma masakan, hingga parfum para bangsawan. Bahkan aroma yang paling Raja mereka benci adalah aroma parfum rose yang digunakan oleh wanitanya sendiri. Alhasil, hari itu juga puluhan botol parfum rose disingkirkan dari istana. Diganti dengan parfum yang lebih kalem harumnya, seperti aroma parfum milik mantan Ratu.
“Jangan sekalipun kau berani menggunakan parfum itu, selagi aku masih sensitif terhadap baunya,” ujar sang Raja, mewanti-wanti pada selir satu-satunya.
Kabar bahwa Raja Robelia yang tiba-tiba anti terhadap parfum rose dan aroma parfum lain yang menyengat langsung tersebar luas. Efek dari kabar tersebut membuat produsen parfum rose yang merupakan bisnis asli milik Katarina mengalami kerugian cukup besar. Sedangkan perfume house tertua di kerajaan Robelia yang memproduksi parfum untuk mantan Ratu langsung kebanjiran pesanan, terutama dari para Lady keluarga bangsawan yang tengah mengincar posisi Ratu.
“Minumlah ini, Yang Mulia.” Wanita yang sudah mendapatkan penolakan berulang kali itu menyodorkan cangkir berisi teh hangat yang dicampur dengan madu dan perasan lemon.
Dokter kerajaan berkata bahwa kondisi Raja mereka secara keseluruhan baik. Tidak ada kondisi yang perlu dikhawatirkan. Diagnosa awal; Raja Robelia mengalami gangguan lambung karena telat makan. Soal hidungnya yang terlalu sensitif, masih belum ada dokter yang dapat menjelaskannya. Bahkan Raja Robelia juga sempat bertanya pada dokter yang waktu itu merawat “rudal tempur” miliknya ketika cidera. Kenapa benda pusaka tersebut tidak mudah on seperti sebelumnya? Bahkan terbilang sulit on sekalipun ada wanita telan—jang di hadapannya.
Para dokter belum dapat menyimpulkan, namun ada dugaan jika Raja mereka bisa saja mengalami impoten—tidak ada daya upaya untuk melakukan hubungan badan. Dugaan tersebut tentu saja ditampik sang Raja, karena ia bisa merasakan nafsu birahi ketika membayangkan mantan istrinya. Kendati demikian, ketika hendak melakukan hubungan badan dengan wanita lain, ia merasa bahwa jiwa dan raganya tidak bersemangat. Sontak hal tersebut membuat para dokter semakin kebingungan.
Sebagai Raja yang belum memiliki keturunan, kondisi kesehatan infertilitas—ketidakmampuan menghasilkan keturunan; keadaan kurang subur—patut mereka waspadai. Jika Raja tidak dapat memiliki keturunan, lantas bagaimana dengan nasih kerajaan mereka kelak?
“Aku tidak impoten!” bantah Kaizen. Salah satu tangannya memijit pelipis yang terasa nyeri. Katarina juga baru ia suruh pergi. “Kau percaya, kan, Kael?”
Ksatria yang merupakan tangan kanannya itu mengangguk seraya menyodorkan buah anggur siap makan pada sang Raja. Semenjak mengalami mual dan muntah lagi, Kaizen hanya bisa makan buah seperti anggur. Terkadang beberapa gigit pastry yang biasa dinikmati oleh mantan istrinya. Ia tiba-tiba membenci daging merah, dan hanya makan daging unggas. Bahkan buah peach yang jarang ia lirik ketika datang musimnya, sekarang sangat ia cari-cari.
“Terakhir kali aku ber—cin—ta memang malam itu,” monolognya. “Aku sudah mengatakannya kepada mu.”
“Benar, Yang Mulia.” Kaelus memang sudah tahu.
Raja Robelia yang sehat secara jasmani dan rohani, aktif melakukan hubungan badan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, terakhir melakukan hubungan badan sekitar dua bulan lalu. Itupun di bawah kesadaran yang terbilang minim. Padahal Kaelus tahu sendiri jika dahulu, Rajanya bisa menghabiskan pergulatan seharian bersama kekasihnya. Dalam satu minggu, mungkin hanya ada dua atau satu hari yang diambil sebagai jeda. Ya, memang seaktif itu mereka melakukan hubungan badan. Sampai-sampai Kaelus sendiri hafal tindak-tanduk sang Raja ketika sudah butuh pelepasan.
Terkadang Kaelus bingung sendiri, bagaimana bisa Raja Robelia yang terbilang hyper tiba-tiba absen melakukan hubungan badan sampai dua bulan? Mungkin jawabannya karena faktor eksternal yang akhirnya memengaruhi bagian internal. Kasus yang melibatkan mantan Ratu, menyeret serta Elang Muda Kekaisaran, pelayan pribadi mantan Selir Agung, hingga para Ksatria keluarga Grand Duke Pexley memang menyita kekuatan serta pikiran sang Raja. Namun, bagi Kaelus sendiri memang terbilang janggal. Akan tetapi, ia selalu berharap agar sang Raja tidak mengalami musibah apapun yang dapat menyulitkan dirinya selaku pemegang kekuasaan tertinggi. Ketidakmampuan memiliki keturunan dapat menimbulkan kesulitan di kemudian hari.
“Yang Mulia.”
“Kenapa?” tanya Kaizen yang tengah duduk bersandar pada kepala ranjang. “Kau menemukan solusi terkait kondisi ku?”
Kaelus tampak tidak terlalu yakin. Terlihat dari bagaimana ia menggaruk pelipis ketika hendak bersuara. “Jangan-jangan Yang Mulia menjadi seperti ini karena ... Selir Katarina tengah mengandung?”
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 11-08-23