
00141. Les derniers mots du voyageur temporel (Ungkapan terakhir sang penjelajah waktu)
Jadwal kepulangan sudah semakin dekat. Itu berarti hanya tersisa sedikit waktu untuk menetap di Kekaisaran Astoria. Mulanya tempat itu memang sangat asing, akan tetapi pemiliknya sendiri berhasil membuat Kayena tinggal dengan nyaman di tempat asing itu. Guna mengucapkan terima kasih secara langsung, Kayena ingin sekali berjumpa dengan sang kaisar yang belakangan sibuk mengurus masalah internal maupun eksternal kekaisaran.
Di sisi lain, nenek Kaisar Kwang Sun sendiri mulai akrab dengan Kayena. Kadang mereka bertemu untuk mengobrol seraya menikmati secangkir teh. Bersama dengan itu, Kayena juga menjalin hubungan cukup akrab dengan salah satu Nona Muda yang kerap berada di sekitar nenek Kaisar Kwang Sun. Namanya adalah Nona Muda Min Seol A dari klan Min. Gadis yang baru berusia 20 tahun itu sangat enerjik dan ekspresif jika sudah menemukan bertemu dengan orang baru. Perawakannya tidak jauh berbeda dari Katarina. Hanya saja Nona Muda Min memiliki wajah original khas wanita Asia.
Ada pula Nona Muda dari klan Kim yang cukup sering dijumpai Kayena. Akan tetapi, mereka tidak terlalu akrab. Nona Muda dari klan Kim juga terkenal sebagai gadis ambisius yang rela menjadi perawan tua demi mengikuti acara pemilihan permaisuri. Usianya terpaut satu tahun lebih muda dari mendiang Putri Mahkota yang merupakan putri dari Menteri Pertahanan Astoria. Walaupun sangat ingin menjadi permaisuri, Nona Muda Kim tidak mau menjadi Selir Kaisar seperti rekan-rekan sebayanya. Ia lebih memilih menunggu sang Kaisar Astoria membuka pemilihan permaisuri.
“Hari ini apa kegiatanmu, Rein?”
Pertanyaan itu dilontarkan oleh Pangeran Kwang Min yang baru saja ikut bergabung—duduk di samping kekasihnya. Menikmati pemandangan indah hutan dan pegunungan di sekitar tempat tinggal mereka yang dihiasi oleh daun-daun kuning kemerahan dan oren.
“Ada yang ingin aku bicarakan dengan Kaisar Kwang Sun sebelum kita pulang.”
“Lalu kenapa kamu tidak ikut bersama kami?” Kaezar bertanya seraya mengelus perut ramping sang kekasih. Tadi pagi ia sempat pergi ke tempat kerja kakak angkatnya, yaitu Kaisar Kwang Sun. Ia tidak tahu jika sang kekasih juga memiliki urusan dengan pria nomer satu di kekaisaran ini.
“Aku akan menemuinya di waktu senggang,” balas Kayena. “Lagi pula aku sedang menunggu kakak. Tadi pagi ada bawahan kakak yang mengirim pesan, katanya ada yang ingin bertemu denganku.”
“Siapa? Aku mengenalnya?” Kaezar bertanya lagi secara beruntun. Kali ini dengan raut wajah sedikit serius.
Kayena menanggapinya dengan senyum kecil. Ia sedang menikmati momiji tempura. Ketika musim gugur telah datang, ditandai dengan daun-daun maple berubah menjadi merah, orang-orang bukan hanya berkumpul untuk menikmati keindahannya, tetapi juga menciptakan hidangan yang lezat seperti momiji tempura—olahan khas negeri Sakura yang berbahan dasar daun maple berbalut tepung, wijen, gula, kemudian digoreng hingga renyah.
“Aku juga kurang tahu,” jawab Kayena, jujur. “Mungkin salah seorang kenalan kakak,” tambahnya seraya menyenderkan kepala ke bahu kekasihnya.
Semenjak mereka bertemu setelah sekian lama, rasanya hormon kehamilan mendukung Kayena untuk terus bermanja-manja. Padahal bukan tipikalnya sekali bermanja-manja pada pasangan. Ketika hamil anak per-tama hingga anak ke-empat di kehidupan sebelumnya pun, Kayena selalu menjadi independent women. Tidak ada waktu baginya untuk bermanja-manja pada suami yang tergila-gila pada wanita lain. Tidak ada waktu untuk berleha-leha pula, karena ia mengemban tanggung jawab sebagai seorang ratu.
Selama masa kehamilan, Kayena semakin ketat dijaga, karena dalam kandungannya ada calon penerus. Segala sesuatu tentang bayi dalam kandungannya selalu diutamakan, sedangkan mereka tidak pernah memikirkan perasaan Kayena. Namun, sekarang Tuhan memberikan pasangan yang mampu menerima setiap tingkah laku yang muncul karena inner child yang tiba-tiba mendominasi. Dengan sabar dan telaten, kekasihnya bahkan memberikan semua bentuk love language yang belum pernah Kayena dapatkan dari mantan suaminya.
“Mau jalan-jalan sebentar?” tawar Kaezar tiba-tiba. Ia tahu betul jika sejak dulu sang kekasih sangat suka berjalan-jalan di setiap awal musim apa pun datang.
“Tentu.” Kayena segera menyetujui. Sang kekasih yang mengulurkan tangan, lekas ia terima dengan senang hati. Suasana hatinya belakangan ini sangat baik, sebelum mendengar kabar soal mantan suaminya. Ia sempat merasa risau akan kondisi kedua teman dekatnya. Untung saja sang kakak mendapatkan informasi lebih lanjut.
“Rein, pernikahan kita akan tetap diselenggarakan di Edinburgh. Akan tetapi untuk tempat tinggal, aku memilih tempat lain sebagai rumah bagi keluarga kecil kita.”
Perjalanan santai mereka pagi itu diselingi dengan obrolan ringan seputar keputusan yang diambil oleh para pria kesayangan Kayena.
“Setelah dipikir ulang, Britania Raya masih menjadi tempat yang terlalu mudah untuk dijangkau oleh pria itu. Jadi, aku mengusulkan satu tempat yang sepertinya cocok untuk kamu dan tumbuh kembang anak kita.”
Kayena menoleh dengan senyum cantiknya. “Aku yakin keputusan yang kamu ambil sudah melewati banyak pertimbangan. Jadi, aku setuju di mana pun kamu memutuskan kita akan tinggal.”
“Terima kasih, Rein.” Kaezar berkata seraya menjatuhkan satu kecupan di pucuk kepala sang kekasih. “Kamu pasti akan suka tinggal di sana.”
“Aku percaya, karena sekarang kamu yang paling tahu kesukaanku,” balas Kayena seraya memeluk lengan sang kekasih.
Kaezar tersenyum tipis seraya membenahi beberapa anak rambut yang tertiup angin ke belakang telinga sang kekasih. Beberapa pelayan wanita dan prajurit yang menemani mereka berjalan beberapa meter di belakang, agak segan harus menganggu keromantisan sepasang kekasih yang berhasil membuat iri banyak orang.
Bagaimana cara Pangeran Kwang Min memperlakukan istrinya sudah menjadi pembicaraan hangat sejak awal. Walaupun tampak minim ekspresi, pada kenyataannya ia adalah pria yang sangat kaya akan kasih sayang, terutama untuk sang istri. Kayena bahkan digadang-gadang sebagai wanita paling beruntung pada abad ini, karena memiliki suami yang sangat sempurna serta memiliki pelindung-pelindung yang tidak dapat disepelekan begitu saja.
“Ah, itu dia Kak Khayansar dan Kak Cesare,” ucap Kayena seraya menerbitkan senyum ke arah kedatangan kedua saudaranya.
Omong-omong, semenjak dekat dengan Nona Muda Min Seol A, Kayena jadi tahu jika kedua saudaranya punya banyak fans di luar sana. Bahkan beberapa fans merupakan Nona Muda dari keluarga bangsawan yang ingin sekali bertemu dengan saudaranya. Yah, bagaimanapun juga gen keluarga Pexley memang tidak ada yang mengecewakan. Cesare saja yang sudah punya istri dan anak laki-laki masih disangka bujangan. Apa kabar dengan kakak sulungnya yang masih melajang hingga saat ini?
“Aduh, cantiknya ibu hamil satu ini.” Cesare datang-datang langsung memonopoli sang adik. Walaupun sudah dewasa, bahkan sudah menikah, perlakuannya pada Kayena tidak pernah berubah. “Huh, kapan pipi ini menggelembung? Kakak tidak sabar melihatnya, Little peach of June.”
Kayena tersenyum tipis ketika sang kakak berkata demikian. “Aku sudah cukup gemuk, Kak. Selama tinggal di sini aku makan sangat banyak.”
“Baguslah. Ibu hamil memang harus gemuk,” timpal Cesare seraya tertawa kecil.
“Kayena.”
Merasa namanya dipanggil, Kayena pun menoleh ke sumber suara. “Iya, Kak?”
“Ada yang ingin bicara denganmu.”
“Ah, iya. Di mana orangnya? Sejak tadi aku sudah menunggu.”
“Di sini,” jawab Khayansar seraya menggeser sedikit tubuhnya, supaya sosok di belakangnya terlihat di pandangan sang adik. “Dia bilang mengenalmu.”
Raut wajah Kayena langsung berubah begitu saja ketika menemukan sosok yang dimaksud sang kakak. “Iya, aku mengenalnya.”
Kaezar dapat melihat perubahan suasana hati sang kekasih. Maka dengan segera ia menempatkan diri, meraih lagi tangan kekasihnya untuk digenggam.
“Bicaralah jika kalian memang saling mengenal,” ucap Khayansar kemudian. “Kita akan menunggu seraya mendiskusikan persiapan untuk perjalanan pulang.”
“Kakak yakin mengizinkan aku bicara dengan dia? Kakak tahu identitasnya?”
Kaezar tampak menautkan kening karena Kayena tiba-tiba bicara demikian. Cesare memilih diam, sedangkan Khayansar yang tampak tenang memilih untuk menjawab pertanyaan adiknya.
“Dia adalah Charteris Killian de Meré, saudara kembar dari Chatarina Kannelite de Meré atau yang kita kenal sebagai Selir kesayangan Raja Robelia.”
Kayena terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka jika sang kakak telah mengetahui identitas asli dari sosok yang berdiri dengan tenang di sampingnya. Apa jangan-jangan ia juga telah menceritakan soal peristiwa supranatural yang dialami oleh Kayena?
Kayena yang semula menatap Khayansar, secara perlahan beralih ke Killian. Pemilik nama lengkap Charteris Killian de Meré tampak tidak menunjukkan ekspresi yang mencurigakan. Justru ia tampak tenang dengan senyum hangat dan ramah ciri khasnya.
“Bicaralah,” ujar Cesare, ikut meyakinkan Kayena. “Sepertinya ada pembicaraan yang belum kalian selesaikan.”
Kayena pada akhirnya memberikan persetujuan lewat anggukan kepala. Sedangkan di sampingnya, Kaezar masih tetap dalam posisi yang sama.
“Dia mantan penjahit pribadiku,” ucap Kayena. Memberi informasi tambahan. Ia sadar jika sang kekasih masih mengawasi Killian. “Tidak akan terjadi apa-apa.”
Helaan napas kecil kemudian terdengar. Tidak berselang lama, Kaezar menjatuhkan satu kecupan secara tiba-tiba di pucuk kepala Kayena. Pangeran satu itu tampak tidak malu, walaupun ditonton oleh banyak orang.
“Selesaikan urusan kalian. Aku akan menunggu bersama Kakak pertama dan ke-dua.”
Kayena mengangguk seraya tersenyum tipis. Kekasihnya pasti merasa keberatan karena Killian seorang pria. Terlebih lagi Killian adalah saudara kembar Katarina dan pernah dekat dengan Kayena lewat tugasnya sebagai penjahit pribadi.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?”
Kayena bertanya secara langsung setelah mereka ditinggalkan. Kima saja yang selalu berada di sisinya sepanjang hari pun telah menyingkir, memberi ruang pada keduanya untuk bicara.
“Saya senang Anda terlihat bahagia.” Alih-alih langsung menjawab, Killian memilih membuka pembicaraan dengan basa-basi. “Dalam kondisi saat ini, Anda memang harus hidup dengan penuh kebahagiaan.”
“Apa maksudmu?”
“Anda telah banyak mengalami penderitaan, bahkan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mendapatkan kesempatan ke-dua.”
Kayena terdiam. Ia mencoba mencerna ucapan Killian yang terdengar ambigu. Namun, jika ditarik dari cerita-cerita sebelumnya, Killian berkata pernah hidup dan mati berulang kali sebelum kembali pada kehidupan ini. Sedangkan dari sudut pandang Kayena, ia langsung kembali ke masa kehilangan anak pertama pasca mengakhiri hidup dengan belati harapan sang surya. Semua terjadi begitu cepat, sampai-sampai ia tidak merasakan adanya jeda di antara kehidupan pertama dan ke-dua.
“Jika Anda merasa Tuhan begitu cepat memberikan Anda kesempatan untuk mengulang kehidupan, maka Anda salah. Dalam keadaan normal, diperkirakan butuh waktu hingga ratusan tahun untuk Anda kembali dari alam bawah sadar.”
Kayena terpaku mendengar ucapan Killian. Sampai ratusan tahun? Terdengar sangat berlebihan. Akan tetapi, Killian sendiri sudah bertahan hidup sampai putranya—Cassel—naik tahta menjadi Raja Robelia. Itu berarti sudah puluhan tahun sejak kematiannya. Ditambah rentan masa yang dihabiskan Killian ketika menjelajahi waktu sampai tiba pada kehidupan ini. Kemungkinan besar memang ada jeda cukup lama, sebelum akhirnya Kayena terbangun di kehidupan ke-dua.
“Dari semua perjalanan yang saya tempuh, saya menyadari satu hal. Mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada saya untuk mengungkapkan alasan dari kesalahpahaman yang terjadi di masa lalu. Itulah kenapa saya tidak pernah dibiarkan beristirahat dengan tenang.”
“Kamu …”
“Saya harus menanggung semua reaksi yang timbul dari perjalanan melintasi dimensi ruang dan waktu.” Killian tidak membiarkan Kayena menyela. Ia tetap melanjutkan ceritanya. “Dari kehidupan pertama hingga kehidupan saat ini, yang selalu saya bawa adalah penyesalan.”
“…”
“Kerajaan Robelia hampir runtuh karena ulah Klautviz de Meré yang memonopoli saudara kembar saya. Alasan kenapa Raja Kaizen ingin memisahkan Anda dengan Pangeran Cassel adalah karena keraguannya melindungi Anda. Pada saat itu Katarina sudah mengetahui identitas aslinya, kemudian bersekutu dengan Klautviz de Meré untuk menjadi fraksi paling kuat di kerajaan. Pemerintahan semakin tidak stabil dan target utama mereka adalah Anda.”
“Aku?” tanya Kayena dengan suara terbata. “Kenapa aku?”
“Karena Anda adalah kekuatan sebenarnya dari Raja Kaizen,” jawab Killian. “Dua pilihan kemudian diberikan; menggulingkan Anda dari tahta atau membunuh Anda.”
Kayena membekap mulutnya sendiri kala mendengar ucapan Killian. Ia benar-benar tidak menyangka jika ada kondisi seperti itu di kehidupan sebelumnya.
“Hampir 70% pondasi istana telah berada di fraksi Katarina, di bawah kendali Klautviz de Meré. Untuk mengatasi masalah internal itu, Raja Kaizen memutuskan untuk mengikuti permainan mereka, lalu setuju dengan pilihan pertama. Menggulingkan Anda dari tahta, kemudian menyerahkan Pangeran Cassel sebagai jaminan. Setelah Anda kembali ke manor Grand Duke Pexley, Raja Robelia punya rencana cadangan untuk mengirim Pangeran ke Kyen.” Killian masih tampak tenang, seperti air yang mengalir dengan semestinya.
“Tetapi rencana itu gagal. Anda memilih bunuh diri setelah Pangeran Cassel dikirim ke Kyen secara diam-diam. Kerajaan mengalami goncangan hebat akibat kematian Anda yang mendatangkan duka serta perpecahan belahan antara Negara bagian. Pihak yang paling diuntungkan tentu saja Katarina dan Klautviz de Meré.”
Killian menatap lawan bicaranya sebentar, guna memastikan bahwa ia bisa melanjutkan. “Raja Kaizen kehilangan istri dan putranya sekaligus. Pemerintahannya pun diambil alih oleh fraksi Katarina. Hari-harinya kemudian dilewati sebagai robot yang harus tetap mempertahankan Negara yang dibangun oleh nenek moyangnya, sekaligus menjaga warisan terakhir bagi penerus satu-satunya.”
Kayena hanya bisa menghela napas berat setelah dirinya dibuat terpaku cukup lama. Ia berada di antara persimpangan; percaya atau tidak. Walaupun tidak disertai bukti, tetapi semua ucapan Killian terdengar sangat tepat. Killian juga tidak mungkin mengarang semua ceritanya, karena dia tahu tentang apa saja yang terjadi di kehidupan sebelumnya.
“Raja Kaizen tahu jika kekuatannya tidak lagi mampu untuk mengalahkan Katarina yang didukung oleh Klautviz de Meré. Bagaimanapun juga Klautviz de Meré memang telah merencanakan semua itu sejak awal. Raja Kaizen akhirnya memilih menunggu datangnya pasukan yang dipimpin oleh Elang Muda Kekaisaran. Dia juga telah mengambil keputusan untuk mati di tangannya sendiri.”
“Bohong!” seru Kayena. “Tidak mungkin dia membunuh dirinya sendiri.”
Killian menggeleng. “Kenyataannya begitu. Raja Kaizen tidak pernah dibunuh oleh siapa pun, tetapi dia membunuh dirinya sendiri di hadapan Elang Muda Kekaisaran. Tanpa melepaskan gelarnya sebagai Raja Robelia, dia meninggalkan tahta kerajaan setelah memastikan halangan terbesar bagi Pangeran telah dihabisi.”
Kayena tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa, karena setiap Killian bercerita tentang masa lalu, ada saja gejolak batin yang harus ia hadapi.
“A-pa dia yang telah menghabisi Katarina dan Klautviz de Meré?”
Killian mengangguk. “Raja Kaizen menghabisi Klautviz de Meré dengan tangannya sendiri, karena akar dari semua masalah berasal dari Klautviz de Meré. Sedangkan Katarina …”
“Ada apa? katakan bagaimana wanita hina itu kehilangan nyawa!” seru Kayena dengan emosi yang meninggi. Namun, ia tidak pernah menyangka jika kilian akan memberikan jawaban yang sangat mengejutkan.
“Hidupnya berakhir di tangan saya. Di tangan kembarannya sendiri.”
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 24-08-23