
0063. Il était la principale raison pour laquelle Kayena a accepté le bébé (Dia adalah alasan terbesar Kayena menerima bayinya)
“Kima, apa ada tenaga medis di antara orang-orang yang datang bersama kita? Aku ingin memastikan sesuatu.”
“Memangnya kenapa, Nona? Anda bagian tubuh Anda yang terasa sakit? Atau mual yang Anda alami bertambah parah?”
“Tidak. Aku hanya ingin mengecek kondisi kesehatan ku. Mungkin saja ...”
“Tenang saja, Yang Mulia.”
“Apa maksud mu, Kima?”
“Jika yang menjadi kekhawatiran Nona adalah “benih” yang ditinggalkan pria itu, Nona tenang saja.”
“Maksud mu?”
Kima mengalihkan pandangan dari daging buah mangga yang telah ia potong kotak-kotak. “Karena semua benih itu telah luruh,” ucapnya kemudian. “Tidak ada satu pun yang berhasil tumbuh dan berkembang di rahim Anda, Nona.”
“Apa yang baru saja kamu katakan, Kima?”
“…”
“Kima …?”
Pelayan muda yang tengah mengupas buah mangga itu terhenyak dalam diam. Ia kemudian meninggalkan buah mangga di tangan, mengalihkan pandangan ke arah sang majikan. “Nona … baru saja mengatakan sesuatu?”
Lawan bicaranya tampak menautkan kening, sebelum tersenyum tipis. “Aku bertanya, apakah ada tenaga medis di antara orang-orang yang datang bersama kita? Aku ingin memastikan sesuatu.”
“Ah, soal itu,” sahut Kima dengan canggung. Berarti beberapa saat yang lalu ia baru saja berhalusinasi tentang bagaimana jika ia mengambil langkah untuk membohongi Kayena. Baru membayangkan saja, rasanya ia telah menjadi seorang pendosa yang berdosa besar.
Usut punya usut, Kima memang telah bertanya-tanya kepada beberapa dayang yang menjadi kenalannya. Terkait obat-obatan herbal yang dapat meluruhkan kandungan pada usia yang masih sangat muda. Kima mencari tahu sebagai bentuk antisipasi terlebih dahulu. Namun, jujur, ia tidak punya keberanian seratus persen untuk membunuh mahluk tak berdosa yang sekarang tumbuh dan berkembang di rahim Kayena.
Kendati ia sudah menemukan salah satu jenis ramuan herbal yang katanya “manjur” untuk meluruhkan kandungan di usia muda, keberanian tak kunjung ia dapatkan. Di sisi lain, Kima juga tengah menunggu informasi lanjutan dari Kaisar Kwang Sun yang telah memberikan informasi soal kehamilan Kayena pada Khayansar. Selain Kayena, keluarga terdekatnya juga berhak tahu soal keberadaan calon anggota baru dari keluarga mereka.
“Ada atau tidak?” ulang sang majikan, memastikan.
Membuat Kima kembali tersadarkan. “Ada, Yang Mulia,” jawab Kima.
Hari ketika Kayena jatuh pingsan di kediaman Kaisar Kwang Sun, selain Tabib istana—orang yang bekerja mengobati orang sakit secara tradisonal—yang mengecek kondisi kesehatan Kayena. Ada pula salah seorang seorang dokter dari Angkatan Laut yang cukup mendalami ilmu kesehatan. Tentara tersebut juga menjadi salah satu saksi mata yang mengetahui fakta, bahwa mantan Ratu Robelia tengah mengandung. Namun, hingga saat ini mereka masih kompak menyembunyikan fakta tersebut.
“Tunggu apa lagi, segera panggilkan dia untukku.”
Kima meninggalkan buah mangga yang tengah dikupas, agar dapat sepenuhnya menatap ke arah Kayena. Ia kemudian bertanya sekali lagi. “Memangnya apa yang ingin Nona periksa?”
“…”
“Jika mahluk tak berdosa itu telah tumbuh dan berkembang di dalam rahim ku, maka aku akan …” Kayena menggantungkan kalimatnya. Seolah-olah tengah membuat Kima merasa penasaran, dan berhasil. Kima dibuat penasaran dnegan lanjutan kalimat tersebut. “ … lebih berhati-hati ketika beraktivitas,” lanjutnya dengan tenang. “Ada yang sangat mewanti-wanti kehadirannya di luar sana.”
Kima hampir saja saja membuat pekerjaannya berantakan, karena ia tiba-tiba beranjak guna mendekati Kayena. “Apa Nona akan menerima bayi pria itu begitu saja?” interogasinya.
“Bayi yang kamu maksud adalah milikku sepenuhnya, Kima. Dia ada di dalam perut ku, jadi aku yang punya hak penuh terhadapnya.” Kayena membalas dengan tenang.
“Tapi, bukannya bayi itu ada karena perbuatan brengs*k pria itu?”
“Benar,” jawab Kayena, tanpa membantah. “Akan tetapi, dia tidak tahu apa-apa,” lanjutnya seraya menatap ke bagian perut rampingnya yang tertutup lapisan kain. “Sekalipun aku tidak pernah menginginkan kehadirannya, ada yang sudah bersiap untuk mengambil tanggung jawab penuh atas kelahirannya.”
Kening Lima berlipat-lipat mendengar ucapan Kayena. “Maksud Nona …?”
“Aku akan merawat bayi dari “benih” pria itu. Tanpa campur tangan siapapun, bayi yang bersemayam di dalam tubuhku adalah milikku. Dan aku juga sudah menerima janji dari seseorang pria yang akan mengambil tanggung jawab untuk berperan sebagai ayahnya. Kami telah sepakat untuk merawatnya bersama-sama.”
Kima terdiam dengan bibir terkunci rapat. Niat jahat yang sempat terpatri di dalam kepala tiba-tiba saja musnah. Melihat bagaimana Kayena bicara dengan leluasa, seolah-olah menerima kehadiran mahluk tak berdosa yang merupakan bagian dari pria yang begitu jahat kepadanya dengan lapang dada. Kayena bahkan tidak memiliki niat buruk, sekalipun ia tidak menginginkan kehadiran bayi tersebut.
Kayena benar-benar menunjukkan tekad bulat, bahwa mahluk tak berdosa yang akan lahir dari kebej*tan mantan suaminya tidak perlu disalahkan. Mahluk tak berdosa itu akan ia terima kehadirannya dengan lapang dada. Bahkan ada seseorang yang telah bersiap untuk mengambil peran sebagai ayahnya.
“Nona.”
“Katakan, Kima.” Kayena menatap pelayan kesayangannya dengan sorot mata lembut. Ia tahu ada yang ingin pelayan muda itu sampaikan.
“Bagaimana mungkin … Nona bisa begitu lapang dada menerima “benih” pria itu?”
“Karena aku tidak mau membuat mahluk tak berdosa dihukum atas kesalahan yang tidak pernah diperbuat olehnya,” jawab Kayena dengan seksama. “Asal kamu tahu, Kima. Jauh sebelum aku dapat menerima semua ini dengan lapang dada, ada dia yang selalu meyakinkan aku jika semuanya akan baik-baik saja. Dia juga yang telah membuat ku merasa yakin, jika aku mampu menerima mahluk tak berdosa yang dapat kapan saja menghuni rahim ku.”
“Apa dia yang Anda maksud adalah …” Kima menggantungkan kalimatnya, karena ia menunggu jawaban pasti yang akan keluar langsung dari mulut Kayena.
“Tanpa aku menyebutkan namanya sekali pun, seharusnya kamu sudah tahu,” lanjut Kayena dengan senyum hangat yang terpatri. “Dia adalah orang pertama yang akan menerima kehadiran mahluk tak berdosa di dalam rahim ku. Dia juga akan menjadi orang pertama yang tersenyum, ketika menyambut kelahiran mahluk tak berdosa di dalam rahim ku.”
💰👑👠
TBC
Catatan : Cerita ini hanya fantasi, jadi jika ada kesamaan nama tokoh/tempat, bukanlah sesuatu yang disengaja. Sumber semua foto; pinterest.
Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 18-06-23