
0053. La Grande Councubine Katarian Qui s’est Sentie Humliée (Selir Agung Katarina yang merasa terhina)
“Berterima kasih? Bukannya kau yang seharusnya berterima kasih kepada ku, Katarina? Lewat perceraian ini, kau akan punya lebih banyak peluang untuk merebut posisi Ratu,” bisik Kayena tanpa rasa takut. Sorot matanya tampak tajam, menyorot sepenuhnya ke arah Katarina. “Camkan ini baik-baik, Katarina. Silahkan nikmati hari-hari mu dengan segala sesuatu yang merupakan bekas milikku. Sampai kapan pun, kamu tidak tidak akan pernah menjadi diriku. Un canard ne devrait pas rȇver de devenir un cygne quand il sera grand.”
Biasa disanjung sebagai wanita cantik, tiba-tiba dibilang mirip itik. Siapa yang tidak marah coba? Katarina pun merasa demikian. Jelas sekali raut wajahnya menampilkan kemarahan. Refleks, ia mengangkat tangan guna memberikan tamparan pada mantan Ratu yang baru saja dilengserkan dari jabatannya. Sekarang, ia adalah satu-satunya wanita Raja yang memiliki kekuasaan tertinggi di Robelia. Maka ia merasa punya hak untuk membalas semua bentuk penghinaan yang ditujukkan kepadanya.
Grep!
Kendati demikian, ia lupa jika wanita di hadapannya bukan saja mantan Ratu. Ia adalah Kayena de Pexley. Putri kesayangan Grand Duke Pexley serta seluruh rakyat Robelia. Maka tak heran ketika ia mengangkat tangan ke arah Kayena, bukan cuma Raja yang bereaksi, seluruh audience di ruangan tersebut juga melakukan hal yang sama. Reaksi paling ekstrim ditunjukkan oleh Khayansar de Pexley. Dalam sekejap mata, pedang milik pria itu telah terhunus ke leher Katarina.
“Sebelum kau menyentuh Adikku, pedang ini akan terlebih dulu menebas leher mu,” ujar Khayansar penuh penekanan.
Kayena sendiri tampak tenang dengan raut wajah datar. Tangannya berhasil menahan serangan tiba-tiba yang dilayangkan oleh Katarina. “Kau tersinggung?”
“Jaga bicara Anda,” sahut Katarina dengan segera melepaskan tangannya dari cekalan Kayena. “Berani-beraninya Anda berbuat kasar kepada saya?!” wajahnya tampak memerah, menahan amarah ketika kembali buka suara. “Kakak Anda bahkan berani mengarahkan senjatanya pada Selir Agung.”
Bukannya gentar, Kayena malah tersenyum tipis. Ia menoleh sejenak pada sang kakak yang baru saja menarik senjata miliknya. Jika ia tidak memberi kode lewat tangan kanannya pada sang ayah, mungkin hero-nya itu juga akan beraksi seperti Khayansar.
“Il n’y a pas de fumée, s’il n’y a pas de feu (tidak ada asap, jika tidak ada api).” Kayena kembali menggulirkan pandangan pada Katarina. “Comprenez bien cette expression, Grande Concubine Katarina (pahamilah ungkapan itu dengan baik, Selir Agung Katarina).”
“Lancang!” sentak Katarina. Tidak terima diperlakukan demikian.
Sudah dipermalukan, ditodong senjata tajam pula oleh cinta pertamanya. Poor Katarina.
Kayena masih tampak tenang, menikmati pertunjukkan yang dibuat Katarina. Biar saja “itik” itu meledak-ledak dan mempermalukan dirinya sendiri. Ketika hendak kembali berulah, sebuah suara menghentikan langkah “itik” tersebut.
“Katarina.”
Raja Robelia yang sejak tadi duduk di singgasana tampak tidak mau tinggal diam. Apalagi kondisi di ruangan tersebut mulai tidak kondusif. Pertikaian yang dimulai oleh Katarina bisa saja membuat dua fraksi yang tengah berkumpul berontak dan saling menyerang.
“Hentikan tindakan kekanak-kanakan mu.” Guna melerai pertikaian, Kaizen bahkan harus turun tangan sediri. Menghampiri mantan Ratunya serta Selirnya yang tiba-tiba menjadi wanita emosional. “Ada apa dengan mu? Kau lupa sedang berada di mana?” cecar Kaizen ketika berhasil mencekal pergelangan tangan Katarina.
“Sakit, Yang Mulia,” lirih Katarina.
“Diam!” seru Kaizen, berang. “Lebih baik kau segera kembali ke istana Selir.”
Katarina mengerjap kaget. “Tapi …”
“Sekarang kau mulai berani membantah perintah Raja Robelia?”
Katarina dengan segera menggelengkan kepala. “Saya tidak berani membantah Yang Mulia,” katanya dengan mata berkaca-kaca. “Tapi, mantan Ratu baru saja …”
“Simpan aduan mu itu,” potong Kaizen. “Sekarang kembalilah.”
Walaupun kesal dan marah, Katarina tidak bisa berbuat apa-apa. Kaizen sudah menurunkan perintah, ia harus menurut. Padahal perasaannya terluka. Ia tidak mau kalah begitu saja, setelah dikatai “itik” oleh mantan majikannya. Apa Kayena buta, sehingga tak bisa membedakan persamaan yang cocok dengannya?
“Saya akan pergi setelah mengantar kepergian mantan Ratu,” kata Katarina, keras kepala.
“Katarina,” geram Kaizen.
Katarina menggelengkan kepala dengan tangan yang berusaha keras terlepas dari cengkraman Kaizen. Usahanya berhasil ketika Kaizen lengah. Setelah terlepas, Katarina justru menggunakan tangannya untuk menjalin tautan dengan tangan besar milik Kaizen. Biar Kayena melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana cocoknya mereka berdua. “Bukan kah kita harus mengantarkan kepergian mantan Ratu?”
Kaizen mendesah frustasi. Jika sekarang ia terang-terangan menunjukkan rasa tak suka atau risih terhadap tindakan Katarina, makan banyak pihak yang akan curiga. Fraksi yang pro terhadap Katarina pun tidak akan tinggal diam. Posisi Katarina sebagai satu-satunya wanita Raja juga akan diragukan kekuasaannya.
“Tidak perlu.”
Bukan, bukan Kaizen yang baru saja angkat suara. Melainkan pihak yang bersangkutan; Kayena de Pexley. Ia tampak maju dua langkah, masih dalam pengawasan mata elang milik Khayansar.
“Saya bukan tamu kehormatan yang kepergiannya harus diantarkan oleh oleh Matahari Kekaisaran dan kekasihnya.”
Kaizen tampak tidak terima dengan ungkapan tersebut. Namun, ketika baru saja hendak membalas, Kayena sudah memberikan penghormatan terakhir tanpa memberi cela sedikitpun baginya bersuara.
“Selamat tinggal, Yang Mulia. Selamat menempuh hidup baru bersama kekasih tercinta Anda. Saya harap, Anda akan segera melupakan kegagalan dalam pernikahan kita. Namun, jangan pernah lupa bahwa kita pernah memiliki seorang Putra.”
“…”
“Kita pernah begitu bahagia ketika menantikan kehadirannya,” tambah Kayena ketika Kaizen masih mematung di tempatnya berdiri. Ada rasa sesak yang dirasakan oleh keduanya, tentunya dalam frekuensi yang berbeda. “Sesekali, berkunjung lah ke Katedral Carcel. Putra kita pasti senang jika rumahnya dikunjungi.”
“Walaupun kita sudah resmi bercerai, Pangeran Carcel tidak seharusnya dilupakan. Dia tidak bisa memilih hendak lahir dari orang tau seperti apa. Sebagai orang tua, kitalah yang bersalah karena tidak bisa memberikan yang terbaik. Jadi, saya harap Yang Mulia tidak melupakan kewajiban sebagai seorang Ayah.”
Setelah berkata demikian, Kayena lantas tersenyum tipis sebelum berbalik badan dan bergegas pergi tanpa menengok lagi ke belakang. Meninggalkan Kaizen dan Katarina yang masih terpaku di tempat. Punggung Kayena yang berjalan dengan penuh wibawa menjadi pandangan mereka, sampai wanita cantik dengan gaun biru itu benar-benar menghilang di balik pintu.
💰👑👠
“Terima kasih karena masih menyimpan kepercayaan pada Ratu kalian yang telah diterpa berbagai tuduhan,” ujar Kayena sebelum meninggalkan ibu kota Robelia. Pesan singkat ia sampaikan, di depan rakyat yang telah menunggu kehadirannya. “Tetap hidup makmur dan bahagia di tanah yang diberkati ini. Ratu kalian tidak pernah pergi. Ratu kalian ada di sini, bersama kalian,” tambahnya dengan gerakan tangan menyentuh permukaan di mana hati manusia terletak.
“Aku menitipkan Pangeran Carcel pada kalian. Kunjungilah rumahnya sesekali. Pintu rumah Pangeran Carcel selalu terbuka untuk semua orang.”
Pesan tersebut ditutup oleh senyum hangat yang berhasil membuat para rakyat kian merasakan kehilangan. Mereka tidak akan lagi melihat wajah cantik pemilik senyuman hangat itu. Namun, mau bagaimana lagi. Mereka juga menginginkan kebahagiaan bagi Ratu. Lebih baik Ratu meninggalkan istana, daripada harus menderita seumur hidupnya.
“Kita akan segera berlayar, kenakan lah pakaian ini.”
Satu set pakaian disodorkan ke arahnya, membuat wanita cantik yang beberapa saat lalu tengah menikmati pemandangan jantung utama tanah Robelia itu mengalihkan perhatian.
“Kenapa tiba-tiba saja Kakak meminta aku untuk berganti pakaian?” bingung Kayena.
“Ada saatnya kamu akan mengerti,” jawab Khayansar. “Berganti lah terlebih dahulu.”
Kayena mengangguk, kemudian mengambil pakaian sederhana yang baru saja disodorkan kakaknya. Sepeninggalan Kayena, Khayansar memberikan komando pada nahkoda agar segera menjalankan perahu layar yang akan membawa mereka ke Kyen. Total ada 8 perahu layar dengan ukuran bervariasi dari dua armada laut yang akan berlayar meninggalkan pusat kota Robelia.
Dari kejauhan, masih terlihat ada rakyat yang mengantarkan kepergian Ratu mereka sampai dermaga. Khayansar juga yakin jika salah satu di antara mereka adalah mata-mata yang dikirimkan oleh seseorang yang menginginkan kematian adiknya.
“Sebelum penyelidikan membuahkan hasil yang memuaskan, tidak akan kubiarkan kalian menyentuh Adikku,” batin Khayansar.
Sebelum datang ke Robelia, ia telah mengirimkan pesan kepada sang ayah. Mereka kemudian sepakat untuk melakukan penyelidikan guna mencari tahu akar dari permasalahan yang mengkambinghitamkan Princess kesayangan mereka. Khayansar juga mengandeng Cesare dan Kaezar dalam operasi tersebut. Termasuk juga seorang Kaisar yang sukarela bergabung guna mengungkap motif penggulingan Kayena dari posisi Ratu.
“Kenapa aku harus berpindah perahu layar?” bingung Kayena yang sudah berganti pakaian dengan gaun sederhana.
“Karena kamu tidak akan pergi ke Kyen,” jawab Khayansar. Tentu saja berhasil mengejutkan Kayena.
“A-pa? tapi, bagaimana bisa?"
“Tentu saja bisa,” jawab Khayansar seraya menjatuhkan satu kecupan di pucuk kepala adiknya. “Untuk sementara waktu, kamu akan tinggal di tempat yang cukup jauh.”
“Dimana?”
“Di sebuah negeri yang makmur.” Lagi-lagi Khayansar tidak menjelaskan secara rinci. Namun, dari tatapan matanya, Kayena yakin jika sang kakak telah mempersiapkan sebuah rencana dengan sangat matang. “Di sana kamu bisa tinggal untuk beberapa waktu. Kakak juga akan mengganti identitas mu, sehingga kamu bisa tinggal dengan nyaman.”
Kayena sempat termenung lama. Namun, kehadiran sang ayah yang ikut serta memberikan pengertian, membuat Kayena menyetujui tanpa banyak tanya. Ia percaya pada ayah dan kakaknya. Mereka pasti akan mengusahakan yang terbaik baginya.
“Pergilah. Perahu layar ini akan membawa kalian ke tempat tujuan.”
Kayena tersenyum dengan anggukan kecil. “Berjanjilah jika Kakak dan Ayah akan menjaga diri dengan baik.”
Khayansar tertawa kecil. Tawa yang jarang sekali, bahkan tidak pernah diperlihatkan pada orang lain. “Baik, Little peach of June.”
“Dilarang meniru Kak Cesare,” sahut Kayena, gemas. “Dulu Kakak selalu memanggilku dengan sebutan Chéri.”
“Je, Chéri,” balas Khayansar. Chéri berasal dari bahasa Prancis yang artinya “sayang”.
“Tinggal lah di sana, sampai salah satu dari kami datang untuk menjemput mu.”
Kayena mengangguk dengan patuh. Lantas, ia bertanya karena ingin memastikan. “Siapa saja bagian dari “kami” yang Kakak maksud?”
Tangan terangkat guna meraih telapak tangan kanan sang adik. Ia kemudian meletakkan empat lambang dalam bentuk bros yang berkilauan ketika tertimpa cahaya. Kayena tentu saja hafal 3 lambang di antaranya, sedangkan satu lambang lagi agak familiar. Namun, ia teringat satu nama setelah mendongakkan kepala ke arah kakaknya.
“Khiev de Pexley,” ucap Kayena, kemudian memisahkan satu lambang dengan warna dasar putih dan perak. “Khayansar de Pexley.” Satu lambang lagi ia pisahkan, kali ini warna dasarnya putih dan merah. “Cesare de Pexley.” Lambang ke tiga Kayena pisahkan. Di antara yang lain, lambang milik Cesare yang paling sederhana, namun begitu berharga. Mengingat lambang itu juga digunakan oleh Putri sebuah kerajaan besar yang telah dinikahi Cesare. “And then,” Kayena menjeda kalimatnya. Seolah-olah menanti reaksi di wajah sang kakak.
Pria rupawan itu hanya mengangkat salah satu sudut bibir, sehingga tercipta senyum miring di sana. Salah satu jenis senyum yang jarang juga ia pertontonkan.
Perlahan namun pasti, Kayena juga ikut menerbitkan senyum di bibirnya ketika mengambil lencana terakhir. “Imperial young Eagle of Robelia, Kaezar Kadheston.”
💰👑👠
TBC
Gimana perasaan readers setelah baca bab ini?
Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 08-06-23