How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00118. Preuve d'un cœur sérieux (Bukti sebuah keseriusan hati)



00118. Preuve d'un cœur sérieux (Bukti sebuah keseriusan hati)


“Masih memikirkan masalah tadi?”


Pertanyaan Kayena memecahkan keheningan di antara mereka yang tengah dalam perjalanan pulang menuju Yeowang-ui bang. Acara perjamuan telah selesai diselenggarakan. Pembicaraan terkait pengangkatan Kaezar sebagai Pangeran untuk sementara waktu juga ditangguhkan, karena pihak yang terkait masih membutuhkan waktu untuk berpikir.


“Tidak ada yang perlu kamu cemaskan,” ujar wanita cantik itu lagi. Kali ini mereka sudah tiba di depan Yeowang-ui bang. Posisi yang tadinya berjalan berdampingan sembari berpegangan tangan, kini berganti menjadi hadap-hadapan. “Nenek Kaisar Kaysan sepertinya tidak memiliki niat buruk. Beliau tulus ingin menjadikan kamu bagian dari keluarga kekaisaran.”


“Aku mengerti maksudnya,” balas Kaezar. “Hanya saja,” ada jeda yang diambil. Tampak kecemasan masih berkumpul di pendar matanya. “Aku telah melepaskan segala hal yang berhubungan dengan tahta dan kebangsawanan, supaya bisa bersama kamu. Jika aku menerima anugrah ini, apa kedepannya kita tetap bisa bersama tanpa adanya hambatan?”


Rupanya yang dicemaskan oleh pria tampan itu tetap kekasihnya. Alasan kenapa ia memilih kebebasan dengan cara melepaskan segalanya adalah kekasihnya. Ia ingin hidup bahagia, walaupun dilingkupi kesederhanaan. Enggan berurusan lagi dengan keluarga kerajaan, membuat keputusannya bulat. Namun, permintaan nenek Kaisar Kwang Sun hari ini sangat mengejutkan, membingungkan, sekaligus memberatkan.


“Menjadi apapun kamu, jika hati ku sudah tertuju kepada mu, maka kamu tidak perlu merasa ragu. Aku akan tetap memilih bersama kamu.”


Senyum hangat terbit di bibir Kayena ketika berkata demikian. Setelah meninggalkan Yeowang-ui bang, kedua kakaknya tidak ikut kembali, namun meminta waktu untuk bicara bersama nenek Kaisar Kwang Sun, serta sang Kaisar sendiri. Kedua calon kakak ipar Kaezar itu ingin membicarakan beberapa hal dengan mereka. Bertindak sebagai juru bicara, Khayansar dan Kaezar berjanji akan memberi solusi terbaik pada Kaezar.


“Mungkin kamu sudah muak dengan kehidupan bangsawan, namun darah yang mengalir di nadi mu tidak dapat dibohongi. Sekalipun kamu sudah keluar dari keluarga kerajaan Robelia, siapa yang menyangka bahwa kamu akan diangkat menjadi keluarga kekaisaran Astoria?”


Kaezar menatap sang kekasih dengan sendu. Dibalas tatapan hangat oleh kekasihnya.


“Sejatinya kamu dilahirkan sebagai seorang Pangeran yang mewarisi keturunan dari dua kerajaan. Mau sekeras apapun kamu mengelak, jika takdir suka mengukuhkan kamu sebagai seorang Pangeran, di manapun kamu berada, gelar itu akan terus mengikuti kamu.”


Ada hembusan napas gusar yang terdengar. Sedetik kemudian, Kaezar membawa sang kekasih ke dalam pelukan yang terasa sangat hangat di tengah udara dingin Astoria.


“Sepertinya memang sulit ingin hidup sederhana bersama kamu.”


Kayena tersenyum lebar seraya membalas pelukan tersebut. Kedua tangannya melingkar di belakang tubuh sang kekasih. “Tuhan tahu jalan yang terbaik untuk kamu, Pangeran Kwang Min.”


“Jangan panggil seperti itu,” lirih Kaezar.


Namun, di telinga Kayena, itu terdengar seperti rajukan yang menggemaskan. Membuatnya ingin terus menggoda. “Kenapa? Nama itu cocok dengan kamu.”


“Appelle-moi Kaezar, ma Rein. Soulement Kaezar,” ujar pria rupawan itu seraya mengeratkan pelukan. (Panggil aku Kaezar, Ratuku. Hanya Kaezar).


Kayena mengangguk dalam pelukan hangat tersebut. “Selon tes souhaits, me bien-aimée.” (Sesuai keinginan kamu, kekasihku)


Di balik punggung kecil Kayena, terbit senyum lebar yang belum pernah ditunjukkan Pangeran yang mewarisi darah dari dua kerajaan itu pada siapapun. Dengan perlahan, ia kemudian mengurai pelukan di antara mereka.


“Rein, aku juga memiliki sesuatu untuk kamu.”


“Apakah itu?”


Kaezar tidak langsung menjawab, namun tampak merogoh saku celana yang ia gunakan. Tak berselang lama, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. “Sebenarnya aku ingin memberikannya sejak lama. Walaupun kita sempat tidak memberi nama pada hubungan yang kita jalani, sekarang kondisinya berbeda.”


Kayena masih memperhatikan dengan seksama, ketika Kaezar menunjukkan sesuatu padanya. Sebuah benda. Dibungkus oleh kotak kecil berwarna biru beludru yang dihiasi oleh ornament ukiran bernuansa emas.


“Kita akan segera menikah, sudah seharusnya aku menandai kamu sebagai milikku.”


Wajah cantik Kayena tiba-tiba saja bersemu. “Kamu sudah menandai aku sebagai milik mu,” ujarnya seraya mengalihkan wajah ke samping. Tanpa sadar ia mengigit bibir, perasaan hangat kian jelas menjalar di hatinya. Entah berapa lama ia tak merasakan perasaan seperti ini?


Dari kehidupan sebelumnya, tidak tersisa sedikitpun rasa untuk mantan suaminya. Sekarang, ia kembali merasakan romansa yang mendebarkan seperti pertama kali jatuh cinta bersama orang yang berbeda.


“Terimalah ini supaya para pria di luar sana tahu jika kamu adalah milikku.”


Kayena kembali menatap sang kekasih ketika tangan kiri di bawa ke udara. Tak berselang lama, ia merasakan sesuatu mengisi jari manis tangan kirinya. Ketika mengalihkan perhatian ke arah tersebut, ia bisa melihat sebuah cincin melingkar dengan cantik di jarinya.


“Biarkan benda ini menghiasi jari kamu, sebelum cincin pernikahan kita menghiasinya.” Kaezar berkata seraya menatap kekasihnya lekat. “Anggap saja sebagai engagement ring.”


Ketika seorang pria memasangkan engagement ring kepada pasangannya, dipercayai bahwa ia sudah siap menjadi kepala keluarga dan mengemban tanggung jawab untuk membawa keluarganya menuju kebahagiaan. Engagement ring juga memiliki beberapa makna yang berisi harapan terhadap sebuah hubungan. Salah satunya, ialah makna kebersamaan—bentuk cincin yang bunda tanpa ujung, dianggap sebagai simbol kebersamaan yang abadi—makna saling melengkapi, makna kekuatan dan kejayaan, makna kekompakan, makna komitmen, makna kebahagiaan, dan sebagainya.


“Kamu tidak suka? Maaf. Hanya ini yang dapat aku berikan. Padahal—“


“Cantik sekali!”


Kalimat Kaezar terpotong karena respon spontan Kayena. Kekasihnya tampak tersenyum lepas seraya menatap cincin yang menghiasi jari yang tadinya kosong.


“Kamu menyukainya? Cincin Itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan cincin pertunangan kamu di masa lalu.”


Kayena menggelengkan kepala seraya membawa tangannya sendiri ke hadapan Kaezar. “Ini lebih cantik, lebih berharga.”


Kaezar ikut merasakan euphoria ketika kekasihnya tampak senang menerima pemberiannya. “Aku pikir kamu tidak akan menyukainya.”


Kaezar bukan baru mengenal Kayena. Semenjak dilahirkan, Kayena bebas memilih apapun yang ia inginkan, termasuk perhiasan. Ayah serta kedua kakak laki-lakinya selalu siap memenuhi semua kebutuhan Kayena, oleh sebab itu ia tidak pernah kekurangan barang-barang berharga dari berbagai jenis logam mulia, hingga permata yang langka. Kehadiran Kayena pada pesta peringatan hari kelahiran mantan Selir Agung Katarina menjadi salah satu contoh, seberapa kecil nilai bebatuan berharga baginya. Alih-alih menghias gaunnya dengan sulaman atau bordiran, ia malah mejadikan bebatuan mulia yang warnanya senada sebagai ornament hiasan.


“Cincin ini adalah perhiasan model lama,” tambah Kaezar seraya menggaruk tengkuk, kikuk.


“Ini cantik. Modelnya sederhana, tetapi sangat berkelas.”


Kayena berkata dengan jujur. Di masa muda, ia banyak menerima perhiasan mewah dari keluarga, kerabat, hingga kenalan dari kalangan kelas atas. Sebelum menikah dengan Kaizen, Kayena juga sempat menerima banyak perhiasan dari para Senor yang mengagumi dirinya. Selain mantan suaminya, Kaezar adalah orang kedua yang berhasil memberinya perhiasan yang menakjubkan. Walaupun tidak seperti perhiasan model saat ini, bagi Kayena yang merupakan pecinta seni, cincin itu adalah keindahan nyata dalam bingkai kesederhanaan.


“Sebenarnya … cincin ini milik mendiang ibuku. Pemberian pertama dari ayah.”


Kayena langsung tersentak mendengarnya. “Lalu kenapa kamu memberikan barang berharga ini kepada ku?”


Kaezar sudah bisa menebak, bahwa respon ini yang akan ditunjukkan sang kekasih. “Karena kamu wanita yang akan menjadi menantu ibuku.” Setelah berkata demikian Kaezar kembali menyentuh tangan sang kekasih. “Cincin ini menemani ibuku selama menjadi istri ayah. Sebagai salah satu peninggalan wanita yang sangat aku sayangi dan hormati, aku ingin kamu menjadi pemilik berikutnya dari cincin ini.”


“Aku takut tidak dapat menjaganya dengan baik.”


“Kamu pasti bisa,” kata Kaezar menyakinkan. “Ada satu hal lagi yang aku inginkan bersama kamu.”


“Apa?”


“Mengunjungi ibuku.” Kalimat tersebut diucapkan Kaezar sebelum mengecup punggung tangan kiri kekasihnya. “Ibu harus tahu bahwa putranya sudah memiliki calon istri.”


Kayena segera mengangguk seraya menggapai rahang tegas yang membingkai wajah tampan kekasihnya. “Baik. Bawalah aku kepadamu ibumu, supaya aku bisa memperkenalkan diri.”


“Tentu,” setuju Kaezar seraya merangkum jarak di antara mereka. Kedua lengan kokohnya sudah membelit pinggang serta belakang tengkuk sang kekasih. “Aku bahkan sudah tidak sabar untuk memperkenalkan kamu kepada ibuku.”


Setelah berkata demikian, tanpa keraguan sedikitpun, sang Elang Muda Kekaisaran memberanikan diri untuk menggapai bibir ranum kekasihnya. Bergerak selembut mungkin, menyampaikan rasa cinta yang mendalam, bukan nafsu yang menggelora. Tindakan yang tidak pernah ia lakukan pada wanita lain karena rasa jijik, berubah dengan drastis jika dilakukan bersama sang kekasih.


Tanpa mereka sadari, tidak jauh dari pintu masuk Yeowang-ui bang, ada pria yang tengah berkacak pinggang. Sementara beberapa Kstaria dan pelayanan, termasuk Kima tampak membalikkan badan. Ada dengusan kecil kala ia kembali menatap sepasang kekasih yang tengah bertautan bibir.


“Sejak kapan Kaezar yang benci bersentuhan dengan wanita itu menjadi sangat agresif? Dia bahkan berani mencium little peach of June.” Ada senyum skeptis di bibirnya. Ia kenal betul dengan calon adik iparnya itu. Maka, tidak heran jika ia agak shock melihatnya maju terlebih dahulu untuk melakukan skin ship. “Mereka memang ditakdirkan untuk bersama, untuk saling melengkapi luka dan kekurangan masing-masing.”


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 31-08-23