
00116. La perfection ne fait pas nécessairement tomber l'Empereur amoureux (Sempurna belum tentu membuat Kaisar jatuh cinta)
Jamuan makan yang digelar oleh Kaisar Kwang Sun rupanya sangat megah. Sepuluh menit sebelum acara jamuan dimulai, Khayansar, Cesare, Kayena, beserta Kaezar sudah datang ke lokasi jamuan. Nenek Kaisar Kwang Sun selaku pemegang kekuasan tinggi sebagai Janda Ratu Kerajaan Agung yang memiliki kekuasaan serta menjadi salah satu tokoh politik penting juga tampak hadir, ditemani oleh Nona Muda dari keluarga Min serta Nona Muda dari keluarga Kim—dua kandidat paling kuat untuk mengisi posisi permaisuri yang telah lama kosong.
Keduanya memenuhi kualifikasi berikut untuk menjadi calon permaisuri; bukan berasal dari klan Kwang yang merupakan klan dari keluarga kekaisaran Astoria (bukan kerabat dekat, orang dalam klan, sepupu, dan sebagainya), kedua orang tua calon masih hidup, memiliki latar belakang yang bersih, memiliki kebajikan yang sesuai serta kesopanan, memiliki penampilan yang menarik, dan sebagainya. Alasan nenek Kaisar Kwang Sun mengundang kedua Nona Muda itu sudah sangat jelas, ingin memperlihatkan “kesenjangan” yang lebih jelas pada Kayena.
Ketika mendengar bahwa ketiga tamu penting yang datang merupakan kerabat Kayena, nenek Kaisar Kwang Sun tidak menyurutkan niatnya sama sekali. Janda Ratu Kerajaan Agung itu malah ingin sekalian memperlihatkan kesenjangan pada keluarga Kayena. Namun, semenjak mereka tiba di tempat jamuan, justru nenek Kaisar Kwang Sun yang dibuat terkejut dengan aksi Kayena yang mengumbar keromantisan dengan salah satu pria yang baru mengunjungi Astoria. Selain itu, dua pria lain juga tampan memperlakukan Kayena layaknya benda antik yang mudah pecah, sehingga harus dijaga dengan baik.
“Makanlah yang ini.”
Dikarenakan tamu yang diundang pada jamuan itu tidaklah banyak—limited—sehingga tindakan apapun yang terjadi di ruang lingkup jamuan tersebut, pasti akan langsung menjadi pusat perhatian. Tidak terkecuali tindakan sepele Kaezar saat menyodorkan olahan daging merah yang dimasak dengan berbagai rempah, saus, dan bumbu, kemudian diberi taburan wijen sangrai serta irisan daun bawang di atasnya.
Hanya segelintir orang yang mengetahui bahwa kekasihnya paling tidak suka makan makanan yang diberi topping irisan daun bawang. Oleh karena itu, Kaezar berinisiatif untuk memisahkan irisan daun bawang dari tumpukan daging yang sudah dibumbui, sebelum diberikan pada sang kekasih. Ia juga menyingkirkan menu makanan beraroma tong kayu ek dan anggur, karena itu tidak baik bagi kandungan sang kekasih—mengandung alkohol.
“Terima kasih.”
Dengan senang hati, Kayena tentu menerima pemberian Kaezar. Di antara kedua kakaknya, prianya lebih banyak berinisiatif semenjak tadi. Khayansar dan Cesare yang duduk berdampingan juga tampak memaklumi sikap Kaezar yang begitu perhatian. Jika dilihat secara samar, sosok yang lebih muda dari mereka itu sudah semakin dewasa. Ketika menghadapi Kayena, auranya yang biasa dingin, datar, serta tidak tersentuh, perlahan-lahan berubah menjadi lebih normal. Perhatian yang ditunjukkan olehnya juga membuktikan bahwa ia telah siap menjadi pasangan serta ayah yang siaga.
Di sisi lain, tokoh utama yang menjadi pelopor acara jamuan tersebut tampak ikut memperhatian dalam diam. Dari tempat duduknya, ia merekam setiap perhatian kecil yang ditunjukkan Kaezar untuk wanita yang ia cintai. Menontonnya saja, Kaisar Kwang Sun sudah dapat menilai. Dari kacamantanya sebagai seorang pria, ia dapat melihat ketulusan dari adik tiri Raja Robelia terhadap wanita yang ia cintai.
“Apa yang Mulia Kaisar menyukai hidangan utama serta makanan pendampingnya?”
Selesai jamuan, tibalah acara bincang-bincang santai ditemani oleh teh hangat serta beberapa jenis kudapan—makanan pendamping—yang bercitarasa manis.
“Semua makanan yang dihidangkan rasanya lezat, Nenek.”
Nenek Kaisar Kwang Sun tampak tersenyum puas mendengar jawaban dari cucunya. “Tentu saja, karena makanan yang dihidangkan untuk Yang Mulia kebetulan dibuat oleh Nona Muda Min dan Kim.”
Kaisar Kwang Sun menaikkan alias dengan pandangan tertuju sepenuhnya pada sang nenek. “Begitukah? Tapi bagaimana bisa, Nenek? Bukannya koki istana dipekerjakan untuk bertanggung jawab soal kebutuhan makanan ku? Jika Nona Muda Min dan Kim yang membuat makanan untukku, lalu tugas koki istana apa?”
Kedua Nona Muda yang tadinya tampak tersipu—ketika nenek Kaisar Kwang Sun mebeberkan fakta bahwa mereka terlibat dalam pembuatan makanan untuk sang Kaisar, kini menunduk dengan ekspresi malu. Nenek Kaisar Kwang Sun sendiri tidak menyangka jika cucunya akan membalas dengan sangat gamblang.
“Memangnya kenapa jika Nona Muda Min dan Kim membuat makanan untuk Anda? Nenek sudah memberi mereka izin,” bela Nenek Kaisar Kwang Sun. “Bukan kah Nona Kayena juga diberi izin ketika koki pribadinya ingin mengambil alih tugas koki istana?”
Kayena yang sejak tadi duduk dan diam tentu saja tertegun ketika dirinya dibawa-bawa. Di sampingnya, Kaezar yang tengah duduk dengan sebelah tangah mengelus perut ramping kekasihnya—komunikasi yang sengaja dibangun dengan calon anak mereka—juga tampak penasaran, karena tiba-tiba telinganya menjadi lebih sensitif, ketika calon istrinya masuk dalam pembicaraan.
“Kondisi serta situasinya berbeda, Nenek. Aku memberikan izin untuk koki pribadi Kayena ketika hendak membuat makanan dari negera mereka, karena aku tahu tidak mudah bagi mereka untuk beradabtasi dengan kebiasan makan kita.”
Setelah melontarkan kalimat yang sekiranya cukup membungkan neneknya dengan cara halus, Kaisar Kwang Sun kemudian mengucapkan terima kasih pada Nona Muda dari keluarga Min dan Kim. Ia juga berpesan agar mereka tidak lagi repot-repot membuatkan makanan atau kudapan, karena Kaisar sepertinya sudah memilki banyak pekerja untuk mengurusi segala kebutuhannya. Mereka diundang bukan untuk memenuhu kebutuhan primernya, apalagi belum ada ikatan apapun dengan salah satunya.
“Nona Kayena menikmati jamuan makannya?” tanya sang Kaisar, pasca bincang-bincang singkat dengan Khayansar dan Cesare.
Ketika mengajukan pertanyaan demikian, para pria kesayangan Kayena yang tengah menikmati anggur dengan citarasa agak asam di mulut, dengan aroma smoky plum yang kuat, namun segera disusul rasa manis dengan aroma samar tong kayu ek dan aroma khas anggur, langsung mengalihkan perhatian. Di antara mereka, hanya Kaezar yang menolak untuk minum banyak anggur, ia hanya mencicipi sebagai formalitas.
“Saya menikmatinya, Yang Mulia. Makanan yang dihidangkan sangat kaya akan rasa dan rempah.”
Seulas senyum tampil di bibir Kayena yang tidak dipoles perona bibir, hanya diberi pelembab. Namun, warnanya tampak cantik dan sehati. Penampilan Kayena bisa dibilang lebih sederhana dibanding penampilan Nona Muda Min dan Kim. Ia hanya menggunakan gaun dengan nuansa warna hijau dan peach, serasi dengan nuansa warna yang melekat pada pakaian Kaezar. Untuk hiasan kepala, ia hanya menggunakan aksesoris kepala yang sederhana, yaitu Dwikkoji motif bunga krisan yang terbuat dari emas dan batu giok. Arti dari aksesoris yang melambangkan keinginan anak perempuan untuk mempertahankan kebajikan dan memiliki keluarga yang bahagia—motif bunga teratai sendiri melambangkan kesetiaan.
Kaisar Kwang Sun ikut mengumbar senyum yang membuat dua Nona Muda tertegun. “Syukurlah jika sesuai dengan selera kamu.”
Jika bersama wanita lain, sang Kaisar akan terlihat sangat kaku serta menjaga batasan. Sedangkan bersama wanita yang sudah tiga minggu tinggal di istana kekaisaran itu, sikapnya langsung berubah drastis. Nenek Kaisar Kwang Sun yang melihat interaksi cucunya juga tampak tidak suka. Ketidaksukaan itu dilihat juga oleh Khayansar serta Cesare.
“Nenek, aku belum mengenalkan tamu-tamu penting ku secara langsung.” Kaisar Kwang Sun beralih, menatap para tamu, baru sang nenek. “Yang duduk berhadapan dengan Nenek adalah putra sulung dari Grand Duke Pexley, Jendral Khayansar de Pexley. Di sampingnya, putra kedua Mayor Jendra hiev de Pexley, Cesare de Pexley. Mereka adalah Kakak dari tamu istimewa ku, Nona Kayena de Pexley.”
Sang nenek tampak mengangguk singkat, kemudian menyapa para tamu cucunya sebagai bentuk formalitas. Ia tampak sedikit terkejut, karena rupanya keluarga Kayena adalah salah satu keluarga bangsawan yang berpengaruh di Eropa. Selain itu, keluarga Pexley juga terkenal dengan tiga hal, semangat juang yang menggelora, kecerdasan, serta keindahan bentuk fisik mereka semenjak lahir ke dunia. Sejak suaminya masih menjadi Raja, hubungan kerjasama dengan keluarga Pexley memang sudah terbentuk.
“Sedangkan yang duduk di samping Nona Kayena, dia adalah keturunan terakhir dari kerajaan Icrea. Kaezar of Icrea.”
Kali ini nenek kaisar Kwang Sun lebih terkejut lagi, ketika mendengar identitas pria muda yang begitu memperhatikan Kayena. “Keturunan terakhir kerajaan Icrea masih hidup?”
“Benar, Nek. Tuan Muda Kaezar adalah satu-satunya cucu dari Raja Carl Clausewitz of Icrea yang dulu pernah membantu Kaisar Astoria—Kakek ku lebih tepatnya, memenangkan wilayah di semenanjung barat Astoria.”
Nenek Kaisar Kwang tidak mungkin lupa hutang budi pada Raja Carl Clausewitz of Icrea yang dulu membantu suaminya memenangkan wilayah di semenanjung barat Astoria. Padahal tidak ada kerja sama apa-apa di antara mereka, namun Raja Carl Clausewitz of Icrea yang baru pulang dari penjelajahan, mau membantu dengan tangan terbuka. Karena bantuan tersebut, suaminya berhasil pulang dengan selamat untuk menyambut kelahiran putra pertama mereka, yaitu ayah Kaisar Kwang Sun.
“Informasi lain yang harus Nenek ketahui, Tuan Muda ini adalah kekasih dari Nona Kayena,” papar sang Kaisar dengan nada suara yang terbilang diusahakan agar terdengar normal.
Detik itu pula, bola mata sang nenek tampak menatapnya dengan nyalang. Wanita tua itu bisa menangkap perubahan suasana hati sang cucu, yang otomatis membuatnya merasa bersalah telah menekan cucunya. Rupanya ia telah salah sangka.
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 26-08-23