
00153. La fin de la relation entre le Roi Tyran et le Vilain Petit Canard (Akhir dari hubungan Raja Tiran & Itik buruk Rupa)
Berita yang menggemparkan istana tidak dapat dibendung lagi oleh tembok pembatas. Ketika matahari baru menyinari Robelia, berita tentang sang Matahari Kekaisaran yang dilukai oleh kekasihnya sendiri telah menjadi bahan pembicaraan di mana-mana.
Beberapa bangsawan serta petinggi pemerintahan juga sudah mendatangi kerajaan sejak pagi, berniat untuk menjenguk raja Robelia. Kendati demikian, niat mereka harus diurungkan karena raja Robelia masih mendapatkan penangangan intensif. Kaelus yang berjaga di depan pintu utama istana raja bertugas untuk memberikan pengertian pada mereka semua.
Selain itu, Kaelus juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menimbun fakta yang sebenarnya terjadi. Sayangnya, terlalu banyak mulut yang tidak dapat dikendalikan. Alhasil, ia harus kewalahan menghadapi gejolak kehebohan yang timbul akibat tindakan inpulsif selir raja Robelia yang saat ini berkuasa. Ia juga takut informasi ini sampai ke telinga Klautviz de Meré. Jika sampai itu terjadi, Klautviz de Meré pasti tidak akan membiarkan putrinya dijebloskan ke dalam penjara.
“Biarkan aku menyuapi kamu, jika kamu tidak bisa duduk hanya untuk mengisi perut.”
Perkataan yang sejatinya mengandung nada ancaman, tetapi diucapkan dengan suara lembut serta penuh keanggunan itu menambah beban di kepala tangan kanan raja Robelia yang sejak semalam bekerja ekstra.
“Kenapa Anda bisa masuk ke istana? Apa Anda tidak bisa melihat bagaimana kondisi istana saat ini?”
“Aku memiliki token khusus dari raja Robelia,” jawab wanita cantik yang duduk anggun di kursi kayu yang ada di kamar pribadi tangan kanan raja Robelia. “Dengan token itu aku bisa keluar dan masuk istana dengan mudah.”
“Anda tidak boleh sembarangan menggunakan token pemberian Yang Mulia. Selain itu, kehadiran Anda di istana pada saat seperti ini akan menggiring opini negatif. Takutnya Anda malah dicurigai sebagai salah satu kandidat wanita Yang Mulia, selain Lady Claudiane tentunya.”
“Kamu tidak perlu risau. Jika ada yang bertanya, aku akan mengatakan pada mereka jika aku datang ke istana untuk memastikan kondisi kekasihku, karena di istana ada wanita gila yang baru saja menyerang raja.”
Kaelus mengelus dadanya pelan ketika mendengar jawaban dari wanita cantik di hadapannya. “Sebaiknya Nona Cyrene segera kembali ke rumah. Kondisi di istana sedang tidak stabil.”
“Aku akan pulang setelah memastikan kamu makan dengan baik.”
Tanpa ba-bi-bu, Kaelus langsung duduk di hadapan wanita cantik itu, kemudian mulai menikmati makanan yang telah dibawa Lady d’Oclean itu dengan cepat dan lahap. Situasi istana sudah jauh lebih kondusif ketika menjelang jam makan siang. Selama pagi hingga beranjak siang, Kaelus telah berhasil meredakan ke penasaran banyak orang. Dibantu oleh beberapa kaki-tangan raja Robelia yang lain tentunya.
Ketika melihat kehadiran Lady Cyerene di antara tamu yang lain, Kaelus memang langsung merasakan firasat yang tidak enak. Wanita itu tidak datang ke istana dengan alasan yang sama dengan yang lain; menjenguk raja Robelia. Melainkan pergi untuk memastikan kondisi kekasih hatinya. Padahal Kaelus sendiri mengkhawatirkan kemunculan Lady Cyrene yang tiba-tiba.
“Kamu benar-benar ingin aku segera pergi?”
Dengan mulut yang masih sibuk mengunyah, Kaelus mengangguk. Pandangannya bahkan tidak tertuju pada wanita cantik di hadapan, melainkan pada potongan daging panggang yang masih tersisa di piring.
“Kamu tidak berperasaan sama sekali. Padahal aku datang jauh-jauh untuk memberikan undangan makan malam dari Ayah—maksudku His Grace.”
Kaelus yang baru saja menelan gumpalan daging yang telah dikunyah, langsung terbatuk-batuk ketika mendengar ucapan lawan bicaranya. Untung saja air minum disediakan tidak jauh dari piring.
“Ada apa? apa dagingnya masih terlalu keras?”
“Tidak, tidak.” Kaelus lekas menjawab setelah tenggorokannya terasa lebih baik. “Tolong jelaskan maksud dari ucapan Anda yang barusan?”
“Dagingnya terlalu keras?”
“Bukan. Sebelum itu.”
“Ah, perihal undangan malam malam dari His Grace?” Lady Cyrene tersenyum tipis ketika Kaelus mengangguk kecil seraya melanjutkan acara makannya. “His Grace ingin bertemu dengan kamu secara pribadi. Oleh karena itu, datang dan penuhilah undangannya.”
Undangan yang dimaksud oleh Lady Cyrene diletakkan di dekat piring Kaelus. Ada senyum tipis yang terpatri di bibir wanita cantik itu ketika melihat respon lawan bicaranya.
“Kamu tidak perlu risau dengan kondisi saat ini. His Grace bisa menunggu sampai kamu memiliki waktu luang,” tambah Lady Cyerene. “Aku juga paham jika kamu ikut mendapat kesulitan karena masalah raja Robelia dengan wanitanya. Ada satu hal yang ingin aku minta, walaupun kamu sibuk melakukan tugas dan kewajiban kamu sebagi ksatria, tetap utamakan keselamatan dirimu sendiri.”
Kaelus sempat tertegun dengan gerakan mengunyah yang berhenti total. Selain mendiang neneknya, tidak ada lagi orang yang mau mengkhawatirkan kondisinya. Sekarang, muncul Lady Cyrene yang menjadi pengganti mendiang sang nenek. Wanita cantik itu bahkan menunjukkan kepedulian serta kekhawatirannya secara langsung—rela datang jauh-jauh dari wilayah yang jauh di ujung sana demi memastikan kesehatannya.
“Hati-hati dalam perjalanan. Anda sudah mendapatkan informasi terkait pemberontakan organisasi hitam bukan?”
“Sudah.”
Lady Cyrene mengangguk. “Ayah telah memutuskan untuk membantu kerajaan. Kemarin ada lima ratus ksatria yang dikirim wilayah kami ke ibu kota untuk membantu pasukan di garda terdepan. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan keadaan kami, karena wilayah kami dekat dengan kerajaan di tenggara. Jika terjadi apa-apa dengan kerajaan Robelia, kami akan meminta bantuan ke pada mereka.”
Kaelus bisa bernapas sedikit lega, karena wanita di hadapannya bukan hanya cantik, tetapi cerdas. Walaupun kerap disebut sebagai “perawan tuan” dari keluar d’Oclean, semakin bertambahnya usia, Lady Cyerene justru semakin matang dan semakin memancarkan pesona sebagai wanita bangsawan yang independen.
“Aku akan pulang sekarang. Jaga dirimu baik-baik,” pamit Lady Cyrene seraya membenarkan letak tupi tudor yang ia gunakan. “Jangan lupa untuk segera membalas suratku ketika kamu—“
“Saya akan segera membalasnya jika memiliki waktu luang,” potong Kaelus seraya meraih telapak tangan kanan lawan bicaranya. Kemudian tangan itu ia bawa ke hadapan bibir. “Berhati-hatilah dalam perjalanan pulang dan sampai jumpa lagi lain waktu, my Lady,” lanjutnya setelah memberikan satu kecupan di punggung tangan wanita cantik yang sempat dibuat membeku oleh tindakan inpulsif-nya.
Kaelus memang tidak pandai berkata-kata, tetapi ia selalu sigap ketika beraksi. Kedatangan Lady Cyrene yang tidak mengenal rasa takut ke istana, bukan saja membuatnya merasa tersentuh. Ia juga merasa jika wanita itu benar-benar tidak akan mundur sebelum perasaannya terbalas. Selain itu, Kaelus juga sudah merasa lelah terus menghindar dan menyembunyikan perasaannya sendiri. Mungkin sudah waktunya ia untuk bersikap adil pada dirinya sendiri. Setelah masalah raja Robelia selesai, ia akan memenuhi undangan Grand Duke d’Oclean.
“Bagaimana kondisi Yang Mulia? apakah beliau sudah siuman?”
“Belum, Kapten. Yang Mulia masih berada di bawah pengaruh obat bius,” jawab ksatria yang kebetulan berjaga di peraduan raja Robelia ketika Kaelus mengurus masalah yang lain.
Kaelus juga sempat mengurus pemindahan Katarina ke penjara bawah tanah—lebih tepatnya ruang isolasi di penjara bawah tanah. Tadinya petugas penjara yang akan langsung memindahkan Katarina, tetapi wanita itu merasa keberatan dan menolak ide tersebut. Pada akhirnya, Kaelus juga yang harus turun tangan.
Walaupun kondisi di penjara bawah tanah sangat tidak cocok untuk Katarina—khususnya ruang isolasi sangat dingin, kedap udara, serta lembab—keputusan raja Robelia sudah tidak bisa ditarik kembali. Mau tidak mau, wanita itu harus menerima hukuman sebagai pelaku yang telah melukai seorang Matahari Kekaisaran. Citranya juga mulai dipertanyakan sebagai seorang kekasih raja.
Sebagian orang ada yang percaya jika Katarina melakukannya karena didasari cemburu buta. Ada pula yang berpikir jika Katarina sengaja dipancing agar berbuat demikian, karena kekasihnya ingin mencari pasangan baru.
Pernyataan resmi bukan dirilis oleh istana terkait peristiwa yang dialami oleh raja. Secara tidak langsung, hal itu semakin membuat opini yang tersebar di luaran semakin banyak berseliweran. Kaelus sebagai orang yang masih dapat berpikir secara logis, lebih mementingkan kondisi raja serta memantau langsung perkembangan pemberontakan organisasi hitam. Jika ia tidak dapat membelah tubuh seperti amoeba, setidaknya ia telah berusaha maksimal dalam bekerja.
“Bagaimana kondisi Yang Mulia, Dokter Calph?”
Pemilik nama itu tersenyum tipis setelah memastikan raja beristirahat dengan baik di bawah pengaruh obat bius. “Kondisi Yang Mulia akan berangsur-angsur pulih setelah efek obat biusnya habis. Luka robek yang disebabkan oleh Selir Katarina memiliki diameter yang cukup dalam, bahkan berhasil melukai syaraf penting yang terhubung ke alat gerak bagian bawah. Walaupun nantinya sudah melewati fase penyembuhan, saya khawatir Yang Mulia akan mengalami kesulitan berjalan secara normal.”
Kaelus tentu saja terkejut mendengar informasi tersebut. Jika raja Robelia akan mengalami kesulitan berjalan, sekalipun sudah melewati masa penyembuhan, itu berarti luka yang disebabkan oleh Selir Katarina cukup fatal.
“Tolong rahasiakan masalah ini dari siapa pun, termasuk keluarga serta kerabat Yang Mulia. Biarkan juga saya yang menyampaikan kondisi ini kepada Yang Mulia.”
Dokter itu mengangguk seraya menepuk bahu Kaelus sebelum berlalu. Katarina memang berhasil melukai kaki Kaizen cukup dalam, bahkan Kaizen hampir kehabisan banyak darah jika tidak langsung mendapatkan penangan pertama. Katarina sekarang resmi ditetapkan sebagai penkhianat kerajaan atas tindakannya melukai dan membahayan nyawa raja, ia terancam hukuman penjara seumur hidup, bahkan terancam dihukum mati. Posisinya sebagai selir pun sudah pasti berakhir.
“Katakan kepadaku, bagaimana kondisi luka yang disebabkan wanita sial*n itu?”
Pertanyaan itu adalah kalimat pertama yang dilontarkan oleh raja Robelia ketika berhasil mendapatkan kesadarannya kembali. Mau tidak mau, Kaelus pun menjelaskan kondisi luka yang diderita Kaizen dengan rinci.
“Kurung dia di ruang isolasi. Jangan beri dia makanan, kecuali setetes air minum. Biarkan dia menderita, sebelum aku memenggal kepalanya.”
Jujur, Kaelus semakin tidak mengenali rajanya. Walaupun perbuatan Katarina memang tidak dapat dibenarkan, hukuman yang diberikan sebagai ganjaran pun terbilang sangat sadis.
“Lalu bagaimana dengan Klautviz de Meré, Yang Mulia?”
“Kirim surat pada pengkhianat itu. Sampaikan padanya jika dalam kurun waktu dua hari dia tidak menyerah, maka aku akan mengirimkan jasad putrinya tanpa kepala.”
💰👑👠
TBC
Tanggerang 05-09-23