
0051. Bonne Mauvaise Nouvelle Pour la Reine (Berita buruk yang baik bagi Ratu)
Ma soeur, ma bien-aimée Cayena de Pexley.
Ne vous inquiétez de rien. Attendez I’arrivée des frères et soeurs plus âgés pour ramasser. Lorsque ce jour viendra, cela signifie que le lendemain, vous srez libéré des chaines qui vous liaient. Frére et Pére feront tout leur possible pour vous ramener à la maison. Tenez encore un peu, le joyau de la fierté de la famille Pexley.
Signé, votre soeur bien- aimée.
Wanita cantik yang duduk menghadap jendela tinggi yang terbuka lebar itu tersenyum tipis setelah membaca surat kedua yang dikirimkan oleh kakak tercintanya. Dari isi surat tersebut, ia bisa menangkap ada rencana besar yang melibatkan orang-orang yang menyayanginya. Arti dari surat itu sendiri ialah;
Adikku, Cayena de Pexley yang tercinta.
Jangan mencemaskan apapun. Tunggu kedatangan orang-orang Kakak menjemput. Jika hari itu tiba, berarti keesokan harinya kamu akan bebas dari belenggu yang selama ini mengikatmu. Kakak dan Ayah akan melakukan segala cara untuk membawa kamu pulang. Bertahan lah sebentar lagi, permata kebanggan keluarga Pexley.
Tertanda, Kakak tercintamu.
Surat itu datang kemarin malam. Diantarkan oleh seorang nelayan yang ditemani oleh seorang prajurit berkebangsaan Britania Raya—salah satu prajurit angkatan laut yang berada di bawah kepemimpinan kakaknya. Sedangkan surat pertama datang sebelum 2x24 jam semenjak suratnya yang dikirimkan melalui Albert tiba di Wales.
Tidak banyak yang Kayena bahas dengan Khayansar. Namun, ia tahu jika ada rencana besar yang telah disusun oleh kakak serta ayahnya. Ia juga tahu jika sanga ayah akan melepaskan gelar kehormatan serta kedudukannya. Semua itu dilakukan demi memperlancar rencana yang telah mereka siapkan. Walaupun nantinya Grand Duke Pexley akan kehilangan gelar kehormatan serta kedudukannya, serta kehilangan sebagian dukungan dari kalangan bangsawan, itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.
Kayena tahu jika Kaizen tidak mungkin mengizinkan anulasi, ditilik dari sifatnya yang masih ngotot ingin mempertahankan pernikahan mereka. Pria itu pasti memilih untuk menyetujui perceraian, dengan catatan ada kemungkinan “rencana” tambahan di belakangnya. Kayena sudah mengantisipasi, jika benar perceraian yang akan disetujui oleh Kaizen. Oleh karena itu, ia setuju akan rencana yang disusun kakak dan ayahnya.
Setelah resmi bercerai nanti, Kayena tidak akan tinggal lama di Kyen. Sebagian besar asset milik keluarga Pexley juga diam-diam telah berpindah kepemilikan. Sang kepala keluarga hanya menyisakan estat milik keluarga Pexley yang merupakan kediaman utama, serta perkebunan luas di belakangnya.
“Kima.”
“Iya, Yang Mulia.”
“Lihatlah ke arah sana. Apakah … itu buah mangga?”
Kima yang datang dengan serbet di tangan langsung menyipitkan mata ke arah yang baru saja ditunjuk oleh Kayena. “Pohon di atas daratan tinggi itu, Yang Mulia?”
Kayena mengangguk dengan segera. “Benar. Sepertinya itu pohon mangga yang tumbuh liar di hutan. Dari sini aku bisa melihat beberapa buahnya bergelantungan.”
Kima tersenyum gemas seraya menggelengkan kepala. “Itu tidak mungkin, Yang Mulia. Kemarin saya dan kepala koki sudah menjelajahi keseluruhan hutan ini untuk mencari berry liar. Saya tidak menemukan satu pun pohon mangga.”
“Begitu, kah?” Kayena tampak menghela napas kecil ketika selesai mendengar penuturan Kima. “Jadi, itu bukan pohon mangga?”
Kima menggeleng lagi. “Bukan, Yang Mulia. Kemungkinan besar itu tumbuhan hutan yang buahnya mirip mangga.”
“Padahal aku sempat mendapatkan informasi jika di pulau ini telah ditanami beberapa jenis tumbuhan buah yang langka. Aku pikir pohon mangga juga ikut ditanam di sini,” oceh ratu Robelia itu. Entah kenapa belakangan ini ia ingin sekali makan buah-buahan yang asam dan manis. Oleh karena itu, kemarin Kima dan kepala koki sempat berkeliling guna mencari berry liar.
Kima dan kepala koki memang berhasil menemukan beberapa jenis berry, seperti strawberry liar, mulberry, Elder berry, rasphberry, sampai plum liar. Namun, mereka tidak pernah melihat pohon mangga. Lagipula buah dengan daging tebal yang berasal perbatasan Negara Hindia dengan Negara Burma (Myanmar) itu jarang tumbuh di Robelia. Maka tidak heran jika di pasar tradisional Robelia, buah bercitarasa manis ketika sudah masak itu harganya lumayan fantastis.
“Anda benar-benar menginginkan buah mangga, Yang Mulia? jika iya, maka saya akan pergi ke pasar apung terdekat untuk membelinya.”
Kayena tersenyum lebar, detik berikutnya ia membalikkan badan. Meninggalkan tepian jendela. “Tidak perlu repot-repot. Nanti aku akan memetiknya sendiri ketika sudah pulang ke Kyen.”
“Kalau begitu Yang Mulia harus makan terlebih dahulu. Bukannya seharian ini Yang Mulia belum makan sebutir nasi pun?”
Kayena menggeleng lemah seraya mengayunkan langkah. “Perut ku sedang tidak bersahabat dengan nasi. Jika masih tersedia kentang, aku lebih menginginkan kentang tumbuk.”
“Masih ada, Yang Mulia. Nanti saya akan buatkan kentang tumbuk dengan susu yang banyak …”
“Jangan,” potong Kayena. “Secukupnya saja, karena perut ku belakangan ini rasanya tidak nyaman. Makanan yang mengandung bahan tertentu akan mudah membuat ku mual.”
“Mungkin Yang Mulia akan mendapatkan tamu bulanan,” ujar kima. Ia memang cukup hafal siklus tamu bulanan majikannya itu.
“Tidak,” jawab Kayena. Ia sempat terpekur cukup lama, ketika hendak menuruni anak tangga.
Terkait tamu bulanan, Kayena memang belum mendapatkannya lagi semenjak tamu bulanan terakhir. Sehari yang lalu ia sempat mendapati bercak darah yang awalnya ia pikir tamu bulanan. Namun, rupanya bukan. Berbeda dengan tamu bulanan, bercak darah itu berwarna coklat gelap dan volume pendarahannya hanya terjadi dalam bentuk bercak.
“Nanti saya akan membuatkan ramuan herbal untuk Yang Mulia,” kata Kima, membuyarkan lamunan Kayena. “Biasanya nyeri perut Yang Mulia akan sembuh jika meminum ramuan herbal.”
“Yang Mulia Ratu, ada pesan dari istana.”
Kepala koki yang datang dengan tergopoh-gopoh, langsung bicara to the point. Ketika Kayena tiba di anak tangga terakhir, ia menemukan 4 orang pria berseragam tentara Robelia. Dua pria lain tampak menunggu di depan pintu. Bedanya, dua pria itu menggunakan seragam angkatan laut Britania Raya.
“Bacakan pesannya,” kata Kayena.
Salah satu dari prajurit Robelia itu maju, kemudian membuka gulungan berisi pesan yang ditulis langsung oleh Raja Robelia. Dalam pesan tersebut dikatakan bahwa kepulangan Kayena telah ditunggu di istana Robelia. Padahal, ini baru lima belas hari semenjak ia diasingkan. Dari rencana awal, masih tersisa beberapa hari. Ternyata, secepat itu langkah yang diambil oleh Kaizen, setelah didesak oleh dua belah pihak.
“Kima, lekaslah berkemas. Kita akan meninggalkan Kastil Putih setelah hari berganti menjadi malam,” ujar Kayena kemudian. Ada seberkas senyum tercipta di bibirnya.
Walaupun tahu jika kemungkinan besok ia tak akan lagi menyandang gelar sebagai wanita nomer satu di Robelia, Kayena tetap bahagia. Ini adalah keinginannya. Mimpinya. Tujuan hidup keduanya. Sekalipun ia harus melepaskan tahta yang beberapa tahun belakangan telah ia jaga dengan suka cita.
💰👑👠
Matahari telah tenggelam, meninggalkan bias cahaya jingga yang menyenangkan mata. Membuat siapapun yang menikmatinya, terhibur tanpa banyak drama. Sesuai dengan perjanjian, ketika matahari tenggelam, meninggalkan langit Robelia, Raja sudah harus memiliki keputusan bulat di tangannya. Maka pada saat matahari telah menutup hari dengan sempurna, mereka kembali berkumpul. Kali ini di aula utama yang menampung beberapa orang penting di Robelia.
Pasukan yang dipimpin oleh Mayor Jendral Khiev de Pexley dan Mayor Khayansar de Pexley juga sudah bersiap di dermaga utama hingga ibu kota Robelia. Sebagian besar ada di depan gerbang utama dan istana raja. Menunggu keputusan Raja Robelia, serta titah dari pimpinan mereka. Jika titah untuk menyerang diturunkan, pasukan elit dari angkatan laut itu akan segera menjalankan tugas. Pantang pulang jika belum meraih kemenangan.
“Waktu yang saya berikan sudah habis. Jadi, apa yang dipilih oleh Yang Mulia?”
Pertanyaan itu dilontarkan oleh Grand Duke Pexley, sekaligus ayah mertua dari Raja Robelia yang sekarang berkuasa.
“Sudah kan Yang Mulia mempertimbangkan keinginan saya?”
Kaizen, Raja Robelia yang sekarang berkuasa dan tengah duduk di singgasana tampak menampilkan raut wajah datar. “Saya sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang.” Di sisi kiri, ada Selir Agung Katarina yang setia menemani. Berbanding terbalik dengan sisi kanan, di mana singgasana Ratu tampak kosong melompong.
“Saat ini Ratu Kayena sedang dalam perjalanan kembali ke istana,” katanya kemudian. “Besok akan dilakukan upacara penyerahan tahta Ratu Robelia.”
Beberapa orang bangsawan yang hadir dalam kesempatan tersebut tampak terkejut. Bisik-bisik mulai terdengar, terutama dari fraksi yang konta terhadap Kayena. Mereka tampak senang bukan kepalang. Sedangkan Grand Duke Pexley serta Duke of Edinburgh tampak memasang wajah biasa saja. Mereka tidak sedih, tidak juga terkejut mengenai pencopotan gelar Ratu terhadap Kayena. Toh, itu yang mereka inginkan.
“Dokumen perceraian yang diajukan oleh pihak Ratu telah saya setujui.”
Kaizen bicara dengan lantang. Namun, tidak ada yang tahu jika kedua tangannya terkepal kuat. Irama jantungnya berdenyut hebat. Ada rasa tak rela ketika akhirnya ia melepaskan Kayena begitu saja. Padahal, dulu ia sangat kesulitan mendapatkan wanita bangsawan yang mendekati kata sempurna seperti Kayena.
“Mulai besok, Ratu Kayena tidak akan menyandang gelar Queen Consort setelah dilakukan upacara penyerahan tahta. Gelar bangsawan serta kehormatan keluarganya juga telah dikembalikan. Kedepannya, keluarga Pexley bukan lagi bagian dari strata bangsawan Robelia.”
Kendati demikian, Kaizen harus rela melepaskan Kayena untuk saat ini. Setelahnya, ia akan menjalankan rencana sesuai dengan arahan Katarina.
“Terima kasih, Yang Mulia.”
Grand Duke Pexley maju satu langkah. Ia kemudian menerima gulungan berisi dokumen perceraian yang telah disetujui Kaizen, serta ada bubuhan persetujuan Paus Calius selaku Pastor Paroki (pendeta setempat). Disahkan pula oleh Uskup Agung Candor.
“Saya pastikan jika Anda tidak akan menyesali keputusan ini,” tambah Grand Duke Pexley. Ia rela mempertaruhkan segalanya, demi mengeluarkan sang putri dari cengkraman Raja Tiran, Plin-plan, dan bajing*n seperti Kaizen.
Tak butuh waktu lama, Khayansar pun ikut maju satu langkah. Namun, ia tidak memberikan penghormatan pada Kaizen, sebagaimana yang dilakukan oleh ayahnya. “Keputusan yang bijak,” katanya dengan suara dingin dan datar. “Setelah esok hari berlalu, akan aku pastikan jika kau tidak akan pernah lagi melihat wajah Adikku.”
Kaizen menahan geram di dalam hati. Di sisinya, Katarina sigap menenangkan. Mengelus kepalan tangannya dengan penuh kelembutan.
“Jangan pernah berharap akan mendapat kesempatan kedua untuk kembali bersama dengannya,” tekan Khayansar. “Selama aku masih bernapas, kau tidak akan bisa kembali bersama Kayena. Camkan itu baik-baik.”
💰👑👠
TBC
Gimana perasaan readers setelah baca bab ini?
Masih mau next? Komentar Next di sini, yang banyak 👇 Semoga aja suka 😘
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 05-06-23