
0058. Abondance D’amour Pour Kayena (Limpahan cinta untuk Kayena)
“Yeowang-ui bang?” Wanita tua yang tengah menikmati secangkir teh hangat itu bicara dengan tatapan seolah tak percaya pada lawan bicaranya. “Kaisar benar-benar membiarkan wanita itu tinggal di Yeowang-ui bang?” tanyanya sekali lagi.
“Benar, Yang Mulia.”
Wanita tua yang merupakan nenek dari Kaisar Astoria yang saat ini berkuasa tampak menimang-nimang informasi yang baru saja dibawakan oleh dayang pribadinya.
“Apa ini ada kaitannya dengan mimpi yang semalam Yang Mulia dapatkan?” tambah dayang yang sudah menjadi tangan kanannya semenjak menjadi Putri Mahkota Astoria.
“Kemungkinan besar iya,” sahutnya. Semalam ia mendapatkan sebuah mimpi. Mimpi itu mengambil latar belakang Yeowang-ui bang atau kamar yang diperuntukkan untuk Ratu. Bisa dibilang kompleks tempat paviliun Yeowang-ui bang berada adalah komplek tempat tinggal yang dibangun untuk Ratu atau Permaisuri.
Dalam mimpinya, ia melihat naga besar berwarna emas yang mengelilingi atap Yeowang-ui bang. Dalam mitologi kuno Kekaisaran Astoria, jika memimpikan naga emas yang mengelilingi sebuah tempat, itu berarti akan lahir calon Raja yang berpengaruh di masa depan. Naga juga menjadi lambang dari perlindungan dan penangkal roh jahat dalam kepercayaan mereka. Biasanya hiasan berbentuk kepala naga terpasang di atap bangunan, terutama kuil dan tempat-tempat yang dianggap suci. Di kekaisaran Astoria sendiri, bangunan yang diberi hiasan kepala naga pada atapnya adalah kediaman Raja atau Kaisar, karena naga juga menjadi lambang bagi seorang Raja atau Kaisar. Selain kediaman Raja atau Kaisar, hiasan kepala naga juga menghiasi atap kediaman Ratu atau Permaisuri yang kelak akan menjadi wanita yang melahirkan calon Raja atau Kaisar.
“Atau jangan-jangan … wanita itu datang ke sini karena tengah mengandung penerus Kaisar?” tebak mantan Ratu itu, tiba-tiba. “Apa kamu ingat, Dayang Kim. Beberapa saat yang lalu Kaisar ngotot pergi ke Inggris, padahal menteri luar negeri saat itu mengusulkan diri. Apa mungkin Kaisar menemui wanita itu? bukan kah Kisar juga berteman dengan kakaknya yang menetap di Edinburgh?”
Wanita yang bernama Dayang Kim mengangguk dengan hormat. “Sebaiknya Anda langsung bertanya kepada Kaisar, Yang Mulia. Karena ini terkait penerus Kekaisaran Astoria yang telah ditunggu-tunggu, kita tidak boleh salah langkah.”
“Benar,” setuju nenek dari Kaisar Kwang Sun tersebut. “Sebelum itu, aku ingin kamu memastikan jika wanita itu merasa nyaman dengan pelayanan yang kita diberikan. Jika benar dia tengah mengandung bayi Kaisar, maka dia adalah calon Permaisuri yang telah kita tunggu selama delapan tahun.”
“Saya akan memastikan semua kebutuhan Nona Kayena terpenuhi dengan baik, Yang Mulia.”
“Ah, benar. Namanya Kayena. Cantik sekali, seperti orangnya,” puji nenek Kaisar Kwang Sun.
Walaupun belum pernah bertemu secara langsung dengan Kayena de Pexley, ia sempat melihat lukisan wajahnya. Lukisan tersebut ia temukan di kamar lama Kwang Sun—ketika pria itu masih menjadi Putra Mahkota. Lukisan tersebut sepertinya dibuat oleh penulis terbaik di Kekaisaran Astoria, sehingga hasilnya tampak begitu nyata. Dari lukisan tersebut lah ia mengetahui kecantikan Kayena, karena di belakang lukisan tersebut ditulis nama; Cayena de Pexley dengan begitu indah. Lengkap dengan tanggal dibuatnya lukisan tersebut.
“Ayo, Dayang Kim. Kita harus segera mengintrogasi Kaisar.”
Dayang Kim beserta dayang yang lain mengangguk patuh, kemudian mengikuti langkah nenek Kaisar dari belakang. Walaupun sudah berusia lanjut, nenek Kaisar masih tidak mau tinggal diam, selama cucunya itu belum memiliki pasangan. Pasca Putri Mahkota meninggal—delapan tahun lalu—pemilihan untuk wanita pendamping Kaisar belum dilakukan lagi. Kenapa? Tentu saja karena Kaisar menolak.
Sempat beberapa kali dilakukan pemilihan secara sepihak, namun hasilnya tidak memuaskan. Mengingat Kaisar Kwang Sun menolak wanita yang keluar sebagai pemenang. Sempat tersiar kabar burung jika Kaisar terlalu mencintai mendiang Putri Mahkota, sehingga ia tak kunjung memiliki istri lagi. Ada pula rumor tak masuk akal yang mengatakan bahwa Kaisar Kwang Sun tidak tertarik pada wanita, karena kesehariannya hanya dihabiskan untuk mengurusi kekaisaran.
Semua rumor itu akhirnya hanya dianggap sebagai angin lalu, karena Kaisar Kwang Sun sempat menerima beberapa putri pejabat yang disodorkan ke istana untuk menjadi wanita Kisar (selir). Namun, semua wanita itu hanya dijadikan pajangan di harem kekaisaran. Mengingat ia tak pernah menyentuh mereka sekalipun. Mungkin sesekali ia mengunjungi mereka, tapi tidak pernah ada perlakuan spesial, selain memberikan mereka semua jaminan hidup aman dan nyaman di harem Kekaisaran. Bagi mereka yang ingin hidup bebas; menikah dengan pria yang dicintai, kemudian membangun keluarga kecil yang harmonis, Kaisar akan memberikan izin kepadanya, dengan cara mencabut gelarnya sebagai wanita Kaisar.
Sejauh ini sistem yang diterapkan Kaisar Kwang Sun berjalan dengan baik. Namun, bukan berarti desakan untuk segera memilih Permaisuri dan memiliki keturunan menghilang. Yang ada, semakin tahun, semakin bertambah desakan tersebut.
Puncaknya, mungkin saat ini. Ketika warga Kekaisaran Astoria menjadi saksi bisu bagaimana Kaisar mereka membawa seorang wanita ke dalam peraduannya. Membiarkan wanita itu tinggal seharian di tempat tinggalnya dengan perlakuan yang luar biasa istimewa. Bak gayung bersambut, kabar itu dianggap sebagai angin segar bagi Kekaisaran. Penantian selama delapan tahun lamanya mereka anggap akan segera berakhir dengan datangnya wanita cantik yang langsung diberi tempat tinggal istimewa, yaitu Yeowang-ui bang.
“Sebenarnya apa yang Nenek inginkan?”
“Kepastian.”
“Kepastian terkait apa, Nek?”
Kwang Sun yang pagi itu berniat mengunjungi Yeowang-ui bang—tempat di mana Kayena tinggal pasca menyelesaikan pertemuan pagi—harus mengurungkan niatnya. Dikarenakan kehadiran sang nenek yang tiba-tiba, membuat Kwang Sun mau tidak mau harus mengulur waktu untuk bertemu.
“Nona Kayena. Nenek dengar sekarang dia tinggal di Yeowang-ui bang. Benar, Yang Mulia?”
“Seperti yang sudah Nenek dengar,” jawab Kaisar Kwang Sun. “Tamu ku menolak tinggal di sini. Jadi, aku menawarkan Yeowang-ui bang untuk dia tinggali.”
Mendengar informasi tersebut, sang nenek langsung menyentil jidat cucunya.
“Nenek,” lerai pria rupawan yang hari ini tampil gagah dengan pakaian dinas resmi milik militer Astoria.
“Sakit,” keluhnya dengan tangan menyentuh bekas sentilan tersebut.
“Itu hukuman karena tidak menaati peraturan.”
“Peraturan apa, Nek?” bingung sang Kaisar. Hidupnya sudah sesuai peraturan sejak lahir sebagai putra sulung Kaisar Astoria ke XVI.
“Jika Yang Mulia memang mencintai Nona Kayena, segera resmikan hubungan kalian. Apa kata rakyat jika Nona Kayena datang-datang diajak tinggal bersama, tanpa status yang jelas. Sekarang dia bahkan tinggal di Yeowang-ui bang; tempat paling diidamkan para perempuan muda di Astoria,” tekan neneknya.
Kaisar Kwang Sun mengangguk paham. Apa yang dikatakan neneknya memang benar. Menurut peraturan seharusnya demikian. Yeowang-ui bang hanya diperuntukkan bagi wanita yang telah resmi menikah dengan Kaisar atau Raja. Pernikahan pun sudah diresmikan dengan serangkaian prosesi adat, sampai pengukuhan jabatan bagi pasangan suami-istri tersebut. Baru lah, istri Kaisar atau Raja bisa tinggal di Yeowang-ui bang.
Lain cerita jika wanita yang istimewa bagi Kisar atau Raja adalah rakyat biasa. Mereka biasanya masuk ke istana sebagai Dayang, merangkak naik menjadi Dayang istimewa—jika berhasil menarik perhatian Kaisar. Ketika telah menghabiskan malam bersama Kaisar, ia akan dianggap sebagai wanita Kaisar; atau penerima anugrah dari Kaisar. Statusnya kemudian akan diangkat menjadi Selir dengan tingkat paling rendah. Jika Kaisar menyukainya, tidak menutup kemungkinan statusnya sebagai selir dengan tingkat paling rendah, merangkak naik menjadi Selir tingkat 1. Satu langkah menuju posisi Ratu.
Langkahnya bisa semakin mudah lagi, jika hadir keturunan Kaisar atau Raja dalam rahimnya. Wanita itu secara otomatis akan mendapat gelar baru, yaitu ibu dari calon penerus berikutnya. Namun, di balik semua tahapan, ada banyak hal yang harus dipelajari oleh wanita Kaisar. Terutama soal tradisi Kekaisaran, serta ajaran dasar bagi wanita Kaisar yang kompeten.
“Jadi kapan, Yang Mulia?”
“Apanya, Nenek?” bingung Kaisar Kwang Sun.
“Pernikahan resmi dilangsungkan,” ucap sang Nenek, to the point. Ada senyum tercipta di bibirnya.
Kaisar Kwang Sun ikut tersenyum, walaupun tipis. “Setelah Nenek mengenalnya lebih dekat, kemudian bisa menerimanya dengan segala masa lalu yang dia miliki.”
“Kaisar benar-benar memperhatikan Nona dengan baik.”
Celotehan itu sudah didengar Kayena sepanjang hari, terutama semenjak pemimpin Negeri ini mengantarkan berbagai macam buah-buahan segar yang siap dinikmati lewat dua orang Dayang. Kayena tidak tahu apa motif dibalik semua perlakuan istimewa ini, namun rasa penasarannya ia pendam terlebih dahulu, ketika melihat satu tangkai buah mangga yang tampak segar dan masak. Air liurnya bisa saja menetes jika tidak segera menikmati mangga-mangga tersebut.
Kima yang tahu betul keinginan sang majikan, langsung sigap mengupas buah bercitarasa manis ketika masak sempurna itu. “Silahkan, Nona.”
“Terima kasih, Kima,” ucap Kayena dengan binar bahagia. Dihadapkan dengan daging buah mangga yang besar dan harum, membuat perasaannya langsung berbunga-bunga. “Ini manis sekali,” katanya, setelah mengunyah satu potong daging mangga yang dikupas oleh Kima.
“Cobalah, Kima. Kamu pasti akan suka.”
Kima menggelengkan kepala dengan segera. “Nona saja yang makan. Bukan kah Nona sangat menginginkan buah ini semenjak berada di Kastil Putih?”
“Iya.”
“Kalau begitu Nona harus habiskan,” ujar Kima ketika hendak mengupas satu buah mangga lagi. “Karena keinginan ini bukan saja keinginan Nona, melainkan keinginan bayi di dalam perut Nona,” lanjutnya di dalam hati.
Untuk saat ini, kehamilan Kayena masih menjadi rahasia. Bahkan dari Kayena sendiri. Hanya tabib yang memeriksa Kayena, tentara yang merupakan tangan kanan Khayansar, Kima, dan tentu saja Kwan Sun yang mengetahui soal kehamilan Kayena.
Ide untuk menyembunyikan berita ini dicetuskan oleh Kwang Sun. Pria itu juga langsung mengajak tentara yang merupakan tangan Kanan Khayansar bicara empat mata. Setelah itu, Kima tidak lagi melihat tentara tersebut. Mungkin ia telah mendapat tugas yang penting dari Kaisar Astoria. Kima diminta tutup mulut, sampai ia mendapat izin dari Kwang Sun. Pria itu sepertinya … hendak membicarakannya terlebih dahulu dengan kakak Kayena.
“Nona.”
“Iya. Ada apa, Kima?”
Kima tampak bimbang. Namun, ada rasa penasaran yang sangat besar yang muncul di kepalanya. “Jika Nona memang percaya pada saya, tolong jawab satu pertanyaan ini dengan jujur.”
Kayena menatap Kima dengan kening berkerut. “Apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Malam itu …” Kima masih menatap Kayena dengan lekat, walaupun ada ragu yang membelenggu. Namun, ia juga harus memastikan sesuatu; milik siapa kah bayi dalam perut Kayena. Milik Raja Robelia? Milik Pangeran Kaezar? Atau jangan-jangan … milik salah satu dari empat prajurit yang malam itu menculik Kayena?
“Di saat Nona menghilang, padahal seharusnya Nona pergi ke kediaman Raja. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Kayena tampak terdiam. Tangan kanannya yang sedang mengambil potongan mangga, kembali meletakkan potongan buah tersebut. “Aku percaya kepada mu, Kima. Oleh karena itu, aku yakin jika kamu tidak akan sanggup jika mendengar kebenaran di balik hilangnya aku malam itu.”
“Maksud Nona apa?”
“Malam itu …” Kayena tampak setengah hati ketika hendak mengulik cerita kelam di balik malam itu. Namun, ia tahu jika pelayan yang sudah ia anggap seperti adik sendiri itu akan terus bertanya-tanya jika tidak mendapatkan jawabannya secara langsung. “… aku memang hampir mengalami insiden penculikan,” tutur Kayena. “Tetapi aku berhasil melarikan diri, setelah salah satu di antara mereka membantu ku.”
“Lalu … setelah itu apa yang terjadi?” Kima tampak terkejut luar biasa. Namun, ia masih ingin mendengarkan kelanjutan cerita dari Kayena.
Helaan napas kecil terdengar ketika Kayena pada akhirnya memilih untuk memusatkan perhatian seluruhnya pada Kima. Satu-satunya orang yang ia percaya saat ini.
“Malam itu aku tetap pergi ke kamar Raja,” lanjut Kayena. Dengan setegar mungkin, ia kemudian menceritakan apa saja yang terjadi malam itu.
“Nona …”
Hasilnya, dua puluh menit kemudian, isak tangis kecil-kecil keluar dari bibir Kima. Wanita muda itu tampak tidak dapat menahan air mata setelah mendengar cerita lengkapnya dari Kayena.
“Sudah, tidak perlu menangis. Lagipula malam itu tidak meninggalkan bekas apapun pada ku,” ucap Kayena seraya beranjak, berpindah ke sisi Kima agar dapat memeluk wanita mudah tersebut.
“Maaf. Maafkan saya, karena tidak dapat menolong Anda waktu itu, Nona.”
“Itu bukan kesalahan mu.” Dengan segenap hati Kayena menenangkan Kima. Semua telah terjadi. Tidak ada yang perlu disesali, karena memang bukan kesalahan siapapun. Takdir telah berkata demikian. Maka terjadilah.
“Semuanya sudah berlalu. Tidak ada yang perlu disesali,” kata Kayena seraya mengeratkan pelukan. “Lagipula sekarang aku sudah terbebas dari pria itu.”
“Anda salah, Nona,” jawab Kima di dalam hatinya. “Masih ada yang tertinggal dari pria itu di dalam diri Anda,” lanjutnya dengan tangis pilu yang kian menjadi-jadi.
Kima tidak tahu apa reaksi yang akan ditunjukkan Kayena ketika mengetahui bahwa ada jejak yang ditinggalkan pria bajig*n itu di dalam tubuhnya. Di rahimnya. Sebuah nyawa yang bisa saja digunakan sebagai perantara agar pria itu bisa kembali mendapatkan Kayena.
“Nona. Jika pria itu meninggalkan jejak pada tubuh Anda, jangan pernah berpikir dua kali untuk segera menghilangkannya,” ucap Kima tiba-tiba ketika pelukan di antara mereka mulai melonggar. “Karena saya tidak mau Anda berurusan lagi dengan apapun yang berkaitan dengan pria itu.”
💰👑👠
TBC
Catatan : Cerita ini hanya fantasi, jadi jika ada kesamaan nama tokoh/tempat, bukanlah sesuatu yang disengaja.
Sumber semua foto; pinterest.
Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 13-06-23