
0083. Méfiance, inquiétude et récompense du mal (Kecurigaan, Kekhawatiran, dan ganjaran kejahatan)
Seperti dugaan Khayansar, mereka akan langsung bergerak kegirangan ketika mendengar kabar tewasnya saksi kunci dalam persidangan yang dilakukan oleh Pengadilan Tinggi. Seolah ingin menggiring opini, Khayansar sengaja menerjunkan pasukannya ketika fajar menyingsing di ufuk barat.
Selama ini mereka tahu jika Duke of Edinburgh telah mengamankan semua saksi, terutama saksi kunci ke sebuah kediaman milik temannya. Buka kediaman Khan, melainkan kediaman milik temannya yang lain.
Ketika kabar soal Kyara yang telah menghembuskan napas terakhirnya tersebar, Khayansar langsung bergerak guna membawa jasadnya ke tempat persemayaman untuk dilakukan proses kremasi. Khayansar juga telah mengutus seseorang untuk menyampaikan pesannya pada Raja Robelia. Di dalam surat tersebut ia menyampaikan mematikan Kyara yang sudah jelas-jelas disebabkan oleh Klautviz de Meré.
Dalam suratnya, Duke of Edinburgh menginginkan kepala Archduke Klautviz sebagai hukuman atas perbuatannya yang mengakibatkan Kyara tewas mengenaskan. Serta menuntut Raja Robelia untuk segera membersihkan nama adiknya, Kayena. Memang tidak ada balasan untuk surat terbuka tersebut, namun sebelum fajar meninggi, dua kereta kuda dengan lambang kerajaan datang dengan pengawalan ketat.
"Matahari Kekaisaran akan segera memasuki ruangan!" kata seorang prajurit, menyampaikan kedatangan Rajanya.
Mereka yang masih berstatus sebagai rakyat Robelia tentang saja diharuskan untuk memberikan penghormatan pada sang Raja, sedangkan bagi Khayansar yang sudah tidak lagi berdomisili di Robelia, sama sekali tidak berniat untuk menundukkan kepala sebagai bentuk rasa hormat.
"Di mana Kyara?!"
Rupanya sang Raja tidak datang seorang diri, karena dari satu kereta kuda yang lain, keluarlah kekasih sang Raja dengan wajah sembab. Seolah-olah baru saja menangis di sepanjang perjalanan.
"Di mana Kyara, Duke of Edinburgh?" tanyanya pada Khayansar.
"Kau tidak melihatnya?" sahut Khayansar, sarkas. Karena sudah jelas-jelas ia berdiri tidak jauh dari peti mati. "Dia sudah bersemayam di dalam peti mati."
Katarina yang tampil dengan pakaian berkabung serta riasan seadanya, tampak menatap tidak suka pada lawan bicaranya.
"Saya tidak pernah mengundang pasangan paling fenomenal di kerajaan Robelia untuk datang ke prosesi kremasi saksi yang disebut sebagai pengkhianat."
"Saya datang ke sini karena saya masih punya rasa kemanusiaan. Bagaimana pun juga dulu dia adalah orang terdekat saya, sebelum dia memilih menjadi seorang pengkhianat."
Khayansar tak menampilkan ekspresi apapun, selain flat. Pandangannya kemudian tertuju pada Raja Robelia yang sejak tadi tampak banyak diam. Kendati demikian, ada rasa senang yang tercipta ketika umpannya dimakan dengan lahap oleh musuh. Khayansar berhasil menjebak Raja Tiran dan kekasihnya.
"Kematian saksi kunci ini sangat mendadak. Apakah boleh aku melihat jasadnya?"
Raja Robelia akhirnya buka suara. Raut wajahnya tampak sulit diartikan, mungkin ia sedang memikirkan banyak hal yang perlu dipertimbangkan
"Tentu saja aku tidak lupa. Hanya saja ... aku masih sempat berharap jika saksi kunci itu baik-baik saja."
Kontan, Katarina menoleh dengan raut wajah tidak percaya pada kekasihnya.
Bisa-bisanya pria itu berharap saksi kunci tetap baik-baik saja. Padahal, di sisi lain posisi kekasih serta pamannya akan dipertaruhkan. Jika kebohongannya dibongkar oleh saksi kunci, maka habislah riwayat kekasihnya. Paman Raja pun aka diganjar hukum berat, akibat mencelakai saksi kunci.
Sebelum datang ke sini, mereka juga sempat terlibat percekcokan. Katarina ngotot ingin ikut, guna memastikan kematian dari saksi kunci. Padahal Kaizen melarang Katarina, karena takut masa membludak ketika mengetahui kedatangan rombongan Raja dan Selirnya.
"Lihatlah dengan mata kepala kalian sendiri, apakah benar yang terbaring di dalam peti mati itu adalah seseorang yang kalian kenali."
"Tidak ada seorang yang lebih mengenal Kyara, kecuali saya." Katarina beringsut maju setelah berkata demikian. "Buka petinya."
Perintahnya sudah bak Raja yang berkuasa. Langsung dijawab anggukan oleh para prajurit. Tak butuh waktu lama untuk merealisasikan perintah tersebut. Cukup dua menit untuk membuka peti mati yang sudah dihias dengan bunga lili putih dan Krisan putih.
Pada dasarnya, seorang penipu atau seseorang yang melakukan kebohongan pasti akan merasa gelisah jika dicurigai. Namun, semua itu tidak berlaku bagi Khayansar. Mengingat ia susah mempersiapkan rencananya dengan matang.
"Ini ... benar-benar Kyara?" gumam Katarina, menerka-nerka. Namun, ketika peti mati itu berhasil dibuka, ia dibuat tercengang luar biasa. "Ternyata ..." kalimatnya menggantung begitu saja di udara.
"... Benar. Dia Kyara, si penghianat," lanjutnya di dalam hati, sebelum melancarkan sandiwara sebagai seseorang yang baru saja kehilangan sahabat.
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT dulu di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 12-07-23