
0040. Répéter la Malchance de la Premiére Vie (Mengulang kesial*n dari kehidupan pertama)
“Untuk apa aku diberi kesempatan untuk mengulang kehidupan, jika pada akhirnya harus mengulang kemalangan yang sama?”
Pertanyaan itu hanya diucapkan pada angin malam yang berhembus cukup kencang, ketika kaki telanjangnya berhasil menginjak permukaan tanah yang dilapisi bebatuan alam. Jubah tebal yang menyelimuti tubuh bahkan tak berhasil meminimalisir efek dari angin yang berhembus cukup kencang malam itu. Mungkin, karena di balik jubah itu ia hanya menggunakan pakaian yang terkoyak di beberapa bagian.
“Aku telah berusaha merubah nasibku di kehidupan kali ini,” gumamnya dengan suara getir.
Langkah kakinya yang terhuyung-huyung mengarah ke sebuah mata air yang membentuk kolam kecil di bagian paling ujung dari tempat tersebut. Dinginnya udara malam tak menyurutkan niat untuk menenggelamkan diri pada kolam yang diisi oleh air jernih yang dapat memantulkan keindahan langit malam.
Ia telah berusaha merubah nasib—belajar dari kehidupan sebelumnya, namun kehendak sang Pencipta lebih kuat dari usahanya. Buktinya, ia kembali mengalami kegagalan. Bentuk dari kegagalan tersebut tak lain dan tak bukan adalah mengulang kemalangan yang sama dengan kehidupan sebelumnya.
“Untuk apa berusaha jika pada akhirnya aku harus mengulangi semua kemalangan yang sama!” serunya pada keheningan malam di tempat yang menjadi rumah bagi ratusan spesies tanaman langka.
Sorot mata lemahnya kemudian tanpa sengaja menangkap satu jenis tanaman langka yang tampak mencolok, sekalipun dalam kegelapan. Padahal warna dari tanaman tersebut bukanlah warna yang mencolok, melainkan warna gelap.
“Anconitum,” lirihnya dengan kaki yang terus melangkah, memasuki permukaan air. Membiarkan bagian bawah jubah yang ia kenakan sedikit demi sedikit terendam oleh air. “Lambang kebencian.”
Tanaman berbunga ungu kebiruan itu melambangkan kebencian. Sama seperti rasa benci yang saat ini menggerogoti hati. Ia benci setengah mati pada pria yang ibarat lead male atau tokoh utama pada kehidupan ini. Tanpa harus berupaya banyak pun, pria itu lagi dan lagi akan mendapatkan kesempatan pertama untuk mempermainkan hidupnya.
“Aku benci … benci…” racau Kayena dengan air mata yang mulai luruh dari kedua netra sayunya. “Aku benci …diriku yang lemah.”
Kayena sadar jika dirinya tetap lemah, sekalipun telah berusaha kuat untuk menjadi dua kali lipat lebih kuat dari kehidupan sebelumnya. Namun, ia tetap ‘kalah’ dengan mudah dari pria itu.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan?”
Kayena rasa sekarang ia mulai putus asa. Kenapa? Karena ia sendiri sudah mulai kebingungan untuk mencari cara guna melepaskan diri dari cengkraman Kaizen. Jika benih pria itu berhasil tumbuh dan berkembang dengan baik di ladangnya, sudah dapat dipastikan bahwa tidak akan pernah ada perceraian di antara mereka.
Jangankan perceraian, pergi ke rumah keluarganya di Kyen tanpa izin, dalam kondisi berbadan dua saja dapat dianggap sebagai tindakan pengkhianatan. Mengingat wanita Raja sedang berbadan dua hanya dianggap sebagai wadah bagi calon penerus berikutnya.
Kayena sudah pernah merasakan bagaimana dianggap sebagai “wadah” dari calon penerus berikutnya. Ia hanya dianggap sebagai wadah, tak lebih. Keutamaan yang diperoleh pun semata-mata hanya ditujukan untuk calon penerus yang tengah menumpang hidup di rahimnya.
“Apa yang sedang kamu lakukan!”
Tersentak. Itulah respon yang Kayena perlihatkan ketika mendengar seruan yang datang dari arah belakang. Kesadaran yang sempat berhamburan pun kembali ia dapatkan, walaupun gairah hidup tampak masih surut dari sorot kedua matanya.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat seorang pria yang sempat ia jumpai sore tadi, berjalan cepat menuju ke arahnya. Pria berseragam militer itu juga telah menanggalkan pakaian luar dari seragam kebanggaannya, menyisakan dalam berupa kemeja putih polos.
“Kayena, sadarlah!”
Pria itu telah datang. Berdiri di hadapannya. Tanpa peduli akan sepatu hitam mengkilat serta celana bahannya yang basah terendam air, ia langsung menceburkan diri.
“Kayena!”
Pemilik nama itu masih belum sepenuhnya mendapat kesadaran, sampai titik dimana tubuhnya diguncang-guncang, kemudian dibawa kedalam dekapan hangat yang sangat ia butuhkan.
“Apa yang telah terjadi, Kayena.” Bisik pria rupawan itu dengan suara berat miliknya. “Siapa yang telah melukai kamu?”
Walaupun belum memindai secara keseluruhan, pria rupawan itu yakin jika Kayena telah terluka. Jiwanya bahkan sampai terguncang. Ia kenal betul tabiat Kayena ketika terluka, bahkan sampai jiwanya terguncang.
“Tolong aku,” lirih si empunya nama. “Aku … benci menjadi lemah.”
“Kamu tidak lemah.” Kaezar, pemilik rupa rupawan itu segera mengurai pelukan di antara mereka. Kedua tangannya kembali hinggap di masing-masing bahu Kayena yang telah diselimuti pakaian luar seragam kebanggaannya. “Katakan, siapa yang telah menyakiti mu?”
Kayena bungkam. Sorot matanya masih tampak kosong, namun air mata tiba-tiba lolos tanpa aba-aba. Kaezar menggeram kecil. Jika Cesare melihat kondisi adiknya yang seperti ini, pria itu pasti tak akan segan-segan meluluhlantakkan kerajaan Robelia guna mencari pelakunya. Belum lagi Khayansar serta Grand Duke Pexley. Jika mereka mengetahui kondisi Kayena, seperti saat ini, mungkin Robelia hanya tinggal nama.
Kayena memang tidak banyak bicara. Namun, wajah cantik yang biasa terlihat tegar itu malam ini tampak tidak memiliki ketegaran, kekuatan, apalagi gairah untuk hidup.
“Menangislah. Jangan pernah takut terlihat lemah, karena aku tahu kamu sangat tangguh.”
Kayena tak merespon apa-apa selain menyerukan wajahnya pada dada bidang Kaezar yang hanya ditutupi kemeja putih. Tak berselang lama, isak tangis mulai terdengar. Bersama dengan itu, Kaezar bisa merasakan jika permukaan kemeja yang digunakannya mulai lembab. Jantungnya tiba-tiba terasa dua kali lipat lebih sesak dari pertama kali ia menemukan Kayena. Mendengar isak tangis yang tidak dilepaskan begitu saja lolos dari mulut Kayena, berhasil membuat jantungnya tersiksa.
Sebelum datang ke tempat ini untuk ke tiga kalinya, Kaezar tengah berada di sekitar Istana Ratu ketika empat orang prajurit dari kediaman Raja menjemput Kayena. Namun, Kaezar tak pernah melihat mereka melintasi jalan yang sama ketika membawa Kayena. Awalnya ia berpikir mereka menggunakan jalur memutar. Sampai ia bertemu Kima yang baru saja mendapatkan informasi jika Ratu tak pernah sampai ke istana Raja. Sontak, para pekerja yang mengabdi pada Kayena bergegas mencarinya ke seluruh bagian istana. Namun, Kayena tak ditemukan dimanapun.
Kaezar sempat merasa putus asa. Ia pun sempat mendatangi istana Raja, namun para penjaga melarang dirinya masuk, dikarenakan Raja tengah menghabiskan malam bersama selirnya. Brengs*k memang. Ketika istrinya menghilang, Raja Tiran itu malah asik menghabiskan malam bersama selirnya. Kaezar pun memutuskan untuk kembali mencari. Ia sampai dua kali mendatangi rumah kaca yang menjadi salah satu tempat istimewa bagi Kayena. Di sisi lain, Cesare yang masih berada di luar istana juga belum mengetahui jika adiknya menghilang.
Kaezar sempat mencurigai beberapa orang, mengingat dari informasi yang ia dapatkan, ada empat prajurit dari istana Raja yang menjemput Kayena. Namun, mereka tak pernah sampai pada tujuan. Selain itu, Kaizen juga sempat diminta dua orang pelayan wanita untuk menuju gudang anggur. Katanya ada seseorang yang menunggu dirinya di sana. Kaezar tak lantas percaya. Siapa yang menunggu dirinya tanpa membuat janji terlebih dahulu? Jadi, untuk mengecek situasi di gudang anggur, ia mengirimkan dua anggota pasukan khusus miliknya untuk mendatangi tempat tersebut.
Kemudian untuk ke tiga kalinya, Kaezar datang ke tempat ini. Bermodalkan feeling, ia merasa cukup yakin jika kemungkinan paling besar jika Kayena tidak diculik, pasti berada di tempat ini. Akan tetapi, apa yang ia temukan ketika mendatangi tempat ini berhasil membuat deru jantungnya berantakan. Tak pernah ia melihat Kayena dalam kondisi seperti ini. Hilang arah, semangat hidup, serta kekuatan. Semua itu tergambar jelas di matanya.
“Berikan jalan!”
Suara dingin, berat, serta datar milik Kaezar terdengar menyeramkan. Bagi siapapun yang menghalangi jalannya ketika membawa Kayena, maka ia akan segan-segan. Kepulangannya bersama Kayena dalam gendongan tentu saja langsung membuat kehebohan buta kala itu. Ada banyak pertanyaan yang berjubel di kepala mereka, namun tidak ada yang berani bertanya. Menyisakan banyak tanda tanya serta rumor yang cukup membuat geleng-geleng kepala.
💰👑👠
Kepala terasa berat seperti ditimpa beban puluhan kilo gram menjadi hal pertama yang Kaizen rasakan ketika membuka mata. Langit-langit kamar yang khas serta otentik menjadi pemandangan pertama yang ditangkap oleh kedua bola matanya. Kemudian, pandangannya ia alihkan ke samping kiri. Tempat dimana sorang wanita tengah tidur berbantalkan lengan kokohnya yang dihiasi otot bisep dan trisep.
Wanita itu tampak tidur dengan damai, sedangkan ia mencoba untuk mengumpulkan puing-puing ingatan tentang semalam. Bagaimana bisa mereka pada akhirnya menghabiskan malam bersama? Padahal, ia ingat betul sempat mengusir wanita yang kini berbagi ranjang dengannya. Setelah itu, ia melupakan apa yang telah terjadi.
“Eugh … Anda sudah bangun?” lenguhan kecil terdengar, sebelum sapaan dilontarkan oleh wanita yang baru saja menggeliat kecil. Kedua kelopak matanya masih tertutup, namun ia sudah melontarkan sapaan.
“Apa yang terjadi semalam?” tanya si empunya ruangan, to the point. Ia juga telah mengubah posisi berbaringnya, menjadi duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Dari posisi tersebut, ia bisa melihat bagaimana kacaunya ruangan yang mereka tempati.
Pakaian yang mereka gunakan semalam bertebaran di atas lantai dan kursi panjang, benda-benda di atas meja dekat kursi panjang telah berpindah semua ke permukaan lantai, ada tumpahan wine di dekat kaki meja, kelopak bunga yang bertebaran di atas lantai, sampai lilin-lilin yang telah terbakar habis, menyisakan lilin dan bentuk baru. Semua itu tak luput dari pantauan sepasang netra tajam milik Kaizen.
“Kenapa kau … yang ada di sini? Bukan Kayena?” Kaizen bertanya dengan keheranan. Ia ingat betul semalam telah membuat janji dengan sang istri. Oleh karena itu, ia meminta pelayan untuk menghias kamarnya.
“Semalam Yang Mulia Ratu tidak datang ke sini.”
“Jangan bicara omong kosong, Katarina!”
“Saya bicara apa adanya,” ucap Katarina seraya menyelimuti tubuhnya dengan selembar kain yang mereka gunakan hingga menutupi bagian pundak. “Semalam Yang Mulia Ratu tidak pernah sampai ke sini, kemudian kita kembali berc*nta dengan hebat, seperti biasa. Anda melampiaskan kekesalan akibat ketidakhadiran Yang Mulia Ratu kepada saya,” imbuhnya, kemudian.
Kaizen tampak terdiam seribu bahasa. Kayena tidak datang? Tapi, kenapa? Semalam ia bahkan telah mengirim prajurit untuk menjemput Kayena. Jika Kayena menolak datang, para prajurit itu pasti telah kembali dan memberitahu kepada dirinya. Lantas, kenapa semalam tidak ada yang memberitahu?
Ketika terbangun di pagi hari, ia malah menemukan sang selir yang berada satu tempat tidur dengannya. Padahal, kemarin adalah tanggal yang sudah dipilihkan oleh Paus Calius supaya mereka cepat dikaruniai seorang pewaris. Namun, ia malah menghabiskan kesempatan tersebut bersama sang selir yang jelas-jelas tidak akan bisa melahirkan penerus baginya.
“Lupakan apa yang telah terjadi semalam, Katarina. Anggap saja itu adalah kesalahan yang aku perbuat karena mabuk berat.”
💰👑👠
TBC
Gimana perasaan readers setelah baca bab ini? jujur, Author nulisnya sambil nahan napas 😤 kira² gimana bab selanjutnya?
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 22-05-23