
0059. La Lutte de “l’enfant illégitime” pour l’amant (Perjuangan si “Anak Haram” demi sang kekasih)
“Apa Anda yakin dengan rencana ini, Kapten?”
Pria yang dipanggil Kapten tampak mengangguk. Dari posisinya berdiri, ia mengamati dengan seksama sebuah peta yang menggambarkan wilayah perbatasan Robelia. Lengkap dengan informasi pendukung di bawahnya.
“Operasi ini akan dilakukan dalam tiga puluh hari,” ujarnya sekali lagi. “Selama operasi berlangsung, target kita adalah Regent atau kepala wilayah di seberang perbatasan. Sebisa mungkin minimalisir pertumpahan darah, karena banyak rakyat yang tidak bersalah.”
“Kami mengerti, Kapten!” seru para bawahannya.
Siang dan malam mereka membangun perbatasan paling rawan di wilayah Robelia. Memperkokoh dinding pembatas, serta memperkuat pasukan yang berjaga di setiap pos. Sang Kapten juga telah menyiapkan rencana matang guna melakukan penyergapan. Tujuan mereka adalah mengambil alih pusat pertahanan lawan, kemudian menargetkan Regent atau pemimpin wilayah mereka.
Siapapun tahu jika wilayah perbatasan yang menjadi rumah bagi Kapten Kaezar tidak mudah berada dalam situasi kondusif, kecuali jika dilakukan negosiasi secara baik-baik. Selama ini pihak Kaezar sudah mencoba melakukan negosiasi dengan pihak pribumi yang meninggali wilayah di seberang perbatasan kerajaan Robelia. Namun, meraka enggan menanggapi, karena dulu sekali pernah dikecewakan oleh otoritas raja Robelia yang mengharuskan pihak mereka menjadi budak kalangan bangsawan. Karena kesalahpahaman itu lah, hingga saat ini perang terus terjadi di perbatasan. Selain konflik dengan pribumi dari wilayah seberang, perbatasan juga menjadi tempat tinggal komplotan bandit, perampok, perompak, dan penjahat lain dari berbagai negeri. Mereka ikut memperkeruh suasana, dikarenakan tidak mau wilayah tersebut masuk kerajaan manapun.
Oleh karena itu, Kaezar telah membuat tiga rencana cadangan guna melakukan misi; mengambil wilayah di seberang perbatasan Robelia tanpa banyak melibatkan pertumpahan darah. Jika misi ini berhasil, ia akan kembali ke Sésilia untuk segera berkemas dan menyelesaikan tugasnya sebagai Archduke of Sésilia.
Setelah urusannya di Sésilia selesai, ia akan kembali ke ibu kota Robelia untuk melakukan prosesi serah terima jabatan. Sekaligus melepaskan gelar kebangsawanan yang selama ini melekat di belakang namanya. Kemudian, ia akan bertolak ke Kyen jika sudah tidak ada lagi gelar Archduke of Sésilia, Elang Muda Kekaisaran, serta marga Kadheston di belakang namanya.
Just Kaezar.
Hanya Kaezar, si pria yatim-piatu yang tidak punya apa-apa, selain cinta dan kesetiaan bagi Kayena de Pexley seorang.
Kaezar tidak pernah bisa menjanjikan apa-apa, karena ia sadar bukanlah seseorang yang kelahirannya diharapkan. Sekalipun ada darah biru yang mengalir di tubuhnya. Titel “anak haram” yang melekat padanya sejak kecil, tidak akan mudah disingkirkan begitu saja. Sekalipun ia sudah memilih untuk hengkang dari marga Kadheston.
“Apa benar setelah rencana ini berhasil, Anda akan meninggalkan Angakatan Laut Robelia?”
Pertanyaan itu dilontarkan oleh salah satu prajurit yang cukup akrab dengan Kaezar, ketika mereka tengah berkumpul untuk makan malam. Temani oleh hangat dari perapian, serta seekor rusa muda yang dijadikan sebagai santapan utama, bincang-bicang kecil digelar guna mengeratkan ikatan antar sesama anggota tentara Angkatan Laut di bawah pimpinan Kaezar.
“Benar.”
Tak ada dusta. Kaezar menjawab dengan kejujuran yang terlalu cepat menghempaskan baying-bayang mereka.
“Aku akan meninggalkan Angkatan Laut Robelia jika sudah berhasil memperluas wilayah perbatasan ini,” tambahnya. “Kalian tidak perlu khawatir, karena kedepannya pengganti ku pasti jauh lebih dapat diandalkan.”
“Mana mungkin,” sanggah salah satu Prajurit. “Anda adalah satu-satunya Sword master yang tersisa, serta Elang Muda Kekaisaran yang dibanggakan Robelia. Setelah kepergian Mayor Khayansar, Panglima Perang Cesare, kemudian Mayor Jendral Khiev, selanjutnya Anda. Lantas siapa yang akan menjaga Robelia?”
Kaezar tempat menarik garis tipis di bibirnya, sehingga tercipta sebuah senyum tipis. Ia kemudian mmeberikan jawaban yang sangat singkat, namun berhasil membuat mereka semua terdiam. “Kalian.”
“Maksud Kapten?” tanya salah satu dari mereka, mewakili.
“Kalian yang akan menjaga Robelia,” jelas Kaezar. “Jika tidak ada yang mampu menjaga Robelia, maka kalian pasti mampu. Aku tahu sejauh mana kemampuan kalian demi menjaga tanah air kita.”
Keputusan Kezar sudah bulat untuk melepaskan semua jabatan yang ia miliki. Semua itu dilakukan agar ia bisa mengecap hidup bebas bersama satu-satunya wanita yang bisa membuat penyakitnya tidak kambuh. Kekasih hati yang telah ia beri janji; bahwa suatu hari nanti, ia akan datang untuk menjemput wanita cantik itu. Apapun kondisinya, Kaezar tak akan segan membawa wanita itu ke dalam dekapan.
Sekalipun jika benar-benar ada “benih” yang ditinggalkan oleh kakak tirinya tumbuh dan berkembang di rahim sang kekasih.
Tujuan Kayena adalah melepaskan diri dari Kaizen. Sekalipun ia harus dikambinghitamkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, setidaknya ia telah berhasil mencapai goals terbesarnya. Kaizen tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Kesempatan tersebut digunakan Kayena untuk melepaskan diri, karena pria itu tak punya alasan kuat untuk mempertahankan dirinya dalam posisi Ratu—di saat orang-orang di luar fraksi mulai mendesak Kaizen untuk menggulingkan Ratu yang dianggap sebagai pengkhianat.
Sekarang, waktunya membuat perhitungan. Kaezar bekerjasama dengan Khayansar untuk memutarbalikkan fakta. Mereka akan membuat Kayena menjadi “korban” sebagaimana mestinya. Kemudian, tersangka utama akan diungkapkan sendiri oleh Kaizen setelah menerika sogokan fakta yang akan dibeberkan oleh Khayansar.
“Kirimkan surat ini kepada Duke of Edinburgh,” titah Kaezar pada tangan kanannya. Setelah satu surat diberikan, ia meraih surat lain yang dibubuhi oleh hiasan bunga kering serta lambang kebanggaan miliknya. “Kemudian titipkan surat ini juga kepada beliau. Katakan jika pemilik surat ini adalah … la moitié de mon âme.”
Tangan kanan Kaezar tampak mati-matian menahan senyum di sela-sela sikap siapnya. “Baik. Akan saya sampaikan surat ini kepada Duke of Edinburgh dan … separuh jiwa Imperial young Eagle of Robelia, Kapten Kaezar Kadheston.”
Kaezar sendiri hanya menanggapi dengan segaris senyum.
Setelah menerima perintah, tangan kanan Kaezar yang merupakan penunggang kuda cepat langsung bergegas berangkat menuju Kyen. Tempat di mana Duke of Edinburgh berada. Orang yang merupakan tujuan dari dua surat yang ditulis oleh sang Kapten.
Jarak dari perbatasan tempat mereka mendirikan barak militer dengan Kyen pun cukup jauh. Perjalanan darat dan laut biasa bisa mencakup waktu 3 hari dua malam. Namun, jika penunggang kuda cepat yang menyampaikan pesan, waktu dapat diringkas menjadi 2 hari 1 malam.
“Surat dari perbatasan?”
“Benar, Tuan. Surat ini dari Kapten Kaezar.”
Khayansar yang sedang berdiri di depan meja kerja milik sang ayah langsung memerintahkan pembawa surat tersebut untuk mendekat. Tanpa basa-basi, ia kemudiaan membawa surat yang diperuntukkan untuk dirinya. Seharian ini, sudah ada 4 surat dari pria berbeda yang rata-rata ada sangkut pautnya dengan sang adik. Setelah membaca surat dari Kaezar, Khayansar menyimpan surat titipan bagi adiknya. Nanti surat itu akan dibawa tangan kanannya ke Astoria—tempat di mana si penerima surat berada.
“Kapten Kaezar juga membawakan sesuatu, Tuan.”
“Apa yang dia kirimkan?” tanya Khayansar dengan kedua tangan terlipat di depan dada. “Aku tidak tertarik dengan makanan atau sejenisanya.”
“Tapi, ini bukan makanan atau sejenisnya,” kata sang pembawa pesan. “Melainkan tiga kepala yang telah terpisah dari tubuhnya.”
Mendengarkan tambahan informasi tersebut, Khayansar langsung melirik dengan senyum tipis yang tertarik. “Bakal calon adik ipar ku yang satu ini memang agak … gila,” komentarnya dnegan suara rendah setelah melihat kebenaran dari ucapan si pembawa pesan.
Ada tiga kepala manusia dari dalam peti berukuran sedang yang dibawa dari daerah perbatasan. Lengkap dengan darah kering yang tampak bercecran di beberap bagian kepala tanpa tubuh tersebut.
“Waktunya memberi Raja Tiran hadian perpisahan,” batin Khayansar.
💰👑👠
TBC
Catatan : Cerita ini hanya fantasi, jadi jika ada kesamaan nama tokoh/tempat, bukanlah sesuatu yang disengaja.
Sumber semua foto; pinterest.
Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 14-06-23