
00119. Cadeau de mariage de Khayansar (Hadiah pernikahan dari Khayansar)
“Tidak perlu memasang muka bodoh, aku sudah melihat semuanya.”
Kalimat yang mengandung sindiran itu dilayangkan oleh Cesare de Pexley ketika mereka tiba di paviliun yang menjadi tempat peristirahatan mereka. Ayah satu anak itu jelas kesal, namun bukan berarti ingin memusuhi calon adik iparnya. Ia hanya masih belum menerima kenyataan bahwa pemilik julukan Elang Muda Kekaisaran itu bisa berperilaku sangat normal ketika bersama kekasihnya.
“Lain kali jangan berbuat gegabah di tempat terbuka. Tindakan seperti itu masih tabu, kemungkinan juga dapat melukai citra Adikku.”
Mereka yang tinggal di Robelia dan Astoria beda kiblat serta budaya. Masih tabu hukumnya, ketika sepasang kekasih bermesraan di muka umum. Apalagi ini Astoria, salah satu kekaisaran yang terletak di Asia. Beda dengan Robelia yang sudah terbiasa dengan budaya yang dibawa British Empire dan French Empire.
“Tapi, bukan berarti kamu bebas berbuat sesuka hati ketika bersama Adikku di ruangan tertutup,” tambah Cesare dengan mata memicing. “Jaga batasan selama kalian belum resmi menikah.”
Anak bawang di antara ketiga pria yang datang dari Robelia itu mengangguk patuh. “Kami hanya berciuman dua kali, tidak lebih. Kakak tidak perlu risau, pengendalian diriku cukup baik.”
Cesare berdecak tak percaya mendengar kejujuran calon adik iparnya. “Siapa yang menginisiasi tindakan tersebut?” kendati demikian, ia malah tambah penasaran, sehingga kembali melontarkan pertanyaan pada calon adik iparnya.
Kaezar yang baru saja melewati pintu masuk, tampak terdiam. Tak berselang lama, tangannya bergerak menggaruk tengkuk dengan kikuk. “Kekasihku yang memulai. Akan tetapi, aku yang mengambil inisiatif ketika kami akan berpisah.”
Cesare tertawa puas mendengarnya. Lagi-lagi, ia tidak menyangka jika calon adik iparnya akan berkata dengan sangat jujur. “Baiklah, kali ini aku maklumi. Kedepannya, jangan seperti itu lagi.”
Tanpa banyak protes, Kaezar langsung menganggukkan kepala. Membuat Cesare kembali tertawa. Kepolosan serta kejujuran calon adik iparnya itu mengundang gelak tawa. Tawa tersebut sampai menarik perhatian Khayansar yang sudah berada di dalam ruangan.
“Apa yang membuat mu sangat senang, Cesare? Tawa mu itu sangat menganggu pendengaran.”
“Kakak tidak tahu saja jika aku baru saja menangkap basah—“ kalimat Cesare terpotong, karena Kaezar yang berdiri di sampingnya berdehem dengan lumayan keras. “Sepertinya pihak yang bersangkutan akan menjelaskan sendiri.”
Setelah berkata demikian, Cesare melipir ke tempat untuk berganti pakaian. Meninggalkan Khayansar dan Kaezar di ruangan dengan interior yang didominasi oleh kayu hutan berkualitas tinggi.
“Ada apa?”
Kaezar tidak langsung menjawab, namun mengambil posisi berlutut dengan hormat ala Ksatria. Kepalanya tertunduk di hadapan pria yang berprofesi sebagai Mayor itu. Tindakan tersebut adalah bentuk sebuah pengakuan jika ia telah melakukan kesalahan secara sadar.
“Hari ini aku sudah bertindak kelewatan,” ungkapnya.
“Kelewatan apanya? Pasangan kekasih wajar melakukan itu, apalagi kalian sempat dipisahkan oleh ruang dan waktu.”
Kaezar langsung terdiam mendengarnya. Khayansar memaklumi tindakannya? Ia pasti sudah mendengar semua obrolan Cesare dan Kaezar, mengingat Khayansar punya indra yang sangat peka, mulai dari pendengaran, penglihatan, dan sebagainya. Namun, semudah itukah calon kakak iparnya?
“Sekarang aku bisa menilai bahwa Kayena sudah seutuhnya menerima diri mu,” lanjut Khayansar. Ia kemudian memberikan kode agar Khayansar mengikutinya—duduk di depan meja kayu berkaki pendek yang tersedia di bagian samping ruangan, dekat sebuah jendela yang dibiarkan terbuka. “Apa kamu sudah memberikan benda itu?”
Kaezar mengangguk. Kali ini ada senyum tipis yang tercipta di bibirnya. Benda yang dimaksud oleh Khayansar adalah cincin milik mendiang ibunya. Cincin pemberian mendiang ayahnya yang dibuat dengan batu safir Ceylon berwarna biru—blue sapphire—sebagai pemeran utama, serta beberapa butir berlian solitaire yang mengelilingi pemeran utama.
...(Inspirasi gambar ini berasal dari Engagement ring milik mendiang Princess Diana yang sekarang menjadi milik menantunya, Duchess of Cambridge, yaitu Kate Middleton)...
Jewelry itu didesain sendiri oleh mendiang ayahnya, lalu dibuat oleh tukang perhiasan langganan kerajaan Robelia. Walaupun tidak sebanding dengan perhiasan yang diberikan pada istri pertamanya—Carlein Meidia de Cartland—cincin itu tetap punya historis tersendiri serta nilai yang tinggi.
Terbuat dari emas putih bernama Marguerite, cincin itu digunakan sebagai simbol awal terjalinnya hubungan politik di antara mendiang ayah dan ibunya. Warna biru dari blue sapphire dipilih karena bebatuan mulia itu adalah salah satu hasil tambang terbaik di Robelia, serta mewakili kemandirian seperti sifat mendiang ibu Kaezar. Sebelum memberikannya pada Kayena, Kaezar pernah berniat menitipkan cincin tersebut pada Khayansar. Namun, Khayansar menolak, kemudian ia meminta Kaezar untuk berjanji; pulang dengan selamat dari medan pertempuran, supaya bisa memberikan cincin itu secara langsung pada pemilik berikutnya.
Selain cincin tersebut, Kaezar juga telah mempersiapkan cincin untuk pernikahan. Ia meminta pembuatan cincin itu dipercepat, selama ia berada di medan pertempuran. Para pengrajin perhiasan di Sésilia lah yang mendapat kesempatan untuk membuat sepasang cincin pernikahan dengan bahan emas putih Marguerite, batu safir Ceylon berwarna biru (blue sapphire), dan juga berlian solitaire. Selain sepasang cincin pernikahan, Kaezar juga sempat membuat liontin serta Thaschenuhr atau jam kantong dengan bahan utama batuan mulia yang berasal dari wilayah Robelia. Sebelum pergi ke Astoria, Kaezar bertolak ke Sésilia untuk menyelesaikan pekerjaan, serta mengambil semua perhiasan yang dipesan olehnya.
“Karena kamu sudah menandai Adikku sebagai milikmu, sudah seharusnya kamu juga memiliki benda ini sebagai calon anggota keluarga Pexley yang baru.”
Khayansar mengeluarkan sesuatu dari dalam sebuah kotak yang tadinya tersimpan di sebuah laci meja kayu. Kotak itu menjadi wadah sebuah kain yang melindungi “benda” yang akan ia berikan pada Kaezar, selaku calon anggota keluarga Pexley yang baru.
“Benda ini merupakan simbol bagi keluarga Pexley yang masih tersisa.”
Khayansar mengeluarkan benda yang dilindungi sebuah kain berbahan lembut itu. Di dalamnya, ada beberapa jenis benda. Bukan hanya satu, seperti ucapan Khayansar.
“Benda ini digunakan ketika para pria dari keluarga Pexley menghadiri acara tertentu,” ujar Khayansar, memperkenalkan benda pertama yang ia perlihatkan. Sebuah brooch pin dengan motif naga dan pedang yang melindungi Kristal biru (blue sapphire) di bagian tengah.
“Pedang dan naga adalah simbol dari keluarga Pexley, sedangkan Kristal biru adalah salah satu lambang kekayaan keluarga Pexley. Kami biasa menyebutnya Antique metal dragon sword brooch pin.”
Benda mungil yang didominasi oleh warna emas, namun tidak terlalu mentereng itu kemudian berpindah ke hadapan Kaezar. Benda berikutnya yang dikeluarkan Khayansar masih brooch pin, namun kali ini dengan desain lebih mewah, namun tetap tampak elegan. Bentuknya burung garuda bermahkota dengan badan dihiasi oleh black diamond atau berlian hitam. Ada detail rantai emas dan hiasan white diamond yang menambah ke-indahan serta nilai elegan pada brooch tersebut.
“Bagaimana bisa aku menggunakannya?” tanya Kaezar ketika brooch itu diangsurkan ke arahnya.
“Kenapa tidak bisa? Aku baru saja memberikannya.”
Kaezar menggelengkan kepala dengan tegas. “Seperti apa yang Kakak katakan, brooch ini di-desain untuk pernikahan putra sulung keluarga Pexley dalam setiap generasi. Bagaimana mungkin aku menggunakannya? Kakak sendiri yang harus menggunakan brooch ini ketika memutuskan untuk menikah.”
Khayansar tersenyum sangat tipis mendengarnya. “Anggap saja sebagai hadiah pernikahan,” ujarnya. “Lagipula aku tidak akan menikah dalam waktu dekat.”
Tetap saja, kata Kaezar di dalam hati. Ia tidak keberatan menerima brooch itu, karena sadar jika benda tersebut bukan haknya.
“Tidak perlu merasa keberatan, karena brooch seperti ini akan selalu diberikan kepada putra dari keluarga Pexley ketika hendak menikah.”
Khayansar tetap menyodorkan brooch tersebut. Sekarang, ada dua brooch—Antique metal dragon sword brooch pin serta black diamond and gold eagle brooch—telah diberikan pada Kaezar. Benda berikutnya yang dikeluarkan Khayansar adalah sebuah senjata tajam—lebih tepatnya sebuah belati. Senjata tajam yang berfungsi untuk menusuk atau menikam. Ukuran belati dapat lebih kecil atau lebih besar daripada pisau.
Belati itu tampak elegan, cantik, namun tidak menghilangkan fungsi utamanya sebagai sebuah senjata. Jika dilihat lebih detail, belati yang dibuat dari logam terbaik dengan gagang kayu hitam itu dihiasi oleh logam mulia seperti emas 24 karat, mutiara terbaik berwarna-warni, sampai sebuah main diamond berwarna biru muda yang tersimpan di tengah-tengah bagian antara pegangan dan bagian tajam belati. Selain itu, ada pula ukiran flora yang dibuat sangat detail, menghiasi bagian tajam belati.
“Hampir semua anggota keluarga Pexley memiliki belati dengan jantung samudra.”
Jantung samudra (coeur de l'océan) yang dimaksud oleh Khayansar pasti merupakan blue diamond yang berwarna biru cerah itu. Kaezar bisa langsung mengenalinya, karena itu tahu jika keluarga Pexley adalah kolektor terbesar berlian langkah seperti berlian biru yang disebut jantung samudra.
“Termasuk Kayena,” lanjut Khayansar. Tambahan informasi itu berhasil membuat Kaezar terkejut. “Tapi belati miliknya tidak dihiasi oleh jantung samudra, melainkan harapan sang surya.”
“Harapan sang surya?” Kaezar seperti baru mendengarnya.
“Permata jingga yang sangat langka, dan jarang ditemukan. Keluarga Pexley memiliki satu, peninggalan istri dari nenek moyang keluarga kami,” tutur Khayansar, memberitahu. “Harapan sang surya mewakili kesuksesan dan kreativitas.”
“Sempat menjadi perebutan karena keistimewaannya. Kepala keluarga Pexley kemudian membuatnya menjadi hiasan belati harapan sang surya yang hanya boleh dimiliki oleh putri dari kepala keluarga Pexley pada setiap generasi,” tambah Cesare yang telah kembali setelah mengganti pakaian.
Kaezar baru tahu tentang batu mulia yang bernama harapan sang surya atau l'espoir du soleil. Orange diamond memang sangat langka dan jarang ditemukan di Robelia. Pantas jika kehadirannya sempat menimbulkan perdebatan hingga timbul perebutan di antara anggota keluarga Pexley. Belum lagi diamond itu dipercayai memiliki keistimewaan yang tidak ternilai dengan apapun.
“Harapan sang surya yang dimiliki Kayena juga dipercaya dapat memutar balikkan waktu lewat kematian.”
“Memutar balikkan waktu lewat kematian?” Kaezar semakin kebingungan mendengar tambahan informasi tersebut.
“Hm. Orange diamond yang diberi nama harapan surya dipercaya dapat membuat pemiliknya hidup kembali, setelah mengalami kematian yang tidak seharusnya dia alami. Itulah kenapa diberi nama harapan sang surya. Konon katanya, Orange diamond itu berasal dari Sang Surya untuk pemuja setianya yang mengalami kematian tidak wajar.” Cesare kembali bercerita seputar Orange diamond bernama harapan sang Surya. “Kayena membawa serta belati itu ke istana, tetapi aku sudah lama tidak melihatnya.”
Khayansar juga menyetujui kalimat terakhir Cesare. Belati harapan sang Surya milik Kayena sudah lama tidak terlihat, padahal jelas-jelas benda itu selalu ada bersama adiknya. Belati yang diwariskan turun-temurun dari keluarga Pexley tidak boleh jauh dari pemiliknya, karena dipercaya dapat melindungi sang pemilik.
“Setiap belati dibuat untuk menjadi pelindung. Baik jantung samudra maupun harapan sang Surya, semua diharapkan menjadi senjata yang dapat melindungi pemiliknya dalam keadaan apapun.” Cesare kembali bersuara. “Jika kamu ingin tahu kenapa para pria di keluarga Pexley sangat pemberani, bahkan terbilang tidak takut mati, maka jawabannya adalah kepercayaan terhadap jantung samudra yang sudah dianggap sebagai jimat keberuntungan. Percaya atau tidak, selama masih memiliki belati jantung samudra, seorang pria dari keluarga Pexley tidak perlu takut pada kematian.”
Cesare mengambil alih belati yang ada di hadapan Khayansar, kemudian membukanya. “Lihat, dibaliknya ada simbol Dewa Perang yang dipercaya dapat melindungi pemiliknya,” terang Cesare. “Sedangkan belati harapan sang Surya, di bagian belakangnya terdapat ornamen tambahan berupa ukiran 7 jam Romawi dengan diameter berbeda-beda. Jarum jam Romawi itu dipercaya dapat bergerak semua ketika terjadi perputaran waktu.”
Kaezar tampak mendengarkan dengan seksama. Walaupun penjelasan tersebut belum dapat dibuktikan sepenuhnya, tetap saja ada beberapa hal yang diluar nalar yang dapat terjadi di dunia ini. Mungkin saja salah satunya adalah keajaiban dari belati jantung samudra dan harapan sang Surya.
“Tidak ada yang mengetahui dengan jelas kekuatan magis belati harapan sang Surya, kecuali pemiliknya. Kayena adalah pemilik ke tujuh belati harapan sang Surya, dan sejauh ini belum ada tanda-tanda kekuatan magis itu benar-benar ada.”
“Baik belati jantung samudra maupun harapan sang Surya adalah peninggalan keluarga. Ada atau tidaknya kekuatan yang tersimpan di dalamnya, semua kembali pada kecocokan dengan pemiliknya.” Khayansar ikut menambahkan.
Tidak semua dapat percaya terhadap kekuatan kedua jenis belati turun-temurun tersebut, karena memang hanya segelintir orang terpilih yang dapat merasakan kekuatan serta keistimewaannya.
“Simpanlah. Belati jantung samudra milikmu kebetulan berpasangan dengan harapan sang Surya milik Kayena.” Khayansar kembali berujar. Bersama dengan itu, Cesare menyodorkan belati jantung samudra pada Kaezar.
“Kunci untuk mendapatkan perlindungan dari belati jantung samudra adalah kepercayaan.” Cesare mengingatkan. Ia juga mengeluarkan belati jantung samudra miliknya yang memiliki ornamen tambahan, sehingga tampak berbeda dengan milik Kaezar. “Jika sudah tidak ada keraguan di hatimu terjadi belati jantung samudra, maka biarkan pelindungmu mengenali majikannya.”
“Dengan cara apa, Kak?”
Cesare menarik lepas sarung belati harapan samudra miliknya, kemudian tanpa aba-aba menggores permukaan telapak tangannya hingga mengeluarkan darah. “Lumuri dengan darah mu.”
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 02-08-23