How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0048. Le Roi Tyran était Incapable de Bouger (Raja Tiran Tak Mampu berkutik)



0048. Le Roi Tyran était Incapable de Bouger (Raja Tiran Tak Mampu berkutik)



“Kemana perginya kekasih ku, Kyara?”


“Yang Mulia Raja sudah meninggalkan peraduan semenjak dini hari, Yang Mulia Selir.”


Wanita yang baru saja bangun tidur itu jelas-jelas kebingungan ketika mendengar informasi yang disampaikan oleh pelayan pribadinya. Sang kekasih pergi sejak dini hari? Kenapa ia tidak bisa merasakan kepergiannya? Bangun-bangun, ruang di sampingnya sudah kosong dan terasa dingin. Lantas, alasan apa yang membuat pria itu pergi begitu saja? tidak seperti biasanya.


“Memangnya ada apa? sampai-sampai Yang Mulia Raja tega meninggalkan kekasihnya,” rajuk satu-satunya wanita raja itu.


“Anda bisa melihat dan menyimpulkannya sendiri, Yang Mulia Selir.”


Kyara yang baru saja menyimpan sarapan di atas sebuah meja tampak berjalan ke arah jendela, lantas menyibak tirainya. Tampaklah hamparan laut lepas yang indah seperti biasa. Warna biru mendominasi, dihias oleh gulungan buih putih yang menari-nari. Namun, ada beberapa objek yang berhasil membuat Katarina menyipitkan mata.


“Apa … itu? apakah armada laut?”


Kyara mengangguk. “Benar, Yang Mulia. Itulah alasan kenapa Yang Mulia Raja langsung bergegas pergi.”


Katarina langsung beranjak, meninggalkan ranjang. Berjalan ke arah jendela, agar bisa melihat pemandangan di depan sana dengan lebih jelas. “Apakah Robelia …baru saja diserang? Negeri kita akan berperang?”


Kyara geleng-geleng kepala. “Bukan seperti itu, Yang Mulia Selir. Namun, memang konteksnya sedikit sama dengan kondisi perang …”


“Kalau begitu, lekas siapkan pakaian dan beberapa perhiasan,” potong Katarina. “Kita tidak boleh pergi dari istana dengan tangan kosong.”


“Yang Mulia Selir, tenanglah,” ujar Kyara, mencoba memberi pengertian. “Armada laut itu bukan musuh, melainkan pasukan di bawah pimpinan Mayor Jendral Khiev de Pexley dan Mayor Khayansar de Pexley.”


“A-pa?” kali ini raut terkejut lebih kentara di wajah Katarina. “Katakan sekali lagi, Kyara. Siapa yang baru saja datang ke Robelia?”


“Mayor Jendral Khiev de Pexley dan Mayor Khayansar de Pexley. Ayah serta Kakak sulung Yang Mulia Ratu.”


Katarina terperangah mendengarnya. Ia tidak salah dengar, Mayor Jendral Khiev de Pexley dan Mayor Khayansar de Pexley telah datang ke Robelia.


Pertanyaannya, untuk apa kedua pria kesayangan Kayena itu datang ke Robelia? Apakah mereka sudah tahu mengenai vonis hukuman yang dijatuhkan pada Kayena? Lantas, apa mereka ingin menjemput Princess kesayangan mereka?


“Dari kabar yang saya dengar, Mayor Khayansar de Pexley juga membawa serta Uskup Agung Candor. Saat ini, baik Mayor Jendral Khiev de Pexley maupun Mayor Khayansar de Pexley, masih berada dalam perjalanan menuju Istana.”


Katarina mendesah berat mendengarnya. Ia kemudian menghampiri meja, tempat di mana Kyara menyimpan sarapan untuknya. Duduk di salah satu bangku, kemudian menyesap teh hangat yang telah dipersiapkan dengan gerakan santai. “Rupanya wanita itu tidak main-main soal perceraian,” gumamnya. “Tuan Muda Khayan bahkan sampai membawa Uskup Agung Candor,” lanjutnya di dalam hati.


Tuan Muda Khayan adalah panggilan khusus yang Katarina sematkan untuk Khayansar de Pexley yang masih betah melajang hingga saat ini. Pria berusia 33 tahun itu seharusnya sudah menikah, dan setidaknya memiliki 2 anak, jika saja tunangannya tidak mati sia-sia.


Sungguh, sampai saat ini Katarina masih menyayangkan kisah cinta tragis Tuan Muda yang pernah menarik perhatiannya, jauh sebelum ia bertemu dengan Kaizen. Walaupun hanya pernah bertemu satu kali, cukup bagi Katarina untuk merasakan getaran ketertarikan. Sayangnya, pria itu terlalu keras untuk ditaklukkan. Cintanya pun terlalu besar bagi sang tunangan yang telah berbeda dimensi.


“Kyara.”


“Iya, Yang Mulia.”


“Siapkan gaun paling indah yang aku punya. Aku juga ingin memakai tiara milikku,” katanya. “Hari ini pasti akan ada pertunjukkan besar.” Selesai dengan teh hangat, wanita raja itu beralih untuk menikmati sarapannya. “Aku harus tampil paripurna di hadapan Tuan Muda Khayansar. Sudah lama sekali aku tidak bertemu … cinta pertama ku itu,” tambahnya. Tentu saja di dalam hati.


Sejauh ini, hanya ia dan Tuhan yang mengetahui rahasia tersebut. Kayena sendiri pun tidak pernah mengetahui jika Katarina pernah menaruh hati pada kakak sulungnya.


💰👑👠


Kedatangan dua pasukan besar yang namanya sudah tersohor di segala penjuru negeri, berhasil menarik perhatian rakyat. Rombongan dua pasukan angkatan laut beda negeri itu datang dari dua arah, namun bertemu di gerbang utama menuju ibu kota Robelia. Di sanalah, perjumpaan seorang ayah dan anak yang sudah lama terpisah terjadi. Kendati telah lama tidak bertatap muka, prioritas meraka tetaplah Kayena.


“Ayah,” sambut Kaizen yang sudah menunggu di pintu masuk menuju istana Robelia. “Bagaimana bisa Ayah datang tanpa pemberitahuan?” sapanya lagi, ketika berhasil menghadang jalan orang paling nomer satu di Kyen tersebut.


“Tidak ada waktu untuk menulis surat pemberitahuan, Yang Mulia.”


Balasan yang terkesan formal itu berhasil memberikan warning pada Kaizen. Ia tahu, kedatangan dua pria ini tidak akan membawa kabar baik. Apalagi ditambah dengan kehadiran Uskup Agung Candor. Jantungnya mulai berdebar tak beraturan. Ketimbang membuat suasana tak nyaman di depan istana, Kaizen pun segera memboyong mereka bertiga ke ruang pertemuan yang diperuntukkan bagi tamu-tamu penting. Jamuan tak lupa ia hidangkan bagi mereka yang telah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan.


“Kau tidak perlu membuang-buang waktu.” Untuk pertama kalinya semenjak datang, Khayansar de Pexley akhirnya buka suara. “Kau pasti sudah bisa menebak maksud dari kedatangan kami.”


Kaizen berusaha tenang. “Saya benar-benar tidak mengerti maksud dari kedatangan Mayor Jendral Khiev de Pexley serta Mayor Khayansar de Pexley secara tiba-tiba.”


Mendengar penuturan sok polos itu, Khayansar tampak jengah. “Adakan pengadilan,” katanya, to the point. Sama seperti Cesare, ia tak ada takut-takut memerintah seorang Raja. “Kedatangan kami ke sini untuk membahas annulment.”


“Annulment?” ulang Kaizen, tentu saja merasa kaget dengan topik tersebut. “Memangnya pernikahan siapa yang akan dianulasi, Mayor Khayansar?” tanyanya kemudian dengan datar.


“Tentu saja pernikahan Adikku,” jawab Khayansar dengan santai. “Adikku memberikan informasi jika suaminya tidak lagi berlaku adil. Bertindak semena-mena, impulsif, serta otoriter.”


Kaizen mengepalkan tangannya yang tersembunyi di samping tubuh. “Apa Ratu baru saja mengadu?”


Mendengar itu, Khayansar tampak merubah mimik wajahnya menjadi lebih datar. “Adikku memberitahu,” jawabnya. “Ketika ada masalah tidak bisa dia selesaikan seorang diri, makan dia akan memberitahu orang terdekatnya.”


“Begini, Mayor Khayansar. Sebenarnya di antara kami hanya ada sedikit kesalahpahaman.” Kaizen mencoba mencari pembelaan. “Ratu mungkin saja terlalu berlebihan dalam menyikapi masalah tersebut.”


“Begitu kah, Yang Mulia?”


Kali ini bukan Khayansar yang buka suara, melainkan Grand Duke Pexley yang sejak tadi memilih bungkam, tampak sedang memantau situasi. “Kesalahpahaman dalam pernikahan dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik dan benar,” nasihatnya. “Namun, bagaimana Anda akan melakukan komunikasi dengan baik dan benar, jika mendengar rumor simpang-siur saja, Anda langsung mengasingkan putriku.”


“Ayah, ini tidak seperti yang Ayah pikirkan.”


“Apa yang saya pikirkan saat ini, mungkin tidak akan pernah Anda pikirkan,” jawab Grand Duke Pexley sebelum beranjak. “Saya pernah berkata; jika Anda tidak lagi mampu membahagiakan Kayena, silahkan lepaskan dia. Kembalikan pada saya secara baik-baik. Jangan sampai Anda membuatnya menderita. Namun, rupanya Anda tidak memahami perkataan saya dengan baik.”


“Tidak, Ayah!” Kaizen ikut beranjak. “Kami hanya berselisih pendapat. Mengenai hukuman yang diberikan kepada Kayena, itu hanya bentuk dari kedisiplinan.”


“Yang Mulia,” panggil Grand Duke Pexley tiba-tiba. “Yang merawat Kayena semenjak kepergian ibunya adalah saya. Lebih dari Anda, saya tahu betul sedisiplin apa putri yang saya besarkan dengan tangan saya sediri.”


Kaizen mati kutu. Tak berkutik sampai di situ. Sejak dulu, Grand Duke Pexley adalah salah satu sosok yang paling sulit ia lawan; baik ucapan maupun tindakan.


“Hari ini, saya datang ke sini bukan sebagai Grand Duke Pexley ataupun Mayor Jendral Angkatan Laut Robelia, melainkan sebagai Ayah dari Kayena de Pexley.”


Grand Duke Pexley berkata dengan kharisma luar biasa yang terpancar darinya. Sebagai seorang pria, ia tak pernah gagal menjadi idola para kawula muda. Plus, tak pernah gagal menjadi orang tua yang serba bisa, walaupun tidak selamanya bisa 24 jam berada di sisi anak-anaknya. Namun, ia selalu mendedikasikan hidupnya bagi kebahagiaan ketiga buah hatinya.


“Tolong setujui dokumen perceraian ini,” ucapnya seraya menyodorkan sebuah dokumen yang enggan Kaizen terima, apalagi dibuka. “Jika tidak, saya akan mengupayakan anulasi dibawah persetujuan Uskup Agung Candor.”


Ketakutan lain Kaizen akhirnya terjadi. Ia didesak untuk menyetujui perceraian. Jika tidak, proses pembatalan pernikahan (anulasi) akan dilangsungkan.


💰👑👠


TBC


Gimana perasaan readers setelah baca bab ini? Semoga suka 😘


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 02-06-23