
0096. Histoire de flash-back (KisaH kilas balik)
“Wah, keahlian menggunakan pedang mu semakin meningkat!”
Remaja laki-laki berusia 11 tahun yang baru saja menumbangkan ksatria muda yang usianya lebih tua dari dirinya itu langsung menoleh, ketika mendengar suara lembut yang menyapa indra pendengaran. Ketika menemukan si pemilik suara lembut tersebut, ia kontan menunduk hormat. Sama seperti para Ksatria yang ada di sekitar balai pelatihan Ksatria Muda Kyen.
“Putri Mahkota terlalu menyanjung.”
“Tapi, keahlian kamu memang sudah berkembang sangat pesat dari sebelumnya.” Putri dari pimpinan balai pelatihan Ksatria Muda Kyen, sekaligus calon istri dari Raja Robelia berikutnya itu berkata dengan lugas.
Kehadiran sang Putri Mahkota tentu saja menarik perhatian, karena jarang sekali Senorita sepertinya terlihat di sekitar balai pelatihan Ksatria Muda Kyen. Tampil dengan gaun sederhana, namun tetap tidak dapat menyembunyikan statusnya sebagai bangsawan dan anggota keluarga kerajaan, ditambah kecantikan alami yang dimiliki, membuat sang Putri Mahkota tampak seperti bidadari yang tersesat di balai pelatihan Ksatria Muda Kyen yang notebene tempat para Ksatria bertubuh kekar berlatih.
“Kamu melihat Kakak ku? Aku datang untuk mencarinya.”
Remaja laki-laki berusia 11 tahun itu mendongkrak. “Anda bertanya pada saya, Yang Mulia Putri Mahkota?”
“Iya,” jawab sang Putri Mahkota. “Kamu tahu di mana Kakak ku, kan?”
“Jika yang Anda maksud adalah Ksatria Muda Cesare, beliau ada di aula utama. Tengah belajar menguasai teknik baru bersama Pangeran …”
“Kaezar?” tebak sang Putri Mahkota. “Aku sudah tahu jika mereka pasti pergi bersama untuk menghindari kedatangan ku.”
Remaja laki-laki itu hanya bisa berdiam diri, selaya menikmati wajah cantik dari calon Ratu negeri ini. Kapan lagi dia dapat menikmati kecantikan sang bidadari duniawi sedekat ini?
“Aku akan pergi ke aula utama,” putus jelmaan bidadari duniawi tersebut. “Lanjutkan sesi latihan kamu, Lian. Aku yakin kamu akan segera menjadi Ksatria Muda seperti Kakak ku dan Pangeran Kaezar.”
Pemilik nama tersebut hanya bisa mengangguk dengan kesadaran yang masih terhipnotis. Padahal ia sudah menumpang hidup di kediaman milik bidadari duniawi itu semenjak berusia 6 tahun, namun hingga saat ini ia masih belum terbiasa dengan kecantikannya.
“Suatu hari nanti, jika kamu berhasil menjadi Ksatria Muda yang sama hebatnya dengan Kakak ku atau Pangeran Kaezar, pergilah ke istana. Lindungi aku sebagai seorang Ksatria yang gagah perkasa.”
Putri Mahkota yang merupakan tunangan dari Putra Mahkota itu bicara dengan tulus. Mengajak anak angkat dari salah satu penjaga di kediaman orang tuanya untuk menjadi salah satu Ksatria kepercayaan yang mendampingi serta melindungi keselamatannya di kerajaan.
Siapa sangka, ketika pernikahan paling Akbar dilangsungkan pada usia Putri Mahkota yang baru menginjak 22 tahun, sedangkan Putra Mahkota 26 tahun, remaja laki-laki yang kerap disapa Lian juga telah berhasil diakui sebagai salah satu Ksatria Muda berbakat di usia yang baru menginjak 18 tahun.
Masuknya Lian ke istana sebagai salah satu Ksatria calon Ratu Robelia itu bersamaan dengan masuknya kekasih gelap calon Raja Robelia, yaitu salah satu pelayan dari kediaman Grand Duke Pexley. Ketika akhirnya dimahkotai sebagai Selir Putra Mahkota, pelayan tersebut baru berusia 18 tahun, sama seperti Lian. Sejatinya, kedatangan mereka berdua memang sudah diperhitungkan oleh seseorang.
Dari kedatangan Lian ke istana, mengantarkan ia pada kenyataan yang seharusnya tidak ia ketahui. Mulai dari rumitnya hubungan putri Grand Duke Pexley, sampai pertemuannya dengan pria yang belakangan mengkalim dirinya sebagai anak yang selama ini telah lama menghilang.
“Apa yang Anda inginkan dari saya?” tanyanya, ketika pria itu datang menemuinya secara pribadi pada satu malam.
Sedangkan bagi Lian yang sudah hidup sebatang kara semenjak ibunya meninggal dunia, ucapan itu hanya omong kosong belaka. Bagaimana ia mau menganggapnya sebagai orang tua, jika selama ini keberadaannya tidak pernah ada baginya dan sang ibu.
“Aku telah mencari persembunyian Ibu mu sejak lama, supaya aku bisa menemukan mu dengan segera.”
Informasi tersebut diucapkan begitu saja, padahal tidak ada yang minta dijelaskan. Lian tahu jika hubungan ibu dan ayahnya rumit. Karena kerumitan itu pula, sang ibu harus menyembunyikan kembaran Lian di suatu tempat yang menurut ibunya tempat paling aman.
“Ibu mu telah mengingkari janji dengan membawa mu lari.”
“Jangan salahkan Ibu ku!” Lian saat itu tentu saja tidak terima, karena ibunya dihina. Padahal, ibunya hanya ingin menghindari dari pria yang katanya sangat ia cintai, namun terobsesi dengan pengakuan para bangsawan.
“Aku tidak akan menyalahkan Ibu mu, jika dia setuju membesarkan kau dan Adikmu sesuai keinginan ku. Bukan meninggalkan Adikmu di kediaman Grand Duke Pexley, kemudian membawa mu lari.”
Lian tidak terkejut lagi mengetahui kebenaran tersebut. Ia sudah tahu sejak lama, jika kembaranya telah ditinggalkan di kediaman Grand Duke Pexley. Ibunya sendiri yang telah memberitahu sebelum meninggal dunia. Oleh karena itu, dari sekian banyak kediaman bangsawan, ia memilih kediaman Grand Duke Pexley untuk dijadikan tempat tinggal. Alasan paling utama baginya adalah keberadaan kembarannya.
“Jika kau ingin Adik mu hidup bahagia, turuti perintah Ayah mu ini. Jadilah anak penurut.”
Lian awalnya ingin menolak, namun kembarannya adalah peninggalan terakhir yang dititipkan sang ibu untuk dijaga baik-baik. Ia masuk ke istana memang untuk mengawasi serta melindungi kembarannya yang telah mengambil jalan bertentangan, yaitu rela menjadi kekasih gelap dari calon Raja. Sang ayah juga menambahkan informasi bahwa Lian dan kembarannya masih mewarisi darah keluarga kerajaan Robelia, di mana hubungan mereka dengan calon Raja yang akan segera berkuasa adalah saudara sepupu. Ayahnya adalah paman dari calon Raja. Dengan kata lain, mereka adalah saudara sepupu. Kendati demikian, yang tidak dimengerti Lian adalah kenapa sang ayah membiarkan anak gadisnya ditiduri oleh keponakannya sendiri.
Lian tidak pernah diberi pengertian, karena saat itu prioritasnya adalah keselamatan sang kembaran. Sedangkan ia sendiri bertugas untuk menjaga calon Ratu yang setiap hari harus melihat suaminya memadu kasih dengan perempuan lain. Lian tidak punya kuasa untuk memberontak, karena memang dirinya ada di istana untuk sebuah tujuan.
Tujuan di mana ia adalah bagian dari persekongkolan sang ayah yang sengaja mengajukan putrinya sendiri sebagai simpanan calon Raja berikutnya, supaya rencananya untuk memulai kudeta dapat terlaksana. Singkatnya, Lian yang memiliki nama asli Killian didatangkan ke istana untuk menjadi salah satu Ksatria kebanggan Kayena—Putri Mahkota—Istri dari Putra Mahkota sekaligus calon Raja Robelia berikutnya. Di balik tujuan tersebut, ia juga dijadikan sebagai musuh dalam selimut, yaitu mengawasi gerak-gerik Kayena, supaya posisi adiknya sendiri aman di samping Raja.
Jika ditanya kenapa Lian mau-mau saja dijadikan sebagai alat balas dendam?
Alasannya karena ia telah terhasut oleh tipu muslihat ayahnya sendiri yang picik. Setiap ruas waktu yang dilewati selama tinggal di istana, sang ayah berhasil menanamkan kebencian di hatinya. Kebencian terhadap dirinya serta sang kembaran yang tidak diakui, kebencian terhadap keluarga kerajaan, serta kebencian terhadap saudara sepupu mereka yang hidup jauh lebih baik dari mereka.
Ibunya juga sempat berpesan bahwa kesulitannya selama hidup dimulai semenjak keluarga kerjaan ikut campur terhadap hubungan ayah dan ibunya. Pihak keluarga Kerajaan menolak keras ibu Lian, sekalipun yang telah mengandung anak kembar
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 25-07-23