
0092. Le cri de la mère (Tangis sang calon Ibu)
Pernah mendengar istilah intuition soulmate? Istilah intuition soulmate diambil dari keterikatan sepasang belahan jiwa atau soulmate. Soulmate bukan saja istilah yang dapat disematkan pada pasangan saja, namun bisa disematkan untuk keluarga, kerabat, atau sahabat yang bisa menjadi cerminan diri. Intuition soulmate sendiri merupakan koneksi intuitif atau koneksi intuisi. Di mana koneksi ini sukar dideskripsikan, namun jelas dapat dirasakan.
Adanya koneksi intuitif ini membuat pasangan belahan jiwa atau soulmate merasakan energi satu sama lain, meski sedang berjauhan. Kuatnya intuition soulmate atau koneksi intuitif juga bisa dilihat dari kekompakan, ketika sepasang belahan jiwa dapat menjawab atau meneruskan sebuah kalimat dengan sama persis. Dan tanpa Kayena sadari, intuition soulmate telah terjalin di antara ia dengan Kaezar. Entah kapan awal mula terjalinnya, namun semakin haru, intuition soulmate tersebut semakin terasa nyata.
“Aku juga merasa ada koneksi intuitif yang sulit dideskripsikan. Apa mungkin telah terjadi sesuatu kepadanya?”
“Sulit untuk mengetahui kondisi di perbatasan, karena untuk membangun komunikasi hanya dapat dilakukan lewat surat.”
Kima mencoba menenangkan Nona nya yang tampak risau. Ia mungkin tidak tahu pernah tahu rasanya mencemaskan seseorang sebesar Kayena, namun ia tetap mau berusaha membuat Nona nya itu tetap tenang.
“Nona tidak boleh terlalu banyak pikiran, karena itu dapat menganggu kesehatan kehamilan.”
Terdiam. Wanita cantik yang pernah memegang posisi sebagai Queen Consort itu memilih bungkam dengan tangan masih mengelus permukaan perut. Perasaannya masih tidak karuan. Hendak memastikan pun, tidaklah mudah. Pertama-tama, ia harus menunggu kedatangan pengantar surat berkuda cepat. Karena hanya pengantar surat berkuda cepatlah yang membawa informasi, serta menjadi perantara komunikasi di antara mereka.
“Saya akan berada di luar. Nona beristirahatlah yang cukup untuk hari ini. Jangan terlalu banyak pikiran, serahkan saja semuanya pada Tuhan. Saya yakin Pangeran Kaezar akan baik-baik saja.”
Dukungan kembali Kima berikan, guna menambah semangat bagi calon ibu yang belakangan ini kerap mengalami naik-turun mood alias mood swing. Bagaimana mood-nya tidak naik turun bagaikan menaiki wahana rollercoaster, masalah Killian saja belum selesai, Kayena harus merasakan intuisi atau bisa disebut juga firasat kurang menyenangkan terkait Pangeran berkuda putihnya.
“Kamu pergilah makan sarapan yang lezat bersama yang lain jika ingin,” suruh Kayena. “Biarkan aku sendiri. Cari kesenangan mu sendiri di luar sana.”
“Maksud Nona?”
“Aku tahu kamu juga butuh hiburan, Kima.” Kayena tersenyum tipis seraya mengeluarkan beberapa keeping logam emas yang merupakan mata uang terbesar di Robelia. “Pergilah berlibur. Aku akan baik-baik saja, selama tetap tinggal di sini.”
“Terima kasih untuk tawarannya, Nona.” Kima memang senang mendapatkan jatah cuti, namun ia tidak berniat pergi kemanapun tanpa Kayena. “Tapi, saya lebih suka bepergian dengan Anda. Jadi, saya lebih memilih untuk tetap tinggal.”
Setelah berkata demikian, pelayan muda dengan rambut terpotong pendek itu pamit undur diri. Seperti perkataannya, ia akan menunggu di luar Yeowang-ui bang. Kima pikir membiarkan calon ibu itu lebih banyak waktu sendiri, baik baginya. Waktu tersebut bisa dihabiskan untuk istirahat, mengingat semenjak datang ke negeri ini pun, ada saja yang membuat kesehariannya dipenuhi dengan ketidaknyamanan.
Rupanya perkiraan Kima keliru.
Ketika kembali ke Yeowang-ui bang pada siang harinya, hendak mengantarkan makan siang yang terdiri dari sup rumput laut, ikan bakar, serta tumis sayur beserta kawan-kawannya untuk wanita cantik itu, Kima malah menemukannya tengah tidur dengan tangisan. Entah apa yang menghantui, sampai-sampai wanita cantik yang tengah hamil muda itu terlihat sangat terpukul, sekalipun dalam dalam tidur. Ada satu nama yang telus dilontarkan bibirnya, ketika masih berada di alam bawah sadar.
“Nona, ada apa?” tanya Kima usai menyodorkan air putih pada Kayena yang napasnya masih tersengal-sengal. Layaknya baru selesai lari berkilo-kilo meter. “Apa Anda memimpikan sesuatu yang menyeramkan?”
Kayena tidak langsung menjawab. Setelah menghabiskan air putih, barulah ia buka suara kala menatap Kima. “Dia tidak baik-baik saja, Kima. Aku yakin sekali dengan perasaan ku.”
“Kaezar.” Kayena langsung menjawab dengan mantan. “Dia terluka. Aku yakin sekali jika kondisinya sedang tidak baik-baik saja.”
💰👑👠
“Aku baik-baik saja. Aku harap kamu pun baik-baik saja di sana, karena ada mahluk mungil yang akan kita besarkan bersama-sama.”
Sayup-sayup, sepasang indra pendengarannya bisa menangkap suara sang kekasih hati mengucapkan kalimat yang ditulis di dalam surat. Suara familiar itulah yang beberapa kali terdengar memanggil namanya, membuat tidur lelapnya terusik.
Kelopak matanya yang ditumbuhi mulu mata lentik bergerak, mengerjap beberapa kali. Sebelum terbuka sempurna. Hal pertama yang ia lihat, sebelum menatap ke sekeliling adalah ruangan yang dilingkupi cahaya remang. Ruangan tersebut terlihat lusuh, kumuh, serta dipenuhi oleh sarang laba-laba. Sepertinya tempat ini memang sudah lama tidak ditinggali.
“Di mana ini?” ia bergumam kecil, ketika telah mengumpulkan kesadaran.
Ketika hendak bergerak, tiba-tiba saja rasa nyeri timbul begitu saja dari bagian perut. Ketika diraba, ia baru mengingatkan jika ada luka pada bagian tersebut. Bagian permukaan bajunya juga masih sedikit lembab karena terkena darah segar.
“Untuk apa mereka melakukan semua ini?” lagi-lagi ia hanya bisa bergumam, karena tubuhnya masih belum bisa leluasa digerakkan. Luka tusuk di tubuhnya terbilang luka yang membahayakan. Syukurlah, Tuhan masih berbaik hati kepadanya.
Ketika berhasil mengumpulkan sedikit demi sedikit kekuatan, Kaezar berencana untuk keluar dari tempat tersebut. Namun, baru saja bisa menggerakkan salah satu tangannya, itu pun dengan bagian perut yang terluka terasa begitu menyakitkan, sebuah pedang—mungkin bisa dibilang mirip Katana—yang dilumuri darah segar tersodor ke arahnya.
Ketika menaikkan pandangan, alangkah terkejutnya ia ketika menemukan pelaku dari senjata tajam yang disodorkan ke arahnya itu …merupakan seorang perempuan.
“Siapa kau?” tanyanya dengan suara dingin seperti bongkahan es di Kutub Utara.
Jelas sekali ia tidak akan memberikan ampun pada musuh, entah berjenis kelam*n laki-laki atau perempuan. Namun, ada yang membuatnya kian penasaran adalah wajah dari perempuan itu. Bukan karena cantik, karena cantik itu relatif. Namun, karena wajah itu mirip sekali dengan wajah gundik Raja Robelia yang saat ini tengah berkuasa.
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT dulu di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 21-07-23