How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0085. Crise de foi et dispute du Roi avec sa maîtresse (Krisis kepercayaan dan



0085. Crise de foi et dispute du Roi avec sa maîtresse (Krisis kepercayaan dan perdebatan terhadap Raja dengan gundiknya)


“Khan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.”


Pujian itu dilontarkan oleh pria yang baru saja menerima sebuah guci besar berisi abu dari jasad yang telah selesai melewati proses kremasi. Sekarang ia tinggal membawa abu tersebut ke Kyen, kemudian dilarung di perairan Kyen. Sebagaimana rencana yang telah ia susun matang-matang.


Sejauh ini, proses eksekusi rencananya telah berjalan dengan sangat lancar. Mengingat Raja Robelia dan gundiknya sama sekali tidak curiga. Mereka benar-benar memakan umpan yang disiapkan dengan mudahnya. Semua kesuksesan rencana tidak luput dari peran serta Khan.


Pria itu yang berinisiatif menggunakan jasad dari seorang perempuan tampa identitas. Beruntungnya, secara fisik jasad perempuan tanpa identitas itu mirip sekali dengan Kyara. Hanya saja, kondisinya yang sempat diawetkan, telah mengalami raccoon eye. Kemungkinan sebelum tewas, ia mengalami fraktur—patah tulah fatal, atau mengalami cidera otak yang serius. Kondisi tersebut tidak membuat Khan kesulitan untuk membuat jasad tersebut terlihat seperti Kyara. Untuk menambah kesan yang lebih meyakinkan, Khan juga meminta bantuan dari orang-orang terdekat Kyara—terutama keluarganya—untuk memberitahu ciri fisik apa saja yang menjadi ciri khas Kyara. Ciri yang dapat membuat orang lain mengenali sosoknya.


Dengan bantuan Khayansar, orang-orang terdekat Kyara yang masih tinggal di Kyen memberitahu beberapa hal yang menjadi ciri khas Kyara dari segi fisik. Salah satunya adalah tahi lalat di bawah mata kiri, serta bekas luka robek di lengan sebelah kanan. Kemiripan pada struktur wajah, seperti rahang dan bentuk bibir juga membantu Khan membuat jasad tersebut mirip sekali dengan Kyara. Setelah menyelesaikan tugasnya—memastikan jika jasad tersebut sudah Sembilan puluh persen mirip Kyara, Khan kemudian menunjuk salah satu kaki-tangannya sebagai kepala tim medis yang pura-pura menangani kasus Kyara.


Khan sudah bekerja dengan sangat rapih. Ia bahkan menyulap jasad tanpa identitas, menjadi jasad yang tampak mirip Kyara. Raja dan gundiknya bahkan sampai tidak dapat menemukan perbedaan atau mendapati kecurigaan.


“Kita akan segera kembali ke Kyen. Segera persiapkan pasukan!” titah Khayansar dengan guci besar yang masih ada di pelukan lengangnya.


“Bagaimana dengan Raja Robelia, Your Grace?”


“Kita tidak lagi memiliki kepentingan dengannya untuk saat ini,” jawab Khayansar. Your Grace sendiri adalah panggilan untuk Duke atau Duchess, ketika berbicara secara langsung. Panggilan tersebut merupakan bagian dari adat istiadat di wilayah Britania Raya.


“Aku harus kembali ke Kyen untuk menaburkan abu ini.”


Bawahan Khayansar mengangguk paham. “Saya juga baru mendapat informasi bahwa His Royal Highness telah mengunjungi estat Anda di Edinburgh, Your Grace.”


Mendengar panggilan yang biasa disematkan untuk putri dari Royal Family itu, Khayansar tertegun untuk beberapa waktu. “Untuk apa His Royal Highness berkunjung ke Pexley Park?” gumamnya tanpa sadar. Pexley Park adalah nama yang Khayansar berikan untuk estat nya di Edinburgh—tempat tinggalnya semenjak menjabat sebagai Duke of Edinburgh.


“His Royal Highness mencari Anda, Your Grace,” tambah bawahannya.


Khayansar menghela napas perlahan, sebelum kembali menarik napas dalam-dalam. “Untuk sementara waktu, minta butler di Pexley Park untuk nolak siapapun yang datang bertamu.”


“Baik, Your Grace.”


“Sekarang bersiap-siaplah. Kita akan segera meninggalkan ibu kota,” lanjut Khayansar.


“Baik, Your Grace.”


Tugasnya di tempat ini sudah selesai, untuk saat ini. Sekarang ia akan kembali dulu ke Kyen sembari menunggu hasil dari jebakannya. Ia juga akan membuat rencana cadangan, serta taktik untuk membalaskan penderitaan serta penghinaan yang diterima sang adik.


Di saat Khayansar sudah bersiap meninggalkan ibu kota, pasca menyelesaikan prosesi kremasi, Raja Robelia dan gundiknya juga baru tiba di istana dengan kondisi yang tidak dapat dikatakan baik-baik saja. Sang Raja tampak kelelahan dengan tubuh lengket, berbau tak sedap serta bermandikan cairan kental berwarna pekat. Tak berbanding jauh, gundiknya juga pulang dengan kondisi tubuh lembab dan rambut lepek. Berbau tidak sedap, kotor, serta mood yang buruk.


“Kenapa Yang Mulia tidak membunuh salah satu di antara mereka saja?”


Wanita Raja yang sejak tadi diam saja, kini kembali buka suara. Keduanya kompak langsung menuju ke pemandian milik Raja, guna membersihkan tubuh.


“Jika saja mereka digertak dengan cara seperti itu, mereka pasti akan ketakutan,” dumel wanita bertubuh mungil yang baru saja menyimpan beberapa aksesoris yang ia gunakan di atas meja, dekat kolam pemandian.


“Jika kau hanya ingin mengoceh, sebaiknya lakukan di kediaman mu. Jangan membuat keributan di sini,” respon sang Raja yang baru saja masuk ke dalam kolam pemandian, pasca melepaskan pakaian yang ia gunakan. Menyisakan penutup bagian bawah bawah tubuh sebagai dalaman.


Kaizen, pemilik tempat tersebut mendengus di tempatnya menyandarkan tubuh. Saat ini mereka berada di sisi kolam yang berbeda, tengah sibuk merilekskan tubuh yang beberapa saat lalu diguyur berbagai macam cairan berbau tidak sedap, termasuk telur busuk, sisa makanan ternak, limbah domestik—limbah rumah tangga, sampai pupuk kandang.


Walaupun gerombolan yang mendatangi mereka membekali diri dengan berbagai perkakas sebagai senjata, rupanya yang menyerang dengan agresif adalah para wanita yang menghadang kereta kuda mereka ketika hendak meninggalkan krematorium. Alhasil, mereka berdua pulang dengan kondisi seperti saat ini. Untung saja mereka tidak mengalami luka, atau cidera.


Saking kesalnya dengan kondisi yang sempat menimpa mereka, Katarina beberapa kali meminta Kaizen untuk membunuh salah satu rakyatnya. Dengan demikian, mereka—rakyat Robelia yang memberontak—akan jera dan berpikir ulang ketika hendak mengulangi perbuatannya. Namun, ide tersebut ditolak mentah-mentah oleh Kaizen. Pria tersebut malah memilih membuka jalan untuk berdiskusi degan perwakilan rakyat, namun niat baik tersebut tidak disambut dengan respon positif. Mungkin itu adalah salah satu dampak dari krisis kepercayaan rakyat terhadap pihak kerajaan.


“Duke of Edinburgh memberi Anda waktu satu pekan dari sekarang untuk membersihkan nama mantan Ratu serta pelayan yang berkhianat itu. Apa rencana Yang Mulia selanjutnya?”


“…”


“Apa Yang Mulia akan memenuhi keinginan Duke of Edinburgh, atau tetap melindungi saya. Termasuk melindungi Archduke Klautviz de Meré yang telah membantu saya di pengadilan?”


“Masalah ini harus aku pertimbangkan baik-baik, karena ada kepercayaan rakyat yang ikut terlibat.”


“Anda tidak bisa hanya memikirkan soal kepercayaan rakyat, Yang Mulia. Bagaimana dengan saya?” rajuk Katarina, tidak terima jika posisinya lebih rendah dibanding dengan posisi rakyat.


“Semua ini juga terjadi karena kau, Katarina!” hardik Kaizen yang mulai tersulut emosi. “Jika saja bukan karena kau, tidak akan ada laporan yang mengharuskan Pengadilan Tinggi membuka persidangan.”


“…”


“Sejauh ini aku diam, bukan berarti aku menutup mata. Jika terbukti benar, kau yang telah merencanakan percobaan pembunuhan pada Ratuku, Kayena. Maka, aku tak akan segan-segan untuk mengambil mahkota yang tersemat di kepala mu.”


Katarina kehabisan kata. Ketika hendak membalas perkataan Kaizen, ketika pada akhirnya ia kembali mendapatkan kekuatan, pria itu sudah terlebih dahulu beranjak.


“Dibanding dirimu, dukungan rakyat adalah kepentingan pokok bagi Raja seperti diri ku. Wanita seperti dirimu tidak akan mengerti seberapa pentingnya kepercayaan rakyat demi menjaga kestabilan sebuah negeri.”


“Yang Mulia, saya …”


“Aku memang menjadikan dirimu satu-satunya wanita di sisi ku, setelah aku melepaskan Kayena. Namun, bukan berarti kau dapat berbuat semena-mena,” potong Kaizen ketika usai membungkus tubuhnya dengan jubah mandi.


“Jangan pernah ikut campur soal urusan politik, serta bagaimana cara ku menghadapi krisis kepercayaan rakyat. Cukup diam dan renungkan kesalahan mu. Jika benar kau adalah dalang dibalik percobaan pembunuhan terhadap mantan Ratu, maka aku tak akan segan menjatuhkan hukuman.”


Setelah berkata demikian, Kaizen bergegas pergi meninggalkan Katarina yang juga tengah menahan emosi. Di dalam genangan air hangat, kedua tangannya mengepal kuat.


“Aku memang dalangnya,” ujar Katarina dengan senyum miring yang tersungging. “Dibanding semua itu, penyebab utama dari perbuatan ku adalah anda sendiri. Anda yang tiba-tiba mengejar wanita itu, padahal anda sangat mendambakan diriku, Yang Mulia. Kita punya obsesi pada masing-masing.5”


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT dulu di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 14-07-23