How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0049. La Maitresse du Roi ne Pouvait Rien Faire (Gundik Raja tak mampu berbuat



0049. La Maitresse du Roi ne Pouvait Rien Faire (Gundik Raja tak mampu berbuat apa-apa)



“Dengarkan Ibu, nak. Kamu mungkin sudah memiliki harta, serta tahta kerajaan Robelia. Ibu berpesan agar kamu tidak bermain-main dengan wanita,” ucap wanita cantik yang tak lagi menggunakan mahkota berkilauan di atas kepalanya. Ada gurat lelah di wajah. “Jika kamu berani menginginkan wanita selain istrimu, maka pria lain pun akan berani menginginkan istrimu.”


“Dalam agama kita, pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan yang berciri satu untuk selamanya dan tidak bisa diceraikan. Oleh karena itu, jangan pernah berpikir untuk menceraikan istrimu. Dia adalah sebaik-baiknya wanita yang telah ibu pilihkan untuk kamu. Ibu tahu, kamu adalah pria yang punya hasrat tidak terbatas, tidak menutup kemungkinan jika kamu akan mengikuti jejak ayahmu—memiliki wanita idaman lain. Namun, perlu kamu ketahui bahwa, ayah mu tidak pernah sengaja melakukan itu. Keadaan yang mengharuskan Ayahmu menjadikan dia sebagai wanita simpanan.”


Seharusnya, waktu itu Kaizen mengingat pesan terakhir ibunya dengan baik. Sejauh ini, ia hanya mengingat soal larangan perceraian. Dalam agama mereka, pernikahan dipandang sebagai sesuatu yang sakral. Pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan yang berciri satu untuk selamanya dan tidak bisa diceraikan. Oleh karena itu, ia ngotot mempertahankan keputusannya untuk tidak bercerai dengan sang istri. Namun, ia melupakan poin-poin penting dalam pesan sang ibu.


Perihal wanita, seharusnya Kaizen tidak lupa. Ia sudah diwanti-wanti agar tidak bermain-main dengan wanita, sebelum mengundang malapetaka. Sekarang, ia menyadari kebenaran dari pesan terakhir sang ibu. Ia memang benci ayahnya yang memiliki wanita lain, namun di balik semua itu, ada sebuah fakta. Fakta yang mengatakan bahwa ayahnya tidak pernah berniat untuk mendua.


Ayahnya hanya menjalankan desakan dari berbagai pihak, guna memanfaatkan putri dari sebuah negeri yang baru saja dikalahkan oleh Robelia. Dari sana lahirlah Kaezar yang tidak pernah dianggap ada. Namun, sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab, raja Robelia terdahulu tidak pernah lupa akan kewajibannya. Kendati demikian, Kaezar kecil tetap hidup terasing di tempat yang tidak pernah mengharapkan kehadirannya.


Kaizen membenci ayahnya yang memiliki wanita lain, namun ia mengikuti jejak tersebut. Ia bahkan … lebih gila dari sang ayah. Ia sempat menganggap istrinya sebagai barang antik yang cantik dan bernilai fantastis. Barang yang harus dijaga untuk dipajang. Sesekali digunakan untuk mendapatkan manfaat lain, berupa keturunan.


Lantas, jika ada yang bertanya soal cinta pada Kaizen, manakah dari Kayena atau Katarina yang dicintai olehnya? Maka ia akan langsung menjawab, tanpa ragu, apalagi dusta. Kayena adalah wanita pertama yang berhasil membuat Kaizen jatuh cinta. Bahkan jauh sebelum ia mengenal kata cinta itu sendiri. Saking cintanya, Kaizen bahkan tidak mau menyakiti Kayena dengan hasrat *****alnya yang kerap menggebu-gebu. Kayena itu terlalu berharga, sehingga ia menganggapnya boneka Marionette yang perlu dijaga. Hanya sewaktu-waktu ia butuhkan, karena ia tidak mau terus-menerus menggunakannya.


Oleh karena itu, Kaizen butuh sosok lain sebagai pelampiasan segala hal yang tidak dapat ia lakukan pada Kayena. Sosok yang polos, lugu, serta penurut. Yang tidak memiliki power apa-apa, namun dapat mengimbangi hasrat *****alnya yang kerap menggebu-gebu. Tujuan awalnya hanya itu. Namun, ternyata ada banyak kesalahan ketika rencana itu dijalankan. Ia mungkin mendapatkan apa yang diinginkan. Di sisi lain, ia telah menimbulkan retakan pada pernikahannya sendiri.


Semuanya semakin memburuk ketika Kayena tiba-tiba menginginkan perceraian. Padahal, keinginan tersebut terbilang mustahil diwujudkan oleh Kaizen. Kendati demikian, rupanya Kayena tak bermain-main soal keinginan untuk bercerai. Mungkin, wanita cantik itu sudah lelah menghadapi Kaizen. Bahtera yang mereka bangun bersama mulai terombang-ambing semenjak Katarina ikut serta di dalamnya. Bahtera yang harusnya menampung dua orang, tentu saja akan terombang-ambing, tenggelam atau terbelah ketika dinaiki oleh 3 orang.


Sekarang, ketakutan Kaizen sudah ada di depan mata. Desakan untuk melakukan pembatalan pernikahan atau menyetujui perceraian. Kedua opsi tersebut tidak ada yang menguntungkan sama sekali.


“Apalagi yang Anda tunggu, Yang Mulia? bergegas lah mengambil pena jika Anda menyetujui perceraian.”


Grand Duke Pexley kembali buka suara. Membawa serta kesadaran Kaizen yang sempat melanglang buana.


“Dalam agama kita percayai, tidak ada perceraian di antara pasangan suami-istri,” ujar Kaizen kemudian. Alasan keagamaan kembali menjadi pedoman.


Perlu diketahui bahwa sebagian besar rakyat Robelia memeluk agama Katolik, dimana dalam agama dan kepercayaan mereka tidak ada yang namanya perceraian. Namun, ada yang namanya pembatalan perkawinan yang disebut anulasi (bahasa inggrisnya annulment), suatu hukum acara untuk menyatakan bahwa suatu perkawinan atau pernikahan batal dan tidak berlaku (atau batal demi hukum).


Melakukan anulasi pun tidak mudah, dibutuhkan bantuan Pastor Paroki (pendeta setempat) untuk membuat dokumentasi sebelum kasus dibawa ke pengadilan gerejani. Pastor Paroki kemudian akan melihat apakah cukup alasan untuk membawa kasus tersebut ke pengadilan.


“Kau lupa jika ada anulasi?” sahut Khayansar. Kembali buka suara setelah sekian lama. “Keluarkan saja akta supremasi agar anulasi pernikahan Adikku segera dilakukan.”


Kaizen mengeraskan rahang. Sampai kapan pun ia tidak akan mengeluarkan acte de suprématie atau akta supremasi—surat tanda bukti berisi pernyataan tentang peristiwa hukum yang dibuat menurut peraturan yang berlaku, disaksikan dan disahkan oleh pemegang kekuasaan tertinggi.


“Bukan kah Robelia Negari hukum? Pemerintahan kalian mengizinkan perceraian, dengan catatan, alasan yang mendasari perceraian tersebut masuk akal.”


Kaizen tersentak. “Ini adalah Robelia. Pemegang kekuasaan tertinggi adalah saya!” tekannya. “Tidak ada siapapun yang boleh menentang wewenang Raja Robelia.”


Khayansar ikut beranjak. Berdiri menjulang di samping ayahnya. “Benar, kau adalah Rajanya. Maka dari itu, bersikaplah sebagaimana mestinya seorang Raja yang bijaksana,” balasnya kemudian. “Kami juga telah membawa serta Uskup Agung Candor untuk menyelesaikan akar dari masalah ini.”


Kaizen menggeram. Kehadiran Uskup Agung Candor tidak akan pernah ia anggap ada, jika mereka hanya menggunakannya sebagai perantara guna memisahkannya dengan Kayena.


“Apa yang membuat Anda keberatan melepaskan Kayena?” kali ini Grand Duke Pexley yang buka suara. “Bukan kah Anda sudah tidak lagi menganggapnya sebagai seorang istri?”


“Ayah, tidak begitu. Kami hanya …”


“Sudah, cukup,” potong Grand Duke Pexley. “Saya sudah memberikan kesempatan terakhir pada Anda ketika membawa wanita lain masuk ke istana. Anda berjanji akan berlaku adil. Namun, tidak ada keadilan sama sekali bagi putri saya.”


Kaizen memijit kepalanya frustasi. Todongan fakta datang secara bertubi-tubi. Jika melawan Khayansar saja ia belum tentu menang, apalagi jika harus melawan Grand Duke Pexley sekaligus. Ia butuh bantuan. Akan tetapi, siapa yang dapat membantunya untuk saat ini?


Sampai ketika sebuah nama disebutkan oleh prajurit di depan pintu, membuat Kaizen memejamkan mata saat itu juga. Pening di kepala langsung bertambah dua kali lipat.


“Selir Agung Katarina, akan segera memasuki ruangan.”


Tak berselang lama setelah nama itu disebutkan, pemiliknya muncul, memasuki ruangan dengan gaun berwarna kuning muda yang tampak mewah. Ada pula tiara di kepalanya. Lengkap dengan senyum penuh percaya diri di bibir ranumnya.


“Rupanya sedang ada tamu.” Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan olehnya. “Selir Agung Katarina memberikan salam pada Pahlawan Kekaisaran serta Pengemban Perdamaian,” lanjutnya. Kemudian ia memberikan penghormatan singkat, sekalipun ia memiliki status lebih tinggi dari keduanya.


Sayang seribu sayang, penghormatan tersebut tidak digubris sama sekali. Sehingga ia hanya memasang fake smile sebelum mendekat ke arah kekasihnya. “Saya baru mendengar informasi soal kehadiran ayah serta kakak sulung Yang Mulia Ratu. Jadi, saya langsung bergegas datang.”


Kaizen menggeram di dalam hati. Siapapun yang melihat penampilan selirnya saat ini, tahu betul jika wanita itu setidaknya menghabiskan waktu 3 jam untuk bersiap.


“Lebih baik tutup mulut mu, Katarina,” bisik Kaizen.


Katarina yang mendengar bisikan tersebut tersenyum acuh, kemudian kembali menghadap ayah serta kakak sulung Kayena. Tatapannya kemudian terpaku pada cinta pertamanya yang tidak pernah berubah sejak dulu; masih tampan nan rupawan, dingin, dan datar. Namun, pesonanya luar biasa menggetarkan.


“Tidak perlu basa-basi, seolah-olah kita saling mengenal.” Itu adalah jawaban dari sapaan yang Katarina layangkan. Sangat dingin dan terkesan sarkas. “Cepat,” katanya kemudian. “Tandatangani dokumen perceraian itu, atau keluarkan akta supremasi untuk mengesahkan anulasi.”


“Sudah aku katakan, di sini aku yang memegang kekuasaan!” seru Kaizen.


Katarina yang berdiri di sampingnya saja sampai berjengit. Kaget karena Kaizen tiba-tiba bicara dengan nada tinggi.


“Saat ini Ratu Robelia tengah menjalani masa hukuman akibat dari skandal yang dia timbulkan. Selama masa hukuman belum diselesaikan, Ratu Robelia dilarang melakukan apapun.”


“Perceraian atau anulasi tidak perlu langsung dilakukan oleh pihak yang bersangkutan.” Seolah-olah punya seribu satu jawaban, Khayansar de Pexley selalu mampu menjawab ucapan Kaizen dengan tepat waktu. “Segera ambil keputusan, sebelum aku meratakan daratan yang sangat kau banggakan,” katanya penuh tekanan.


“Saya tidak takut sama sekali jika Anda mengibarkan bendera perang pada Robelia,” balas Kaizen. “Yang aku takutkan adalah … kehilangan Kayena,” lanjutnya di dalam hati.


Untuk pertama kalinya semenjak menginjakkan kaki di Robelia, sudut bibir Khayansar terangkat. Namun, bukan membentuk senyuman, melainkan seringai. “Aku tidak perlu meratakan daratan yang kau banggakan, jika otak dangkal mu digunakan untuk mengambil keputusan saat ini juga.”


“Mulut Anda kasar sekali, Tuan Muda.”


Bukan, bukan Kaizen yang menjawab ucapan Khayansar, melainkan Katarina. “Untuk ukuran seorang Mayor Kekaisaran, Anda memiliki sifat yang terlalu kasar dan blak-blakan.”


“Sifat ku tidak ada urusannya dengan mu,” ujar Khayansar. “Lagipula siapa kau, berani sekali melayangkan pendapat terhadap ku?”


“Saya adalah Selir Agung dari Kerajaan Robelia, jika Anda lupa.”


“Hm, begitu rupanya,” respon Khayansar. Sedetik kemudian ia kembali angkat suara. “Tapi, di mata ku, kau tak lebih dari itik buruk rupa yang tidak tahu terima kasih.”


Disebut “itik buruk rupa”, Katarina tentu saja merasa terpancing. Amarahnya langsung naik ke puncak tertinggi. Bisa-bisanya ia dihina begitu saja oleh cinta pertamanya.


“Jaga bicara Anda, Mayor Khayansar. Tidak sepatutnya Anda merendahkan harga diri wanita Raja.”


“Lantas bagaimana dengan harga diri istri mu yang sempat menjadi bahan perbincangan?”


Maksud hati ingin membela Katarina, agar wanita itu tidak meledak-ledak dan berulah semakin banyak, Kaizen malah disembur oleh kalimat menohok tersebut.


“Kau dengan gampangnya mengasingkan Adikku hanya karena tuduhan tak berdasar. Sekarang kau masih berani bicara soal harga diri?” Khayansar berkata dengan datar. “Lebih baik jangan banyak bicara lagi, segera ambil keputusan. Setelah ini kami akan membawa Kayena kembali ke Kyen.”


“Ratu tidak akan pergi kemana-mana selama hukumannya—“


“Setelah aku pelajari lebih lanjut, tuduhan yang dilayangkan pada Adikku tidak memiliki cukup bukti dan saksi. Tuduhan itu tidak berdasar, karena hanya berlandaskan sebuah rumor dari mulut ke mulut.” Khayansar memotong dengan segera kalimat Kaizen. Sejatinya ia pria yang irit bicara. Namun, ketika terlibat pembicaraan yang alot, ia tak segan-segan untuk bicara panjang kali lebar.


“Tiga pekan masa hukuman yang kau berikan pada Adikku terlalu lama bagi seseorang yang tidak bersalah apa-apa,” lanjut Khayansar. “Dalam Undang-Undang Robelia tidak disebutkan bahwa seseorang yang tidak bersalah harus diasingkan 3 pekan lamanya.”


Kaizen menelan ludah susah payah. Jelas apa yang diucapkan oleh Khayansar sepenuhnya benar.


“Putuskan, mana yang kau pilih; perceraian atau anulasi. Setelah itu, kami akan menjemput Kayena.”


Baru saja hendak bicara, Grand Duke Pexley sudah menyela.


“Lepaskan putri saya, Yang Mulia. Saya tidak sanggup lagi jika harus melihatnya hidup menderita.” Seraya berkata demikian, Grand Duke Pexley melepaskan satu per satu epolet emas yang terpasang di seragamnya. “Hari ini saya akan mengembalikan semua kepercayaan yang telah diberikan kerajaan Robelia. Sebagai gantinya, berpisah lah dengan putriku. Setelah kalian berpisah, kami—para anggota keluarga Pexley yang tersisa akan meninggalkan Robelia.”


Bencana.


Kaizen baru saja mendengar sebuah bencana yang luar biasa. Di sisinya, sang kekasih—sekaligus pionnya sama sekali tidak dapat membantu apa-apa.


“Saya akan menunggu keputusan Anda sampai matahari terbenam,” pungkas Grand Duke Pexley kemudian. “Semoga saja Anda apa yang saya maksud.”


💰👑👠


TBC


**Gimana perasaan readers setelah baca bab ini? Deg-degan atau geregetan? Masih mau next? Komentar Next di sini, yang banyak 👇


Semoga aja suka 😘**


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 03-06-23