
0067. La victim de la cupidité de Katarina (Tumbal ketamakan Katarina)
Tiga musim panas yang telah berlalu, ketika itu langit Kyen dinaungi warna biru serta gumpalan kapas raksasa yang bergerak lamban, satu bouqet mewah merah segar yang dicampur dengan baby breath tiba di kediaman Grand Duke Pexley beserta sebuah dekrit dari kerajaan. Enam bulan pasca pernikahan putri semata wayang mereka resmi dimahkotai.
Lantas, untuk siapa satu bouqet mewah merah segar yang dicampur dengan baby breath yang melambangkan cinta abadi itu? Jawabannya adalah untuk seorang wanita muda yang baru menginjak usia 18 tahun musim panas kala itu.
Sesuai janji sang kekasih, ia juga akan dimahkotai agar dapat dipertunjukkan pada dunia; bahwa ia lah wanita yang berhasil membuat sang Baginda Raja berpaling dari istrinya yang sudah seperti Bidadari turun dari langit. Ia hanya gadis biasa yang bahkan tidak mengeyam bangku pendidikan di Royal Academy, namun berhasil menaiki ranjang pria nomer satu di kerjaan ini. Di mana pada saat itu, prianya masih menjadi calon suami dari nona muda di tempatnya tinggal, tumbuh, mencari makan, hingga mendapatkan perlindungan. Namun, dengan kesadaran penuh, ia menerima ketertarikan sang Raja.
Melemparkan diri ke ranjang pria itu tidaklah mudah, namun Katarina berhasil melakukannya. Ia bahkan mendapat jakpot berupa cinta dari sang pria. Katanya, pria itu kecanduan segala hal yan ada dalam dirinya. Padahal, awalnya ia datang ke istana untuk mendampingi nona mudanya, siapa sangka ia juga akan menjadi bagian dari penghuni tempat istimewa tersebut.
“Penghinaan macam apa ini!”
Suara menyeramkan yang terdengar sangat marah di telinga Katarina itu berasal dari Grand Duke Pexley yang kala itu langsung kembali ke Kyen dari perbatasan. Beliau memang sudah bekerja produktif lagi di perbatasan, semenjak putrinya menjadi Ratu Robelia. Tidak seperti mertua Raja pada umumnya, Grand Duke Pexley tidak mau hanya tumpang kaki di rumah sembari menikmati hari-hari tua. Beliau masih ingin produktif dalam menjaga keamanan Robelia. Namun, siapa sangka jika secepat ini ia mendapatkan kabar tak sedap.
“Utusan dari istana hendak menjemput Nona Katarina, Yang Mulia Grand Duke.”
Ayah mana yang tidak murka jika putri satu-satunya yang baru saja menikah diselingkuhi? Terlebih lagi pasangan dari selingkuhan suaminya adalah salah satu orang terdekatnya. Tanpa pikir panjang, Grand Duke Pexley langsung membuat petisi—permohonan resmi kepada pihak kerajaan agar titah raja dibatalkan. Namun, Raja membalas petisi Grand Duke dengan dekrit—keputusan (ketetapan)—yang tidak dapat diubah oleh siapapun. Lewat dekrit tersebut, Raja Robelia itu menyuarakan kebebasan sebagai seorang pria yang bisa saja memiliki lebih dari satu wanita, asalkan bisa adil kepada mereka berdua.
“Berbahagialah, Katarina. Kamu benar-benar sangat beruntung.”
Pujian itu disampaikan oleh rekan sejawat Katarina—salah satu pelayan di kediaman Grand Duke Pexley. Bedanya, ia bertugas pada bagian kebutuhan nona muda mereka, seperti membantu menyiapkan baju, perhiasan, hingga aksesoris yang hendak digunakan.
“Terima kasih, Kyara. Aku juga tidak menyangka akan mendapatkan anugrah luar biasa dari Tuhan,” jawab si empunya nama dengan kedua tangan memeluk bouqet bunga dari sang kekasih. “Bunga ini sangat harum,” imbuhnya dengan senyum lebar. “Yang Mulia pasti memetiknya langsung dari taman Istana.”
Teman sebayanya yang masih menggunakan pakaian pelayan mengangguk dengan senyum kecil. Ia turut berbahagia dengan apa yang Katarina dapatkan. Katarina memang gadis yang terkenal gigih, walaupun image-nya polos, lugu, sebenarnya ia gadis yang manipulatif. Kyara sudah mengenal Katarina sejak lama, karena orang tuanya bekerja di kediaman Grand Duke Pexley sejak lama. Jadilah mereka berteman, dan bekerja bersama—melayani nona Kayena de Pexley. Namun, siapa sangka jika Kyara akan melihat Katarina—teman seperjuangannya mengurus kuda-kuda di istal kuda pada hari libur, kini akan tinggal di istana.
Yaa, walaupun cara yang digunakan Katarina untuk memanjat sosial sangat kontroversial. Gadis-gadis yang besar di antara para pelayan rendahan seperti mereka memang tidak seharunya memimpikan sesuatu yang sukar digapai. Rupanya, kalimat tersebut ditampik oleh Katarina.
“Kyara, ikutlah dengan ku jika kamu mau. Aku akan membutuhkan kamu di istana.”
Itu adalah ajakan serta awal dari segalanya. Bagi Kyara, ketika ia berpindah tuan, maka ia juga akan berganti mengabdikan seluruh jasanya. Bersama Katarina, Kyara memasuki istana. Berdiri di samping Katarina yang mulanya hanya berangkat sebagai gadis biasa yang telah ditiduri Raja, kemudian dimahkotai. Kehidupan Katarina berubah 380° semenjak memasuki pergaulan kelas atas.
Pada awalanya Katarina kesulitan beradaptasi, namun Kyara selalu menyemangati. Siapa tahu kelak Katarina dapat menjadi wanita Raja yang bisa mewakili aspirasi para anak perempuan dari kasta rendahan. Rupanya Kyara salah besar. Semakin hari, semakin besar pula ambisi Katarina untuk mendapatkan hati Raja seutuhnya, beserta posisi Ratu. Ia bahkan menghalalkan berbagai cara guna menjadi lebih unggul dari Kayena yang jelas-jelas mereka ketahui betul keunggulannya.
Kyara telah berjanji untuk setia mengabdi. Ia pun tipikal orang yang setia pada tuannya. Hanya saja, semakin besar keinginan Katarina, semakin banyak kecemasan yang mendera. Katarina dapat bertindak gegabah, ketika tidak berpikir dengan benar. Puncaknya ketika Katarina mudah dilanda kecemasan pasca Raja memperlihatkan ketertarikan pada Ratu yang tiba-tiba berubah. Berbagai cara telah Katarina lakukan agar sang Raja tidak berpaling, namun pria itu sukar ditebak. Bukannya kembali dekat, hubungan mereka malah semakin retak.
Puncak dari kecemasan Katarina adalah beberapa waktu yang lalu, ketika Duke of Edinburgh membawa tiga kepala dari kaki-tangannya. Posisi Katarina yang sudah mulai terpojok, membuatnya semakin waspada, termasuk pada Kyara. Wanita itu tak segan-segan mengancam Kyara menggunakan keluarganya.
Katarina tahu betul jika kelemah terbesar Kyara adalah ibu beserta 6 adiknya. Selaku saksi kunci, Katarina risau Kyara mengkhianati dirinya. Seperti apa yang pernah ia lakukan pada Kayena. Padahal Kyara sudah berkata; “saya tidak akan berkhianat, selama Anda juga tidak mengkhianati saya, Yang Mulia Selir. Bukan kah kita memang saling memegang kartu AS masing-masing?”
Namun, Katarina tetap saja menggertak Kyara. Ia bahkan meminta seorang Assassin (pembunuh) bayaran untuk menyakiti salah satu adik dari Kyara, supaya Kyara tidak berani berkhianat. Padahal, di malam yang sama ketika Duke of Edinburgh datang ke ibu kota Robelia, Kyara telah mengirimkan pesan pada pria itu.
“Kyara, sedang apa kau di sini!”
Kyara tidak langsung menjawab, melainkan memilih untuk memberi penghormatan terlebih dahulu pada Raja Robelia. “Hormat saya, Yang Mulia Raja.”
Kaizen sendiri tampak terkejut dengan saksi terakhir yang dikeluarkan Khayansar. Siapa sangka jika saksi terakhir yang dimaksud pria itu adalah pelayan terdekat Katarina. Pelayan yang sudah seperti tangan kanan serta saudara sendiri. Lalu, bagaimana bisa pelayan itu berkhianat?
Kaizen benar-benar tak habis pikir.
“Kedatangan saya ke sini adalah untuk memberikan kesaksian,” ujar Kyara di depan sang Raja. Di sampingnya, ada moderator Pengadilan Tinggi yang menemani.
“Bagaimana bisa kau … memberikan kesaksian melawan tuan mu sendiri?” tanya Kaizen, hati-hati. Di sampingnya, Katarina sendiri tampak berapi-api.
“Pengkhianat!” seru Katarina marah. “Seharusnya waktu itu aku tidak pernah mengajak mu, dasar pelayan rendahan yang tidak tahu diri.”
Bukannya marah, Kyara malah tersenyum tipis seraya mengangkat gaun sederhana yang ia gunakan dengan sopan. “Terima kasih karena waktu itu Anda mengajak saya ke istana. Namun, jika waktu dapat diputar, saya tidak akan pernah menerima ajakan Anda.”
Katarina meradang. Ia baru saja hendak menuruni anak tangga guna menampar mulut pelayan tersebut, namun ditahan oleh Kaizen. Pria itu menahan setiap pergerakan hanya dengan cengkraman pada pergelangan tangan.
“Apa-apaan kau, Katarina?” lirih Kaizen. “Bukan seperti ini cara untuk menghadapi musuh di balik selimut.”
“Saya benar-benar merasa kesal, Yang Mulia,” ungkapnya. “Saya merasa … sangat kecewa karena ditusuk dari belakang.”
“Aku tahu,” jawab Kaizen. Mencoba menenangkan sang kekasih agar tidak terpancing emosi. “Tenang lah terlebih dahulu. Kita harus melihat apa yang akan disampaikan oleh pengkhianat itu.”
“Saya senang melihat Yang Mulia Raja dan Selir Agung kembali dekat, layaknya sepasang kekasih pada umumnya,” ujar Kyara tiba-tiba. “Namun, kira-kira sampai kapan hubungan yang dibangun di atas penderitaan orang lain bertahan?”
Kompak, Kaizen dan Katarina menoleh ke arah yang sama, yaitu tempat di mana suara itu berasal. Menatapnya dengan sorot mata berbeda.
“Jaga bicara mu, pelayan rendahan!”
Kyara tampak tidak terpengaruh sama sekali mendengar hinaan Katarina. “Anda dengan mudah menghina pekerjaan saya, seolah-olah Anda tidak pernah melakukan pekerjaan yang sama.”
Skakmat. Lagi-lagi Katarina berhasil dibungkam dengan telak.
“Jika Anda lupa, biar saya ingatkan lagi, Selir Agung Katarina. Dulu, kita bekerja di tempat yang sama. Melakukan pekerjaan yang sama, dan menghabiskan waktu luang bersama di sekitar istal kuda milik keluarga Grand Duke Pexley. Saya dan Anda selalu berandai-andai seraya menatap Istana dari kejauhan, apakah suatu saat nanti kita …”
“Cukup!” potong Katarina dengan berang. Ia paling tidak suka jika masa lalunya diungkit-ungkit. “Pergi dari sini jika kau hanya ingin bicara omong kosong.” Ia tak akan segan mengusir siapapun yang berani mengungkit masa lalunya. “Seret pelayan rendahan ini ke luar!” titah Katarina kemudian.
“Tidak ada saksi yang boleh diganggu, apalagi disakiti,” kata moderator Pengadilan Tinggi, menengahi pertikaian. “Nona Kyara adalah saksi kunci yang dibawa oleh Duke of Edinburgh. Sebagai saksi, Nona Kyara berhak mendapatkan perlindungan dari Pengadilan Tinggi sampai penyelidikan selesai digelar.”
Katarina menggeram marah. Ia kemudian menatap ke arah Kaizen yang sejak tadi memilih mengamati situasi. “Yang Mulia, tolong usir pengkhianat itu. Dia bahkan pantas untuk mendapatkan hukuman, karena telah mengkhianati saya.”
“Kau tidak bisa berbuat semena-mena, Katarina.” Kaizen berkata demikian karena masalah kali ini adalah ranah Pengadilan Tinggi yang mengambil keputusan. Kaizen adalah pihak yang lebih cenderung bekerja untuk mempertimbangkan. Lagipula, sekarang tidak mungkin ia bertindak semena-mena, di saat ada banyak pihak dari berbagai fraksi.
“Silahkan utarakan apa yang ingin Anda utarakan, Nona,” ucap moderator pengadilan tinggi. Memberi Kyara waktu dan tempat untuk bicara.
“Saya hanya ingin mengatakan apa yang saya lihat, dengar, dan ketahui selama bekerja untuk Selir Agung Katarina,” ungkap Kyara. “Terkait masalah yang menimpa Ratu Kayena, semua itu memang ada sangkut pautnya dengan Selir Agung Katarina.”
Katarina semakin gelisah. Kyara adalah salah satu kelemahan baginya. Pelayan itu tahu banyak hal tentang kebusukannya. Ia benar-benar tidak menyangka jika Kyara akan bertindak sejauh ini, padahal ia sudah berusa menekan Kyara agar tetap patuh, yaitu dengan cara membatasi ruang gerak serta komunikasi dengan dengan ibu dan adik-adiknya. Ia juga sempat menggertak Kyara, namun semua itu ternyata tidak dapat mencegah Kyara untuk berkhianat.
“Yang Mulia Raja juga pasti tidak tahu sebusuk apa hati wanita yang kini menempati posisi Selir Agung.”
“Kyara!” Katarina marah. Cukup sudah ia bersabar. Lama kelamaan, ia bisa mati berdiri jika membiarkan Kyara terus mengutarakan kejujuran.
Katarina belum mau menggali lubang kubur sendiri. Bagaimana pun caranya, ia harus menghentikan Kyara.
Di posisi lain, Kaizen memilih diam karena ia menjadi penasaran. Kira-kira apa yang diketahui pelayan itu tentang Katarina? Apa saja yang ia tidak ketahui tentang wanita yang berhasil membuatnya puas di atas ranjang?
“Asalkan Yang Mulia Raja ketahui, wanita Anda lah yang telah merencanakan pencemaran nama baik, penggulingan, penculikan, pembunuh dan …ahk!”
Kalimat Kyara tidak rampung diucapkan, karena diakhiri dengan jeritan kesakitan Kyara setelah terdengar suara letupan senjata laras panjang secara beruntun. Tubuh Kyara kemudian jatuh ke lantai dengan darah segar yang berceceran dimana-mana. Jeritan ketakutan terdengar, menjadi awal dari ketegangan yang terjadi di ruangan tersebut.
Kaizen sendiri tampak kaget ketika menatap tubuh Kyara yang tidak lagi menunjukkan pergerakkan, bergantian dengan si pelaku yang berdiri tak jauh dari pintu masuk samping—pintu yang diperuntukkan para petinggi kerajaan Robelia.
“Untuk apa mendengarkan omong kosong dari seorang pengkhianat?” suara dari pelaku yang menarik pelatuk senapan itu dengar mengerikan.
Hanya segelintir orang yang mengenal sosok berbadan tinggi dengan kulit coklat gelap yang dihasilkan karena sengatan sinar matahari itu. Salah satunya adalah Kaizen. Ia mengenali rupa sosok yang telah menghilang selama dua tahun belakangan.
“Paman?” panggilnya.
“Ya, ini aku,” jawab sosok berbadan tinggi dengan kulit coklat gelap tersebut. Sekarang ia sudah berada di tengah ruangan. Tepat di samping tubuh Kyara yang tidak bergerak sama sekali. Notulen Pengadilan Tinggi juga tampak berusaha membantu Kyara, namun dihalangi oleh pri teresebut.
“Aku kembali karena mendengar informasi jika kondisi kerajaan sedang tidak baik-baik saja.”
Setelah berkata demikian, ia menatap Katarina yang tampak terkejut juga melihat kehadirannya. Tanpa mengeluarkan suara, bibirnya bergerak. Mengucapkan sepatah kalimat yang dapat ditangkap oleh Karina seorang.
“Ayah kembali, Putriku.”
💰👑👠
TBC
Berdoa bersama yuk buat korban pertama Katarina 🥲
Penasaran siapa sosok yang disebut paman? Kaget nggak sama plot twist di bab ini haha 😁
Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 22-06-23