How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0047. L’arruvée de L’homme Préféré de Kayena (Kedatangan Pria Kesayangan Kayena)



Mampir juga ke cerita baru Author 👇



0047. L’arruvée de L’homme Préféré de Kayena (Kedatangan Pria Kesayangan Kayena)


“Apalagi semua ini, Kaelus!” geraman lirih itu terdengar dari arah raja Robelia yang tengah duduk di kursi kebesarannya. “Katarina tidak mengerjakan tugasnya?”


“Benar, Yang Mulia. Selir Agung beralasan kurang pemahaman mengenai tugas-tugas tersebut.”


“Sial*n,” umpat Kaizen. Raja Robelia itu tampak mengurut pelipis ketika sang tangan kanan kembali melaporkan kerjaan selirnya yang belakangan ini lalai akan tugasnya.


Padahal, wanita itu hanya diberi tugas-tugas ringan, seperti mengurus acara amal, mengurus administrasi internal, serta beberapa tugas lain yang memang biasa diurus oleh Ratu. Kaizen juga masih punya pikiran yang rasional, ia tahu sampai mana batas kemampuan Katarina, sehingga ia hanya menyerahkan tugas-tugas yang ringan kepadanya.


“Selir Agung juga sepertinya masih marah kepada Anda, Yang Mulia.”


“Marah?” bingung Kaizen. “Atas dasar apa dia berani marah kepada Raja Robelia?” ia tampak jengkel dengan sikap wanitanya itu belakangan ini. “Pekerjaan ku masih banyak, sedangkan wanita itu tidak pengertiannya sama sekali!” gerutu Kaizen. Terdengar jelas di telinga Kaelus yang hampir empat belas hari ini menjadi saksi hidup bagaimana renggangnya hubungan Raja dengan wanita yang dicintainya.


Sepeninggalan ratu yang diasingkan ke Kastil Putih, tidak ada yang “baik-baik saja” di istana. Urusan internal istana jadi terbengkalai, karena biasanya ratu yang mengerjakan semua itu. Etika serta moral para wanita yang keluar-masuk ke istana juga patut didisiplinkan, namun tidak ada yang berani merealisasikannya. Mengingat sebagian besar wanita yang keluar-masuk istana adalah para Senora dan Senorita yang merupakan teman dekat Katarina.


“Apa Anda tidak akan segera memanggil Yang Mulia Ratu kembali?” ungkap Kaelus, tiba-tiba. Jujur, ia juga muak melihat kekacauan internal istana.


“Tidak untuk sekarang,” sahut Kaizen. “Aku sudah memikirkan hukuman untuk Kayena matang-matang,” lanjutnya. “Setidaknya, tiga sampai empat pekan akan dia habiskan di Kastil Putih.”


“Tapi, kenapa Yang Mulia? bukan kah Anda tidak berniat menjatuhi hukuman pada Ratu?”


“Aku hanya ingin memastikan sesuatu,” ujar Kaizen. “Terkait rumor itu, aku takut jika mereka … benar-benar menjalin hubungan gelap di belakang ku.”


“Sa Majesté le Roi est à l’origine de ces rumeurs? Sérieusement!” batin Kaelus di dalam hati. (Yang Mulia Raja terhasut rumor itu? yang benar saja). “Maksud Yang Mulia?”


“Malam itu—ketika aku menghabiskan waktu bersama Katarina, padahal seharusnya bersama Kayena. Bukan kah kau berjaga di depan pintu utama?”


Kaelus mengangguk. Membenarkan.


“Apa kau tidak mendapat informasi jika Kayena menghilang? alih-alih memenuhi undangan ku, dia menghilang entah kemana. Kemudian baru terlihat pada dini hari bersama Kaezar. Ada saksi mata yang mengatakan bahwa mereka keluar dari Rumah Kaca.”


“Benar, Yang Mulia. Saya sudah mengetahui semua informasi tersebut. Lalu, dimana letak kebenaran yang Anda curigai?”


“Jika semua rumor itu benar, maka malam itu Kayena pasti menghabiskan waktu bersama Kaezar.”


“Mustahil,” jawab Kaelus, namun di dalam hati.


“Selain bertujuan untuk memisahkan mereka, mengasingkan Kayena ke Kastil Putih bertujuan untuk melihat sejauh mana kebenaran yang ada.” Kaizen tampak beranjak. Meninggalkan meja kebesarannya. “Setelah tiga pekan dilalui oleh Kayena di Kastil Putih, aku ingin memastikan jika dia masih suci.”


“Maksud Anda apa, Yang Mulia?” bingung Kaelus.


Kaizen tersenyum miring dengan tatapan tertuju pada lukisan berukuran cukup besar yang menampilkan potret dirinya bersama Kayena ketika selesai melakukan prosesi Coronation King and Queen atau penobatan Raja dan Ratu.


“Aku …hanya ingin memastikan bahwa anak haram itu tidak menyentuh tubuh istriku!”


Sekarang Kaelus tahu alasan dibalik hukuman yang dijatuhkan kepada ratu. Rupanya Raja ingin memastikan bahwa rumor itu memang hanya sekedar rumor. Jika ada fakta lain di baliknya, ia yakin bisa menemukan jawabannya setelah ratu bebas dari masa hukuman. Dalam kisaran 21 hari ke depan, Raja bahkan telah memikirkan kemungkinan paling buruk, jika memang benar ada hubungan gelap di antara Ratu dan Pangeran. Akan ada saksi bisu yang muncul setelah 21 hari, yaitu jabang bayi dalam rahim Ratu.


“Yang Mulia bahkan sudah berpikir sejauh itu,” batin Kaelus, lagi. Ia benar-benar tidak menyangka jika Raja sudah berpikir demikian. Mungkin karena Raja pernah berselingkuh, ia berpikiran jika Ratu juga berpotensi melakukan hal yang sama.


Dangkal sekali pemikirannya.


“Kael.”


“Ya, Yang Mulia.”


“Malam ini aku akan mengunjungi kamar Selir. Persiapkan kebutuhan ku.”


Kaelus mengangguk paham. Sudah cukup lama juga Raja tidak mengunjungi kamar selirnya. Padahal, ia sempat mengira jika Raja akan rajin berkunjung jika Ratu tidak ada. Rupanya pikiran tersebut salah besar. Belakangan, Raja malah sibuk dengan urusan politik Robelia yang sempat mengalami goncangan akibat fraksi—sekelompok orang dalam bidang legislatif yang sepaham dan sepemikiran—yang pro terhadap Ratu melakukan aksi protes. Tindakan tersebut tentu saja bersinggungan dengan fraksi lain yang kontra, karena pro terhadap selir Katarina. Oleh karena itu, Kaizen harus berusaha keras untuk memberikan kebijaksanaan pada kedua fraksi. Masalah fraksi sudah teratasi. Kini, ia harus mengatasi masalah yang diciptakan oleh kekasihnya sendiri.


“Yang Mulia, Anda datang?”


Wanita dengan gaun tidur kuning pucat itu tampak terperanjat ketika melihat kehadiran kekasihnya yang belakang sulit meluangkan waktu.


“Aku akan bermalam di sini.”


“Benarkah?” ada rona bahagia di antara raut tak percaya yang terlukis di wajahnya. Kehadiran pria itu malam ini, berhasil mengusir rasa sakit di hatinya akibat ucapan pria itu tempo hari.


Jika mengingatnya, mood Katarina langsung turun drastis. Seolah-olah dihempaskan begitu saja ke perut bumi, setelah diterbangkan ke langit paling tinggi.


“Apa kau sakit? Aku mendapat laporan jika kau tidak menyelesaikan tugas yang aku berikan hari ini.”


“Kaelus brengs*k. Dia pasti telah mengadu,” keluh Katarina di dalam hati. Sepersekian detik berikutnya, raut wajah yang ia tampilkan berubah. “Kemarin malam saya mengalami kesulitan ketika hendak tidur. Keesokan harinya, kepala saya terasa sangat berat.”


“Begitu, ya?”


“Benar, Yang Mulia,” sahut Katarina, manja. “Malam ini saya pasti bisa tidur nyenyak, karena bersama Anda.”


“…”


“Atau mungkin … saya tidak bisa tidur sama sekali, jika Yang Mulia menginginkan saya,” katanya dengan godaan tersirat di baliknya.


Namun, Kaizen menanggapi godaan itu dengan tampang biasa. “Hari ini aku lelah sekali, sebaiknya kita segera beristirahat.”


“Anda … yakin?”


Kaizen menoleh ketika sudah duduk di bibir ranjang. “Hm. Aku hanya ingin tidur berkualitas malam ini.”


“Baiklah, jika itu keinginan Yang Mulia.” Katarina kemudian beranjak, menaiki ranjang. Mengambil posisi yang mengundang sang kekasih untuk segera bergabung di atas ranjangnya yang kerap menjadi saksi bisu pergumulan panas mereka.


Tak butuh waktu lama bagi Kaizen untuk bergabung bersama Katarina. Kedua lengan kekarnya membawa tubuh mungil wanitanya ke dalam dekapan, kemudian berbisik pelan. “Tidurlah. Hari ini kau telah banyak membuat waktu ku terbuang percuma.”


“Maksud Anda apa, Yang Mulia?” bingung Katarina.


“Mulai besok, kerjakan tugas mu dengan benar. Hanya tugas ringan yang aku berikan, kenapa kau tidak dapat menyelesaikannya tepat waktu?”


“Itu karena saya …”


“Aku tidak butuh alasan, buktikan saja,” potong Kaizen dengan kedua kelopak mata yang sudah tertutup. Ia benar-benar butuh istirahat yang berkualitas. Toh, "rudal tempur" miliknya sedang tidak bisa diajak kompromi semenjak malam itu. “Lakukan tugas mu sebagai wanita Raja. Buktikan pada mereka yang meremehkan dirimu di luar sana. Jangan menjadi wanita Raja yang tugasnya hanya diam saja.”


Katarina tertohok? Tentu saja. Namun, ia tidak dapat membalas satu pun perkataan Kaizen, karena tak lama kemudian terdengar hembusan napas beraturan dari pria yang dicintainya.


“Anda tunggu saja, Yang Mulia. Saya pasti akan membungkam mereka semua dengan kemahiran saya,” balas Katarina pada akhirnya. Ia pun ikut memejamkan mata dalam rengkuhan hangat Kaizen.


“Bagus. Berpikirlah demikian, Katarina. Karena sekarang … kau adalah pion ku,” kata Kaizen di dalam hati.


Katarina terlalu berguna untuk dibuang begitu saja. Selain mahir dalam urusan ranjang, ia juga hipokrit alias munafik. Tak peduli orang-orang bergunjing di belakang, jika di hadapannya mereka berguna sebagai sekutu, Katarina tak akan ambil pusing. Sejauh ini, posisinya di kalangan bangsawan semakin diperhitungkan, karena titel “wanita kesayangan Raja” melekat padanya. Mereka yang bersatu dalam fraksi pro terhadap Katarina berharap besar jika suatu saat Katarina berhasil mengandung pewaris tahta. Secara otomatis, Katarina pun akan berpotensi menjadi wanita paling berpengaruh di Robelia jika berhasil mengandung seorang pewaris.


“Yang Mulia Raja. Apakah saya diizinkan memasuki ruangan?”


Suara Kaelus samar-samar terdengar, ketika Kaizen baru saja merasa terlelap. Ketika membuka mata dan melihat ke arah jendela, ternyata langit pun masih gelap gulita.


“Masuk lah, Kaelus,” sahut Kaizen setelah mengubah posisi menjadi duduk bersandar. Sedangkan Katarina masih tidur nyenyak di sampingnya. “Ada apa?”


Tidak biasanya Kaelus datang di tengah malam. Apalagi saat ini Raja tengah bersama selirnya. Pasta ada sesuatu yang sangat penting, sehingga mengharuskan dirinya menerobos masuk.


“Maaf telah menganggu waktu istirahat Anda, Yang Mulia. Ada informasi penting yang harus segera saya sampaikan pada Anda,” ungkap Kaelus. Ekspresi wajah tampak tidak kalem seperti biasa. “Saya baru saja mendapat pesan dari dermaga utama, bahwa perairan kita kedatangan dua armada dari arah Timur dan Tenggara.”


Kaizen langsung tersentak. “Dua armada? Maksud mu, Robelia diserang secara tiba-tiba?”


Kaelus menggeleng dengan segera. “Kedua armada itu bukan musuh, Yang Mulia. Melainkan armada kebanggan Robelia yang berada di bawah kepemimpinan Mayor Jendral Khiev de Pexley …”


Mendengar nama tersebut, jantung Kaizen rasanya berhenti bekerja seketika. Ditambah lagi, Kaelus masih melanjutkan kalimatnya.


“… sedangkan satu armada lainnya merupakan milik Kerajaan Inggris, di bawah kepemimpinan Mayor Khayansar de Pexley.”


💰👑👠


TBC


Gimana perasaan readers setelah baca bab ini? Semoga suka 😘


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 02-06-23