
0094. La pitié du frère (Rasa iba seorang kakak)
“Barak militer milik Kapten Kaezar telah diserang, Yang Mulia.”
Laporan dari Ksatria muda bernama Kaelus itu berhasil membuat sang Raja yang tengah menikmati jamuan makan siang tersedak begitu saja.
“Coba kau ulangi lagi, Kaelus.”
“Barak militer milik pasukan yang dipimpin oleh Kapten Kaezar kemarin malam telah diserang, Yang Mulia. Saya baru saja mendapatkan informasinya.”
Ksatria bernama Kaelus itu kembali berucap, kali ini lebih detail terkait laporan yang harus segera ia sampaikan pada Raja Robelia. Sebuah informasi baru saja ia terima.
“Siapa pelakunya? Apakah pasukan dari wilayah seberang?” sang Raja yang tengah menikmati makan siang berupa daging merah panggang yang disajikan dengan saus jamur, dihidangkan bersama sayuran seperti asparagus yang telah dimasak dengan sedikit olive oil serta cincangan bawang putih.
“Belum dapat dipastikan, Yang Mulia.” Kaelus menjawab setelah menghela napas kecil. “Ketika informasi ini sampai di istana, kondisi di barak militer cabang masih kacau balau.”
Raja Robelia itu memilih diam dan mendengarkan, seraya melanjutkan sesi makan siangnya yang sempat tertunda. “Lalu, bagaimana dengan kondisi… anak haram itu? bukan kah dia sangat menggebu-gebu ingin menaklukkan wilayah seberang perbatasan?”
“Itu merupakan inti masalah yang tercantum dalam informasi yang saya dapatkan, Yang Mulia.”
“Maksudmu?”
“Kapten Kaezar menghilang, Yang Mulia.”
Mendengar informasi tersebut, Raja Robelia itu kontan tertawa. “Menghilang? Yang benar saja, Kaelus. Kau lupa kita sedang membicarakan siapa? Elang Muda Kekaisaran. Bagaimana mungkin dia menghilang begitu saja.”
“Saya sedang tidak bercanda, apalagi berbohong, Yang Mulia,” ujar Kaelus. Raut wajahnya menunjukkan kesungguhan. “Kapten Kaezar memang menghilang setelah terjadi penyerangan pada barak militer cabang, tempat di mana Kapten Kaezar berada.”
Tawa sang Raja menghilang, tergantikan dengan raut wajah serius. Kedua tangannya yang tadi memegang sendok garpu dan pisau, kini meletakkan kedua benda yang terbuat dari logam mulia tersebut. Menelungkupkannya di atas piring. “Bagaimana bisa?” tanyanya kemudian. “Aku bukan sehari atau dua hari mengenal anak haram itu. Bukan tanpa alasan pula dia dijuluki sebagai Elang Muda Kekaisaran. Bagaimana mungkin karena serangan dadakan, dia menghilang begitu saja.”
“Saya juga awalnya tidak percaya, Yang Mulia. Namun, informan yang datang membawa informasi ini berkata bahwa; benar, jika Kapten Kaezar menghilang setelah terjadinya ledakan besar yang berpusat pada bagian barak militer mereka dijadikan sebagai gudang persenjataan.”
“…”
“Ada kemungkinan bahwa Kapten Kaezar telah diculik atau dijadikan sandera,” tambah Kaelus.
Kaizen yang sempat terdiam langsung mengebrak meja, hingga beberapa benda di atas meja tersebut jatuh berhamburan ke lantai. “Siapa yang berani menculik Elang Muda Kekaisaran?!”
Kaelus menggeleng kecil. Dari pandangannya, sang Raja memang membenci Elang Muda Kekaisaran, selaku adik tiri yang dilahirkan dari rahim wanita lain ayahnya. Namun, sang Raja tidak pernah suka jika ada yang menindas atau menyakiti Elang Muda Kekaisaran, selain dirinya.
Sebagai seorang kakak, Raja Robelia memiliki sikap dominan yang tidak mau kalah, mengalah, atau dikalahkan. Pada dasarnya, seorang anak yang awalnya lahir sebagai anak satu-satunya, kemudian tanpa aba-aba mendapatkan adik baru, pasti timbul rasa cemburu karena ketidaksiapan itu. Rasa cemburu itu tidak akan memburuk jika diatasi sejal awal oleh orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya.
Pada kasus Kaizen dan Kaezar, keegoisan orang dewasa membuat keduanya terkena imbasnya. Jika saja orang dewasa di sekitar mereka bersikap layaknya orang dewasa, pasti hubungan persaudaraan di antara mereka tidak akan seperti hari ini. Mengingat Raja Robelia terdahulu selaku seorang ayah telah berusaha maksimal untuk tidak membeda-bedakan kedua putranya, namun lingkungan di sekeliling telah mengkontaminasi jalan pikiran salah satu putranya.
“Baik, Yang Mulia.”
Setelah mendapatkan tugas tersebut, Kaelus segera pamit undur diri. Meninggalkan sang Raja yang tampak menahan gelisah di ruangannya. Nafsu makan untuk menghabiskan jamuan makan siang sudah menguap begitu saja, setelah mendengar informasi yang dibawa dari perbatasan.
“Dasar ceroboh,” gumamnya. “Padahal dia berlagak akan segera menaklukkan wilayah di seberang perbatasan, supaya dapat keluar dari istana dan melepas gelar kebangsawanannya. Bagaimana mungkin dia bisa menghilang begitu saja?”
Sang Raja, Kaizen Alexander Kadheston tidak percaya jika adik tirinya itu mudah dikalahkan. Pasti ada konspirasi besar yang telah menargetkan pemilik gelar Elang Muda Kekaisaran tersebut. Jika tidak, bagaimana bisa seorang Kapten muda yang terkenal jenius bisa dengan mudah dibekuk oleh musuh. Terlebih lagi belum jelas siapa yang menyerang barak militer milik Elang Muda Kekaisaran secara tiba-tiba.
“Ah, membuat kepala pusing saja.”
Kaizen bergumam kecil seraya menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Masalah Katarina dan Klautviz de Meré belum mendapatkan titik terang, sekarang ia malah mendapat sumber sakit kepala yang baru. Khayansar de Pexley hanya memberi tenggat waktu satu pekan untuk memutuskan hukuman bagi Katarina dan Klautviz de Meré, kemudian menyelesaikan masalah pencemaran nama baik mantan Ratu.
Masalahnya, hingga saat ini ia belum dapat menentukan pilihan terkait hukuman yang cocok bagi keduanya. Alasan pertama yang membuat Kaizen ragu menghukum Katarina adalah karena kurangnya bukti terkait tuduhan yang diarahkan kepada selirnya itu. Jikapun benar Katarina telah melakukan percobaan pembunuhan terhadap Kayena, Kaizen tidak akan mengampuni dosanya. Namun, Katarina saat ini satu-satunya pion yang ia miliki. Pion yang juga memiliki dukungan cukup stabil di antara para bangsawan.
Sedangkan alasan kedua yang membuatnya belum bisa menjatuhkan hukuman bagi Klautviz de Meré, karena adanya perjanjian darah antara Klautviz de Meré dengan Raja Robelia terdahulu. Pada saat itu, Kaizen menyaksikan sendiri prosesi terbentuknya perjanjian tersebut. Isi dari perjanjian itu meliputi beberapa butir persetujuan, di antaranya adalah janji Klautviz de Meré yang tidak akan mengusik tahta Raja Robeli yang hanya diperuntukkan bagi keturunan-keturunan langsung Raja terdahulu—yang dimaksud dalam perjanjian tersebut adalah Kaizen dan Kaezar. Kelak, jika salah satu dari keturunan Raja terdahulu meneruskan tahta, mereka tetap harus memberikan hak paman mereka, yaitu Klautviz de Meré selaku pewaris tahta ke sekian. Namun, hak tersebut tidak untuk diturunkan pada keturunannya.
Klautviz de Meré sendiri meminta kebebasana atas tindakannya yang mungkin saja berlawanan dengan para bangsawan. Sama seperti Raja terdahulu yang meminta keturunannya tidak sembarangan disentuh (diganggu) Klautviz de Meré, pewaris tahta yang dilupakan itu juga meminta jika dirinya diberi kebebasan untuk keluar-masuk Robelia, serta kebebasan untuk menggunakan gelar kebangsawanan kapan saja. Ditambah lagi jaminan agar penerus Raja Robelia tidak menyingkirkannya begitu saja.
“Jika saja dulu Ayah tidak membuat perjanjian darah, maka aku sudah memberikan hukuman yang setimpal bagi paman,” batin Kaizen.
Selain dilindungi oleh perjanjian darah, Klautviz de Meré juga pernah membantunya naik tahta, kemudian membantunya menjadikan Katarina sebagai Selir Agung yang diterima oleh kalangan bangsawan. Klautviz de Meré membantunya, walaupun lewat belakang. Mengingat pria itu tidak pernah menampakkan diri, namun kaki, tangan, serta mata-matanya ada di mana-mana.
“Paman mungkin sudah berjasa besar, namun kecerobohannya membunuh saksi mata pada sidang yang digelar Pengadilan Tinggi telah menimbulkan banyak masalah, mulai dari kemarahan Khayansar, sampai memicu krisis kepercayaan rakyat.”
Sembari memijit pelipis, Kaizen mencoba mencari cara terbaik untuk terlepas dari tekanan Khayansar. Dengan catatan ia tidak kehilangan pion, serta posisinya tetap aman.
“Satu-satunya jalan untuk memuaskan Khayansar adalah memenuhi keinginannya. Cara paling aman adalah kambing hitamkan Paman Klautviz atau mengorbankan Katarina.”
Ada jeda yang cukup lama diambil oleh Raja Robelia itu, sebelum seringai tipis muncul dan menghiasi bibirnya. “Bagaimana jika aku mencoba keduanya?” gumaman lirih. “Umpan kan salah satu di antara mereka, kemudian korbankan yang lainnya.”
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 23-07-23