How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00148. Le voyage vers la réalisation de promesses sacrées (Perjalanan menuju ikr



00148. Le voyage vers la réalisation de promesses sacrées (Perjalanan menuju ikrar janji suci)


Dengan sorot mata hangat yang setia menuntun jalannya menuju tempat kekasihnya berada, wanita cantik yang tengah hamil muda itu pergi ke meninggalkan cinta pertama di masa kanak-kanaknya pasca berpamitan. Mengakhiri obrolan mereka di atas bangunan terbuka berbahan kayu yang dibuat di atas permukaan air danau, tempat yang menjadi habitat blue lotus—lotus biru—yang sedang bermekaran. Ada pula beberapa jenis lotus lain yang tampil dengan warna berbeda. Selain keindahan di sekitar, super moon yang tampil sempurna di atas langit juga tampak menampilkan bayangan yang tidak kalah cantik di atas permukaan air.


“Sudah selesai?” sambut pria rupawan yang menunggu dengan setia di bawah pohon plum, dekat sebuah jembatan kayu yang melewati danau dengan hiasan blue lotus—teratai biru—yang tengah bermekaran. Kekasihnya yang baru saja melewati jalan setapak yang sisi kanan dan kirinya dihiasi oleh pohon sakura.


“Sudah,” jawab sang kekasih seraya menganggukkan kepala. Uluran tangan yang terulur ke arahnya, kemudian dengan senang hati dibalas. “Tempat ini pasti sangat cantik ketika musim semi tiba. Banyak pohon plum dan sakura seperti di Sésilia.”


Ungkapan itu disampaikan bersama dengan langkah yang mereka sejajarkan. Sebelum berjalan menuju jembatan Kayu, sang kekasih terlebih dahulu memastikan bahwa wanitanya tidak kedinginan. Mantel hangat yang melingkupi tubuh wanitanya dipastikan berfungsi dengan baik.


“Kamu merindukan pemandangan di Sésilia?”


Tanpa ragu, anggukan kepala diberikan sebagai jawaban. Dalam diam, mantan Archduke of Sésilia itu ikut tersenyum. Sudah terbilang cukup lama mereka meninggalkan tanah air mereka, yaitu Robelia. Wajar jika ada rasa rindu yang bertamu.


“Di rumah baru kita nanti, aku akan berupaya untuk menghadirkan suasana seperti di Sésilia.”


“Kamu akan menanam pohon peach, apricot, dan plum?”


Kaezar baru menjawab setelah menganggukkan kepala. “Aku akan menanamnya dengan tanganku sendiri.”


“Aku juga mau ikut berpartisipasi!” seru ibu hamil itu, gembira. Ia memang suka dengan segala aktivitas yang berhubungan dengan berkebun.


“Boleh.” Kaezar menyetujui seraya membawa genggaman tangan sang kekasih bersamanya. “Kamu boleh ikut berpartisipasi, tetapi hanya lewat duduk diam dengan tenang selagi aku menanam semua pohon peach, apricot, dan plum di sekitar rumah baru kita.”


Baru saja hendak menyuarakan protes, Kayena malah terpesona ketika kekasihnya melepaskan senyum hangat sembari melanjutkan kalimatnya.


“Aku hanya mengizinkan kamu untuk menonton, Rein. Sisanya, biarkan aku yang mengerjakan. Tugas kamu hanya duduk diam dengan tenang bersama anak kita.”


“Baiklah jika kamu memaksa, Pangeran Kwang Min.” Merajuk. Itulah yang Kayena lakukan.


Bersama Kaezar, ia memang menampilkan berbagai macam ekspresi, mulai dari merajuk, memberengut, cemberut, kesal, hingga gembira. Sebuah kejadian langka ketika Kayena yang pernah hidup bak boneka kayu, kini lebih lepas, bebas, dan bahagia. Semua berkat kehadiran pria yang tidak pernah membuat Kayena merasa kekurangan atau kekhawatiran. Ia bahkan tidak pernah melirik wanita lain ketika bersama Kayena atau pun tidak. Kaezar adalah definisi pasangan yang benar-benar meratukan pasangannya.


“Apa aku sudah memujimu hari ini, Rein?”


Pasangan kekasih yang sedang berjalan bersama melewati jembatan kayu yang melewati aliran danau itu tampak berpegangan tangan seraya melanjutkan obrolan ringan.


“Justru aku yang ingin bertanya, apa kamu tidak bosan memujiku terus?” Kayena balik bertanya ketika menatap sang kekasih.


“Tidak.” Kaezar menjawab dengan segera. “Bagaimana aku akan merasa bosan untuk memuji, jika kamu memang terus membuatku terpukau dalam setiap kesempatan. Bahkan ketika kamu tidur pun, kamu terlihat sangat cantik.”


Kayena menggelengkan kepala, seolah tidak percaya. “Kamu pasti belajar dari Kak Cesare. Dia juga sangat suka memuji istrinya dengan kalimat-kalimat seperti itu.”


“Tidak juga. Pujian itu spontan keluar dari mulutku,” elak kekasih Kayena. “Aku tidak berpengalaman soal hubungan asmara. Semua yang aku tunjukkan kepada kamu, aku lakukan atas dasar naluriah sebagai seorang pria.”


“Termasuk menciumku dalam setiap kesempatan? Kamu bilang waktu itu yang pertama? Tetapi kenapa rasanya kamu sudah begitu pandai.”


Kalimat yang dilontarkan secara gamblang oleh Kayena rupanya berhasil membuat kekasihnya dihinggapi rona merah yang samar. Kayena bahkan sampai terhibur ketika melihat prianya dengan susah payaH menutupi kegugupan yang melanda. Dehaman canggung juga tampak mewakili tebakan Kayena.


“Jadi, waktu itu bukan yang pertaman?” selidik Kayena, terkesan sengaja menggoda kekasihnya.


“Tentu saja itu yang pertama,” jawab Kaizen dengan cepat. “Aku sudah menjelaskannya waktu itu, Rein. Pria itu memiliki insting berburu. Sama seperti hewan yang tinggal di alam bebas. Ketika berhubungan dan menemukan pasangan, mereka akan menggunakan insting primitif. Soal aku yang suka mencium kamu dalam setiap kesempatan, itu juga termasuk sama. Semacam marking territory—menandai wilayah teritori juga.”


Kayena ingin lebih menggoda kekasihnya, namun memilih untuk melebarkan senyum. Kekasihnya memang pria yang berwawasan luas dan logikanya selalu jalan dalam setiap kesempatan. Sebenarnya, tanpa dijelaskan sekali pun, Kayena sudah tahu jika ciuman pertama Kaezar adalah dirinya. Kaezar mengidap mysophobia yang sempat mendekati gangguan mental.


Penyakit mysophobia ini disebabkan oleh penyakit hati yang membuatnya tidak merasakan cinta atau kasih sayang pada siapa pun. Penyakit itu kemudian menimbulkan rasa benci pada sentuhan fisik, terutama lawan jenis. Jika sampai terjadi sentuhan fisik, maka Kaezar akan merasa sangat jijik, terus menerus ingin mencuci tangan atau bagian tubuhnya yang disentuh, mual, hingga muntah. Itulah kenapa Kaezar sangat anti-pati terhadap wanita. Sedangkan Kayena adalah pengecualian bagi mysophobia yang ia idap.


Lewat kehadiran Kayena, Kaezar bisa merasakan cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya. Kayena pulalah yang menjadi penawar dari segala rasa sakit serta kepahitan yang ia tanggung seumur hidup.


“Aku suka menghirup aroma yang menempel di tubuh kamu, terutama bagian rambut. Itulah kenapa aku sering sekali menandai bagian itu,” bisik Kaezar setelah menahan segala jenis rasa malu yang baru pertama kali ini rasakan.


“Katakan saja jika kamu keberatan dengan kontak fisik yang kerap aku lakukan, Rein. Untuk kedepannya, aku pasti akan belajar mengendalikan diri,” tambahnya dengan suara yang telah kembali normal.


Kayena menggelengkan kepala seraya tertawa kecil. Jenis tawa yang tergolong langka dan sangat jarang ditunjukkan kepada orang lain. Kaezar adalah salah satu orang yang beruntung, karena ia bisa melihatnya dengan leluasa.


“Hatiku memang milik kamu. Tetapi, tubuhku adalah milikku.”


“Aku tahu. Maka dari itu, kedepannya aku akan meminta izin setiap kali ingin melakukan kontak fisik.”


Wajah rupawan yang biasanya menampilkan raut datar dan tanpa emosi, kali ini terlihat begitu bersalah. Kayena yang melihatnya justru merasa senang, karena jarang sekali bisa melihat ekspresi kekasihnya yang satu ini.


“Aku belum selesai bicara,” kata Kayena seraya melepas genggaman tangan mereka. Ia kemudian menangkup rahang tegas yang kekasih. “Untuk sekarang, kamu memang harus tahu batasan jika tidak ingin dihajar kedua kakakku. Tetapi, setelah kita menikah, kamu bebas marking territory sesuka kamu.”


Terpaku. Itulah respon yang dipertunjukkan Pangeran Kwang Min. Tidak berselang lama, ia kembali menautkan jemarinya bersama sang kekasih. Tanpa banyak bicara, ia membawa kekasihnya untuk kembali berjalan melewati jembatan kayu. Sebelum meninggalkan jembatan kayu itu, ia sempat bersuara lagi dengan senyum tipis yang mengembang di bibir.


Dengan senang hati Kayena menjawab, “kamu adalah suamiku dan ayah dari anakku. Aku sudah menjadi milikmu sepenuhnya. Hanya saja, kita tetap membutuhkan ikrar janji suci untuk menyempurnakan hubungan kita.”


Keduanya telah mengklaim kepemilikan terhadap satu sama lain. Tinggal disahkan lewat prosesi suci, yaitu ikrar janji suci di Edinburgh nanti. Setelah itu, mereka akan resmi menjadi pasangan suami istri yang paling berbahagia setelah melewati berbagai halangan dan rintangan.


Tanpa keduanya ketahui, ada sepasang mata yang sejak tadi menyaksikan dari kejauhan. Seulas senyum tipis terbit di bibir ketika ia pun memutuskan untuk berbalik badan, kemudian meninggalkan tempat tersebut. Berjalan dengan langkah ringan, karena hatinya baru saja membebaskan perasaan yang telah belasan tahun disimpan. Citanya telah menemukan sosok yang tepat. Jadi, tidak ada lagi alasan baginya untuk menunggu dan mengejar lagi. Ia yakin sekali jika pelabuhan kali ini adalah yang terakhir bagi wanita yang dicintainya itu.


Keesokan harinya, ketika daratan Astoria masih diselimuti oleh kabut tipis dan gulita yang membuat jarak pandang terbatas, rombongan pasukan yang dibawa oleh Khayansar, Cesare, bersama Kaezar sudah bersiap di pelabuhan kecil dekat dengan teluk yang langsung menghubungkan perairan Robelia dengan laut lepas. Kebutuhan logistik untuk menunjang perjalanan menuju Edinburgh yang bisa memakan waktu tempuh sampai setengah bulan, telah dipersiapkan dan dimuat dengan baik semenjak kemarin.


Kapal-kapal layar besar yang mengibarkan bendera Angkatan Laut Edinburgh dan wilayah Carl—wilayah kekuasaan Cesare sudah siap untuk melakukan perjalanan. Mereka memang hanya membawa dua kapal layar besar nan kokoh. Dibuat dari berbagai jenis bahan berkualitas premium. Sisa dari armada laut yang dibawa Khayansar dan milik Grand Duke Pexley telah kembali terlebih dahulu ke Edinburgh. Kaezar juga telah mengutus sebagian pasukan bayangan di bawah kepemilikan pribadinya untuk menjaga Grand Duke Pexley di Edinburgh.


Mereka membawa cukup pasukan ke Kekaisaran Astoria. Hanya untuk menjemput Kayena bersama dengan orang-orang yang mengikutinya, mereka membawa dua kapal layar besar dengan persenjataan perang terlengkap. Mereka bahkan membawa artileri—persenjataan darat paling mematikan dan efektif untuk jaga-jaga.


“Bawalah ini untuk bekal di perjalanan.”


Kayena menerima pemberian nenek Kaisar Kwang Sun yang diberikan lewat kepala dayangnya. Bekal yang dibungkus kotak persegi serta kain berwarna kuning itu dihiasi oleh lambang kerajaan Robelia. Nenek Kaisar Kwang Sun memang ikut mengantar kepulangan Kayena, walaupun hanya sampai di gerbang utama. Kondisi kesehatan wanita tua itu menjadi alasan utama yang membuatnya tidak dapat mengantar sampai pelabuhan.


Selain bekal yang berisi berbagai jenis makanan yang disukai Kayena, Nenek Kaisar Kwang Sun juga memberikan semua jenis teh yang ada di kekaisaran Astoria dan dua set baju tradisional Astoria; sepasang baju pengantin yang digunakan Kayena dan Kaezar ketika upacara pengangkatan serta satu set pakaian resmi keluarga kerajaan yang dibuat dari bahan sutra terbaik. Ada pula beberapa perhiasan untuk Kayena, token kerajaan serta token khusus keluarga Kwang yang dapat digunakan di seluruh daratan Astoria. Nenek Kaisar Kwang Sun juga memberikan enam pasang pakaian tradisional untuk bayi Kayena dan Kaezar.


Nona Muda Min Seol A yang menjadi teman baru yang akrab dengan Kayena juga ikut mengantar sampai pelabuhan. Dibantu salah satu dayang pribadinya, ia kemudian memberikan beberapa barang sebagai kenang-kenangan.


“Saya tahu Nona Kayena tidak kekurangan materi sedikit pun. Jadi, hanya ini yang dapat saya berikan sebagai simbol pertemanan kita.”


Nona Muda yang baik hati dengan pembawaan lembut itu memberikan bedong bayi yang dibuat secara tradisional dengan tangannya sendiri. Ada pula sapu tangan dengan bordiran benang emas, beberapa pasang sarung tangan dan kaos kaki yang dipintal dari benang wol dan sutra kualitas terbaik. Semua benda itu buatan tangan dan berbahan dasar material terbaik yang cocok untuk bayi baru lahir. Jika dikalkulasikan ke dalam mata uang, harganya pasti tidak akan murah.


“Tolong terima juga ini,” tambah Nona Muda Min Seol A. Menyodorkan sebuah kotak perhiasan yang menyimpan batu-batu Kristal. “Saya suka mengoleksi batu-batu Kristal, tetapi bukan karena nilainya yang tinggi. Melainkan karena manfaat mereka yang dapat membantu menenangkan pikiran, kedamaian, hingga menghilangkan energi negatif.”


Batu-batu Kristal yang diberikan pada Kayena ada beberapa jenis. Di antaranya Amethyst yang dipercaya dapat membuat pikiran tenang. Ada pula Rose Quartz yang identik dengan kekuatan mencintai diri dan orang lain, serta dapat membawa kedamaian. Terakhir, ada Black Tourmaline untuk menghilangkan energi negatif di sekeliling. Sumber : novel Fixing The Star.


“Terima kasih banyak,” ucap Kayena, tulus. Ia tidak menyangka jika kepulangannya akan diantar banyak orang, serta diberi banyak hadiah. Padahal ia tidak menyiapkan apa-apa.


“Hati-hati di jalan dan sampai jumpa lagi lain waktu,” ucap Nona Muda Min Seol A yang berdiri tidak jauh dari dayang pribadinya. Posisinya cukup jauh dari tempat Kaisar Astoria berada.


Kayena tersenyum hangat seraya mengangguk. Di sampingnya, Kaezar berdiri seraya memeluk pinggang ramping Kayena. Mereka sudah siap berangkat. Akan tetapi, Khayansar dan Cesare masih sibuk bicara dengan Kaisar Kwang Sun. Baru setelah nahkoda memberikan peringatan pada setiap awak kabin, mereka menyelesaikan pembicaraan tersebut.


“Berhati-hatilah,” ucap Kaisar Kwang Sun ketika akhirnya ia menghadap Kayena yang masih bersama Kaezar. “Senang bisa melihatmu tinggal di tanah airku.”


“Saya sangat berterima kasih pada Anda,” ucap Kayena dengan senyum hangat yang terpatri di bibir. “Anda membuat saya menemukan rumah baru di sini,” lanjutnya.


Kaisar Kwang Sun juga tampak menunjukkan senyum penuh wibawa. Ia tidak keberatan sama sekali menerima kehadiran Kayena. Jika Kayena merasa senang tinggal di Astoria, ia pun ikut merasa senang.


“Sekarang kalian adalah bagian dari keluarga kekaisaran Astoria. Datang kapan saja jika kalian merindukan tempat ini.”


Kayena mengangguk. Di Sampingnya, Kaezar juga ikut mengangguk tipis. Sempat ada obrolan singkat di antara cinta pertama pada masa anak-anak dan true love Kayena. Namun, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena masalah perasaan di antara mereka telah dibenahi.


“Aku tidak memiliki apa-apa untuk dijadikan sebagai hadiah, tetapi aku akan memberikan dekrit khusus untuk calon anak kalian.”


Setelah berkata demikian, kasim Kaisar Kwang Sun memberikan sebuah gulungan dokumen. Tidak berselang lama, gulungan dokumen itu diberikan pada Kaezar dan Kayena.


“Kelak, jika anak kalian sudah lahir ke dunia, gelar Daegun dan Gongju akan langsung diberikan kepadanya.”


Ada raut terkejut di antara orang-orang Astoria yang ikut mengawal kepulangan Kayena dan yang lainnya. Nona Muda Min Seol A juga tampak menunjukkan ekspresi yang sama. Daegun dan Gongju adalah gelar untuk pangeran dan putri yang lahir dari seorang ratu atau permaisuri. Berbeda dengan Gun dan Ongju yang merupakan gelar untuk putra dan putri raja dari seorang selir.


“Walaupun secara resmi tidak dapat menjadi pewaris tahta, anak kalian akan dianggap seperti anakku sendiri. Kelak dia akan diperlakukan layaknya anak seorang kaisar.”


Biasanya anak Raja atau Kaisar yang baru lahir disebut wangja dam wangyeo, yaitu gelar untuk putra dan putri raja sebelum secara resmi mendapat gelar gun, daegun, gongju, serta ongju. Sedangkan calon anak Kaezar yang menyandang gelar gun (pangeran) dan Kayena yang menyandang gelar Gunbuin (istri pangeran) langsung diberi gelar Daegun atau Gongju. Sumber : Wikipedia


Benar-benar hadiah yang tidak dapat diukur dengan apa pun. Karena dapat dipastika bahwa anak mereka—Kaezar dan Kayena—akan mendapat gelar penting di usia 0 bulan, di saat keturunan asli sang kaisar belum lahir ke dunia.


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Dua hari ini author bakar CRAZY UP. So, jangan lupa support Author 😚😚🫡


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA KEREN SATU INI 🖕



Tanggerang 30-08-23