
00151. Laisse-moi rendre nos conditions égales (Biarkan aku membuat kondisi kita satu sama)
Lemas, mual, dan muntah seperti gejala yang umum dirasakan oleh wanita hamil, kembali dirasakan oleh Raja Robelia. Kali ini malah diperburuk dengan munculnya hypoglycemia yang membuat tubuhnya kian lemas, jantung berdebar-debar, pusing, pandangan buram, hingga keringatan. Hypoglycemia sendiri adalah gangguan kesehatan yang muncul ketika kadar gula darah terlalu rendah atau berada di bawah kadar normal. Biasanya, penderita yang mengidap hypoglycemia adalah orang-orang dengan kondisi gula darah tinggi.
Pasien dengan penyakit hypoglycemia biasanya akan diberi makanan atau minuman manis yang tinggi kandungan glukosa atau gula untuk mengembalikan kadar gula pada keadaan normal. Selain itu, bisa juga memberikan makanan yang mengandung karbohidrat, seperti nasi.
Biasanya, setelah seorang pasien yang mengidap hypoglycemia telah makan makanan yang tinggi kandungan gula atau karbohidrat, kondisinya akan berangsur-angsur membaik, karena makanan-makanan tersebut membantu mengembalikan kadar gula darah kembali normal. Disarankan juga untuk makan makanan yang sehat untuk membantu mencegah mencegah penurunan kadar gula darah.
Sayangnya, kondisi Raja Robelia tidak kunjung membaik, walaupun sudah mendapatkan pertolongan pertama untuk menangani hypoglycemia yang dialaminya. Hari-hari berikutnya, gejala dan intensitas mual serta muntahnya semakin parah, bahkan beresiko menyebabkan dehidrasi. Kondisi tersebut bahkan terbilang lebih parah dari gejala mual dan muntah yang dialami oleh wanita hamil pada umumnya. Raja Robelia bahkan tidak bisa makan sesuap nasi, karena perutnya seperti menolak setiap makanan yang masuk.
Mimpi buruk itu berlangsung selama berhari-hari dan berhasil membuat Raja Robelia terkapar tak berdaya di atas tempat tidur dalam peraduannya. Setiap hari ia hanya makan sedikit buah dengan citarasa asam dan manis, beberapa gigit pastry, serta teh hangat kesukaan sang mantan istri. Suasana hatinya juga terbilang mudah sekali berubah, terkadang buruk sepanjang hari, terkadang juga sensitif, sampai melow.
“Jika penyakit ini bertahan hingga satu bulan ke depan, dapat dipastikan jika yang tersisa dari tubuhku hanya tulang dan kulit,” gerutu Raja Robelia itu ketika bersolek di depan cermin. “Aku bahkan tidak bisa bernapas dengan lega, karena penciumanku terasa dua kali lipat lebih sensitif.”
Kaelus yang kebetulan ada di dekat meja yang terletak di tengah ruangan, hanya bisa meng-iyakan. Kondisi Raja Robelia memang belum bisa dikatakan baik. Tubuhnya yang tinggi dan tegap, perlahan-lahan mulai kehilangan masa kejayaan. Mual dan muntah yang datang di pagi hari, tengah hari, sore hari, hingga malam hari, berhasil membuat tubuh yang telah dibentuk semenjak remaja itu mulai kehilangan spot-spot terbaiknya. Delapan susunan batu bata yang tersusun rapih di sekitar perut sang raja saja contohnya, kini telah hilang satu baris. Tersisa enam susunan batu bata yang biasanya mampu membuat wanita tergila-gila.
“Bagaimana dengan Claudiane? Apa dia masih mendesak untuk melanjutkan pertunagan?”
“Tidak, Yang Mulia. Lady Claudiane memutuskan untuk menunggu kabar baik dari Anda.”
Kaizen menghela napas lemah sebelum kembali duduk di samping tempat tidur. “Bagaimana aku bisa menghadapi Claudiane, jika mencium parfum wanita saja perutku langsung terasa mual.”
“Bagaimana jika Anda menggunakan kain penutup selama acara pertunangan berlangsung, Yang Mulia?” ucap Kaelus, memberi solusi yang dirasa sebagai jalan terbaik.
“Kita tidak tahu sampai kapan gejala ini muncul, Kael. Jika gejala ini terus muncul sampai pernikahan dilangsungkan, bagaimana caraku memenuhi tugas sebagai seorang suami? Mencium aroma parfum wanita saja aku merasa sangat mual. Ditambah lagi fakta jika berdekatan wanita membuatku merasa tidak nyaman.”
“Jika begitu, sebaiknya tunda saja pertunangan Anda dengan Lady Claudiane. Pernikahan juga tidak dapat berjalan dengan baik dengan kondisi Anda yang enggan berdekatan dengan wanita.”
Kaizen setuju dengan ucapan Kaelus. Pertunangan dan pernikahan akan percuma saja dilakukan, jika kondisinya masih seperti saat ini. Jangankan merealisasikan tujuan utama untuk mendapatkan penerus, berada di sekitar wanita saja ia rasanya enggan.
“Lalu bagaiman dengan informasi terbaru tentang si pengkhianat Klautviz de Meré?”
“Klautviz de Meré dan komplotannya sudah mulai bergerak ke arah Kyen dan Sésilia. Mungkin karena dua wilayah itu sangat maju dan kaya dengan sumber daya, mereka menargetkannya. Apalagi saat ini kedua wilayah itu kehilangan pelindungnya, yaitu Grand Duke Pexley dan Archduke of Sésilia.”
“Kedua wilayah itu tidak boleh jatuh ke tangan mereka,” ucap Kaizen dengan kedua tangan mencengkram pinggiran tempat tidur dengan kuat. “Bagaimanapun juga dua wilayah itu sangat berarti bagi Robelia. Kita harus bisa mempertahankannya.”
Kaelus mengangguk. “Lalu bagaimana, Yang Mulia?”
“Perintahkan pimpinan sementara di wilayah itu untuk semakin waspada terhadap pemberontakan. Istana juga akan mengirimkan pasukan bantuan ke dua wilayah itu. Dilihat dari pola pergerakan mereka, si penghianat Klautviz de Meré selalu menurunkan pasukannya di tengah malam lewat jalur perairan atau lewat jalur bawah tanah,” titah Kaizen kemudian. “Sampai saat ini aku belum tahu sejauh apa si pengkhianat Klautviz de Meré mengetahui peta jalur bawah tanah di wilayah Robelia. Mendiang ayahku pernah berkata bahwa seseorang yang mengetahui jalur jalur bawah tanah lewat peta yang asli, memiliki peluang besar untuk menemukan bungker bawah tanah rahasia milik kerajaan Robelia. Di dalamnya tersimpan harta karun Negara yang telah ditimbun sejak lama, lengkap dengan amunisi dan persenjataan paling langka. Semua asset itu disimpan sebagai cadangan, dapat digunakan pada saat kondisi Negara ini benar-benar berada dalam kesulitan.”
Kaelus juga sempat mendengar topik pembicaraan tentang bungker bawah tanah milik kerajaan Robelia. Hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Di antara segelintir orang itu, mungkin Kaelus menjadi salah satunya. Ia mengetahuinya langsung dari sang juru kunci yang saat ini masih hidup. Kaizen pernah berkata bahwa mendiang ayahnya meninggalkan dua kunci bungker rahasia itu. Namun, hanya ada satu yang dipegang oleh Kaizen. Entah ada di mana satu kunci lagi. Tidak ada yang tahu pasti, apakah satu lagi kunci itu dicuri, atau diberikan pada orang lain.
Kaizen sempat curiga pada adik tirinya. Namun, kecurigaan itu tidak pernah terbukti. Ia tidak pernah melihat Kaezar memiliki kunci itu, apalagi sampai menggunakannya. Selama masa kekuatannya, hanya da satu orang yang pernah ia bawa masuk ke dalam bungker bawah tanah itu, yaitu mantan istrinya. Ketika masih memegang tahta sebagai Queen Consort of Robelia, Kayena pernah diajak masuk ke dalam bungker bawah tanah itu untuk mengambil hadiah turun-temurun yang diberikan pada istri Raja Robelia yang tengah mengandung anak pertama.
Selain Kayena, tidak ada lagi yang pernah masuk ke dalam sana. Bahkan Kaelus sekali pun tidak pernah tahu di mana letak asli dari keberadaan bungker bawah tanah milik kerajaan Robelia. Yang pasti bukan di kediaman pribadi Raja Robelia, karena di tempat itu hanya ada ruang rahasia yang hanya diketahui oleh Raja Robelia dan orang-orang yang ia kehendaki, mulai dari istri hingga orang-orang kepercayaan. Ruangan itu terhubung langsung dengan rumah kaca yang menjadi tempat favorit dua Ratu Robelia sebelumnya. Tempat yang telah dinodai oleh Raja Robelia yang saat ini berkuasa dengan kekasih gelapnya yang diberi titel Selir Agung.
“Kael.”
“Iya, Yang Mulia?”
“Tidak ada perubahan sama sekali, Yang Mulia. Para dokter kerajaan juga kesulitan mencari metode pengobatan yang tepat, karena tidak ada perubahan yang signifikan pada setiap pertemuan.”
Kaelus menjawab pasca membantu rajanya kembali ke tempat tidur. Ia benar-benar prihatin melihat kondisi duda satu itu. Hidupnya benar-benar berantakan semenjak bercerai dengan istrinya yang hampir mirip malaikat, karena saking mendekati kata sempurna.
Melihat kondisi Kaizen yang semakin buruk setiap harinya, Kaelus bahkan menunda niatnya untuk mengatakan informasi simpang siur yang ia dapatkan terkait kondisi Kayena yang dikatakan tengah berbadan dua. Lebih baik ia menundanya, dari pada harus membuat kondisi sang Raja Robelia bertambah gila—ingin mengejar istrinya, sekali pun ke ujung dunia.
Padahal, jika benar mantan Ratu Robelia tengah berbadan dua, jelas sekali bayi itu milik siapa. Wanita itu saja menikah dengan Elang Muda Kekaisaran. Besar kemungkinan bayi itu adalah buah cinta mereka yang tumbuh di tengah-tengah kehancuran sebuah bahtera rumah tangga.
Kaelus tidak tahu harus senang atau sedih ketika pertama kali mendapatkan informasi tersebut. Di satu sisi ia mengasihani sang Raja Robelia, sedangkan di sisi lain, ia juga tidak boleh merasa tidak senang ketika orang-orang yang tidak bersalah meraih kebahagiaan. Kayena maupun Kaezar berhak untuk bahagia. Jika memang mereka akhirnya bersama, itu pasti murni karena cinta tumbuh di antara rasa sakit serta kecewa yang sama-sama mereka dapatkan dari orang yang sama. Sebelumnya mereka dituduh sebagai pasangan gelap, tetapi kini doa serta harapan selalu ditujukkan pada mereka sebagai pasangan yang diberkahi.
“Entah bagaiman jadinya bayi mereka jika telah lahir ke dunia. Pasti tampan atau cantik, dan tentu saja baik hati seperti kedua orang tuanya.” Tanpa sadar, Kaelus bergumam di samping Kaizen yang terlihat kebingungan.
“Bayi? Siapa yang akan memiliki bayi?”
“Itu, Yang Mulia,” ucap Kaelus, gelagapan ketika menyadari sang raja mendengar ucapannya.
“Jangan bilang jika kau akan memiliki bayi bersama Cyrene? Apa pada akhirnya kalian memutuskan untuk memiliki bayi supaya direstui Grand Duke d’Oclean?”
Gelagapan Kaelus kini berganti dengan raut wajah yang memerah. Dengan keras ia berdehem, sebelum meluruskan. “Tadi saya sedang memikirkan kenalan saya yang akan segera memiliki bayi bersama pasangannya. Tebakan Yang Mulia terlalu jauh.”
“Ah, kupikir kau yang akan memiliki bayi,” sahut Kaizen dengan senyum tipis. “Aku akan ikut senang jika kau dan Cyrene memutuskan untuk bersama. Lagi pula sekarang Grand Duke d’Oclean tidak punya alasan kuat untuk tidak menyukaimu lagi. Kau adalah Perwira paling muda dengan dua bintang kehormatan, sekaligus penasihat pribadiku.”
Kaelus hanya bisa menggaruk tengkuk dengan perasaan kikuk. Tidak ada perkembangan apa pun di antara hubungannya dengan Lady Cyrene pasca hari itu, kecuali surat dari Lady Cyrene yang semakin sering berdatangan. Jika dilihat secara langsung, wanita cantik itu mungkin tampak elegan, berkelas, serta pendiam. Namun, dalam surat yang dikirim, sosoknya berubah menjadi gadis kecil yang ceria ketika menceritakan kesehariannya. Semua surat Lady Cyrene memang dibaca oleh Kaelus. Akan tetapi, jawabannya diberikan pada saat-saat tertentu saja. Dikarenakan Kaelus tidak memiliki banyak waktu luang.
Jangankan membalas surat dari wanita yang diam-diam ia sayangi, waktu untuk istirahat dengan tenang saja sangat terbatas. Terkadang malam sudah seperti siang baginya. Apalagi siang yang sudah jelas-jelas ia gunakan untuk bekerja keras bagaikan kuda. Jika kondisi kerajaan sudah stabil, mungkin ia akan mempertimbangkan cuti panjang atau pensiun dini. Cita-citanya sejak dulu adalah menjadi kstaria berpangkat tinggi, kemudian memiliki keluarga kecil yang akan menjadi rumahnya ketika pulang dari tugas. Sekarang, kedua cita-cita itu bisa saja ia raih dengan mudah. Namun, ia juga harus mengorbankan banyak hal.
“Apa Anda tidak ingin menjenguk Selir Katarina barang sebentar saja?”
“Kau tidak melihat kondisiku bagaimana?” alih-alih menjawab, Kaizen malah balik melontarkan pertanyaan dengan nada malas. “Pertemuan penting saja tidak dapat aku hadiri. Bagaimana kata dunia jika mereka melihatku menjenguk wanita itu dalam kondisi seperti saat ini?”
“Dunia tidak akan berkata apa-apa, Yang Mulia.” Kaelus berkata seraya berdiri di dekat tempat tidur. Pandangannya menerawang jauh ke lepas pantai yang tergambar dari jendela terbuka. “Terkadang dunia terlalu sibuk untuk mengurusi masalah sepele,” lanjutnya dalam hati.
“Setidaknya jenguk Selir Katarina satu kali saja. Siapa tahu kunjungan Anda akan membuatnya semangat dalam menjalani pengobatan.”
Walaupun enggan, Kaizen pada akhirnya menuruti perkataan Kaelus untuk mengunjungi Katarina di istana Selir Agung. Wanita itu rupanya tengah terlelap ketika Kaizen berkunjung di tengah malam. Bohong jika Kaizen tidak merasa bersalah atas kondisi kedua kaki Katarina. Toh, peristiwa ini tidak bisa lepas dari campur tangannya. Namun, siapa yang menyangka jika kedatangan Kaizen malam itu malah mengundang petaka baru baginya.
“A-pa yang kau lakukan?” bentak Kaizen dengan suara dingin yang terdengar bergetar karena menahan rasa sakit.
“Biarkan aku membuat kondisi kita satu sama,” balas Katarina tanpa dosa, setelah menancapkan benda tajam yang diam-diam disimpan di balik bantal ke salah satu kaki dari pria yang dicintainya.
Melihat pria itu menggeram menahan rasa sakit, ia justru tertawa evil seraya berbaring di atas tempat tidur. “Kita baru bisa dikatakan pasangan sejati setelah sama-sama mengalami kelumpuhan,” kelakarnya, kemudian. Ia terlihat senang sekali berhasil melukai Raja Robelia. “Aku tidak mau menderita seorang diri. Jadi, kubuat kamu merasakannya juga.”
💰👑👠
TBC
Tanggerang 02-09-23