
0037. Katarina Justifie Tous Les Moyens (Katarina Menghalalkan segala cara)
“Makanlah.”
Pria berparas rupawan dengan seragam militer itu mendekatkan piring keramik berisi potongan daging bagian kaki bebek yang telah dipotong-potong, sehingga mudah ketika hendak dinikmati. Tak sampai di situ, ia juga kemudian menyodorkan piring keramik lain yang berukuran lebih kecil. Kali ini isi dari piring tersebut adalah macam-macam sayuran, seperti bay leave, thyme, courgette atau zucchini (sejenis mentimun), tomat, terung, bawang putih, cabai merah dan cabai hijau yang dimasak dengan tumisan bawang merah, bawang Bombay, olive oil serta garam.
“Bukan kah confit de canard di sini rasanya seperti buatan Nenek?”
Pria rupawan itu berkata seraya tersenyum tipis. Confit de Canard adalah hidangan yang terbuat dari daging bebek—lebih tepatnya bagian kaki bebek—yang telah dimasak selama 36 jam lamanya. Sebelum dipanggang atau digoreng, untuk memperkaya rasa, daging bebek terlebih dahulu dimarinasi dengan campuran bawang putih, garam, dan thyme selama 24 jam lebih, supaya rasa dan aromanya bisa terserap dengan baik.
“Iya. Ayah juga sangat suka confit de canard buatan koki di sini,” jawan lawan bicaranya yang sejak tadi dilayani dengan sepenuh hati.
“Kalau begitu segera makan dan habiskan. Kau juga, Kaezar. Makan yang banyak, supaya tenagamu kembali terisi,” katanya lagi. Di akhir kalimat ia menyempatkan diri menatap ke samping adiknya—tempat di mana sosok gagah lain yang berseragam militer duduk dengan sikap tegap. “Menghadapi pria bajing*n seperti Raja Tiran itu pasti sangat menguras tenaga,” lanjutnya seraya mendorong satu porsi daging Tournedos atau Tenderloin panggang yang diletakkan di atas roti dengan topping foie gras tumis dan irisan truffle perigord hitam.
Sebagai sesama anggota militer, ia tahu betul jika konsumsi harian mereka yang paling utama adalah daging merah. Maka tidak heran jika menu makannya sendiri adalah Tournedos a la bordelaise—steak dari daging tenderloin yang disiram saus dari campuran anggur serta bumbu-bumbu lainnya.
Setelah sekian lama tidak makan bersama dalam satu meja, mereka—Cesare, Kayena, dan Kaezar—akhirnya bisa makan bersama lagi. Lepasnya Kayena dari cengkraman Kaizen benar-benar disambut dengan baik oleh Cesare yang notabene sangat mencemaskan kondisi adiknya. Ia merasa sangat bersyukur ketika Kaezar berhasil membawa sang adik kembali.
“Karena Duke of Edinburgh tidak berada di estat-nya, untuk saat ini Kakak belum bisa berjumpa dengannya.”
“Memangnya Kakak kemana?” tanya Kayena dengan pandangan tertuju seluruhnya pada sang Kakak. ‘Kakak’ yang ia maksud dalam kalimatnya bukanlah Cesare, melainkan Chayansar atau Khayansar.
Khayansar de Pexley lebih tepatnya. Duke of Edinburgh yang sangat jarang sekali berada di Dukemon atau wilayah kekuasaannya sebagai seorang Duke. Khayansar sendiri memang sudah tidak memiliki wewenang lebih pada wilayah Robelia, mengingat ia sekarang lebih ‘terpandang’ di wilayah United Kingdom. Berkat karier-nya yang sukses di dunia militer serta perdagangan, Khayansar didapuk menjadi salah satu Duke kehormatan semenjak menetap di Edinburgh (ibu kota Skotlandia). Ia juga berkontribusi besar pada United Kingdom, sehingga mendapatkan kepercayaan serta kehormatan yang seimbang.
“Wales,” jawab Cesare. “Jika Duke of Edinburgh terus-menerus tidak dapat dihubungi, biar Kakak yang membantu mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan.” Cesare bersungguh-sungguh dengan kalimatnya. “Kaezar juga bisa membantu dengan koneksi yang dia miliki.”
Merasa namanya disebut-sebut, pria rupawan yang sejak tadi memilih berdiam diri itu menatap wanita cantik di sampingnya. “Aku tidak bisa memberikan jaminan, namun aku yakin bisa membantu jika sekedar mengajukan gugatan perceraian terhadap Raja.”
Kayena tersenyum tipis, kemudian menatap dua pria rupawan yang masing-masing duduk di sisi kanan dan kiri yang melingkari meja bundar berukuran sedang itu secara bergantian. “Terima kasih, bantuan kalian sangat berarti untukku.”
“Tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena rencana kami untuk membebaskan kamu belum selesai.” Satu tangan Cesare terangkat, meraih punggung tangan kanan sang adik. “Kamu harus segera bebas dari Raja Tiran itu. Kamu berhak hidup bahagia.”
Rasanya Kaezar juga ingin melakukan hal yang sama; menggenggam tangan Kayena seraya mengatakan kalimat yang dapat menenangkan wanita cantik itu. Namun, ia cukup sadar diri akan posisinya saat ini. Ia masih harus bersabar menunggu waktu yang tepat untuk mendekati Kayena dengan cara yang benar. Untuk saat ini yang paling penting adalah perceraian yang akan membebaskan Kayena dari Kaizen.
“Malam ini Kakak tidak bisa tinggal di istana, karena Kakak ada urusan dengan utusan dari luar wilayah Robelia,” kata Cesare, memberitahu. “Semoga saja Raja Tiran itu tidak kembali membuat ulah,” lanjutnya. “Kemarin dia tidak melakukan sesuatu yang dapat menyakiti kamu bukan?”
Kayena menggelengkan kepala. “Tidak, Kak.”
Bukannya percaya, Cesare malah memicingkan mata. “Kamu tidak sedang berbohong bukan? Rasa-rasanya Kakak tidak percaya jika Raja Tiran sial*n itu tidak melakukan …”
“Jadi, Kakak mau Kaizen menyakiti aku?” Potong Kayena tanpa sadar.
Cesare menggelengkan kepala cepat. “Bukan begitu maksudnya,” katanya seraya mengelus punggung tangan sang adik. “Bagus jika dia tidak berbuat macam-macam.” Senyum tipis tampak tercipta di bibirnya. Ia tampak begitu menyayangi adiknya jika sedang seperti ini. “Kamu tetap harus waspada jika tiba-tiba Raja Tiran sial*n itu bersikap lemah dan lembut. Jangan sampai kamu termakan bujuk-rayunya, karena dia sangat picik.”
Kayena tersenyum tipis seraya mengangguk. “Aku juga tidak sebodoh itu, Kak.”
Sudah satu kehidupan ia habiskan sebagai wanita bodoh yang menjadi budak cinta. Pada kehidupan kali ini Kayena tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Jika Kaizen tiba-tiba melunak dan mencoba berbagai cara untuk mendekatkan diri, Kayena anggap itu sebagai salah satu trik “Tarik-ulur” yang biasa dilakukan oleh oknum.
Kayena sudah mantap pada tujuannya, yaitu perceraian. Ia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Sekalipun telah banyak sekali yang berubah, semenjak ia kembali pada masa baru kehilangan Pangeran Cesare.
“Aku akan berada di sekitar Istana Ratu. Jika terjadi sesuatu, lekas minta seseorang untuk memanggilku,” ucap Kaezar ketika ia hendak pergi, menyusul Cesare yang sudah pamit terlebih dahulu. Ia tidak bisa menemani Kayena lebih lama lagi, karena memang sudah sepantasnya mereka tidak berduaan tanpa pendamping.
Kayena mengangguk. Tak hanya Cesare, Kaezar juga menjadi sangat protektif jika menyangkut dirinya. Padahal kedua pria itu pasti kewalahan menangani urusannya masing-masing. Namun, mereka tetap menjadikannya sebagai perioritas.
“Perasaan ku tidak enak,” kata Kaezar tiba-tiba. Suaranya terdengar seperti lirih, seperti bergumam. Namun, masih sempat ditangkap oleh indra pendengaran Kayena.
“Apa ada yang menganggu Anda, Pangeran?”
“Tidak,” jawab Kaizen dengan segera. “Aku hanya …”
“Hanya … apa, Pangeran?” Kayena bertanya, karena Kaezar tak kunjung untuk menyelesaikan kalimatnya.
“Ingin memelukmu,” ungkap Kaezar, setengah sadar. “Maksudku …”
Kayena tersenyum tipis ketika melihat pria rupawan dengan pembawaan sedingin kutub Utara itu memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Pasti perasaan malu karena baru saja keceplosan .
“Kalau begitu, biar saya kabulkan keinginan Anda yang satu itu.”
“Terima kasih karena selalu ada untuk saya,” kata Kayena ketika akhirnya ia lah yang mengikis jarak di antara mereka. Memeluk tubuh tegap milik Kaezar yang sempat mematung untuk beberapa waktu.
Kaezar mungkin terkejut. Sebagiannya lagi, mungkin tidak menyangka jika kalimat yang ia ucapkan secara asal malah ditanggapi serius oleh Kayena. Kendati demikian, di sepersekian detik berikutnya, ia membalas pelukan hangat tersebut. Membawa tubuh mungil Putri kesayangan Grand Duke Pexley lebih masuk ke dalam rengkuhan dada bidangnya, agar dapat menghirup aroma khasnya dalam-dalam. Seolah-olah tengah menjadikan aroma harum dari wanita cantik tersebut sebagai obat paling mujarab untuk mengurangi rasa tak nyaman di hati.
Entah kenapa, Kaezar rasa akan ada sesuatu yang terjadi. Tapi, apa? Ia juga tidak tahu. Hanya perasannya saja yang tidak tenang.
“Yang Mulia Ratu.”
Kayena yang baru saja mengantarkan kepergian Kaizen menoleh pada sumber suara tersebut. Pada akhirnya mereka harus berpisah setelah pelukan hangat tersebut.
Dari arah datangnya suara tadi, empat prajurit dari kediaman Raja datang menghadap Kayena.
“Yang Mulia Raja meminta Yang Mulia Ratu untuk segera memenuhi hukuman yang belum diselesaikan.”
Helaan napas gusar terdengar dari arah Kayena. Untuk saat ini ia tidak bisa lari keman-mana, karena jelas ia akan dicap sebagai ‘pemberontak’ jika tidak memenuhi hukuman yang telah diberikan oleh Raja Robelia.
“Kami akan mengawal Yang Mulia Ratu menuju istana Raja.”
Anggukan kepala Kayena berikan. Namun, ternyata tak sampai di sana perintah Raja yang mereka bawa.
“Yang Mulia juga meminta Ratu untuk menggunakan semua ini, sebelum menuju ke istana Raja.”
Karena tidak mau berdebat, Kayena pun meminta ‘barang-barang’ yang dititipkan oleh Raja agar dibawa oleh pelayan pribadinya. “Aku akan menggunakannya. Kalian bisa menunggu sebentar.”
**
“Dimana Yang Mulia Raja?”
Empat pelayan yang sedang mengerjakan tugasnya masing-masing; ada yang tengah menyusun bunga-bunga segar dalam vas, merapihkan tempat tidur, merapihkan meja kecil yang disiapkan untuk menampung beberapa botol anggur serta kudapan manis, serta ada pula yang tengah menyalakan lilin-lilin aroma terapi.
“Yang Mulia Raja ada di pemandian, Selir Agung.”
Katarina, Selir Agung yang disegani itu tersenyum misterius seraya menatap ke arah sebuah pintu yang mengarah ke pemandian pribadi milik Raja. “Pergilah kalian, biar para aku yang melanjutkan tugas kalian.”
“Tapi, Yang Mulia …”
“Kau berani membantah Selir Agung?” tantang Katarina.
“Maafkan hamba, Yang Mulia Selir. Hamba telah bersalah.” Pelayan yang sempat merasa keberatan langsung bersujud di kaki Katarina. Ia takut Katarina akan menggunakan kekuasaannya untuk merenggut nyawanya.
“Pergilah,” usir Katarina.
Keempat pelayan tersebut kemudian memberikan penghormatan, kemudian pergi meninggalkan Katarina bersama pelayannya, setelah dipastikan jika mereka tidak akan membuka mulut—berkata yang tidak-tidak soal kedatangan Katarina dan pelayannya yang tiba-tiba ke kamar Raja.
“Kyara.”
“Ya, Yang Mulia Selir.”
“Segera kerjakan tugas mu,” perintah Katarina. “Campurkan ramuan itu ke dalam makanan dan minuman yang telah disiapkan. Kemudian ganti lilin aroma terapinya dengan lilin yang aku bawa.”
Kyara mengangguk paham. Ia kemudian segera mengerjakan tugasnya. Mencampurkan “ramuan” yang Katarina maksud ke dalam semua makanan dan minuman yang tersedia, kemudian mengganti beberapa lilin dengan lilin yang mereka bawa. Setelah semua pekerjaan mereka selesai, Katarina dan Kyara bergegas pergi sebelum Kaizen keluar atau Kayena sampai.
“Pergilah,” ucapnya pada Kyara. “Pastikan jika Yang Mulia Ratu tidak pernah sampai ke Istana Raja.” Ia tersenyum miring ketika membayangkan bagaimana rencananya akan segera berhasil. “Buat Ratu menghabiskan malam bersama Pangeran Kaezar. Sedangkan di sini, biar aku yang akan menggantikan perannya; menghabiskan malam yang panas dan menggairahkan bersama Raja, agar berkat-Nya segera tumbuh di perutku.”
💰👑👠
TBC
Tabur emoticon yuk di sini 👇
Buat Katarina 😤 ...
Buat Kayena 😀 ...
Buat Kaizen 😬 ...
Semoga suka 😘 Maaf belum bisa daily update apalagi crazy up 🥲. Jangan lupa like, vote, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 17-05-23