How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00168. Le côté souffrant du roi de Robelia (Sisi Penuh Derita Sang Raja Robelia)



00168. Le côté souffrant du roi de Robelia (Sisi Penuh Derita Sang Raja Robelia)


Kaizen pikir orang paling gila yang pernah ia temui sepanjang hidup adalah Archduke Klautviz de Meré alias paman tirinya sendiri. Siapa yang menyangka jika orang yang dua kali lipat lebih gila—lebih psikopat dari Klautviz de Meré adalah darah dagingnya sendiri, mulai dari Chatarina Kannelite de Meré hingga Charteris Killian de Meré.


Bukti dari kegilaan ke-dua anak haram itu adalah percobaan pembunuhan terhadap mantan Ratu serta tewasnya Klautviz de Meré di tangan putranya sendiri. Bahkan sang anak juga mengirimkan kepala Klautviz de Meré ke istana Robelia. Secara tidak langsung, Charteris Killian de Meré telah mengulangi peristiwa tragis yang sama, di mana puluhan tahun yang lalu sang ayah juga menjadi terduga pelaku atas kematian dari mendiang Raja Kyle—kakek dari Kaizen, Kaezar, Killian, juga Katarina—yang sangat mendadak.


“Yang Mulia, Anda baik-baik saja?” tanya Kaelus ketika melihat raut wajah rajanya yang tampak pucat pasi.


Semenjak mendapatkan hadiah mengejutkan dari Charteris Killian de Meré, raja Robelia tampak tidak berniat untuk memejamkan matanya sama sekali. Detik itu juga ia mengutus beberapa ksatria terlatih untuk mencari tubuh Klautviz de Meré yang telah terpisah dari kepalanya. Sayangnya, ksatria yang kembali dari lokasi kejadian mengatakan bahwa jasad Klautviz de Meré tidak ditemukan. Menghilang begitu saja setelah Charteris Killian de Meré beserta kaki-tangannya juga angkat kaki dari tempat tersebut.


Sekarang, di depan rakyat Robelia yang tengah menonton para pengkhianat negeri yang berjumlah 300 orang lebih, Kaizen mempertontonkan kepala pengkhianat Klautviz de Meré yang disimpan dalam sebuah kotak kaca. Hal itu bertujuan untuk memberikan peringatan pada siapa pun di luar sana yang masih berkeinginan untuk menentang otoritas Kaizen selaku raja Robelia.


Para anggota organisasi hitam yang tersisa juga akan menerima hukumannya masing-masing, mulai dari pencabutan gelar bangsawan, penyitaan asset dan sumber kekayaan, dihukum penjara seumur hidup, pengasingan, hingga hukuman mati.


“Segera bacakan hukuman bagi para pengkhianat yang masih hidup, Kael,” titah raja Robelia itu. Saat ini posisinya adalah duduk di atas kursi emas dengan ukuran naga yang sengaja di letakkan di depan istana.


Para rakyat juga dibiarkan melihat para pengkhianat. Mungkin salah saru dari para pengkhianat adalah anggota keluarga mereka. Namun, tidak ada ampun bagi seorang pengkhianat. Apalagi mereka bersekutu degan organisasi hitam yang ingin menggulingkan tahta Raja Robelia yang saat ini berkuasa. Organisasi hitam juga memiliki banyak catatan kejahatan terhadap kerajaan Robelia dari masa kepemimpinan Raja Klein sampai Raja Kaizen.


Kondisi keamanan serta politik Robelia berangsur-angsur membaik semenjak organisasi hitam berhasil dikalahkan. Baik pemimpin, anggota inti, hingga anggota biasa telah mendapatkan hukumannya masing-masing. Kaizen juga baru mengetahui fakta bahwa beberapa nama bangsawan yang menjadi anggota organisasi hitam merupakan orang tua atau keluarga dari beberapa kandidat calon selir. Kemungkinan besar Klautviz de Meré sempat berencana untuk membuat propaganda gelap—propaganda yang dilakukan untuk melemahkan moral negaranya sendiri.


Untung saja Kaizen mengurungkan niat untuk menikah dan memiliki selir. Jadilah ia terhindar dari wanita-wanita ular kiriman Klautviz de Meré.


“Apa mereka sudah tiba di Inggris, Kael?”


Selesai dengan agenda yang menguras tenaga, Kaizen meminta untuk dibantu pulang ke rumah kaca milik mendiang ibunya sekaligus tempat favorit mantan istri tercinta. Ia berniat untuk menghabiskan waktu istirahat di tempat tersebut.


“Jika maksud Yang Mulia adalah Nona Kayena beserta Tuan Muda Kaezar, mereka belum terlihat tiba di Inggris. Kemungkinan besar masih dalam perjalanan.”


“Apa kau tidak bisa pergi ke sana untuk memastikannya?”


Kaelus mengangguk singkat. “Saya bisa saja pergi ke Inggris. Akan tetapi, saya memilih untuk mengutamakan keselamatan Anda.”


“Aku baik-baik saja.”


“Tidak, Yang Mulia. Saya bahkan orang-orang di istana ini tahu jika Anda sedang tidak baik-baik saja.” Kaelus bicara dengan tegas. “Anda sakit, Yang Mulia. Anda kesulitan tidur, mengalami morningsickness di pagi hari, Anda juga mengalami hypoglycemia.”


“…”


“Lebih baik sekarang Yang Mulia fokus pada proses penyembuhan dan pemulihan. Robelia juga masih membutuhkan cukup banyak waktu agar kembali stabil,” tambah Kaelus.


Ia bukan bicara sembarangan, tetapi memang begitu adanya. Kondisi raja Robelia semakin hari semakin melemah. Tubuhnya yang tinggi, tegap, bugar, serta terawat, kini mulai mengurus. Triple kombo dari insomnia, morningsickness, hingga hypoglycemi benar-benar membawa dampak besar. Belum lagi sang raja sering kali merasa cemas berlebihan hingga kerap berhalusinasi. Walaupun dalam kondisi sakit seperti itu, sang raja Robelia tidak pernah sedikit pun lalai dalam menjalankan tugas kenegaraan.


Tidak sedikit simpati yang datang dan menghampiri. Walaupun dikenal sebagai Raja Tiran yang dingin serta datar, sekarang ia hanyalah seorang pria lajang tanpa pawang. Masih banyak Lady diluar sana yang bersedia untuk menjadi pasangan atau sekedar teman penghangat ranjang. Kepergian Kayena dan Katarina dirasa sebagai peluang besar untuk memperebutkan posisi Queen Consosrt. Sayangnya, tantangan kini justru datang dari sang raja yang acuh tidak acuh. Bahkan sempat tersebar rumor terkait orientasi s*ksual raja mereka yang menyimpang semenjak ditinggalkan Ratu Kayena.


“Aku pasti akan sembuh jika kembali bersama dengan Kayena.”


Ucapan itu segera dibalas oleh Kaelus dengan gamblang. “Jangan menggantungkan hidup Anda pada sesuatu yang masih abu-abu.”


“…”


“Harapan terkadang tidak sesuai dengan takdir yang telah dipersiapkan oleh Tuhan. Yang Mulia harus bisa hidup mandiri serta jangan menaruh harapan terlalu tinggi. Nona Kayena telah bahagia dengan pilihannya. Jika Yang Mulia terus bersikeras, takutnya Yang Mulia hanya akan mendapatkan rasa kecewa.”


Kaizen masih memilih bungkam setelah mendengar saran dan masukan ke sekian dari tangan kanan kepercayaannya. Ia sudah berusaha maksimal untuk menjaga tahta sebagai raja, tetapi harus merelakan wanita yang sangat ia cintai? wanita yang membuatnya gila dan terobsesi.


“Baiklah,” ucapnya kemudian. Raut wajahnya yang flat semakin muram. Sorot matanya yang dulu dipenuhi ambisi, kini hanya tersisa kegamangan.


Sebagai seorang raja yang memimpin sebuah negeri, ia mungkin berhasil mempertahankan wilayahnya dari berbagai goncangan yang menerpa. Namun, sebagai suami sekaligus ayah, ia adalah pria yang teramat payah.


Niat awal menghadirkan “benalu” dalam hidupnya adalah sebagai perantara, justru ia malah membuat istri tercinta terluka. Sekarang ia kehilangan wanita yang dicintai sekaligus calon ibu dari penerusnya.


“Saya akan terus memantau perkembangan relokasi beberapa benteng pertahanan serta pembaharuan kabinet kerja di masa jabatan Anda.”


“Hm.”


“Yang Mulia tenang saja dan fokus pada proses penyembuhan. Jika Yang Mulia semangat, proses penyembuhan akan berjalan lebih cepat.”


Kaizen yang sudah duduk bersandar pada kepala tempat tidur hanya mengangguk. Ketika hendak bicara untuk mempersilahkan Kaelus pergi, ia tiba-tiba diserang batuk beruntun.


“Yang Mulia, Anda tidak apa-apa?” tanya Kaelus dengan raut wajah risau ketika menyodorkan segelas air minum kepada rajanya.


Kaizen mengangguk, kemudian menerima air minum tersebut. Baru saja hendak minum, tiba-tiba ia memuntahkan isi perut yang berupa cairan kental berwarna merah. Kontan saja Kaelus semakin dibuat resah. Raja Robelia baru saja muntah darah.


“Berbaringlah, Yang Mulia. Saya akan segera memanggil dokter,” ucap Kaelus setelah membantu Kaizen berbaring di atas permukaan tempat tidur. Ia kemudian bergegas pergi untuk meminta seorang memanggilkan dokter.


Rasa sakit kembali menyerang beberapa bagian tubuh Kaizen, terutama perut, dada, dan kepala. Seraya berbaring dengan posisi terlentang, raja Robelia itu menatap nyalang ke arah bagian atas bangunan rumah kaca yang berbentuk kubah transparan. Keindahan langit malam terlukis dengan jelas dari material kaca terbaik yang digunakan.


Terakhir kali ia tidur di sini adalah malam ketika ia menghabiskan pergumulan panas dengan Katarina. Tidur dengan posisi dipeluk oleh wanita yang menjadi pelampiasan hasratnya. Sementara itu, sang istri ditinggalkan di negera asing, kemudian dalam perjalanan pulang dihadang oleh sekawanan penjahat.


“Maaf.”


Hanya itu yang dapat terucap, mewakili rasa sesal dan bersalahnya terhadap sang kekasih hati. Tidak ada yang dapat ia perbaiki untuk saat ini. Semua sudah terlanjur. Ibarat nasi telah menjadi bubur.


“Maafkan aku.”


Permintaan maaf itu terucap lagi darinya yang mulai memejamkan mata guna menghalau kilasan kejadian yang mengingatkan ia pada tindakan brengs*knya. Rasa sakit yang menjadi juga kian menyiksa raganya. Jiwanya pun tidak kalah tersiksa oleh rasa sesal dan bersalah.


“Apa aku akan pergi dengan cara seperti ini?” raja Robelia itu bergumam dengan suara kecil. “Aku bahkan belum meminta maaf dengan benar.”


“Aku ingin melihat kamu lagi. Aku ingin … memastikan bahwa memang kamu tengah mengandung darah dagingku.”


Di antara tumbuhan hias serta keelokan mahluk bersayap yang terbang di sekitar, raja Robelia yang terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur tidak mampu menangkap keindahan tempat tersebut. Baginya rumah kaca yang sangat disukai mendiang ibu serta mantan istrinya itu adalah tempat yang mengingatkan ia pada awal mula bencana dalam hidupnya.


“Aku tidak bisa pergi sebelum bertemu kamu dan memastikan bahwa sebagian dari diriku berkembang dengan baik dalam dirimu.”


Kaizen sejatinya sudah merasa lelah dengan siksaan yang diberikan oleh Tuhan. Jiwa dan raganya terus diberi tekanan juga kesakitan. Ia sudah hampir gila dan hampir mati berulang kali. Namun, ia masih berusaha untuk terus bertahan karena belum memastikan satu hal; apakah benar ada darah dagingnya yang tengah tumbuh di kandungan sang mantan istri.


“Aku hanya ingin bertemu kamu.”


Itu adalah kalimat terakhir yang Kaizen ucapkan, sebelum rasa sakit kian kuat menerjang dan menumpas habis kesadaran.


💰👑👠


Bersambung


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Jangan lupa dukung Author dengan cara LIKE, VOTE, TONTON IKLAN SAMPAI HABIS, RATE BINTANG 5 🌟 KOMENTAR & FOLLOW, Author Kaka Shan + IG Karisma022 😘👇


Mampir juga ke cerita teman Author 👇



Tanggerang 21-10-23