How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0074. L'interprétation d'une impératrice (Interpretasi seorang Permaisuri)



0074. L'interprétation d'une impératrice (Interpretasi seorang Permaisuri)


Dalam kepercayaan kekaisaran Astoria, pria dan wanita yang lahir dari strata sosial kelas atas—keluarga bangsawan atau keluarga kekaisaran selalu dibedakan lewat cara mereka berpakaian, sehingga mudah untuk dikenali. Baik pria maupun wanita, mereka punya ciri khas masing-masing untuk menonjolkan identitas kebangsawanan. Bagi wanita, salah satu contohnya adalah warna pakaian tradisional Astoria yang mirip Hanbok, terinspirasi juga dari Hanfu—pakaian tradisional Cina kuno—beserta aksesoris penunjang penampilan yang terinspirasi dari aksesoris tradisional Korea. Setiap warna, simbol, serta bentuk, memiliki filosofi tersendiri.


Misalnya binyeo atau tusuk konde yang digunakan untuk menahan kepangan rambut atau mahkota dengan cara memasukkannya ke cempol atau gulungan rambut. Material yang digunakan untuk membuat tusuk konde satu ini ditentukan berdasarkan kelas atau strata sosial. Para bangsawan biasa menggunakan binyeo berbahan dasar emas, perak, atau batu giok. Sedangkan rakyat biasa menggunakan material kayu, batu alam, atau besi.


Lain lagi dengan para wanita yang berstatus janda, mereka akan menggunakan kayu hitam dan cula binatang. Pada ujung binyeo biasanya terdapat desain artistik berbentuk flora atau fauna, disebut dengan jamdu. Jamdu ini dipercaya dapat mengusir roh jahat, menarik kekayaan, kesuburan, dam umur panjang. Beragam bentuk jamdu melambangkan makna yang mendalam, kelas, serta status sosial pemakainya.


Bagi para wanita bangsawan, tusuk konde mereka dibuat berbeda dengan rakyat biasa. Tusuk konde berbahan emas untuk wanita bangsawan disebut jam. Di mana bentuk dan materialnya lebih mewah daripada binyeo. Biasanya bentuk jam beragam, seperti bentuk naga dan burung phoenix. Jam bentuk naga dengan mulut terbuka disebut yongjam, sementara jam dengan corak burung phoenix disebut bongjam. Jam yang panjang biasa digunakan oleh pengantin perempuan. Sedangkan jam naga dan burung phoenix kerap digunakan oleh Ratu atau Permaisuri.


Ada juga ******cheopji****** yang merupakan aksesoris tradisional Korea. Cheopji dikenakan di atas kepala, tepatnya pada bagian belahan rambut. Setiap bentuk cheopji melambangkan status dan pangkat sosial penggunanya. Seorang Ratu menggunakan cheopji berbentuk naga dari emas, Permaisuri dan Putri Mahkota mengenakan cheopji bentuk burung phoenix. Sementara istri para menteri menggunakan cheopji dengan bentuk katak yang terbuat dari nikel. Aksesoris ini sendiri disematkan ketika wanita bangsawan menggunakan gaya rambut jjokjin meorin, yaitu tatanan rambut di mana perempuan membelah tengah rambutnya dan membuat sanggul di belakang kepala.



...(contoh penggunaan bongjam dan cheopji ketika menggunakan gaya rambut jjokjin meorin)...


Sedangkan bagi anak perempuan dari keluarga bangsawan yang belum menikah—Nona Muda, biasanya menggunakan aksesoris berupa ******dwikkoji****** serta ***daenggi**. Dwikkoji* adalah aksesoris rambut yang disematkan pada sanggul di bagian samping. Sama seperti binyeo, material aksesoris rambut tradisional Korea ini—dwikkoji—dibedakan berdasarkan pangkat atau status sosial. Nona Muda dari keluarga bangsawan biasanya menggunakan dwikkoji yang terbuat dari batu giok atau akik, sedangkan anak perempuan istana menggunakan dwikkoji dari bahan emas.



...(contoh dwikkoji)...


Motif dwikkoji juga beragam dan punya makna mendalam. Aksesoris ini juga melambangkan keinginan anak perempuan untuk mempertahankan kebajikan dan memiliki keluarga yang bahagia. Oleh karena itu, simbol-simbol pada aksesoris rambut dwikkoji menjadi hal yang penting. Contohnya motif bunga teratai, biasanya melambangkan kesucian. Bunga krisan melambangkan kesetiaan, dan kupu-kupu melambangkan keharmonisan.


Sedangkan daenggi adalah aksesoris bentuk pita yang disematkan pada ujung rambut yang dikepang. Daenggi biasanya berwarna merah, namun bisa juga hadir dengar warna lain, tergantung siapa yang memakai dan upacara apa yang dihadirinya. Jenis daenggi juga bermacam-macam, serta dibedakan penggunanya berdasarkan usia, tujuan, dan kelas sosial.



“Apakah Anda merupakan calon ibu yang tengah mengandung calon Raja di masa depan?”


Kayena mungkin tidak tahu alasan yang mendasari nenek Kaisar Kwang Sun ketika bertanya demikian. Namun, bagi nenek Kaisar Kwang Sun sendiri, ia bertanya karena melihat penampilan Kayena.


Kayena tampil sangat cantik dengan pakaian tradisional Astoria berwarna kuning serta paduan warna putih. Dihiasi motif burung phenoix pada beberapa bagian, serta sulaman benang emas yang menonjolkan aura mewah dalam bingkai kesederhanaan. Rambut panjangnya ditata sedemikian, dihiasi oleh bongjam—tusuk konde dengan corak burung phoenix yang terbuat dari emas. Di atas kepalanya juga tersemat cheopji bentuk burung phoenix—jenis aksesoris tradisional yang kerap digunakan oleh seorang Permaisuri. Maka tak heran jik kedatangan Kayena disambut dengan hormat. Ia tampak seperti interpretasi seorang Permaisuri.


Dilansir dari Cina Highlights, orang Tiongkok menjunjung tinggi naga, sehingga simbolisme naga sangat lazim dalam budaya Tiongkok. Termasuk juga di Astoria yang masih memiliki campuran kultur budaya dari Tiongkok. Naga dianggap memegang tempat penting dalam sejarah dan mitologi Tiongkok sebagai mahluk tertinggi. Menggabungkan aspek terbesar alam dengan kekuatan gaib supranatural. Seorang Kaisar biasa menggunakan jubah naga di pengadilan dan pakaian sehar-hari sebagai simbol status tertinggi dan kedaulatan absolut nya. Sulaman naga dan pola terkait naga adalah eksklusif, hanya boleh digunakan oleh Kaisar dan keluarga kerajaan.


Di sisi lain, Permaisuri, Ratu, atau Selir sendiri memakai motif burung phoenix. Naga dan phoenix dianggap sebagai pasangan hewan alami dalam budaya Tiongkok. Phoenix digunakan sebagai simbol eksklusif Permaisuri dan Selir Kaisar. Semakin tinggi peringkat wanita, maka semakin banyak burung phoenix yang disulam atau didekorasi pada gaun atau mahkotanya.


Pemilihan pakaian tradisional berwarna kuning serta putih juga memiliki makna tersendiri. Warna kuning mempresentasikan bumi sebagai elemen pusat dari alam semesta. Warna kuning juga terdapat pada kain sutra dan satin, sehingga biasa digunakan atau dimiliki oleh para keluarga kelas atas. Konon katanya, warna ini tidak boleh sembarangan dipakai, hanya para keluarga kerajaan atau petinggi, serta orang-orang yang dihormati yang boleh menggunakannya.


Sedangkan warna putih melambangkan elemen logam, di mana biasa biasa dipakai oleh orang-orang yang sudah menikah. Warna putih juga dipercaya sebagai warna yang melambangkan kesucian dan kemurnian jiwa. Selain itu warna putih juga melambangkan kerendahan hati. Warna ini juga mengandung makna bahwa siapa pun bisa memakai warna putih, tanpa memandang status kedudukan seseorang.


Sedangkan para Nona Muda yang ada di sana, tampil dengan semestinya. Mereka memakai pakaian tradisional yang menonjolkan identitas mereka sebagai Nona Muda, lengkap dengan hiasan kepala rambut berupa dwikkoji serta daenggi yang dibuat dari material beragam. Ada juga yang memakai Ji atau Chai, yaitu nama umum untuk jepit rambut di Tiongkok. Bentuk dan material Ji atau Chai juga beragam, dibedakan berdasarkan status sosial pemakainya. Mulai dari bahan batu giok, emas, perak, gading, perunggu, bambu, kayu ukir, kulit penyu, tulang, tanduk, dan sebagainya.


“Saya … memang sedang mengandung,” jawab Kayena kemudian.


Informasi mengejutkan tersebut tentu membuat nenek Kaisar Kwang Sun langsung terdiam. Begitu pula dengan para Nona Muda yang sejatinya datang ke tempat ini untuk mendapatkan mempererat hubungan dengan keluarga kekaisaran.


“Dan soal apa yang saya kenakan dari ujung kepala hingga ujung kaki, semua adalah pemberian Yang Mulia Kaisar,” tambah Kayena. “Saya sudah sempat mengutarakan rasa keberatan, namun Yang Mulia Kaisar tidak dapat dibantah ketika sudah menurunkan perintah.”


Nenek Kaisar Kwang Sun setuju dengan ucapan terakhir Kayena. Pria itu memang sukar dibantah ketika sudah menurunkan perintah. “Baiklah,” responnya kemudian. “Mari duduk di sini, Nona Kayena.”


Nenek Kaisar Kwang Sun menunjukkan tempat duduk di sisi kirinya yang kosong. Secara langsung berhadapan dengan Nona Muda dari keluarga Min yang dilahirkan dengan wajah cantik oriental, khas wanita Asia. Bersebelahan dengan Nona Muda dari keluarga Kim yang mengingatkan Kayena pada wajah seorang Ratu dari sebuah negeri bernama Joseon. Keduanya cantik, anggun, serta terlihat berpendidikan. Tidak terkecuali para Nona Muda lainnya.


“Silahkan nikmati jamuan yang telah dipersiapkan,” ucap nenek Kaisar Kwang Sun. mempersilahkan mereka untuk menikmati kudapan yang telah disiapkan, beserta teh hangat yang sudah didatangkan dari berbagai penjuru negeri.


“Nona Kayena.”


“Iya, Yang Mulia?”


“Apa Anda juga menyukai teh?”


Kayena mengangguk kecil. “Tentu saja, Yang Mulia. Hampir semua jenis teh saya suka, mulai dari earl grey, smoky earl grey, green tea, chamomile, teh merah cheonil, teh rooibos, teh gandum hitam, teh oolong, teh bunga sakura yang baru pertama kali saya minum di Astoria, dan banyak lagi jenis teh yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.”


“Rupanya pengetahuan Nona Kayena tentang teh cukup luas.”


“Saya dengan sebagian besar teh yang diproduksi oleh Kekaisaran Astoria juga dijual ke sana,” sahut nenek Kaisar Kwang Sun. “Kebetulan Kakak tertua Nona Muda Min yang mengurus perkebunan teh terbesar di Astoria.”


Pemilik nama tersebut mengangguk sopan. “Benar, Yang Mulia. Oleh karena itu, Kakak kerap bepergian ke luar negeri. Selama Kakak pergi, saya lah yang membantu mengelola administrasi perkebunan.”


Nenek Kaisar Kwang Sun tersenyum tipis setelah meneguk teh dalam cangkirnya lagi. “Maka tak heran jika Nona Muda dari keluarga Min terkenal sangat pandai dan cakap dalam mengelola administrasi,” pujinya. “Nona Muda Kim maupun Nona Muda yang lain juga padai dalam bidangnya masing-masing. Saya sudah sering mendengar sanjungan disematkan pada kalian semua.”


Para Nona Muda itu merespon dengan mengucapkan terima kasih, berkat pujian dari nenek Kaisar Kwang Sun. Sedangkan bagi Kayena yang masih mencoba mencerna situasi, acara pertemuan ini sepertinya ditunjukkan untuk memperlihatkan keunggulan dari masing-masing Nona Muda yang menghadiri acara. Secara tidak langsung, nenek Kaisar sedang melakukan seleksi secara tertutup.


“Jika boleh bertanya, saya ingin mengenal lebih banyak soal Nona Kayena,” ujar Nona Muda dari keluarga Kim, berani.


Tindakan tersebut rupanya sudah diduga oleh nenek Kaisar Kwang Sun. Sebelum Kayena menjawab, nenek Kaisar Kwang Sun sudah terlebih dahulu menarik perhatian.


“Nona Kayena berasal dari sebuah negeri bernama Robelia,” katanya. “Nama Ayahnya sangat terkenal di Robelia, bahkan sampai ke Britania Raya.”


Para Nona Muda tentu saja memberikan respon yang berbeda. Melihat bagaimana penampilan pertama Kayena, mereka sudah bisa menebak jika Kayena bukan lah orang biasa.


“Nona Kayena lahir sebagai putri bungsu dari tiga bersaudara. Bukan kah begitu?”


Kayena mengangguk kecil. “Saya punya dua Kakak laki-laki. Kakak pertama saya menetap di Edinburgh, mengemban tugas sebagai Duke of Edinburgh sekaligus Mayor di Angkatan Laut. Sedangkan Kakak kedua saya tinggal di Higrya semenjak menikah. Dia mengemban tugas sebagai Duke, sekaligus merangkap Komandan perang,” ceritanya. “Kebetulan saya lahir di keluarga militer. Hampir semua pria di keluarga kami masuk militer, termasuk Ayah saya.”


“Ternyata Nona Kayena berasal dari keluarga militer. Pasti Nona Kayena hidup dengan sangat disiplin,” komentar salah seorang Nona Muda.


Menanggapi komentar tersebut, Kayena tersenyum tipis. “Justru saya tidak pernah merasa hidup di bawah tekanan berlebihan. Saya memang diharuskan hidup disiplin, namun semua itu manfaatnya untuk saya sendiri. Ayah, serta Kakak-kakak saya sebenarnya sangat memanjakan saya.”


“Pasti menyenangkan sekali menjadi satu-satunya putri di keluarga. Seperti Nona Muda Min dan sekarang Nona Kayena. Nona Muda Min sangat disayang oleh Ayah, Ibu, serta Kakak laki-lakinya. Sedangkan Nona Kayena sangat disayangi oleh Ayah, serta Kakak-kakaknya.”


Pandangan orang ketika mengetahui asal-usulnya selaku putri semata wayang Khiev de Pexley pasti demikian. Kayena memang hidup dengan kasih sayang melimpah dari ketiga pria bermarga Pexley tersebut. Namun, bohong jika ia tidak pernah merindukan kehadiran sosok ibu dalam hidupnya. Walaupun sang ayah selalu berupaya menjadi sosok ibu baginya, namun tetap saja ada yang kurang.


“Jika ada yang ingin ditanyakan terkait anggaran rumah tangga kekaisaran, kalian semua bisa menanyakannya pada Nona Kayena.”


Mendengar namanya tiba-tiba dibawa-bawa, Kayena langsung siaga. Ia sudah menduga jika ada maksud terselubung dari undangan nenek Kaisar Kwang Sun.


“Kenapa demikian, Yang Mulia? Nona Muda Min, Kim, serta Kwang juga mempelajari materi dasar terkait pengelolaan anggaran rumah tangga kekaisaran?” salah seorang Nona Muda bertanya. Lebih tepatnya mewakili aspirasi Nona Muda lain yang penasaran dengan maksud nenek Kaisar Kwang Sun.


“Karena Nona Kayena sudah lebih berpengalaman,” jawab nenek Kaisar Kwang Sun dengan tangan siap mengangkat cangkir berisi teh. “Bukan saja teori, Nona Kayena bahkan sudah mempraktikkan serta mengimplementasikan semua materi dasar terkait pengelolaan anggaran rumah tangga kekaisaran.”


“Benarkah, Nona Kayena?”


Kali ini semua perhatian tertuju pada Kayena yang sejak tadi memilih bungkam. Ternyata ini maksud dari undangan nenek Kaisar Kwang Sun. Tanpa gentar, Kayena kemudian menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Kemudian dengan suara anggun penuh wibawa seorang Queen Consort, ia menjawab pertanyaan tersebut. “Saya telah dianugerahi gelar Putri Mahkota semenjak berusia lima belas tahun. Tujuh tahun kemudian, saya menikah dan dianugerahi gelar sebagai Pendamping Matahari Kekaisaran. Semenjak itu lah—lebih tepatnya belum genap tiga tahun lalu, saya dianugerahi gelar Queen Consort.”


Terdiam. Semua Nona Muda di tempat tersebut kompak membungkam mulut. Hanya kelopak mata mereka yang bergerak-gerak, antara gelisah dan terkejut luar biasa.


“Namun, sekitar delapan hari yang lalu, gelar tersebut resmi dicabut. Sekarang, saya hanyalah seorang wanita yang kembali menggunakan nama keluarganya sebagai identitas. Jika ada yang ingin ditanyakan oleh Nona-nona sekalian, saya akan mempersilahkan. Sekalipun bukan lagi seorang Ratu, setidaknya saya masih memiliki pemahaman terkait kiat-kiat menjadi Pendamping yang baik dan layak bagi seorang pemimpin.”


Ketimbang orang lain yang menyampaikan statusnya, Kayena memilih untuk mengungkapkannya sendiri. Terserah mau apapun respon mereka. Setidaknya Kayena sudah berusaha untuk mengikuti permainan nenek Kisar Kwang Sun.


💰👑👠


TBC


I'AM BACK 😁


Halo, July. Halo juga All readers. Maaf belum bisa balas komentar kalian beberapa bab ke belakang, karena Author baru bisa kembali produktif beraktivitas 🤧


Selamat membaca kembali. Perjalanan masih panjang, diharapkan untuk tetap setia menunggu cerita ini update ☺️


Mampir juga ke cerita baru Author. Jangan lupa RAMAIKAN 😫


Jangan lupa juga like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 02-07-23