How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0055. L’ancienne Reine a Disparu, Le Roi était Furieux (Mantan Ratu menghilang,



0055. L’ancienne Reine a Disparu, Le Roi était Furieux (Mantan Ratu menghilang, Raja merasa berang)


Perlu diketahui bahwa Kaizen adalah pria dengan ego setinggi gunung Everest. Ketika ada yang berani melukai harga dirinya, maka ego yang setinggi gunung Everest itu akan memuntahkan larva yang luar biasa berbahaya. Contohnya saja pada kasus Katarina yang lancang berani bermain tangan. Padahal sudah jelas-jelas Raja Robelia itu punya ego yang tinggi. Sekarang, Katarina mendapatkan julukan baru dari pria yang cintainya itu; jal*ng rendahan katanya.


Julukan yang berhasil menampar habis harga diri seorang Selir Agung Katarina. Rasa-rasanya semua perjuangan untuk memanjat sosial yang selama ini ia lakukan percuma, hanya karena dua kata. Jal*ng rendahan


“Apa kau sadar dengan perbuatan mu?” kali ini Kaizen meringsek maju. Menghadap Katarina yang tampak bungkam di tempatnya berdiri. “Apa konsekuensi bagi seseorang yang barani mengangkat tangan terhadap Raja?”


Katarina tetap bungkam, sampai Kaizen mengangkat tangan guna meraih rahang kecilnya dalam cengkraman.


“Jawab dengan bibir mu yang masih berfungsi dengan baik ini!”


Katarina yang telah menitihkan air mata tampak menatap nyalang ke arah pria yang dicintainya. Air matanya semakin deras bercucuran. Banyak hal yang telah berubah dalam hubungan mereka, terutama semenjak Kayena mengutarakan keinginan untuk bercerai. Setelah resmi bercerai, perubahan malah semakin tampak lebih jelas. Kaizen menjadi tipikal yang emosional serta mudah terpancing amarah. Kaizen juga tak segan-segan melakukan kekerasan fisik, seperti saat ini. Katarina benar-benar tidak pernah menduga jika perubahan Kaizen akan sampai sejauh ini.


“Hukuman bagi seseorang yang berani main tangan terhadap Raja …” Katarina menjawab dengan suara parau dan sengau, tersedak isak-tangis. “ … adalah dipotong kedua tangannya.”


Pria rupawan itu tampak menyeringai bak iblis. “Bagus. Rupanya kau mengingat dengan baik hukum yang berlaku di Robelia. Lantas … kenapa kau masih berani mengangkat tangan terhadap Raja?”


“Karena … saya lepas kendali,” jawab Katarina sembari menahan rasa sakit yang timbul dari tiga tempat. Pertama, rahangnya yang dicengkeram kuat. Kedua, pinggang yang belit kuat. Ketiga, hati yang tercabik-cabik. “Saya tidak dapat mengendalikan diri, akibat penolakan Anda terhadap saya. Lantas, apa gunanya saya? Selir Agung yang merupakan satu-satunya wanita Raja, namun tidak dapat melahirkan seorang pewaris tahta.”


Kaizen melonggarkan sedikit cengkraman, dan belitannya. Memberikan Katarina sedikit kelonggaran guna menghirup kebebasan. “Jangan coba-coba untuk membodohi ku, Katarina. Kau yang mengusulkan ide untuk menyetujui perceraian. Kau juga yang meyakinkan ku jika setelah ini, Ratu tetap bisa dibawa kembali ke istana.”


“Anda pikir saya bodoh?” alih-alih menjawab, Katarina rupanya lebih memilih mengabaikan dan balik bertanya. “Saya adalah seorang wanita yang berpandangan terbuka. Tidak ada seorang wanita pun yang tahan jika perhatian kekasihnya terus tertuju pada wanita lain.”


“Tapi, dalam kasus ini, wanita lain yang kau maksud adalah istriku!” seru Kaizen.


“Jangan lupakan bahwa wanita yang Anda sebut sebagai istri lebih menunjukkan ketertarikan pada pria lain.”


“Jaga bicara mu!” sergah Kaizen, mewanti-wanti.


Mereka berdua kemudian terdiam cukup lama. Sama-sama menyelami pikiran masing-masing, sampai Kaizen melepaskan cengkraman serta belitannya. Membentangkan jarak aman di antara mereka.


“Kita akan saling menyakiti jika pembicaraan ini diteruskan,” katanya dengan membuang muka ke sembarang arah. “Pergilah. Kau pasti butuh istirahat.”


Katarina tampak masih terdiam dengan gelombang air mata yang mulai mengering. Kaizen ada benarnya juga. Saat ini mereka sama-sama sedang dalam kondisi tidak stabil secara emosional. Jika pembicaraan ini dilanjutkan, maka mereka hanya akan saling menyakiti.


“Saya akan pergi,” katanya kemudian. “Malam ini Anda pasti tidak akan berkunjung ke istana Selir karena lelah. Maka dari itu, saya akan tidur lebih awal dari biasanya,” lanjutnya kemudian. “Saya tidak akan menunggu Anda, karena kita sama-sama butuh waktu untuk sendiri.”


“Hm,” respon Kaizen. “Aku akan berkunjung jika situasinya sudah lebih baik.”


“Baiklah,” setuju Katarina. Sebelum benar-benar pergi, ia menyempatkan diri untuk memeluk Kaizen dari belakang. “Lekaslah kembali, Yang Mulia. Saya rindu kekasih saya yang dulu; yang pengertian, dan penuh kelembutan terhadap Katarina-nya.”


Kaizen tak memberikan respon yang diinginkan Katarina. Dengan berat hati, wanita itu pun pergi meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan yang tak lagi utuh. Meninggalkan pria yang dicintai dengan segala belenggu di hati.


“Hah, Kayena …” gumam Kaizen ketika Katarina sudah benar-benar keluar dari ruangannya. “Semua ini terjadi karena kau,” lanjutnya. “Jika saja kau tidak meminta perceraian, hubungan kita bertiga pasti tidak akan serumit ini.”


Dikarenakan harta, tahta, dan wanita, hidup seorang pria memang bisa berada dalam kondisi paling berbahaya. Sejauh ini Kaizen sudah membuktikannya sendiri. Memiliki harta, tahta, serta dua orang wanita, berhasil membuatnya merasa di atas awan. Hanya saja, semua pencapaian itu tak bertahan lama. Ada masa di mana mereka pada akhirnya tercerai-berai.


Keesokan harinya, dengan kondisi suasana hati yang sudah lebih baik, Kaizen berencana untuk melakukan kunjungan dalam rangka menghabiskan waktu sarapan bersama Katarina. Tidak bagus juga mereka terlalu lama terlibat pertikaian, mengingat sekarang pendukung utama bagi Kaizen adalah relasi atau pertemanan Katarina di antara para Senora dan Senorita bangsawan. Namun, rencana itu gagal terlaksana ketika Kaelus datang dengan sebuah informasi penting.


“Yang Mulia Ratu menghilang.”


Saat pertama kali mendengarnya, Kaizen sungguh tak percaya. Namun, setelah mendengar rincian informasinya dari Kaelus, Kaizen langsung kembali ke ruang kerja.


“Bagaimana bisa Ratu menghilang begitu saja? bukannya dia masih terlihat bersama Ayah dan Kakak sulungnya ketika menaiki kapal layar yang bertolak dari ibu kota Robelia?


“Benar, Yang Mulia. Dari informasi yang baru kami dapatkan, Yang Mulia Ratu tidak pernah turun dari perahu layar tersebut. Bahkan pelayan-pelayan pribadi Ratu pun tidak terlihat sama sekali.”


Mantan Ratu menghilang, bagaimana Kaizen tak berang?!


Sengaja ia mengirim prajurit untuk membuntuti Kayena sampai ke Kyen. Namun, bagaimana bisa ia kecolongan begitu mudahnya. Ini semua pasti bagian dari siasat yang dimainkan oleh para anggota keluarga de Pexley. Sial*n memang. Keluarga itu tidak terdiri dari sekumpulan pria yang bodoh karena cinta terhadap wanita, namun kumpulan pria gentle yang menjadikan wanita sebagai mahluk paling berharga yang patut dijaga.


💰👑👠


“Akhirnya kita tiba, Nona.”


Kima bernapas lega ketika akhirnya bisa melihat lagi daratan. Setelah terombang-ambing puluhan jam lamanya di atas perairan, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Total ada dua puluh orang yang ikut dalam rombongan. Sepuluh orang terdiri dari pelayan pribadi dan pengawal pribadi Kayena, sisanya merupakan prajurit bayangan yang berada di bawah kepemimpinan Khayansar.


“Setelah tiba di pelabuhan, kita akan segera menghadap pada penguasa wilayah ini, Nona,” tutur salah seorang prajurit kepercayaan Khayansar. Pangkatnya sudah Kapten di tentara Angkatan Laut.


Kayena mengangguk singkat. Perutnya kembali terasa mual ketika perahu layar yang mereka naiki hendak menepi. Mungkin ia mabuk laut, pikirnya. Toh, kondisi itu baru pertama kali ia rasakan pula. Mengingat perjalanan kali ini cukup panjang dan melelahkan.


“Hati-hati, Nona.”


“Aku baik-baik saja, Kima,” ujar Kayena, merespon tindakan sang tangan kanan yang kelewat protektif, semenjak tahu jika ia merasa mual dan pusing.


“Nona harus segera istirahat, setibanya kita di tempat peristirahatan.”


“Hm. Ucapan mu benar. Aku sepertinya butuh banyak istirahat.”


Kehadiran mereka di dermaga itu rupanya telah ditunggu oleh sekitar 6 prajurit dengan seragam khas. Lengkap dengan penutup kepala yang dihiasi oleh … semacam bulu hewan seperti burung. Mereka juga bicara menggunakan bahasa yang tidak dimengerti Kayena, namun ada salah satu dari prajurit Khayansar yang bisa berkomunikasi dengan mereka. Setelah berdiskusi secara singkat, Kayena diarahkan untuk naik sebuah tandu yang telah menunggu. Ia sempat menolak karena merasa … berlebihan. Namun, para utusan pemimpin di negeri itu bilang jika tindakan tersebut adalah bagian dari tugas. Jadi, mau tidak mau Kayena harus mengikutinya.


Perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini jalur darat, melewati perumahan-perumahan tradisional. Banyak rakyat yang tengah beraktivitas ketika Kayena melewati jalur utama menuju istana. Mereka tampak tertarik melihat kehadiran rombongan Kayena yang berasal dari Robelia—negeri nan jauh di sana, yang lebih dekat dengan daratan Eropa dan Amerika.


Tak butuh waktu lama untuk mencapai istana yang tampak megah dari kejauhan. Ketika dilihat dari dekat, Kayena semakin dibuat takjub. Walaupun istana di negeri ini tidak dibuat bertingkat, namun keindahannya tidak terelakkan. Unsur seni tampak kental dan mendominasi setiap sudut istana.


“Masuk lah, Nona. Yang Mulia Kaisar sudah menunggu kehadiran Anda.”


Kayena tampak tertegun untuk beberapa saat. Kaisar? Bukan lagi Raja. Melainkan Kaisar. Untung saja, penampilannya bisa dibilang lumayan rapih, walaupun hanya menggunakan gaun sederhana buatan tangan ajaib Killian. Ditemani oleh Kima dan seorang pengawal pribadinya, Kayena kemudian menghadap Kaisar yang akan memberinya tempat untuk tinggal serta perlindungan. Sebagai tamu, memang sudah sewajarnya ia menyapa tuan rumah.


“Yang Mulia Kaisar, Nona Kayena de Pexley telah tiba.” Pengumuman itu disampaikan oleh seorang pria yang berdiri di depan pintu. Mungkin seorang pengawal atau tangan kanan Kaisar.


Tak berselang lama, jawaban terdengar dari dalam. Hanya sebuah suara berat yang terdengar singkat, mempersilahkan Kayena masuk. Ketika pintu dibiarkan terbuka, hanya Kayena yang diperbolehkan masuk. Dengan segala keberanian yang terkumpul, akhirnya Kayena melangkah masuk untuk menghadap sang Kaisar.


“Salam hormat, Yang Mulia Kaisar. Saya Kayena de Pexley menghadap Anda selaku tamu yang datang untuk berkunjung dan berencana untuk menetap dalam beberapa waktu,” ujar Kayena setelah memberikan hormat dengan caranya. Kepalanya masih menunduk, ketika pria yang menjabat Kaisar di depannya berbalik.


“Selamat datang, Kayena,” balas sang Kaisar dengan suara … err, penuh wibawa yang membahayakan hati para kawula muda berjenis k*l*m*n perempuan.


“Semoga kamu senang tinggal di rumah ku,” lanjutnya dengan gaya bicara yang terlampau akrab untuk ukuran orang yang baru pertama kali Kayena jumpai.


Karena penasaran, Kayena pun mengangkat pandangan dengan perlahan. Apa mungkin ia mengenal Kaisar satu ini? pria yang dikatakan sebagai kenalan kakak sulungnya. Pasalnya suara itu seperti familiar.


“Apa kamu masih mengenaliku, Kayena?” tanya sang Kaisar ketika pandangan mereka bertemu.



Untuk beberapa waktu, Kayena merasa dirinya dilempar ke masa lalu.


💰👑👠


TBC


Gimana perasaan readers setelah baca bab ini?


Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 10-06-23