
0064. Première attaque du Duke of Edinburgh (Serangan Pertama dari Duke of Edinburgh)
“Mereka semua … telah mati.” Kyara berkata seraya membantu memakaikan jubah di tubuh tuannya.
“Apa maksudmu?”
“Salah satu dari empat prajurit yang Anda tugaskan telah berkhianat. Prajurit itu kemudian membunuh satu prajurit. Tersisa dua prajurit yang sempat menjalankan tugas. Sekarang mereka sudah melarikan diri ke Utara.”
“Sisanya?”
“Dua orang pelayan wanita yang bertugas untuk memancing Pangeran Kaezar sudah tewas karena meminum racun. Mereka sempat dicurigai oleh tangan kanan Pangeran Kaezar.”
Katarina tersenyum tipis. “Bagus. Semakin sedikit yang mengetahui, semakin terjamin keamanan kita di tempat ini.” Potongan part 0041. Un Traiître Que Se Sent Trahi (Pengkhianat yang merasa dikhianati)
Katarina ingat betul percakapannya dengan Kyara pagi itu. Tangan kanannya sudah mengatakan jika orang-orang yang ia gunakan untuk melancarkan misi menjebak mantan Ratu Robelia telah pergi ke Utara. Dua pelayan wanita yang ditugaskan untuk menjebak Archeduke of Sésilia sudah tewas setelah menenggak racun. Satu dari empat prajurit yang ditugaskan untuk menculik Kayena telah dibunuh oleh salah satu pengkhianat. Dua prajurit sisanya pergi ke Utara, setelah menghabisi satu prajurit yang telah berkhianat.
Sekarang, bagaimana bisa kepala dua prajurit yang katanya melarikan diri ke Utara ada di depan matanya, beserta kepala seorang pria yang menjadi supplier afrodisiak yang Katarina gunakan untuk menjebak Kaizen, Kaezar, serta Kayena. Siapa yang telah membunuh mereka semua? Apakah Duke of Edinburgh? Tetapi, bagaimana bisa pria itu menemukan orang-orangnya yang telah melarikan diri dengan sangat rapih ke Utara? Bagaimana pula ia mengetahui identitas orang-orang suruhannya?
“Kau benar-benar tidak mengenalnya?” selidik Kaizen untu kedua kalinya. Tatapannya masih terkunci pada netra Katarina yang bergerak gelisah. “Lalu mengapa Duke of Edinburgh mengatakan jika kau akan menyukai hadiah yang dia kirimkan. Bukan kah sudah pasti jika dia mengetahui sesuatu tentang kau yang mungkin ada hubungannya dengan … pemilik tiga kepala tersebut.”
Katarina menggelengkan kepala dengan tegas. Ia kemudian membuang muka ke arah lain. “Saya sama sekali tidak mengenal ketiga pemilik kepala tersebut, Yang Mulia. Jika Anda tidak percaya, silahkan tanyakan kepada Kyara—orang kepercayaan saya yang selalu menemani keseharian saya.”
“Ucapan mu benar juga,” setuju Kaizen. “Kaelus, panggil pelayan bernama Kyara. Katakan padanya jika Raja Robelia ingin bicara empat mata dengannya,” titahnya kemudian.
“Baik, Yang Mulia.”
Setelah menerima perintah, Kaelus bergegas meninggalkan ruangan guna menjemput Kyara. Sedangkan Katarina, tampak gelisah di balik sikap tenang yang ia pasang.
“Kenapa tiba-tiba Yang Mulia ingin bicara berdua dengan Kyara? Bukan kah Yang Mulia bisa membicarakannya di sini?”
“Aku ingin bicara empat mata dengan siapapun, itu hak ku, Katarina. Bahkan jika aku ingin meniduri wanita acak sekalipun, kau tidak bisa melarang keputusan ku.”
Katarina terdiam dengan jantung yang berdebar cepat. Akhirnya, apa yang ia takutkan selama ini terjadi juga. Kaizen dengan gamblang mengatakan ketakutan yang selama ini menjadi mimpi buruknya sebagai wanita Raja.
Kaizen memang punya hak untuk meniduri wanita mana pun yang ia sukai dan kehendaki, Katarina tidak dapat melarang keinginan tersebut. Sejauh ini, yang Katarina lakukan agar keinginan tersebut tidak terlontar dari mulut Kaizen adalah dengan cara selalu membuat pria itu bungkam dengan kepuasan. Ia selalu berusaha memberikan service terbaik agar pria itu tidak melirik wanita manapun di luar sana, sekalipun banyak wanita yang lebih cantik, lebih potensial, lebih cerdas, serta memiliki latar belakang yang jelas.
“Anda … sudah tidak menginginkan saya lagi, Yang Mulia?” tanya Katarina tiba-tiba. Dalam janjinya, ketika hendak membawanya ke istana, Kaizen pernah berkata bahwa ia tidak akan pernah mencampakkan Katarina.
Ketika Kaizen sudah menunjukkan indikasi yang merajuk pada kata “mencampakkan”, Katarina sendiri yang akan segera angkat kaki. Jika sampai hal itu terjadi, Katarina pun tidak akan pergi tanpa tangan kosong.
“Jangan bicara omong kosong,” balas Kaizen. “Lebih baik kau diam selama ku mengintogasi pelayan pribadi mu.”
Katarina diam-diam menghela napas lega, karena dari jawaban tersebut ia bisa mengindikasi bahwa Kaizen masih berupaya mempertahankan dirinya.
Tak berselang lama, Kaelus kembali datang bersama Kyara. Dua orang pembawa pesan dari Kyen juga telah ditahan untuk sementara waktu, karena hadian dari Duke of Edinburgh yang out of the box masih harus diselidiki. Entah apa tujuan pria tersebut mengirimkan 3 kepala manusia yang tidak jelas identitasnya.
“Kau mengenali mereka atau salah satu dari mereka?” tanya Kaizen to the point.
“Mohon maaf, Yang Mulia. Saya sama sekali tidak mengenal mereka,” jawab Kyara dengan wajah tertunduk. Lantai menjadi objek penglihatannya, ketimbang wajah rupawan Raja Robelia.
“Kau yakin? Jangan berani-berani membohongi Raja Robelia, atau akau akan mendapatkan hukuman yang sangat berat.”
“Saya tidak berani membohongi Yang Mulia,” jawab Kyara dengan wajah terangkat, guna menatap langsung ke arah Kaizen. “Maaf atas kelancangan saya, Yang Mulia. Saya hanya ingin meyakinkan Anda jika Selir Agung maupun saya tidak pernah mengenal mereka.”
Kaizen masih menatap Kyara dengan tajam. Yang ditatap demikian segera menunduk dengan segan. Ia telah berusaha semaksimal mungkin untuk bersandiwara, agar Kaizen percaya pada kebohongannya. Padahal, dalam lubuk hati yang paling dalam, Kyara merasa ketakutan setengah mati. Tiga kepala itu milik orang-orang yang terlibat dalam rencana gila Selir Agung Katarina. Sekarang, tersisa dirinya. Selaku pelaku serta saksi hidup yang masih tersisa.
Kyara harus pandai menjaga diri, karena bisa saja Katarina mengorbankan dirinya. Walaupun ia sangat berdedikasi pada Katarina, tidak menutup kemungkinan jika Katarina berkhianat. Sekarang, ia memegang kartu AS Katarina. Jika wanita itu berani macam-macam, ia harus bisa menggunakan kartu AS tersebut dengan baik. Kyara tidak akan berani macam-macam, jika Katarina tetap berperilaku selayaknya majikan; yang memberi perlindungan, serta kehidupan yang layak pada keluarganya di kampung halaman. Seluruh hidup Kyara sudah diabdikan pada Katarina, ia harap wanita itu berbalik arah untuk keselamatannya sendiri.
“Kau boleh pergi,” perintah Kaizen. Sembari mengurut pelipis, ia kemudian kembali ke meja kerja miliknya. “Kau juga,” ucapnya pada Katarina. “Pergilah,” usirnya kemudian.
Wanita itu hendak protes ketika diusir secara tiba-tiba, namun ia mengurungkan niat tersebut. Lebih baik ia meninggalkan tempat tersebut terlebih dahulu, baru memikirkan rencana selanjutnya.
“Kalau begitu saya akan kembali ke istana Selir,” katanya seraya mendekati meja kerja sang kekasih. “Jangan terlalu keras berpikir, Anda bisa saja jatuh sakit karena terlalu banyak pekerjaan dan beban pikiran.” Dengan telaten ia mengurut pelan bagian kanan dan kiri kepala Kaizen. Gerakan lembut ia gunakan untuk memanjakan pria tersebut, sebelum benar-benar pamit undur diri. “Pintu Istana Selir selalu terbuka untuk menyambut kedatangan Anda. Jika Anda lelah dan butuh pijatan untuk menenangkan pikiran, berkunjunglah malam nanti.”
Kaizen tidak memberikan respon banyak, kecuali dehaman singkat. Setelah Katarina benar-benar menghilang di balik pintu, ia baru kembali melayangkan perintah pada Kaelus yang masih berada dalam posisi siap.
“Bawa ketiga kepala itu ke gerbang utama. Perlihatkan pada semua orang, berikan imbalan 1.000 Piéces d’or untuk siapa pun yang memiliki informasi terkait ketiganya.”
“Baik, Yang Mulia.”
“Jangan lupa, terus selidiki gerak-gerik Selir Agung Katarina bersama orang-orangnya. Duke of Edinburgh tidak mungkin asal bicara, apalagi asal menulis surat. Kejutan yang dia berikan hari ini, pasti ada sangkut pautnya dengan selir Agung Katarina.”
“Baik, Yang Mulia. Saya akan mengerahkan anak buah saya untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.”
“Hm.”
“Kalau begitu saya pamit undur diri, Yang Mulia.”
Kaizen mengangguk. Setelah Kaelus pamit undur diri ruangannya, Kaizen memilih untuk berkutat dengan isi kepala yang mulai melalang buana. Dengan pandangan tertuju pada surat Duke of Edinburgh, ia mencoba menebak maksud dari hadian yang diberikan kakak sulung mantan istrinya tersebut.
Apa tujuan Duke of Edinburgh alias Khayansar mengirimkan tiga kepala manusia yang terpenggal dengan tragis?
Apakah benar, selama ini Kayena bukan menghilang. Melainkan sengaja disembunyikan?
Lantas, kenapa? Kenapa mereka menyembunyikan Kayena? apa karena mereka sudah mengetahui siasat Kaizen yang hendak membawa Kayena kembali ke istana?
Semua pertanyaan tersebut masih berseliweran di dalam kepala. Entah sampai kapan ia menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun, yang pasti hingga matahari tenggelam sore itu, Kaizen masih terus bertanya-tanya. Sampai kejutan lain menghampirinya ketika hendak menikmati jamuan malam.
“Ada Kaelus?” tanyanya ketika baru melahap suapan pertama Entrecote a la bordelaise—steak yang dinikmati bersama saus anggur. Daging yang digunakan merupakan potongan di antara tulang rusuk sapi.
“Pengadilan tinggi baru saja mendapat laporan, Yang Mulia.”
Kaizen menautkan kening mendengar penuturan tanah kanannya. “Terkait?”
“Laporan terhadap Selir Agung Katarina yang terlibat dalam desas-desus yang sempat menimpa mantan Ratu.”
“Maksud mu?”
“Ada saksi yang mengatakan bahwa salah satu kepala yang dikirimkan Duke of Edinburgh adalah milik pekerja pria di istana Selir. Pekerja tersebut menghilang bersama rekannya, tepat pada hari di mana malamnya mantan Ratu menghilang.”
Kaizen langsung kehilangan selera untuk menikmati Entrecote a la bordelaise yang menjadi hidangan utama atau main dish pada jamuan makan malam. Isi kepalanya kembali kembali bergerilya kemana-mana, termasuk soal informasi yang baru ia dapatkan dari Kaelus perihal laporan yang dibuat seseorang untuk pengadilan tinggi. Target utama dalam laporan tersebut adalah Selir Agung Katarina yang katanya ada sangkut-pautnya dengan rencana penggulingan mantan Ratu Robelia.
“Siapa yang membuat laporan kepada pengadilan tinggi?”
“Duke of Edinburgh, Yang Mulia,” jawab Kaelus tanpa dusta.
“Khayansar,” kaget Kaizen. “Bagaimana bisa dia menuduh Selir Raja Robelia begitu saja?!” ia masih tampak tidak percaya ketika Kaelus mengatakan bawa pelapor adalah Duke of Edinburgh alias Khayansar de Pexley. Dari mana pria itu punya keberanian untuk melaporkan Selir Agung Katarina?
“Atas dasar apa Duke of Edinburgh berani melaporkan Katarina?” tanyanya lagi.
“Beberapa bukti yang telah beliau dapatkan, Yang Mulia.”
“Bukti?”
Kaelus mengangguk. “Benar, Yang Mulia. Bukti yang dikumpulkan oleh Duke of Edinburgh juga telah diberikan pada pengadilan tinggi. Kemungkinan besar, esok hari pengadilan tinggi akan mulai membuka persidangan.”
“Sial*n,” geram Kaizen. Masalah Kayena yang menghilang saja belum selesai. Sekarang, Khayansar telah melancarkan serangan yang menargetkan wanitanya, yaitu Selir Agung Katarina.
Menyerang Katarina sama saja mengancam posisi Kaizen. Katarina adalah Selir Agung dengan citra bersih, sekalipun ia mendapatkan gelar tersebut lewat jalur mistress atau wanita simpanan. Untuk saat ini, Katarina adalah simbol bagi pasangan sejati Kaizen. Jika posisinya diusik, kaizen akan kehilangan pion pentingnya.
Di sisi lain, Katarina yang tengah berada di istana Selir tidak bisa tenang sejak mendapati 3 kepala yang terpenggal dengan tragis sebagai hadiah dari Duke of Edinburgh. Ia benar-benar masih tidak percaya jika pria itu berhasil menemukan orang-orangnya yang telah melarikan diri ke Utara. Padahal mereka juga melarikan diri dengan penyamaran, jadi tidak mudah untuk menemukan mereka. Tapi, bagaimana bisa … ?
“Yang Mulia Selir.”
“Ada apa, Kyara? Cepat katakan jika itu hal penting. Jika tidak terlalu penting, lebih baik kau simpan terlebih dahulu,” cerocos Katarina. “Aku sedang tidak memiliki tenaga untu memikirkan hal lain.”
“Ini soal laporan terkait Anda.”
“A-apa?” kaget Katarina. “Aku? Dilaporkan? Atas dasar apa?” lanjutnya, bertubi-tubi. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Laporan tersebut dibuat atas keterlibatan Anda terkait rencana penggulingan Ratu dari posisinya.”
Katarina menganga mendengarnya. “Apa? bagaimana bisa mereka … membuat laporan seperti itu, tanpa memiliki bukti yang cukup. Apa mereka tidak sadar jika yang mereka laporkan adalah wanita Raja? Memangnya siapa yang membuat laporan itu?!”
“Duke of Edinburgh, Yang Mulia Selir,” Kyara menjawab dengan kepala tertunduk. “Beliau melaporkan Anda berdasarkan bukti yang telah beliau kumpulkan.”
“Sial*n!” umpat Katarina, marah. Lagi dan lagi, halangan serta rintangan terbesarnya datang dari keluarga Pexley. Apalagi kali ini merupakan cinta pertamanya sendiri. “Memangnya apa yang dimiliki pria itu sebagai bukti?”
“Mengenai hal tersebut, saya kurang tahu, Yang Mulia Selir. Kemungkinan besar besok akan dibuka persidangan pertama. Kita bisa melihat apa saja yang Duke of Edinburgh jadikan sebagai bukti.”
“Kau benar, Kyara,” sahur Katarina dengan senyum miring. “Lagipula para orang suruhan itu sudah mati, jadi tidak ada yang akan buka suara,” katanya, tenang. “Satu-satunya saksi yang masih hidup cuma …. kau, Kyara.”
“Benar, Yang Mulia,” lirih si empunya nama. “Tapi, saya tidak punya keinginan sedikitpun untuk berkhianat pada Anda …”
“Bagus,” potong Katarina. “Karena jika kamu berani berkhianat, maka akan aku pastikan seluruh anggota keluarga mu merasakan akibatnya.”
Kiam menunduk, mungkin takut terhadap ancaman tersebut. Membuat Katarina sedikit merasa lega, karena gertakannya berhasil. Namun, sepersekian detik berikutnya, pelayan pribadinya itu berkata tanpa rasa takut.
“Saya tidak akan berkhianat, selama Anda juga tidak mengkhianati saya, Yang Mulia Selir. Bukan kah kita saling memang kartu AS masing-masing?”
💰👑👠
TBC
Catatan : Cerita ini hanya fantasi, jadi jika ada kesamaan nama tokoh/tempat, bukanlah sesuatu yang disengaja. Sumber semua foto; pinterest.
Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 19-06-23