How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00143. Des rêves et un amour difficiles à réaliser (Cita-cita dan cinta yang



00143. Des rêves et un amour difficiles à réaliser (Cita-cita dan cinta yang sukar digapai)


Kaelus paham jika Raja Robelia yang saat ini berkuasa merasa terkejut. Bagaimana tidak, sosok yang ia pikir tidak akan lagi menjadi saingan pasca melepas segala-galanya, kini malah kembali dinobatkan sebagai pangeran. Mungkin dulu Kaezar hanya pangeran yang terlahir dari hubungan politik. Namun, Kaezar tumbuh dan besar dengan baik, walaupun ada diskriminasi sosial. Berhasil membuktikan diri dengan prestasi yang dimiliki, membuat Kaezar mendapatkan dukungan dari pihak-pihak yang tidak pernah ia bayangkan.


Sekarang, setelah Kaezar keluar dari Robelia, ia malah mendapatkan pengakuan dari Kekaisaran Astoria. Diangkat sebagai bagian dari keluarga kekaisaran, bahkan dinikahkan langsung dengan wanita yang begitu mulia. Wanita yang hingga saat ini belum sepenuhnya dilepaskan oleh Raja Robelia. Kendati demikian, Raja Robelia tidak dapat berbuat apa-apa tentang pengangkatan Pangeran Kwang Min serta pernikahannya dengan mantan Ratu Robelia. Toh, keduanya bukan lagi bagian dari Robelia dan tidak lagi memiliki keterikatan.


“Saya paham perasaan Yang Mulia.” Kaelus pelan-pelan mencoba menenangkan Raja Robelia yang saat ini masih diselimuti amarah. “Tetapi, Elang Muda Kekaisaran tidak lagi membutuhkan izin Anda untuk menikahi wanita mana pun, karena dia bukan lagi bagian dari Robelia. Begitu pula dengan Nona Kayena yang bukan lagi pendamping Anda.”


Kaizen, Raja Robelia itu tampak tertampar oleh kenyataan yang baru saja dilontarkan oleh tangan kanannya. Kaezar maupun Kayena bukan lagi bagian dari Robelia? Benar. Kaizen melupakan fakta tersebut. Mereka berdua telah melepaskan ikatan yang berhubungan dengan Robelia. Sekarang mereka sama-sama lajang, maka bukan masalah jika memutuskan untuk menjalin hubungan pernikahan.


“Elang Muda Kekaisaran, maksud saya Tuan Muda Kaezar,” Kaelus berhenti sebentar untuk menganalisa raut wajah lawan bicaranya. Topik pembicaraan kali ini memang terdengar sangat sensitif. “Sekarang sudah resmi bergabung dengan keluarga Grand Duke Pexley.”


Kaelus sempat berpikir bahwa Raja Robelia akan mengamuk detik itu juga. Siapa yang menyangka jika pria rupawan itu malah mengudarakan tawa terbahak-bahak.


“Resmi bergabung dengan keluarga Grand Duke Pexley? Kau bercanda? Aku saja yang sudah menikahi putri mereka tidak dianggap sebagai bagian dari mereka. Apalagi anak haram itu.”


Kaelus menatap lawan bicaranya dengan tatapan tidak percaya. Ia memang tahu jika Kaizen tidak dapat bergabung sepenuhnya sebagai bagian dari keluarga Pexley, karena posisinya sebagai Matahari Kekaisaran. Kualifikasi untuk menjadi bagian dari keluarga Pexley juga tidak main-main. Sejauh yang diketahui Kaelus, jika seorang pria telah diterima sebagai bagian dari keluarga Pexley—lewat jalur pernikahan—maka mereka akan diberi harta karun keluarga Pexley yang sangat berharga dan langka; 2 jenis brooch pin spesial dan belati jantung samudra.


“Saya tidak bercanda, Yang Mulia. Orang-orang yang kita kirim menambahkan informasi yang membenarkan adanya hubungan pernikahan yang mengikat Tuan Muda Kaezar dan Nona Kayena.” Kaelus bicara dengan jujur. Raut wajahnya tidak mencerminkan kebohongan sedikit pun. “Salah satu dari harta karun milik keluarga Pexley juga telah diberikan kepada Tuan Muda Kaezar. Itu menandakan bahwa dia memang sudah diterima dengan baik sebagian bagian dari keluarga Pexley.”


Tawa yang sempat menggema, kini habis tidak bersisa. Raut wajah Kaizen tampak carut-marut mendengar penjelasan lebih detail dari Kaelus. Bagaimana mungkin perasaannya tetap baik-baik saja, jika kenyataan kembali menamparnya. Mau menyangkal pun, Kaizen rasa tidak akan pernah bisa. Informasi yang dibawa Kaelus biasanya 99.9% akurat, karena sudah melewati pemeriksaan berulang kali. 0,1% sisanya adalah kemungkinan yang dapat terjadi di luar kehendak, seperti kesalahpahaman.


Akan tetapi, bagaimana bisa wanita yang tengah ia perjuangkan untuk kembali ke sisinya malah menikah dengan adik tiri yang sangat ia benci? Kaizen enggan menerima kenyataan tersebut, karena ia memang tidak berniat menerima fakta jika kekasih hatinya telah dimiliki orang lain.


“Secepat itu kamu berpaling?” tanyanya dalam hati. Tiba-tiba pikiran negatif mengingatkan ia pada skandal perselingkuhan yang melibatkan mantan istri dan adik tirinya. Apa mungkin skandal itu benar? mereka telah menjalin hubungan gelap? Atau hubungan mereka terjalin semenjak skandal itu berhembus kencang?


Kaizen tidak tahu kapan hubungan mereka berkembang hingga berakhir menjadi sepasang kekasih. Entah ia yang lengah sehingga tidak menyadari kedekatan mereka yang semakin berkembang.


“Kaelus, siapkan satu kavaleri besar pasukan khusus. Kita akan berangkat ke Kekaisaran Astoria hari ini juga. Aku akan menjemput ratuku,” titahnya kemudian.


Di tempatnya berdiri, Kaelus tampak kebingungan. Sedangkan lawan bicaranya bergegas pergi ke arah pintu keluar.


“Yang Mulia, mohon dengarkan saya terlebih dahulu.” Kaelus tentu tidak akan membiarkan Kaizen pergi. Ia bergegas mencegah pria itu pergi supaya tidak berbuat gegabah. “Anda tidak dapat pergi ke Kekaisaran Astoria begitu saja. Anda lupa jika Kekaisaran Astoria adalah salah satu kekaisaran terbesar di Asia? Apa kita mampu menanggung resiko yang timbul jika bertindak gegabah?”


Kaelus berhasil mencegah Kaizen. Buktinya, Raja Robelia itu terpaku di tempat.


“Tuan Muda Kaezar bukan lagi Pangeran yang hanya didukung oleh rakyat, para bangsawan, serta petinggi Angkatan darat, laut, serta udara. Sekarang nama kebesarannya adalah Pangeran Kwang Min dari marga Kwang. Pangeran sebuah kekaisaran yang diberi perlindungan setara dengan keluarga kekaisaran lainnya.” Kaelus menarik napas dalam, sebelum menghelanya perlahan-lahan. Cukup sulit mengambil ketenangan sedalam samudra dalam kondisi seperti saat ini. “Lalu masih ada Duke of Edinburgh, Duke of Carlt, serta Grand Duke Pexley. Yang Mulia pikir mereka akan diam saja jika pasangan dari putri kesayangan mereka berada dalam bahaya?”


“Lalu aku harus diam saja melihat mereka bahagia di atas penderitaanku?” sentak Kaizen. Kemurkaan masih menguasai dirinya. “Jawab, Kaelus. Apa aku harus diam saja?”


Kaelus menunduk dengan helaan napas lemah. Tiba-tiba terbayang wajah Lady Cyrene yang telah ia tolak berulang kali, tetapi selalu peduli padanya. Terkadang ia begitu ingin serakah dengan membawa wanita cantik itu pergi ke tempat yang jauh agar mereka bisa hidup berdua saja. Namun, Kaelus tahu jika keserakahan tidak akan memberikan akhir yang bahagia.


“Terkadang yang kita butuhkan hanya rasa ikhlas, Yang Mulia.”


Kaizen menggelengkan kepala seraya berkacak pinggang. “Kau tahu sendiri jika perasaan seperti itu tidak ada dalam diriku.”


“Anda tahu jalan untuk kembali mendapatkan Nona Kayena terbilang mustahil, tetapi Anda tetap bersikeras.” Kaelus bicara dengan gamblang soal sudut pandangnya. “Maaf, Yang Mulia. Bukan berarti saya tidak mau mengikuti perintah, akan tetapi emosi Anda saat ini sedang tidak stabil. Jika Anda memutuskan tetap pergi ke Kekaisaran Astoria, bagaimana dengan pernikahan yang telah Anda rencanakan?”


Kaizen terdiam. Tampak jelas ia tengah berupaya keras untuk memahami maksud dari peringatan Kaelus.


“Lady Claudiane sedang dalam perjalanan menuju Robelia. Bersamaan dengan itu, keluarga Grand Duke Galico juga akan segera mengirimkan artileri sebagai mahar pernikahan. Jika pernikahan ini gagal, Yang Mulia tahu sendiri apa yang akan dilepaskan Robelia selain artileri.”


Perkataan Kaelus benar. Kaizen memutuskan untuk menikahi janda tanpa anak dari keluarga Grand Duke Galico karena keuntungan yang akan didapat. Mulai dari artileri—persenjataan darat paling mematikan dan efektif—sebagai mahar pernikahan, kesempatan untuk memiliki keturunan, mendapatkan partner yang satu frekuensi, dan banyak lagi. Jika pernikahan ini batal, maka semua keuntungan itu akan lenyap begitu saja. Kaizen juga harus mencari kandidat lain untuk dijadikan istri. Sumber : manhwa “I Queen In This Life”.


“Kau lagi-lagi menamparku,” ujar Kaizen seraya memijit pelipisnya yang tiba-tiba nyeri.


“Saya? Menampar Yang Mulia?” bingung Kaelus. Perasaan dari tadi ia diam di tempat tanpa main tangan.


“Perkataanmu,” kata Kaizen, meluruskan. “Lebih baik kau pensiun dini dari jabatanmu saat ini, Kael.”


“Maksud Yang Mulia, saya dikeluarkan dari lembaga ksatria pelindung Raja Robelia?”


Memucat. Wajah ksatria muda itu langsung berubah ketika mendengar ucapan sang Raja Robelia. Ia tidak menyangka jika usahanya untuk menyampaikan berita yang berisi banyak fakta malah berujung pada pemecatan secara tidak hormat.


“Aku akan menunjuk dirimu sebagai penasihat hukum,” lanjut sang Raja Robelia. Tubuhnya kembali berbalik, berjalan ke arah kursi yang ditata rapih di tengah ruangan.


Kaelus sendiri masih terpaku oleh rasa terkejut. Tidak paham dengan maksud dari ucapan Raja Robelia.


“Sekarang aku butuh solusi,” kata Kaizen tiba-tiba. Membuyarkan lamunan Kaelus. “Kau tahu aku menginginkan ratuku kembali. Bagaimanapun caranya,” lanjutnya dengan penuh penekanan.


“Maaf, Yang Mulia. Tetapi, saat ini Nona Kayena telah menjadi milik Tuan Muda Kaezar. Tidak akan mudah untuk memisahkan mereka. Bahkan orang-orang kita kesulitan untuk mendekati mereka.”


“Kirimkan tim yang lebih ahli dari mereka. Kemudian cari celah untuk memisahkan ratuku dari anak haram itu dan para saudaranya.”


“Segera lakukan. Jangan sampai kita kembali kehilangan jejak mereka.”


“Baik, Yang Mulia.”


Lagi dan lagi Kaelus hanya bisa meng-iyakan. Ia akan tetap setia mendukung keputusan Raja Robelia yang bebal. Padahal ia sudah berulang kali mengatakan bahwa sukar memisahkan pasangan kekasih yang direstui langit dan bumi itu.


“Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan, Yang Mulia.”


“Apa lagi?” tanya Kaizen, acuh tak acuh. Kedua kelopak matanya tertutup, guna meresapi setiap rasa yang membelenggu di dada. Hidupnya belakangan ini memang sedang tidak baik-baik saja. Semua bermula ketika istri tercintanya tiba-tiba meminta perceraian. Apa jangan-jangan kepala istrinya terlalu keras mencium lantai ketik jatuh tak sadarkan diri? Kaizen ingat betul bahwa istrinya berubah semenjak peristiwa itu.


“Orang-orang yang kita kirim sempat mendengar rumor yang mengatakan bahwa Nona Kayena tengah …”


“Yang Mulia!”


Kalimat Kaelus tidak dapat diucapkan sampai selesai, karena tiba-tiba saja muncul seorang kaki-tangan Kaizen yang bertugas sebagai salah satu penunggang kuda cepat—pengirim surat dengan layanan kuda cepat—dengan kondisi terengah-engah.


“Di mana rasa hormatmu terhadap Matahari Kekaisaran?” ujar Kaelus, memperingati. Selain bertugas sebagai penunggang kuda cepat, pria bermata zamrud yang baru saja memasuki ruangan itu merupakan salah satu rekan sesama ksatria pelindung Raja Robelia. Tindakannya terbilang tidak sesuai kode etik seorang ksatria.


“Maafkan ketidaksopanan saya, Yang Mulia.” Mendapatkan sindiran secara terbuka, pria itu lekas memberikan penghormatan.


“Ada apa? kau tampak terburu-buru ingin menyampaikan sesuatu.” Kaizen berkata tanpa membuka mata. Sakit kepalanya semakin parah semenjak memikirkan bagaimana cara mengatasi masalah mantan istrinya yang telah dipersunting adik tirinya sendiri.


“Saya baru saja kembali dari perbatasan Selatan, tempat di mana Tuan Klautviz de Meré menjalankan hukuman. Yang Mulia mengutus saya untuk menghadap rekan-rekan ksatria pelindung lain yang menyamar sebagai sipir penjara. Ketika saya tiba di perbatasan selatan, kondisi di sana …” ksatria satu itu tampak berat hati ketika hendak melanjutkan cerita. “ … sangat mengerikan. Para sipir dan tahanan yang ada di penjara kelas berat, semuanya tewas dengan cara mengenaskan.”


Kaizen langsung membuka mata ketika mendengarnya. Begitu pula dengan Kaelus.


“Apa maksudmu?” tanya Kaizen dengan sorot mata menyipit.


“Semua orang telah dibunuh,” jawab ksatria itu. “Hanya saya yang berhasil kembali dengan selamat setelah berpura-pura menjadi salah satu sipir yang tewas mengenaskan. Saat ini wilayah perbatasan selatan telah diambil sepenuhnya oleh organisasi hitam yang dipimpin oleh kaki-tangan Tuan Klautviz.”


“Organisasi hitam?” Kaizen langsung bangkit dari kursi. “Organisasi itu dipimpin oleh kaki-tangan Paman Klautviz?”


“Benar, Yang Mulia. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, pemimpin organisasi hitam memanggil Tuan Klautviz sebagai Kaisar.”


“Sial*n!” Kaizen berseru dengan tangan terkepal yang meninju permukaan meja. “Kaelus, bagaimana bisa informasi ini terlambat sampai ke mejaku?”


“Maaf, Yang Mulia. Pencarian saya terhenti sampai terungkapnya identitas Dokter Christoper von Dyssel. Pada saat itu saya belum menemukan banyak bukti terkait hubungan Dokter Christoper von Dyssel, Klautviz de Meré, dan organisasi hitam yang selama ini menguasai wilayah seberang perbatasan. Seperti yang Anda ketahui, awalnya kita berpikir bahwa pemimpin organisasi hitam adalah salah satu Regent wilayah seberang perbatasan. Rupanya dugaan kita terbukti salah, semenjak Elang Muda Kekaisaran mengungkapkan ada adu domba antara pihak kerajaan dan pihak wilayah seberang perbatasan.”


Kaizen merenungi perkataan Kaelus untuk beberapa saat. Kala itu Kaezar memang berhasil membuat wilayah seberang perbatasan bersatu dengan kerajaan Robelia. Ia juga berhasil mengungkap fakta bahwa selama ini ada pihak yang mengadu domba mereka. Sebagai imbalan atas keberhasilannya, Kaezar kemudian meminta jaminan atas hak dan kewajiban kerajaan Robelia pada wilayah seberang perbatasan serta pemenuhan janji yang Kaizen sepakati bersama Kaezar.


“Yang Mulia, jika saya boleh memberikan saran, sebaiknya saat ini kerajaan menaikkan status keamanan menjadi siaga perang. Sebelum saya kembali ke ibu kota, saya sempat mencuri dengar obrolan para bawahan. Mereka membicarakan soal gerakan gerilya bawah tanah, perebutan wilayah terluar Robelia, sampai pencarian dan penjemputan seseorang yang mereka sebut Putra dan Putri Kaisar.”


Lagi, Kaizen dan Kaelus dibuat terkejut bukan main. Tidak ada yang menyangka jika Klautviz de Meré telah bergerak sejauh ini.


“Tidak ada salahnya untuk menaikkan status keamanan menjadi siaga perang, Yang Mulia.” Kaelus kemudian menimpali. “Akan tetapi, lebih baik jika status ini diberitahukan secara perlahan pada rakyat, supaya tidak menimbulkan gejolak kecemasan. Selain itu, saya juga akan turun tangan langsung pada misi kali ini.”


“Tidak. Lebih baik kau tetap berada di sekitarku,” sahut Kaizen kemudian. “Ada yang harus kau selidiki untukku.”


Kaelus yang tidak bisa menolak titah sang Raja, akhirnya menganggukkan kepala. Kaizen kemudian memerintahkan Kstaria tadi untuk mengumpulkan para petinggi militer serta pemimpin balai ksatria. Pertemuan umum akan segera diselenggarakan untuk membahas pengkhianatan Klautviz de Meré. Secara alami, Kaizen mengesampingkan masalah Kayena dan Kaezar. Ia harus mengutamakan keamanan dan keutuhan wilayah kerajaan Robelia dari tangan para pengkhianat. Status Klautviz de Meré pun secara langsung ditetapkan sebagai buronan kerajaan dan namanya masuk dalam catatan hitam kerajaan.


“Kael, pastikan Katarina dipindahkan ke ruang rahasia secara diam-diam. Keberadaannya dapat dijadikan sebagai senjata untuk melawan Klautviz de Meré.”


“Baik, Yang Mulia.”


“Cari tahu juga apakah dia mengetahui keberadaan kembarannya? Gali identitas kembara Katarina sampai dapat. Jika perlu, gunakan kekerasan agar dia buka mulut.”


Kaelus hendak menyuarakan pendapat, namun urung kerena melihat raut wajah lawan bicaranya yang tidak bisa diajak diskusi.


“Pergilah. Amankan Katarina dan selesaikan tugasmu. Kemudian tugasmu adalah memastikan keselamatan calon pendampingku. Pernikahan harus tetap terlaksana, walaupun perang melanda Robelia,” pesan Kaizen kala itu, sebelum meninggalkan ruangan untuk menghadiri pertemuan. “Keturunanku harus dilahirkan sebelum aku kehilangan nyawa.”


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 26-08-23