How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0082. Khayansar n'a jamais perdu la tête (Khayansar tak pernah habis akal)




Khayansar n'a jamais perdu la tête


(Khayansar tak pernah habis akal)



“Bagaimana kondisinya?”


“Dia sempat berada dalam kondisi vegetatif.”


“Kondisi vegetatif? Itu berarti ada kerusakan dengan fungsi otak?”


“Secara umum kondisi vegetatif memang biasa disebabkan oleh kondisi difusi otak kronis, sehingga seseorang tidak lagi menunjukkan tanda-tanda kesadaran,” sahut pria yang baru saja mengecek kondisi pasien ‘istimewa’ itu untuk ke sekian kalinya.


“Dalam kasus pasien istimewa ku kali ini, terbilang berbeda. Pasalnya, dia sempat berada dalam kondisi vegetatif, di saat kepalanya tidak mengalami cidera sama sekali. Kemungkinan ada indikasi jika kepalanya mengalami cidera akibat terbentur ke lantai.”


“Lalu sekarang kondisinya bagaimana?” tanya pria yang baru saja datang dari Kyen itu. Seharian ia bolak-balik ibu kota Robelia dan Kyen, menempuh perjalanan darat-laut-darat-laut. Itu semua ia lakukan demi menghemat waktu, serta mengumpulkan bukti-bukti. “Sebelum fajar menyingsing, kau harus membawanya keluar dari Robelia.”


“Iya, aku tahu,” sahut pria yang berprofesi sebagai dokter tersebut.


Sesuai permintaan sulung dari keluarga Pexley, masih di hari yang sama, Khan telah mempersiapkan kebutuhan untuk membawa pasien “istimewa” nya ke Edinburgh. Persiapan dilakukan dengan sangat matang, walaupun mereka harus berlomba-lomba dengan waktu. Esok, ketika fajar menyingsing, rencana sulung dari keluarga Pexley itu akan dimulai. Sedangkan Khan sudah harus meninggalkan Robelia bersama pasien “istimewa” nya yang sempat berada dalam kondisi vegetatif atau istilah mudahnya adalah koma.


“Saat ini kondisinya cukup stabil.” Khan menyimpan alat-alat bantu yang digunakan untuk memeriksa pasiennya, sebelum berjalan ke arah sang rekan. “Istirahatlah terlebih dahulu di sini. Aku akan menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar tamu, kemudian menyiapkan makanan untuk mu.”


“Tidak perlu,” tolak Khayansar. “Aku akan menggunakan ruangan ini.”


“Kau bercanda?”


“Kelihatannya?” bukannya menjawab, sulung dari keluarga Pexley itu malah balik bertanya. “Aku menggunakan ruangan ini supaya lebih efisien.”


“Oh, aku paham.” Khan mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda jika ia paham akan maksud Khayansar. “Agar kau bisa sekalian menjaga saksi kunci untuk membongkar kejahatan Selir Agung?”


Khayansar hanya berdeham kecil seraya menyimpan pedangnya di samping tempat tidur yang digunakan untuk membaringkan tubuh ringkih Kyara. Mantan pelayan di kediaman keluarganya itu rupanya tidak banyak berubah, masih memiliki postur tubuh kecil yang tampak ringkih. “Besok kalian akan pergi menggunakan kapal layar yang mengangkut barang-barang ekspor. Orang-orang suruhan ku akan menunggu di dermaga tikus.”


“Hmm, aku mengerti,” sahut Khan. “Sekarang kau istirahatlah dulu, biar aku panggilkan pelayan untuk menyiapkan makanan untuk.”


“Aku tidak lapar.”


“Kau tidak lapar, tetapi tubuh mu butuh makanan untuk memproses , energi” timpal Khan, tidak mau dibantah. Khayansar sudah bolak-balik dari ibu kota ke Kyen, kemudian kembali ke ibu kota dari Kyen. Mungkin ia tidak merasa lapar, namun tubuhnya butuh nutrisi agar tetap berenergi.


Khayansar tidak lagi diberi kesempatan untuk menolak, karena setelah berkata demikian, Khan bergegas pergi. Membiarkan Khayansar beristirahat di tempat tersebut, sebelum esok mengeksekusi rencana mereka yang dibuat secara singkat dan ringkas. Selagi menunggu Khan kembali, Khayansar memutuskan untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu. Ruangan yang digunakan kebetulan adalah kamar tidur tipe luxury yang dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi di dalam ruangan, serta perapian. Kesibukannya belakangan ini, membuat Khayansar begitu sulit untuk mengurus dirinya sendiri. Terkadang ia melewatkan waktu makan, demi menyusun strategi, membangun komunikasi, serta mencari bukti-bukti.


“Makanlah.”


Selesai membersihkan diri, rupanya Khan telah kembali. Meja kayu berkaki tinggi di hadapannya juga telah diisi oleh beberapa jenis makanan sehat yang biasa Khayansar konsumsi. Tidak seperti kebanyakan prajurit yang akan menikmati olahan daging merah pada jam makan tertentu, Khayansar lebih suka menikmati olahan laut, seperti ikan. Terutama pada jam makan siang dan malam. Ia hanya akan makan olahan daging merah di siang hari, terkadang pagi dan ketika mengikuti jamuan makan malam bersama rekan kerja.


Kyen yang merupakan kampung halamannya dianugerahi dengan hasil laut yang melimpah. Semasa masih menjabat sebagai Grand Duke, Khiev de Pexley mengelola penampungan ikan terbesar di dekat dermaga Kyen. Mengetahui bagusnya olahan ikan untuk pertumbuhan anak-anak, sejak kecil Khayansar, Cesare, dan Kayena dibiasakan menikmati olahan laut, terutama ikan, oyster, udang, lobster, dan sebagainya. Sekalipun mengemban tugas sebagai orang tua tunggal sekaligus Mayor Jendral, dan Grand Duke, pria tersebut punya cara tersendiri untuk mengatur tumbuh kembang ketiga anaknya.


“Koki kami punya stok ikan sol dover dan salmon Skotlandia yang segar. Karena tahu kau akan kembali ke sini, aku memintanya untuk dipanggang, kemudian dihidangkan dengan bayam dan zucchini. Ada salad juga sebagai tambahan serat.”


Khayansar yang masih bertelanjang dada berdeham, lalu berucap terima kasih. Ia dan Khan memang teman lama yang sudah mengenal seluk-beluk satu sama lain. Mereka juga satu angkatan ketika mengenyam pendidikan di Royal Acedemy.


“Kau tidak makan?”


“Aku sudah kenyang,” jawab Khan usai memastikan Khayansar mulai menikmati makanannya. “Sebentar lagi kau akan segera memiliki keponakan, kapan kau akan berencana untu berkeluarga?” tanyanya, tiba-tiba.


Saking tiba-tibanya pertanyaan tersebut, Khayansar sampai terbatuk kecil karena tidak menyangka akan mendapat kejutan dari mulut Khan.


“Kau lupa berapa usia mu? Jika benar, biar aku ingatkan …”


“Lebih tepatnya, tiga puluh lima tahun,” tutur Khan. “Dan kau belum memperlihatkan tanda-tanda akan berkeluarga dalam waktu dekat. Apa kau tidak iri pada Adik mu, Cesare? Dia tampak lebih manusiawi semenjak menikahi seorang putri dari Hygria.” Khan kembali melanjutkan.


“Kau sendiri kapan akan serius berhubungan dengan wanita?” balas Khayansar.


Khan tertawa pongah mendengarnya. “Aku akan serius jika wanita itu Adikmu.”


“Ambil pedang mu, kita selesaikan pembicaraan ini dengan duel satu lawan satu.”


Tawa Khan semakin menjadi-jadi. Walaupun berkesan datar dan garing, candaan Khayansar selalu berhasil membuat perutnya dikocok. “Tapi, aku serius soal keinginan untuk mendekati Kayena.”


“Aku juga serius soal duel satu lawan satu.”


Khan tersenyum miring seraya menatap Khayansar yang mulai menikmati ikan sol dover dan salmon Skotlandia panggang yang dihidangkan dengan bayam dan zucchini. “Jika aku boleh tahu, alasannya kenapa?”


“…”


“Kenapa aku tidak boleh mendekati Adik mu? Apa karena aku lebih tua sepuluh tahu darinya?”


“Jika Adikku mencintai mencintai pria yang usianya dua kali lipat darinya sekalipun, aku tidak akan menghalangi.”


“Lalu, masalahnya apa?”


“Karena dia belum selesai dengan masa lalunya,” sahut Khayansar. Ia menghentikan acara makannya barang sejenak, karena Khan tampak begitu penasaran. “Jangan memulai hubungan dengan seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya, Adikku termasuk di dalamnya.”


“Bukan kah sekarang Adik mu berstatus lajang?”


Khayansar mengangguk singkat, sebelum kembali menikmati makanan yang dibuat dadakan oleh koki di kediaman Khan, namun lawan bicaranya masih tampak penasaran.


“Sekalipun hubungan Adikku telah usai, namun masa lalunya belum selesai.”


Bukannya paham, Khan malah semakin dibuat kebingungan. Melihat itu, senyum tipis tersungging di bibir Khayansar. Selesai dengan acara makannya, ia membenahi sendiri alat makan yang kotor. Mengumpulkan jadi satu, sebelum dibawa ke sebuah meja. Biasanya pelayan yang nanti akan mengambilnya.


“Jangan mengejar Adikku,” ujarnya lagi, kali ini terdengar seperti peringatan. “Jauh sebelum kau tertarik pada Adikku, sudah ada orang lain yang menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk kebahagiaan Adikku. Sekarang adalah waktunya orang itu membuat Adikku yakin padanya.”


Setelah berkata demikian, Khayansar kembali membenahi penampilannya. Ia lantas berjalan ke tempat di mana ia menyimpan pedangnya, dengan pandangan tertuju pada tubuh ringkih yang teronggok di atas tempat tidur.


“Khan.”


Pemilik nama tersebut yang sempat dibuat bertanya-tanya, menyahut dengan singkat. “Ada apa?”


“Ada tugas tambahan untuk mu.”


“Apakah itu?” Khan bertanya dengan raut wajah bingung.


“Sebelum fajar menyingsing, aku membutuhkan jasad wanita yang memiliki tubuh sama persis seperti dia.”


Khan menoleh, tampak meneliti barang sejenak. Beberapa saat kemudian, ia mengangguk dengan antusias. “Tenang saja. Aku masih menyimpan jasad wanita di lab. Kemungkinan besar ada yang memiliki proporsi tubuh sama dengannya.”


“Bagus,” ucap Khayansar dengan seringai misterius tercipta di bibirnya. “Semua telah dipersiapkan dengan matang. Besok tinggal memancing mereka semua datang, agar masuk ke dalam perangkap."


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT dulu di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 11-07-23