
00113. L'échelle incommensurable de l'amour (Skala cinta yang tidak dapat diukur)
Biasanya Kayena tidak pernah punya waktu luang untuk menikmati keindahan langit senja di sore hari, apalagi semenjak ia memasuki istana. Kegiatan sehari-harinya benar-benar padat, mulai dari kelas aristokrat, kelas tata krama, kunjungan sosial, mengunjungi tempat-tempat tertentu, menghadiri undangan pesta atau pertemuan organisasi, mendampingi pasangannya, mengatur masalah keuangan internal istana, dan banyak lagi kegiatan yang mengisi waktunya selama 24 jam bergulir.
Semenjak menjadi seorang Ratu, sore hari akan dihabiskan Kayena dengan pekerjaan yang masih menumpuk di meja kerja miliknya. Jika tidak, sore hari akan diisi dengan kegiatan afternoon tea party yang diselenggarakan oleh para Senora atau Senorita dari kalangan bangsawan. Jarang, bahkan hampir tidak ada waktu luang untuk menikmati keindahan bias cahaya kuning serta oranye yang menghiasi langit, ketika waktu mata hari tenggelam telah tiba.
Hingga datang masa kini, di mana ia dapat dengan bebas menikmati keindahan senja yang menghiasi langit sore di Astoria. Ada danau yang langsung melintasi area dalam dan luar istana, dilengkapi wilayah yang masih asri, tampak ditumbuhi rumput hijau yang subur serta bunga-bunga liar dengan berbagai warna. Tempat yang indah dan tampak tidak nyata ini juga dipercayai sebagai tempat tinggal mahluk magis seperti peri serta elf elemen cahaya.
“Sudah melihatnya?”
Sadar jika ia tidak sendirian menikmati keindahan yang Tuhan lukiskan di langit, wanita cantik itu segera menolehkan kepala. Dari visual wajah rupawan yang meyakinkan dirinya jika sosok yang dirindukan benar-benar telah hadir dalam visual nyata. Setelahnya, ia turun ke tautan tangan yang terjalin di antara mereka. Menciptakan rasa hangat yang sudah lama didambakan.
“Wajah mu pucat sekali. Kita kembali ke dalam? Kamu harus banyak istirahat.”
Wajah cantik itu memang masih agak pucat, namun aura kehidupan terpancang lebih nyata dari sebelumnya. Senyum juga tidak absen dari bibir ranumnya. “Sebentar lagi,” katanya seraya mengalihkan pandangan ke depan. “Mataharinya akan segera tenggelam. Tunggu sebentar lagi.”
Pria yang berdiri di sampingnya menjawab dengan anggukan kecil, kemudian ditambah dengan kecupan hangat di pucuk kepala wanita terkasihnya. Di saat wanita itu menikmati keindahan matahari yang akan tenggelam, ia tetap fokus merekam setiap ekspresi yang tergambar di wajah cantik kekasihnya. Sesekali kecupan ringan ia jatuhkan di pelipis atau pucuk kepala. Rotasi waktu di antara mereka seperti berjalan lebih lambat, ketika lebih banyak waktu yang mereka habiskan bersama.
“Kamu nyaman selama tinggal di sini?” pertanyaan itu dilontarkan Kaezar ketika mereka berdua berjalan berdampingan menuju paviliun Yeowang-ui bang. Langit sudah mulai gelap, karena matahari telah menyelesaikan tugasnya.
Sebagai jawaban, kekasihnya tampak memberikan anggukan kepala. “Kaisar Kaysan memperhatikan kebutuhan ku dengan baik, supaya aku merasa nyaman selama tinggal di sini.”
“Baguslah jika kamu tidak kesulitan selama tinggal di sini,” sahut Kaezar seraya membantu sang kekasih menaiki undakan tangga yang terbuat dari bebatuan alam. “Aku dengar masa-masa awal kehamilan merupakan masa-masa yang sangat sulit. Apa selama kamu tinggal di sini, kamu mengalami kesulitan karena efek masa awal kehamilan?”
Kayena sejatinya takjub. Sosok yang ia kenal irit bicara dan suka berkata seperlunya, sekarang jadi easy to talk. Mudah sekali membangun komunikasi dengan kekasih tampannya, padahal ini bukan tipikal kekasihnya sekali.
“Tidak ada kesulitan yang terlalu berarti, cuma gangguan nafsu makan, mual, dan muntah. Dokter bilang itu adalah gejala yang umum dialami oleh wanita hamil manapun.”
“Tapi, kamu sempat sakit parah sebelum aku datang?” tebak Kaezar dengan netra elangnya yang menatap lurus ke arah sang kekasih. “Kamu kelihatan kehilangan banyak berat badan.”
Kayena tersenyum tipis seraya menggenggam tangan Kaezar lebih erat. “Itu karena aku merindukan kamu.”
“…”
“Aku cemas karena mendengar kabar kamu dari surat yang ditulis oleh Kakak. Aku berpikir bahwa kamu mengalami kesulitan, sehingga berkemungkinan tidak dapat menjemput ku ke Astoria.”
Tanpa banyak kata, Kaezar membawa sang kekasih kembali ke dalam pelukan. Ini adalah pelukan ketiga mereka setelah bertemu kembali. Sebelum berpisah—Kayena dikirim ke Castil Putih dan Kaezar dikirim ke wilayah perbatasan—Kaezar juga telah mencuri satu pelukan dari sang kekasih. Sekarang, selama tidak ada batasan jarak di antara, ia bisa memeluk kekasihnya kapan saja. Apalagi ketika sang kekasih butuh pelukan hangat seperti saat ini.
“Maaf karena telah membuat kamu cemas.” Kaezar berkata seraya melonggarkan pelukan mereka. Kini mereka sudah berada di Yeowang-ui bang. “Kedepannya aku tidak akan meninggalkan kamu lagi.”
“Aku pegang janji kamu, Pangeran.” Kayena menautkan jari kelingking mereka, membuat simbol finger promise.
“Sekarang aku bukan lagi seorang Pangeran,” kata Kaezar seraya menyentuh wajah cantik kekasihnya. “Aku hanya seorang tentara Angkatan Laut yang memutuskan untuk pensiun dini.”
“Kamu …”
“Kamu keberatan jika calon ayah dari bayi kita adalah seorang tentara Angkatan Laut yang sudah pensiun? Bukan lagi seorang Pangeran, Archduke, atau pemimpin pasukan khusus.”
Kayena segera menggelengkan kepala. Bukan itu yang mengejutkan dirinya, melainkan keputusan Kaezar untuk melepaskan segala-galanya.
“Aku tidak menyesal, jika itu yang ingin kamu tanyakan. Keputusan ini aku ambil dalam keadaan sadar.” Kaezar mengerti keterkejutan sang kekasih hati. Oleh karena itu, ia menjelaskan terlebih dahulu ketika kekasihnya masih terpaku. “Tidak ada yang aku inginkan lagi di dunia ini, selain hidup bersama kamu.”
“Kamu …melepaskan segalanya karena ingin bersama aku? Wanita yang pernah menikah dengan saudara tirimu. Bahkan sekarang aku—“
“Sssstt!” potong Kaezar seraya menyimpan jari telunjuknya di depan bibir ranum sang kekasih. “Siapa bilang kamu boleh merendahkan diri kamu sendiri?”
“…”
“Tapi, bagaimana bisa kamu melepaskan segalanya demi aku?” tangis Kayena semakin menjadi. Relung hatinya terguncang, Mengetahui fakta bahwa pria di hadapannya telah rela melepaskan segalanya demi bersama dengan dirinya—mantan istri dari kakak tirinya sendiri yang saat ini tengah dua. Demi Tuhan, ketulusan macam apa yang ingin dipersembahkan kekasihnya?
“Karena aku mencintai kamu.”
Kayena kembali terdiam. Bibirnya tertutup. Hanya air mata yang masih mengalir sebagaimana mestinya.
“Aku sangat mencintai kamu. Aku ingin hidup bersama kamu. Di dunia ini, tidak ada lagi yang aku inginkan, kecuali hidup bersama kamu sebagai pasangan suami-istri.”
Bukannya senang mendengar pengakuan tersebut, Kayena malah kian tersedu-sedu. Dengan kepalan tangan yang tidak terlalu bertenaga, ia memukul dada bidang kekasihnya beberapa kali.
“Apa harus sampai seperti ini kamu berkorban untuk bisa bersama ku?”
“Tentu saja,” balas Kaezar tanpa keraguan. Dengan lembut ia menangkap kedua tangan sang kekasih, kemudian dengan gerakan lembut membawanya melingkar ke belakang leher sendiri. “Kamu adalah satu-satunya wanita yang dapat membuat aku jatuh cinta tanpa merasa jijik setiap kali kita melakukan kontak fisik. Bagaimana mungkin aku akan melepaskan kamu, ketika Tuhan sendiri telah memberikan jalan untuk kita bersama?”
“Tetap saja, kamu terlalu banyak berkorban agar bisa bersama ku,” dumel Kayena dengan air mata yang sudah mulai menyusut. “Untuk kedepannya, jangan lagi bertindak bodoh hanya karena aku.”
Kaezar tersenyum lembut seraya merengkuh pinggang ramping sang kekasih. “Aku tidak bodoh, hanya terlalu mencintai kamu.”
“Dasar pria bodoh ku,” ejek Kayena sebelum kembali menghambur pada pelukan sang kekasih. Kali ini ia membiarkan wajah cantiknya bersembunyi di perpotongan antara bahu dan leher. “Kamu selalu sulit ditebak,” bisiknya dalam posisi tersebut.
Kaezar sendiri memeluk balik sang kekasih, tanpa membuat wanita cantik itu merasa sesak atau tidak nyaman. Secara tidak langsung, pelukan ini melibatkan tiga nyawa. Salah satunya masih berupa embrio berukuran super mungil, namun sudah merasakan besarnya cinta dari orang-orang yang mengasihi ibunya.
“Setelah sampai di tempat tinggal baru kita. Ayo kita menikah? Biarkan aku mengambil tanggung jawab sepenuhnya sebagai pria yang mencintai kamu.”
“…”
“Kenapa diam saja? kamu tidak bersedia menerima lamaran ini karena sangat mendadak?” tebak Kaezar, karena sang kekasih hati tidak lekas menjawab.
Walaupun hubungan mereka belum diberi nama, akan tetapi Kaezar ingin segera membawa Kayena ke jenjang yang lebih serius. Ia tulus mencintai Kayena. Bukti dari keseriusannya adalah dengan cara menikahi sang kekasih hati secepat mungkin,
“Baik.” Kayena tiba-tiba menjawab. Wajah cantiknya sudah terangkat. Kini sepasang matanya menatap lembut ke arah Kaezar. “Sebelum itu, mintalah restu terlebih dahulu dari Ayah dan saudara-saudara ku jika kamu ingin menikahi aku.”
“Soal restu, kamu tidak perlu risau,” balas Kaezar dengan senyum hangat yang masih tersungging. “Ayah dan para Kakak sudah memberikan restu jika Adiknya setuju menikah dengan pria miskin ini.”
Kayena menggelengkan kepala lagi. Membuat lawan bicaranya mengernyitkan kening. “Bagiku, kamu justru sangat kaya.”
“Kaya?”
Kayena mengangguk seraya mengikis jarak di antara mereka. “Iya. Kaya akan cinta dan kasih sayang untukku dan bayi yang aku kandung,” bisiknya. Tepat di depan wajah sang kekasih. Setelah berkata demikian, ada senyum lepas yang tercipta di bibirnya. “Terima kasih karena telah cintai ku. Aku harap bisa segera membalas cinta mu sama besarnya.”
Setelah berkata demikian, wanita hamil berwajah cantik itu merangkum jarak di antara mereka. Mempertemukan dua labium lunak untuk saling menyapa pertama kalinya. Ada kesiap keterkejutan, namun mudah sekali dinetralisir oleh kekasihnya yang baru pertama kali terlibat kontak fisik intim dengan lawan jenis. Namun, bersama Kayena, Kaezar bisa dengan mudah menerima atau melakukan kontan fisik apapun yang tidak pernah sudi ia lakukan dengan wanita lain. Instingnya sebagai seorang pria mampu bekerja dengan baik, sekalipun ia tidak pernah punya pengalaman tentang hubungan asmara dengan seorang wanita.
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 19-08-23