
00125. Pariez sur une paire d'humains toxiques (Taruhan sepasang manusia toxic)
Aroma harum khas bunga anyelir begitu memanjakan indra penciuman ketika Kaizen memasuki satu-satunya master room di istana Ratu. Aroma harum yang diciptakan khusus untuk wanita Raja itu berasal dari perfume house tertua di kerajaan Robelia. Perfume house tersebut membuat parfum berdasarkan referensi wewangian favorit mantan istrinya yang menyukai aroma floral, seperti bunga, buah, serta beberapa jenis tumbuhan tertentu. Salah satu aroma yang kemudian dijadikan referensi adalah wewangian white rose serta bunga anyelir. Maka tak heran jika parfum yang diperuntukkan untuk wanita Raja sangat mencerminkan positif vibes si pengguna.
“Aroma parfum kesukaan mu tidak pernah berubah.”
Gumamam itu terdengar ketika Kaizen menghirup dalam-dalam aroma harum yang berasal ruangan yang dulu menjadi tempat tinggal istri sekaligus pendampingnya. Aroma floral yang mengingatkan ia pada setiap sudut floral garden di jantung kerajaan Robelia.
“Aroma floral yang memabukkan,” tambahnya lagi.
Dahulu, setiap aroma wewangian ini tercium, pasti mewakili kehadiran wanita cantik yang telah melahirkan mendiang Putra Mahkota kerajaan Robelia. Namun, sekarang aroma harum ini hanya tersisa sebagai bentuk kenang-kenangan terhadap sosok yang pernah mengisi posisi Ratu.
“Aku rindu sekali kepada mu.”
Suara kecil milik Raja Robelia kembali terdengar ketika ia berjalan ke arah sebuah lukisan. Lukisan berukuran besar itu mencetak gambar mantan istrinya yang dikelilingi oleh bunga Lobelia—bunga nasional sekaligus lambang kerajaan Robelia. Di ruangan ini sebenarnya ada lukisan lain yang mencetak wajah cantik mantan istrinya, namun lukisan ini lah yang sangat mempesona, karena di sini mantan istrinya mengumbar senyum lepas.
“Kamu pergi kemana, Kayena?” tanyanya pada lukisan tersebut. Walaupun ia tahu jika pertanyaan itu tidak akan pernah mendapatkan jawaban. “Pada akhirnya, kamu yang dulu selalu mencintaiku, kini berpaling dan pergi jauh dariku. Meninggalkan aku seorang diri di tempat yang mengerikan ini.”
Hening. Tidak respon apapun yang Kaizen dapatkan dari ruangan yang hampir dua bulan kosong. Hanya aroma Kayena yang tertinggal di sana, lengkap dengan barang-barang yang biasa digunakannya. Kaizen memang sengaja melarang pelayan merubah apapun yang ada di dalam kamar Ratu, termasuk tata letak semua benda-benda di dalamnya. Ia juga melarang siapapun masuk ke istana Ratu, kecuali orang-orang yang sudah ditunjuk untuk merawat dan membersihkan tempat ini.
“Aku kesulitan mencari keberadaan mu,” ujar Kaizen seraya berjalan ke arah tempat tidur.
Tanpa pikir dua kali, ia kemudian merebahkan punggung di atas permukaan lembut tersebut. Menatap nyalang ke arah langit-langit yang dihiasi oleh lukisan para Goddess. Suara deburan ombak yang bertemu dengan bebatuan di lepas pantai, mengisi keheningan di tempat yang kehilangan sumber kehidupan lagi, setelah wanita cantik itu pergi. Suasananya mengingatkan Kaizen ketika ia kehilangan ibunya secara tiba-tiba. Membuat tempat paling indah di istana Ratu ini, kehilangan sumber kehidupan bersama dengan kepergian sang pemilik untuk kedua kalinya.
“Aku akan membawa mu kembali,” ucap Kaizen, berjanji pada dirinya sendiri. “Aku pasti akan membawa mu kembali ke tempat ini, sekalipun hubungan kita sudah tidak dapat diperbaiki.”
Kaizen telah berjanji untuk menjaga Kayena. Janji itu telah ia buat bersama mendiang ibunya. Janji yang sama juga pernah diucapkan Kaizen kecil, sekitar 20 tahun lalu di depan tempat peristirahatan mendiang istri Grand Duke Pexley yang terletak di Kyen. Kaizen telah berjanji pada dua orang wanita hebat, bahwa ia akan selalu menjaga Kayena de Pexley selama napasnya masih berhembus.
“Yang Mulia.”
Kaizen membuka kedua kelopak matanya, ketika sayup-sayup terdengar suara tangan kanannya dari balik pintu. Padahal ia baru saja hendak memasuki alam mimpi, ditemani aroma harum khas mantan istrinya. Panggilan kedua terdengar, membuatnya mau tak mau harus segera beranjak. Lantas membukakan pintu.
“Ada apa?” tanyanya pada tangan kanannya yang benar-benar telah berdiri di depan pintu.
“Maaf menganggu waktu istirahat Yang Mulia. Ada informasi penting yang harus saya sampaikan.”
“Informasi mengenai siapa?” tanya Kaizen seraya menutup pintu kamar mantan istrinya. Kakinya kemudian berjalan ke luar dari istana Ratu.
“Selir tingkat IV dan Dowager Duchess Caecilia.”
Langkah kaki Kaizen sempat tertunda akibat dua nama wanita yang baru saja dilontarkan oleh tangan kanannya. “Selir tingkat IV dan Dowager Duchess Caecilia? Ada apa dengan mereka? bukankah aku sudah mengatakan kepada mu untuk membatalkan kunjungan ke tempat wanita itu? Dowager Duchess Caecilia juga sudah tiba dengan selamat di hotel Serenity bukan?”
“Benar, Yang Mulia. Namun, saya baru saja mendapatkan informasi bahwa Selir tingkat IV telah mendatangi hotel Serenity.”
“Maksud mu?” bingung Kaizen. “Bukan kah aku melarang wanita itu keluar istana tanpa izin?”
Kaelus mengangguk. “Selir Katarina rupanya pergi secara diam-diam untuk bertemu Dowager Duchess Caecilia.”
Mendengar informasi tersebut, Kaizen langsung menghela napas kasar. “Dari mana wanita itu tahu soal Caecilia?”
“Kemungkinan besar Selir tingkat IV mengetahui kedatangan Dowager Duchess Caecilia ke istana, kemudian berpikir bahwa Dowager Duchess Caecilia adalah salah satu kandidat kuat yang akan menjadi istri Anda.”
Kaizen menyetujui opini Kaelus. Kemungkinan besar wanita itu mengetahui kedatangan Dowager Duchess Caecilia tanpa sengaja, kemudian berpikir bahwa Dowager Duchess Caecilia adalah salah satu kandidat kuat untuk menjadi calon pendamping Kaizen.
“Belakangan ini wanita itu sudah cukup jinak,” lirih Kaizen seraya kembali melanjutkan langkah. “Sekarang dia malah kembali berulah.”
Di belakangnya, Kaelus ikut melangkah, mengikuti sang Raja yang tampak marah akan tindakan wanitanya.
“Apa yang wanita itu bicarakan dengan Caecilia? Apa kau mengetahuinya?”
“Saya kurang tahu, Yang Mulia,” jawab Kaelus. “Namun, menurut prediksi saya pribadi, Selir tingkat IV pasti membicarakan perihal posisi pendamping Anda.”
Kaizen terdiam. Tidak langsung merespon, karena ucapan Kaelus membuatnya ingat akan karakter wanita yang selama ini menjadi kekasihnya. Wanita itu pasti tidak akan tinggal diam jika miliknya hendak dimiliki oleh wanita lain. Ia juga tidak akan tinggal diam ketika posisinya terancam.
“Kaelus, pergilah ke hotel Serenity. Pastikan kondisi Caecilia dan putranya baik-baik saja. Aku tidak mau mereka berada dalam bahaya karena Katarina.”
Kaelus segera mengangguk, mengiyakan perintah sang Raja. “Saya akan segera pergi untuk memeriksa kondisi Dowager Duchess Caecilia dan putranya, Yang Mulia.”
“Tetap berjaga sampai Caecilia dan rombongannya meninggalkan Robelia. Kemudian perintahkan satu unit pasukan khusus untuk mengawal perjalanan mereka sampai tiba di tujuan.”
“Baik, Yang Mulia.”
“Satu lagi,” tambah Kaizen sebelum mengambil langkah ke arah kanan—menuju paviliun Selir tingkat IV. “Minta pengawal tambahan untuk berjaga di sekita paviliun Selir tingkat IV. Malam ini aku akan berada di sana. Jaga izinkan siapapun keluar-masuk arena tersebut selama aku masih ada.”
“Baik, Yang Mulia.”
Setelah memberikan perintah, Kaizen bergegas pergi seorang diri menuju paviliun tempat kekasihnya tinggal. Letaknya berada area Harem istana bagian paling ujung, dekat sebuah tebing curam yang menyuguhkan pemandangan indah berupa laut lepas dan luasnya langit. Di sekitar paviliun dibangun dinding super kokoh, supaya tidak ada penjahat atau penyusup yang dapat keluar dan masuk dengan mudah. Harem istana yang dibangun untuk menampung para wanita Raja memang diberi keamanan tingkat tinggi. Namun, semenjak beberapa generasi kepemimpinan, harem istana dikosongkan, terutama pada masa kepemimpinan Raja Klein Alexander Kadheston serta Kaizen.
Ayah dan anak itu sama-sama tidak memiliki banyak selir dengan alasan berbeda. Jika situasi dan kondisi yang tidak mendesak, Klein Alexander Kadheston mungkin tidak akan memiliki istri kedua selama hidupnya. Walaupun banyak wanita yang ingin menjadi selirnya, Raja Klein Alexander Kadheston tetap setia pada istri pertamanya. Beda dengan sang putra yang memilih mengambil satu selir di tahun yang sama setelah resmi menikah. Alasannya ketika mengambil Katarina terdengar sangat egois, karena ia memiliki hasrat yang tinggi. Katarina adalah perantara yang dirasa cocok untuk melampiaskan hasrat, karena Kaizen tidak tega melakukannya pada istri tercintanya.
Sekarang, Kaizen malah menempatkan kekasihnya di paviliun yang sudah lama kosong. Selain itu, Harem ini juga kosong melompong semenjak beberapa puluh tahun ke belakang. Walaupun tetap terjaga dan terpelihara, Kaizen tidak dapat memungkiri memungkinkan bahwa kekasihnya pasti kesepian selama tinggal di sini.
“Katarina!”
Seruan itu adalah hal pertama yang keluar dari mulut Kaizen ketika ia memasuki tempat tinggal kekasihnya, tanpa mengumumkan kedatangan terlebih dahulu. Oleh karena itu, si empunya ruangan tampak tidak menyadari kehadirannya.
“Berhenti minum, Katarina.”
Wanita bertubuh mungil itu tampak kacau ketika Kaizen menemukannya. Duduk di bawah temaramnya lampu, ditemani oleh botol-botol anggur yang diproduksi oleh pabrik anggur langganan keluarga kerajaan.
“Semenjak saya merasa kehilangan perhatian dari kekasih saya.”
Kaizen tertegun mendengarnya. “Siapa yang tidak memperhatikan mu?”
“Kekasih saya adalah Anda, Yang Mulia.” Katarina menjawab dengan wajah merah. Jelas sekali jika banyaknya kandungan alkohol yang telah ditenggak, membuat kesadarannya tersisa setengah. “Anda tidak lagi memperhatikan saya semenjak wanita itu mengkhianati Anda.”
“Kayena tidak mengkhianati ku,” bantah Kaizen. “Akulah yang mengkhianatinya sejak awal,” lanjutnya di dalam hati. Ia kemudian kembali menatap wajah kekasihnya yang malam ini tampak polos dari riasan.
Pemandangan tersebut membuat Kaizen merasa dilemparkan pada masa lalu. Masa-masa dimana ia baru pertama kali berjumpa dengan Katarina di manor keluarga Pexley. Kepribadiannya yang polos, lugu, serta ceria, tampak mencolok di antara pelayan muda lainnya. Tubuh mungilnya juga selalu mencuri perhatian, karena selalu berada tidak jauh di sisi putri keluarga Pexley. Namun, setelah beberapa tahun mereka lewati sebagai pasangan kekasih yang berawal dari hubungan terlarang, ada banyak hal yang membuat kepribadian mereka berdua berubah.
“Untuk apa kamu mendatangi Caecilia?” tanya Kaizen kemudian.
Di hadapannya, Katarina tampak menatapnya dengan sepasang mata coklat yang mulai kosong.
“Untuk memperingati janda beranak tiga itu supaya tidak merebut posisi pendamping Matahari Kekaisaran.”
“Jaga ucapan mu.”
“Kenapa? Bukan kah saya benar? Janda itu masuk ke dalam daftar calon pendamping Anda ”
Kaizen menghela napas kasar mendengarnya. Ternyata dugaan Kaelus benar. Katarina menemui Caecilia karena masalah pendamping Matahari Kekaisaran, alias pendampingnya di masa depan. Singkatnya, Katarina bertindak gegabah seperti itu karena cemburu. Tidak mau posisinya kembali tergeser oleh kehadiran sosok baru.
“Kenapa kau bertindak sejauh ini?”
Kaizen sebenarnya lelah. Kedatangan Caecilia telah menamparnya secara tak kasat mata. Wanita yang sejak dulu ia sayangi seperti saudari sendiri, kini telah membenci dirinya. Ia semakin jauh dari orang-orang yang memiliki perasaan tulus kepadanya, mulai dari Kayena, hingga Caecilia.
“Tidak bisakah kau tetap diam di sisiku tanpa berulah? Aku sudah mempertimbangkan segalanya untuk kebaikan kita bersama.”
“Tidak.” Katarina menggelengkan kepala dengan cepat. Ada penolakan yang jelas tergambar di wajahnya. “Anda menjauhi saya semenjak wanita itu memutuskan untuk melepaskan Anda.”
“Karena berpisah dengannya tidak pernah ada dalam bayangan ku.”
Di ambang batas kesadaran, Katarina masih dapat mencerna ucapan Kaizen. Keretakan hubungan mereka terjadi semenjak Kayena mengutarakan keinginan untuk berpisah dengan Kaizen. Semenjak resmi berpisah, hubungan Katarina dan Kaizen bukannya membaik, malah semakin memburuk. Kaizen bahkan berani main tangan pada Katarina yang notabene wanita yang berhasil menaklukkan nafsu binatangnya.
“Anda tidak ingin berpisah dengannya, namun tetap main gila bersama saya? Kedengarannya brengs*k sekali bukan?”
Kaizen mengeratkan cengkraman pada dagu Katarina. “Jaga bicara mu. Kau sendiri tergila-gila pada pria yang baru saja kau sebut brengs*k!”
“Ya. Saya tergila-gila karena jatuh cinta pada Anda. Akan tetapi, Anda tidak pernah membalas cinta saya sama besarnya.”
“Cintaku hanya tersedia untuk satu wanita,” balas Kaizen seraya membawa Katarina ke arah ranjang. “Kau tahu dengan jelas siapa wanita yang aku maksud.”
“Lalu apa yang saya dapatkan dari Anda?”
Kaizen tersenyum miring. “Tubuhku,” balasnya dengan santai. “Hatiku sudah memilih tuannya.”
Katarina merasa kecewa? Jelas. Namun, ia tidak pernah bisa marah kepada pria yang dicintainya. Kenyataan bahwa hati kekasihnya adalah milik wanita lain, seharusnya terdengar biasa saja di telinganya. Entah mengapa, kali ini ia merasa tidak terima. Padahal wanita itu sudah bukan istrinya, namun ia tetap gagal merebut hati kekasihnya.
“Jika tubuh Anda milik saya, jangan biarkan wanita lain mendapatkan kesempatan untuk menikmati tubuh Anda.” Katarina berkata seraya melingkarkan kedua tangannya di belakang leher sang kekasih. “Tarik kembali keputusan untuk mencari pendamping baru. Saya bisa memuaskan Anda dia atas ranjang. Saya juga bisa mengandung pewaris untuk kerajaan. Masalah tugas umum seorang Ratu, saya juga akan belajar lebih giat supaya bisa mengerjakannya dengan baik.”
Kaizen menghela napas mendengar permintaan kekasihnya. Muluk-muluk sekali. Mengingat hampir semua permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi. Pertama, ia butuh pion tambahan. Mengangkat satu pendamping dapat membantu memperkokoh kekuasaannya. Dari hubungan yang nantinya terjalin juga akan membawa relasi serta sekutu baru.
Kedua, Katarina memang mampu memuaskannya di atas ranjang. Namun, itu dulu, bukan sekarang. Bukannya nafsu, untuk saat ini, Kaizen malah tidak selera sama sekali. Seolah-olah nafsu birahi yang ia miliki tidak dapat on jika bersamanya. Entah kenapa alasannya, yang jelas setelah malam itu, Kaizen selalu mual jika melakukan sentuhan fisik terlalu jauh dengan Katarina.
Ketiga, Katarina belum tentu dapat mengandung, karena selama ini Kaizen mempersiapkan pelindung dengan matang. Alhasil, sekalipun dulu mereka giat berhubungan badan, tidak terjadi kehamilan. Berbeda dengan Kayena yang hanya beberapa kali melakukan hubungan badan, namun bisa langsung mengandung. Kaizen tidak membatasi diri, malah mengupayakan yang terbaik agar benihnya dapat tumbuh di ladang yang seharusnya.
“Saat ini yang aku butuhkan adalah dukungan tambahan untuk memperkuat kekuasaan ku.” Kaizen berkata seraya mengangkat tubuh kecil kekasihnya ke dalam gendongan. Berjalan dengan segera ke arah ranjang. “Jika kamu tidak dapat memberikan semua itu, maka aku akan mendapatkannya dari orang lain. Termasuk soal pewaris. Jangan lupa bahwa aku bisa tidur dengan wanita manapun yang aku mau.”
“Saya bisa memberikannya pada Anda.”
Ketika Kaizen menurunkan Katarina di atas ranjang, wanita itu malah menariknya, sehingga mereka jatuh bersama.
“Malam ini ... Biarkan saya melepas rindu dengan tubuh Anda.”
“Tidak.” Kaizen menolak bukan tanpa alasan. Saat ini saja ia sudah merasa mual karena mencium aroma rose dari parfum yang digunakan oleh Katarina.
“Kenapa tidak? Saya merindukan Anda. Apa Anda juga tidak merindukan tubuh saya?” Katarina dengan kesadaran yang tinggal setengah secara tiba-tiba mengelus rahang kokoh Kaizen yang berada di atas tubuhnya. “Dulu Anda selalu kecanduan tubuh saya. Sampai-sampai rela membuat Ratu menunggu semalam.”
Kaizen menggeram tertahan ketika diingatkan dengan salah satu contoh perilaku brengs*knya.
“Anda yakin tidak menginginkan saya setelah sekian lama kita tidak tidur bersama?” goda Katarina seraya menurunkan satu tangannya, sampai ke dada bidang Raja Robelia.
“Coba saja semampu mu,” ujar Kaizen tiba-tiba. “Jika berhasil membuatku menginginkan dirimu, maka aku akan menunda pemilihan pendamping.”
Katarina tersenyum senang. Dalam hitungan detik, menggunakan kedua tangannya yang kecil, ia berhasil membuat Kaizen berada di bawah tubuhnya. “Tepati janji Anda, jika saya berhasil membuat Anda kecanduan seperti biasa,” ujarnya penuh percaya diri seraya duduk di atas perut Kaizen.
“Do it.” Kaizen memberi izin. “Jika kau gagal, Minggu depan aku akan membawa seorang Lady untuk dijadikan pendamping, dan jangan berharap bisa menghalangi keputusan ku.”
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 08-08-23