
00157. Les négociations sont payantes, échange d'informations (Negosiasi dibayar pertukaran informasi)
“Kau gila?”
Ketika kalimat itu yang dilontarkan Kaizen sebagai respon, Killian sudah bisa menebaknya. Ia pasti dicap gila karena menawarkan kepala ayahnya sendiri. Anak waras mana yang tega menawarkan kepala ayahnya sendiri? tentu saja anak waras di luar sana, selain Killian. Toh, semenjak lahir pada kehidupan ini, tidak ada rasa sayang yang tersisa untuk ayahnya, kecuali untuk kembarannya.
“Saya masih cukup waras dengan apa yang baru saja saya tawarkan.” Ia kemudian berkata seraya menyimpan kembali pedangnya di belakang tubuh. Tanpa menunggu izin Kaizen, ia segera mendekati Katarina. Hendak membawa wanita itu pergi.
“Aku belum mengatakan setuju denganmu,” kata Kaizen, memperingati.
“Apa lagi yang Anda inginkan darinya?” kali ini Killian berkata dengan jengah. Ia mulai enggan menunggu keputusan dari sang raja Robelia. “Anda tidak menginginkannya lagi. Apa Anda masih ingin menyiksanya?”
Kaizen menggelengkan kepala dengan keras. “Aku tidak akan menyakitinya lagi. Berapa kali aku harus mengatakannya.”
“Akan lebih baik jika kalian berpisah,” tukas Killian. “Satu lagi, informasi penting yang saya miliki akan sangat berguna bagi Anda. Jika Anda masih kukuh untuk menghalangi saya membawa Katarina pergi, jangan salahkan saya jika menggunakan kekerasan.”
“Kau pikir aku takut dengan gertakanmu?”
“Dan Anda pikir saya tidak melakukan persiapan dengan matang sebelum menerobos masuk ke tempat ini?” Killian membalikkan pertanyaan. “Dengan kemampuan saya serta kondisi Anda saat ini, dalam hitungan detik, saya bisa membuat nyawa Anda berpindah dimensi.”
Kaizen ketakutan? Tentu saja tidak. Namun, gertakan Killian bukan jenis gertakan yang tidak berbobot. Walaupun belum menunjukkan skill-nya sebagai ahli pedang ganda atau ambidextrous, Kaizen sudah bisa mengukur jika ia akan kalah telak jika terlibat perkelahian dengan kondisi kurang prima. Kaelus yang berjaga di luar sana juga berkemungkinan besar dikalahkan oleh Killian.
Kaizen tidak boleh mati dalam kondisi seperti ini. Ada Negara dan rakyat yang harus ia lindungi. Namun, ia juga berat hati ketika harus melepaskan Katarina. Ia bahkan belum meminta maaf pada ibu dari mendiang putri kecilnya itu. Selain Kayena, Katarina adalah wanita yang telah lama berperan dalam hidupnya. Ia memang tidak jatuh cinta pada Katarina, tetapi bukan berarti ia tidak pernah peduli padanya.
“Putuskanlah, Yang Mulia. Saya tidak memiliki banyak waktu.”
Kaizen kembali menatap Killian. “Ke mana kau akan membawanya pergi? Apa kau yakin bisa memberinya kehidupan yang lebih layak?”
“Ke tempat yang sangat jauh dari Robelia,” jawab Kaizen. “Saya hanya bertahan hidup untuk dua orang di dunia ini. Salah satunya adalah dia. Tanpa Anda ingatkan, saya akan mencukupi kebutuhannya tanpa terkecuali.”
Kaizen menghela napas kasar. Sepertinya Killian adalah lawan bicara yang tidak main-main dengan ucapannya. Pria yang lebih muda harinya itu tampak bersungguh-sungguh.
“Aku memang tidak mencintainya sedikit pun. Tapi, aku menghargainya sebagai ibu dari mendiang putri kecilku.”
“Anda tidak salah bicara?” respon Killian. “Anda baru menghargai kembaran saya setelah membuatnya menderita serta kehilangan bayi yang tidak pernah ia sadari kehadirannya?”
Kaizen menggeram marah. Selain pandai membuat orang lain mati kutu, lawan bicaranya itu tahu banyak fakta yang seharusnya tidak ia ketahui. Kaizen sampai heran, sebenarnya pria muda itu cenayang atau apa?
“Jadi, apa keputusan Anda?” tagih Killian. “Saya sudah tidak memiliki kesabaran untuk bernegosiasi dengan Anda.”
“Buat dia bahagia,” ujar Kaizen seraya memejamkan mata. Dalam dua detik, ia baru membuka mata kembali dan menatap Killian lekat-lekat. “Jika dia bangun, dia mungkin akan kebingungan dan merasa sangat sedih. Belakangan ini dia sering menangis, padahal dia bukan wanita yang cengeng. Mungkin itu bawaan kehamilan.” Suara Kaizen terdengar semakin lirih. “Sampaikan maafku kepadanya. Aku sangat menyesal atas kematian Catalina.”
“Catalina?”
“Catalina Ellye Kadheston. Nama putriku dan Katarina.”
Killian sempat terdiam. Begitu juga dengan Kaizen. Nama bayi kecil berjenis kelam*n perempuan itu diambil dari nama anak perempuan yang popular di Inggris. Catalina berarti suci, masih dekat dengan nama ibunya—Chatarina. Sedangkan Ellye atau Ellie berarti sinar yang terang. Ketika disatukan, berarti putri Kadheston yang suci dan bersinar terang.
“Akan aku sampaikan ketika kondisinya sudah stabil.” Killian berkata setelah membawa tubuh Katrina lebih dekat dengannya. “Dalam kurun waktu 24/7 hari, saya akan membawakan kepala Klautviz de Meré. Jika saya gagal, maka Anda boleh mengambil nyawa saya sebagai gantinya.”
Gila. Kaizen mengumpat di dalam hati. Putra Klautviz de Meré sama gilanya dengan ayahnya. Walaupun kegilaan Klautviz de Meré dan Killian beda konteks dan tujuan. Tetap saja, bagi Killian keduanya punya sisi gila yang menyeramkan.
“Satu lagi, soal informasi penting yang saya janjikan,” ucap Killian dengan kedua tangan yang sudah siap membawa Katarina. “Saya akan mengatakannya jika Anda telah membiarkan saya tiba di pelabuhan.”
Kaizen mau tidak mau harus menyanggupi permintaan tersebut. Negosiasi di antara mereka telah dibuat. Setelah melewati proses tawar-menawar, sekarang mereka sudah masuk ke proses menentukan aturan. Setelah tahap ini, baru memasuki tahap penjelasan, dan langsung ke penyelesaian masalah.
“Kaelus,” panggil Kaizen dengan segera.
Tidak butuh waktu lama, Kaelus segera muncul dan mendekat. Melihat ada orang asing yang sangat mencurigakan di ruangan tersebut, Kaelus tanpa pikir panjang langsung menghunuskan pedang. Respon Killian juga tidak kalah cepat. Dalam hitungan detik, ia menunjukkan satu teknik pedang ganda yang sangat langka. Hanya teknik dasar, tetapi berhasil membuat pedang di tangan Kaelus terlempar ke sembarang arah.
Kaelus masih tertegun ketika Kaizen memberi kode padanya. “Bukakan jalan untuknya.”
“Maksud Anda apa, Yang Mulia?” Kaelus tentu saja kebingungan. Tiba-tiba ia diminta untuk membuka jalan untuk orang asing yang ia ketahui pernah bekerja untuk mantan ratu Robelia.
“Dia akan membawa pergi Katarina.”
Hanya itu yang diucapkan Kaizen, sebelum menyuruh tangan kanannya untuk memimpin pasukan yang akan mengawal kepergian Kaelus. Kaizen yang belum sepenuhnya pulih pun ikut dalam perjalanan tersebut. Kaizen tidak mau kecolongan. Mengingat Killian adalah orang asing serta putra dari Klautviz de Meré. Ia tidak semerta-merta percaya kepada Killian.
Tiba di pelabuhan, rupanya sebuah kapal layar dengan bendera asing sudah menunggu. Melihat Killian datang dengan Katarina dalam gendongan, beberapa orang pria turun dari kapal layar itu dan menyambutnya.
“Baringkan dia di ruanganku.”
Salah satu dari pria yang turun dari kapal layar dipercaya untuk membawa Katarina. Sedangkan Killian tetap tinggal di pelabuhan untuk menghadap Kaizen.
“Informasi yang saya janjikan ada di sini,” ucap Killian kemudian. Tangannya menyodorkan sebuah gulungan dokumen. “Jangan pernah menyalahkan kembaran saya lagi, apa pun yang Anda ketahui setelah ini. Tidak seharusnya Anda melimpahkan semuanya kepada dia, karena Anda juga harus sadar diri.”
Gulungan dokumen itu diterima oleh Kaizen tanpa kata. Ia kemudian kembali menatap Killian dengan lekat. “Jaga dia baik-baik, karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik selama ini.”
“Keselamatan Katarina tidak perlu Anda cemaskan,” jawab Kaizen. “Jangan pernah mencarinya dan segera lupakan dia. Saya juga akan memastikan jika dia segera melupakan pria brengs*k seperti Anda.”
Kaizen yang masih berdiri di tempatnya tampak mengeraskan rahang. “Aku memang tidak akan mencarinya. Satu-satunya wanita yang ingin aku cari adalah Kayena.”
Mendengar balasan itu, Killian tidak dapat menahan tawa villains yang mengejutkan siapa pun yang mendengar. Jenis tawa seorang penjahat yang mampu membuat bulu kuduk merinding.
“Setelah Katarina, lupakan juga Nona Kayena. Masih banyak wanita bodoh di luar sana yang bisa Anda perdaya dengan iming-iming cinta serta tahta. Anda tidak pantas untuk mendapatkan maaf dari Nona Kayena maupun Katarina.”
“Jaga bicaramu!” seru Kaelus yang setia mendampingi sang raja Robelia.
“Aku hanya mengingatkan,” ujar Killian. “Luka yang Anda torehkan di hati Nona Kayena dua kali lipat lebih fatal dari luka yang Anda torehkan pada jiwa dan raga Katarina. Walaupun begitu, Nona Kayena tetap berbaik hati mempertaruhkan nyawa untuk keturunan Anda. Sedangkan Anda tidak pernah sedikit pun menyesal atau meminta maaf dengan benar.”
Setelah berkata demikian, Killian berbalik badan tanpa menunggu respon lawan bicaranya. Ia pergi begitu saja, menaiki kapal layar yang sudah siap melakukan perjalanan jauh melewati jalur perairan. Sedangkan Kaizen, ia masih terpaku di tempatnya berdiri dengan kedua tangan terkepal. Lagi-lagi ia merasa dipermainkan oleh perkataan pria bernama lengkap Charteris Killian de Meré itu.
“Kita kembali,” titahnya seraya berbalik dengan langkah yang terseok-seok. Untung saja ada Kaelus yang setia menjadi tangan kanannya.
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Kaelus tanyakan pada sang raja Robelia. Namun, ia mengurungkan niat tersebut karena melihat suasana hati rajanya yang buruk. Sampai pada akhirnya Kaizen yang mulai membuka pembicaraan.
“Mantan penjahit pribadi Kayena itu sebenarnya adalah putra Klautviz de Meré.”
Kaelus tentu terkejut mendengarnya. Ia tidak pernah menyangka, jika selama ini kedua anak Klautviz de Meré sempat berkeliaran di tempat yang sama. Salah satunya bahkan menjadi kenalan dekat mantan ratu Robelia. Sekarang Kaelus baru paham dari mana datangnya aura villains yang terpancar kuat dari Killian. Dengan status sebagai anak Klautviz de Meré serta skill yang mumpuni sebagai ahli pedang ganda, membuatnya tidak boleh diremehkan begitu saja.
“Bacalah. Apa yang dia maksud dengan informasi penting itu,” titah Kaizen setelah memberikan gulungan dokumen yang didapatkan dari Killian. Kakinya yang terluka kembali terasa sakit, karena digunakan berjalan cukup lama. Ia memutuskan untuk duduk di pinggir tempat tidur dan mengistirahatkan kedua kakinya.
“Yang Mulia, ini …” Kaelus yang langsung memenuhi perintah Kaizen tampak terbelalak ketika membaca isi dari gulungan dokumen tersebut. “ … ini adalah informasi terkait Klautviz de Meré, mulai dari organisasi hitam yang dia bangun dari masa kepemimpinan mendiang Raja Klein, nama-nama bangsawan yang selama ini berhubungan juga bekerja sama dengannya, serta daftar kejahatan yang pernah dilakukan Klautviz de Meré. Ada pula catatan pembunuhan berencana yang ada berkaitan dengan Klautviz de Meré, bahkan dalam catatan pembunuhan berencana ini tertulis nama mendiang Raja Kyle—Kakek Anda, mendiang Raja Klein, mendiang Ratu Carlein, mendiang dua saudara perempuan Anda, serta mendiang Putra Mahkota Carcel.”
Kaizen yang baru saja mengistirahatkan tubuh, bernapas lebih teratur, langsung merasa jika sekujur tubuhnya mendidih karena gejolak emosi. Ia tidak menyangka jika informasi penting yang dimaksud Killian adalah kebusukan ayahnya sendiri, yaitu Klautviz de Meré.
“Masih ada lagi, Yang Mulia,” kata Kaelus, tiba-tiba. Membuat raja Robelia kembali memusatkan perhatiannya. “Pada bagian bawah, tercatat kegiatan rahasia yang dilakukan oleh Nona Katarina selama menjadi selir Anda. Termasuk catatan seputar kasus penculikan dan percobaan pembunuhan yang menargetkan Nona Kayena. Semua nama pelaku serta skenario pada malam kejadian dituangkan di sini. Bahkan di sini juga disebutkan bahwa kebenaran akan segera terungkap, karena saksi kunci masih hidup.”
💰👑👠
TBC
Bersambung
Tanggerang 08-10-23