How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00111. les plus beaux paysages (Pemandangan Terindah)



00111. les plus beaux paysages (Pemandangan Terindah)


“Makanlah sedikit lagi. Bubur ini dibuat dari bahan-bahan yang baik bagi kesehatan serta kekuatan kandungan.”


“Saya akan segera menghabiskannya, Yang Mulia Kaisar. Anda tidak perlu repot-repot datang ke sini hanya untuk memastikan saya makan dengan baik.”


Pria rupawan dengan pakaian bernuansa merah dengan bordiran dan sulaman emas yang membentuk pola naga itu tampak tidak bergeming, sekalipun ia sudah “diusir” beberapa kali secara halus. Sebelum pergi ke tempat kerja, lebih tepatnya sebelum memulai aktivitas hariannya sebagai seorang Kaisar, kegiatan rutinnya dua hari belakangan ini adalah mengunjungi paviliun Yeowang-ui bang untuk memastikan bahwa wanita hamil yang tinggal di dalamnya makan dengan teratur.


Dua hari belakangan ini kondisi Kayena yang tengah hamil muda memang mulai berangsur-angsur membaik. Semua itu tidak terlepas dari bantuan para medis milik kekaisaran Astoria. Walaupun masih menggunakan ilmu serta metode kuno atau tradisional, mereka memiliki alchemist atau ahli obat yang mumpuni serta para tabib yang professional. Buktinya, sekarang kondisi kesehatan mantan Ratu Robelia juga perlahan-lahan membaik.


“Pekerjaan kenegaraan lebih penting dari pada saya, Yang Mulia Kaisar. Lagipula kondisi kesehatan saya juga sudah berangsur-angsur pulih.”


“Aku lebih suka melihat sendiri bagaimana perkembangan kesehatan mu, aku merasa tidak puas jika tidak melihat mu sebelum mulai beraktivitas.”


Wanita hamil yang baru selesai menikmati menu sarapan sehat yang disiapkan langsung oleh kepala koki dari kekaisaran Astoria itu hanya bisa menghela napas lemah. Dalama kondisi saat ini, ia memang sangat dijaga ketat oleh orang-orang Kaisar. Saking ketatnya, siapa pun yang hendak berjumpa dengannya harus melewati izin terlebih dahulu.


Kaisar tidak ingin sembarangan menerima tamu atas dasar ingin mengunjungi wanita hamil yang merupakan cinta pertamanya. Belakangan ini tersebar kabar bahwa ada beberapa orang dari kerajaan Robelia yang tiba di ibu kota Astoria. Mereka bukan datang untuk membeli rempah, atau barang berharga lain—seperti biasanya—melainkan mencari keberadaan mantan Ratu mereka, yaitu Kayena.


Kaisar Kwang Sun tentu saja langsung berupaya untuk melindungi Kayena dari berbagai kesempatan. Selama masih berada di Astoria, keselamatan Kayena adalah tugas berharga yang harus dipikul oleh kaisar Kwang Sun.


“Ketika kondisi kesehatan mu sudah jauh lebih baik, aku akan mengajak mu berkeliling istana lagi.”


Kayena mendongkrak, lalu menatap lawan bicaranya secara langsung. Tidak ada kalimat yang dapat ia ucapkan kepada lawan bicaranya, selain ucapan terima kasih.


“Tidak perlu berterima kasih, karena ini sudah tugasku,” balas Kaisar Kwang Sun seraya beranjak dari posisinya. “Jika kondisi kesehatan mu sudah memungkinkan, sore ini pergilah ke halaman paviliun Yeowang-ui bang untuk menikmati udara segar. Pemandangan senja di halaman paviliun Yeowang-ui bang pasti akan sedikit mengobati rasa gundah mu.”


Kayena yang duduk di seberang Kaisar Kwang Sun mengangguk dengan senyum tipis. “Saya sudah merasa jauh lebih baik. Sore nanti, saya akan menyempatkan waktu untuk melihat senja di paviliun Yeowang-ui bang. Seperti saran Anda.”


Ada senyum misterius yang berkembang di wajah rupawan milik Kaisar Kwang Sun. “Ya. Berjanjilah untuk pergi ke sana sore ini.”


Sebagai jawan, Kayena memberikan anggukan kepala. Kondisi kesehatannya sudah jauh lebih baik. Ia juga tidak lagi memiliki keluhan berupa rasa sakit yang menyerang area perut. Kondisi kehamilannya saat ini juga sudah jauh lebih baik. Tabib istana meracik obat untuk menguatkan kandungan, serta membuatkan obat herbal yang dapat membantu mempercepat pemulihan tubuh Kayena.


“Hati-hati, Nona.”


Kayena mengangguk paham. Dengan tenaga yang masih tersedia, ia akhirnya mencapai paviliun Yeowang-ui bang untuk melihat senja seperti ucapan kaisar Kwang Sun.


“Di mana Kaisar? Apa dia tidak datang karena sibuk dengan urusan kenegaraan?” tanya Kayena ketika sudah sampai di lokasi.


Nuansa sore hari yang terasa hangat dan familiar, dapat dinikmati ketika mereka menghabiskan waktu di tempat tersebut. Selain keindahan danau serta area alami yang ditumbuhi rumput hijau serta bunga-bunga liar, di tempat ini juga dipercayai sebagai tempat tinggalnya mahluk magis seperti peri dan elf elemen cahaya. Kendati demikian, keindahan tempat tersebut masih belum mampu untuk menghibur Kayena sepenuhnya. Dikarenakan ia sangat merindukan kehadiran sang kekasih, jadi apapun tidak dapat menghiburnya, kecuali kedatangan kekasihnya itu.


Hingga saat ini belum ada informasi lebih lanjut dari pihak kekasihnya. Para saudara juga belum memberikan informasi apapun lagi. Maka, tidak heran jika Kayena terus memikirkan keselamatan mereka.


“Siapa?”


Ketika tengah menikmati keindahan senja di halaman paviliun Yeowang-ui bang dengan tenang, tiba-tiba saja Kayena dikejutkan dengan kehadiran seseorang. Padahal selain Kima, ia sudah meminta untuk ditinggalkan seorang diri—para penjaga dan pelayan diminta berjaga beberapa radius meter darinya.


“Kima, jangan bercanda. Bukannya tadi kamu pamit untuk mengambil mantel—“ kalimat itu selesai ucapkan, karena ketika Kayena menoleh, ia tidak menemukan wajah familiar Kima. Melainkan wajah seseorang dengan pakaian tradisional pria khas kerajaan tengah tersenyum ke arahnya.



Tidak butuh waktu lama bagi Kayena untuk mengenali pemilik senyum yang paling ia rindukan. Dengan tubuh bergetar lirih, serta bibir yang terbuka sedikit—hendak bicara, namun beberapa kali diurungkan—Kayena menatap lurus ke sosok rupawan dengan senyum yang lebih indah dari pemandangan senja yang menghiasi langit Astoria.


“Kenapa masih diam saja di sana? Kamu tidak merindukan aku?”



Ketika suara milik sosok yang menjulang di depan sana terdengar, tanpa keraguan sedikitpun, Kayena mengambil langkah lebar, hampir berlari ke arah sosok tersebut. Kedua lengannya terbuka, siap menerjang tubuh tegap yang sangat ia rindukan. Air mata yang menjadi perwakilan dari rasa rindu yang tak terbendung lagi, merembes di kedua kelopak matanya.


“Aku …takut sekali!” serunya ketika berhasil meraih tubuh sosok rupawan tersebut. “Aku takut kamu tidak memenuhi janji untuk datang menjemput ku.”


Dengan lembut, sepasang lengan kokoh itu mengambil posisi di belakang tubuh Kayena. Merengkuh balik tanpa menyakiti sang kekasih hati. “Bagaiman mungkin aku ingkar janji kepada mu, kekasihku. Aku masih bisa berdiri dengan tegap hingga hari ini karena janji yang aku buat dengan mu.”


💰👑👠


TBC


DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA YANG KE 78 🇮🇩


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 17-08-23