
0087. Le retour de Killian ouvre de vieilles blessures (Kembalinya Killian, membuka luka lama)
Meja kayu berkaki pendek menjadi tempat dihidangkannya teh hangat pada cangkir keramik bermotif sederhana. Di tengah-tengah meja sudah disiapkan beberapa jenis kudapan manis yang telah dipesan pada pelayan, mulai dari kudapan berbahan dasar tepung ketan, tepung beras, buah kering, hingga kacang-kacangan.
“Minumlah tehnya selagi masih hangat, Ratu. Bukan kah Anda sangat menyukai teh?”
Pertanyaan itu dilontarkan oleh pria yang kini melepaskan penutup kepalanya. Agar mudah untuk bicara empat mata, ia sengaja membawa lawan bicaranya ke toko pakaian yang tadi sempat menjadi topik pembicaraan. Toko pakaian yang ramai dikunjungi itu miliknya, bisa dibilang cabang lain dari toko pakaiannya yang diberi nama Assogaté. Toko pakaian yang sempat menjamur di Robelia, hingga menjadi langganan Senorita dan Senora dari kelas bangsawan.
Awalnya para pengawal yang mendampingi Kayena tidak memberikan izin ketika mereka hendak bicara berdua. Namun, setelah Kayena menjelaskannya, para pengawal yang dipekerjakan oleh Kaisar Kwang Sun itu baru bisa memberikan izin. Kima pun diminta untuk menunggu di ruangan lain, selagi Kayena dan Killian bicara empat mata di ruang kerja milik pria tersebut.
“Bagaimana bisa kamu ada di sini?” tanya Kayena, membuka pembicaraan dengan tangan mulai menyentuh teh yang dihidangkan untuk dirinya. “Bukan kah terakhir kali kamu masih ada di ibu kota Robelia? Mengelola Assogaté yang tengah ramai-ramainya?”
“Saya adalah sorang penjelajah, jika Anda lupa.”
Kayena tersenyum tipis usai menyesap teh hangat miliknya. “Lalu, apa maksud kamu bicara seperti tadi?” tanya Kayena kemudian. Ia langsung membawa obrolan mereka pada inti pembahasan. “Dari mana kamu tahu soal Klautviz de Meré?”
Killian tidak langsung menjawab. Ada senyum misterius yang tersungging tipis di bibirnya.
“Kenapa kamu membawa-bawa soal kehidupan sebelumnya? Memangnya siapa yang ada kaitannya dengan kehidupan sebelumnya? Kamu bicara seolah-olah ada seseorang yang telah hidup dua kali lewat proses reinkarnasi.”
“Apa Anda tahu, berapa usia saya?” alih-alih menjawab, Killian malah kembali melontarkan sebuah pertanyaan. Pria dengan pembawaan santai yang easy going serta terkesan player itu, kali ini tampak lebih misterius.
Salah satu jenis pria yang harus diwaspadai, karena Kayena tahu jika kepribadiannya tidak mudah ditebak.
“Dua puluh tujuh tahun.”
Awalanya Kayena pikir Killian berusia awal awal 20-an, sama seperti Kima yang baru menginjak usia 23 tahun. Namun, ternyata Tailor from Assogate itu berusia 27 tahun. Beda satu tahun dengan Pangeran Kaezar, lebih muda satu tahun pula dari Raja Kaizen. Tiga tahun lebih tua dari Kayena. Killian memang memiliki wajah yang baby face, sehingga usia aslinya benar-benar tertutupi dengan baik. Pria itu sendiri yang mengungkapkan bahwa usianya adalah 27 tahun.
“Ketika Anda mengira saya masih berusia awal dua puluhan, sebenarnya tidak ada yang salah.”
“Maksud kamu? Bukannya kamu lahir satu tahun setelah kelahiran Raja Robelia?”
“Benar,” jawab Killian. “Namun, itu adalah usia saya di kehidupan sebelumnya.”
Kayena terdiam mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Killian. Usia di kehidupan sebelumnya? Maksudnya apa?
Isi kepala Kayena bekerja keras untuk mencerna satu kalimat yang ngandung berbagai makna tersebut. Apa mungkin Killian juga telah mengalami reinkarnasi, sama seperti dirinya?
“Sejak awal saya tahu jika Anda telah melakukan reinkarnasi.”
Kayena terlonjak kaget, tentu saja. Namun, ia pandai menutupi respon tersebut dengan raut wajahnya yang masih terlihat tenang.
“Saya juga tahu jika ini adalah kehidupan kedua Anda, Yang Mulia.”
Kayena semakin terperangah dengan perkataan pria muda yang sudah menginjakkan kaki di sepuluh negeri yang tersebar di beberapa benua itu. Bagaimana mungkin Killian tahu? Sedangkan dirinya saja tidak tahu apa-apa, ketika terbangun di masa ketika ia baru kehilangan anak pertama. Sampai saat ini, Kayena tidak tahu apa yang membuatnya bisa mengulang waktu lewat reinkarnasi. Namun, satu hal yang ia yakini. Tuhan ambil bagian paling besar dalam hal membolak-balikkan kehidupan umat-Nya. Maka, Kayena hanya menyakini bahwa Tuhan tengah memberi dirinya kesempatan kedua untuk bahagia.
Kendati demikian, siapa yang menyangka jika ada orang lain yang mengetahui kejadian di luar nalar tersebut. Apalagi ini Killian. Sosok yang terbilang asing bagi Kayena sendiri. Ketika meminta Kima untuk mencaritahu informasi soal identitas Killian, tidak banyak data yang dapat terkumpul. Mengingat Killian tidak berasal dari Robelia, hobinya pun menjelajahi bumi. Jejaknya hampir sulit dideteksi ketika sudah beranjak dari satu negeri ke negeri lain. Kayena sempat menduga bahwa Killian pasti memiliki latar belakang yang tidak boleh dianggap remeh.
“Dari mana kamu mwndapat keyakinan seperti itu?” tanya Kayena kala mengangkat cangkir keramik berisi teh nya lagi. “Kamu percaya reinkarnasi?”
“Tentu saja,” jawab Killian, enteng. Pasca menghabiskan teh dalam cangkirnya sendiri. “Karena saya sudah mengalaminya sendiri.”
Pantas, Kayena membatin di dalam hati. Pantas jika Killian begitu santai dan yakin ketika membahas soal kehidupan kedua. Rupanya, Killian juga telah bereinkarnasi—lahir kembali. Sekarang, Kayena kebingungan sendiri. Harus bagaimana ia menanggapi kenyataan yang ada; bahwa bukan ia satu-satunya manusia yang bereinkarnasi di kehidupan ini.
“Ini kehidupan ke tujuh saya.”
“Lalu, kenapa kamu bisa tahu soal Klautviz de Meré? Apa pada kehidupan sebelumnya …kamu juga hidup pada masa pemerintahan Kaizen?”
Gelengan kepala Killian berikan, membuat Kayena menautkan kening.
“Lalu, bagaimana bisa kamu tahu soal Klautviz de Meré? Bukan kah Klautviz de Meré baru muncul pada kehidupan kali ini? aku ingat betul bahwa pada kehidupan sebelumnya Klautviz de Meré tidak pernah muncul,” jelas Kayena. Ketika melihat gelagat Killian, ia langsung meralat. Sadar jika ia terlalu oercaya pada pernyataan lawan bicaranya. “Jangan coba-coba untuk membohongiku, Killian.”
“Mana berani saya berbohong pada Anda.”
“Lantas, atas dasar apa aku harus percaya pada perkataan mu?” tanya Kayena lagi. “Kamu pikir aku akan percaya begitu saja? sekalipun kamu berhasil menebak jika aku memang telah bereinkarnasi.”
“Apa yang harus saya jadikan sebagai bukti, supaya Anda yakin? Apakah dengan kebenaran bahwa saya tahu peristiwa ketika Anda mengakhiri hidup di kehidupan sebelumnya?”
Kayena terdiam. Masih mencoba untuk menguji sejauh mana pengetahuan lawan bicaranya, jika memang ia telah bereinkarnasi. Sama seperti dirinya.
“Malam itu, ketika Raja baru saja kembali dari perjalanan, sekitar dini hari di mana orang-orang sibuk terlelap di bawan gelap gulitanya malam, Anda mengambil sebuah keputusan besar untuk meninggalkan tahta yang telah Anda jaga. Meninggalkan keluarga, beserta bayi merah yang baru beberapa hari Anda lahir kan ke dunia.”
Killian bercerita dengan sorot mata yang membuat Kayena seolah-olah dapat berkaca. Betapa bodohnya ia kala itu, memilih mengambil keputusan sebelah pihak hanya karena sudah tidak kuat menahan tekanan batin.
“Anda memilih untuk mengakhiri segalanya menggunakan sebuah belati, setelah memastikan pelayan Anda tiba dengan selamat di Kyen. Setelah memastikan bahwa bayi merah yang Anda lahir kan sampai di kediaman kakeknya, Grand Duke Pexley,” lanjut Killian. “Di malam yang dingin itu, Anda seorang diri menghadapi kesakitan yang telah tiba di puncak. Anda mengambil keputusan yang sebenarnya sangat merugikan diri sendiri dan orang lain—“
“Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan!” potong Kayena dengan air mata yang tidak bisa ia bendung. Kristal bening itu luruh begitu saja, tanpa Kayena sadari. Bukti bahwa peristiwa yang terjadi di kehidupan sebelumnya masih begitu membekas dalam ingatan.
“Iya, saya tidak tahu apa yang Anda rasakan,” balas Killian seraya beranjak. Berjalan dengan pasti ke arah Kayena. “Saya tidak tahu betapa sulit dan sakitnya Anda saat itu,” lanjutnya ketika mengambil posisi berlutut di samping Kayena yang masih terisak.
“Masih di malam yang sama, ketika Anda ditemukan dengan kondisi kritis, Raja langsung mengerahkan semua dokter terbaik yang dimiliki kerajaan untuk menyelamatkan Anda. Namun,” isak tangis Kayena tidak mereda, membuat salah satu tangan Killian bergerak untuk menyeka air mata di wajah cantiknya.
“Anda sudah menyerah untuk bertahan hidup.”
“…”
“Anda pergi setelah memastikan bahwa bayi Anda akan baik-baik saja bersama Kakeknya. Namun, Anda tidak sempat memastikan bagaimana perasaan orang-orang setelah Anda mengambil keputusan itu. Terutama perasaan lima pria yang kehilangan semangat hidup pasca Anda benar-benar meninggalkan mereka tanpa berpamitan.”
Jantung Kayena rasanya diremas ketika mengingat betapa beratnya tekanan yang ia rasakan ketika mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Malam itu, tidak ada cara lain yang ia pikirkan, kecuali membunuh dirinya sendiri. Cara itu ia anggap sebagai cara paling benar untuk menyudahi kegilaan Kaizen. Ia juga memegang keyakinan bahwa setelah kematiannya, ayah, serta kedua saudaranya pasti akan membesarkan Cassel dengan baik. Pada saat itu ia belum terlalu memikirkan Kaezar, karena memang ia belum menyadari betapa pentingnya kehadiran pria itu.
Namun, ketika mendengar reka ulang kejadian itu dari mulut orang lain, rasanya Kayena telah menjadi manusia paling bodoh dan egois. Ia bodoh karena menyerah begitu saja. Egois karena tidak memikirkan lebih jauh tentang perasaan orang-orang yang selalu ada untuknya.
“Maaf, karena waktu itu saya hanya bisa berada di sekitar Anda, namun tidak dapat membantu mengurangi rasa sakit yang Anda rasakan.” Kali ini tangan Killian yang lain bergerak untuk meraih punggung tangan Kayena yang terkepal. Mengurainya, agar dapat ia genggam.
“Maaf, karena saya juga menjadi salah satu penyumbang rasa sakit yang Anda rasakan.”
Tangis Kayena masih tampak. Padahal Kayena adalah tipikal perempuan mahal yang tidak akan menunjukkan tangisannya pada sembarang orang. Namun, kali ini ia mengalah pada kenyataan; bahwa faktanya, ia masih menyimpan luka dari kehidupan sebelumnya. Entah dulu maupun sekarang, luka yang ditorehkan oleh mereka berhasil membuat perasaannya tetap terkurung dalam ketakutan yang sama.
“Saya sudah mati dan terlahir berulang kali dengan harapan dapat bertemu dengan Anda lagi. Ketika kesempatan ini akhirnya datang, saya telah berjanji untuk menebus segalanya.”
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT dulu di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 16-07-23