
00103. Quelle surprise (Kejutan yang sesungguhnya)
“Duduk dan minumlah ini supaya tubuh mu hangat.”
Dua pria yang duduk di pelataran sebuah ruko—rumah toko—yang sudah tutup itu bicara dengan suara rendah, karena sekeras apapun mereka bicara, suara hujan yang semakin lebat jauh lebih keras.
“Terima kasih.”
Gelas yang menampung minuman hangat itu diterima dengan baik oleh pria yang lebih muda. Ketika hendak menikmatinya, ia tampak menimbang-nimbang. Membuat pria lainnya tersenyum tipis.
“Minumlah. Itu bukan anggur atau beer, tetapi minuman herbal.”
Pria yang baru saja bicara tahu betul bahwa lawan bicaranya memiliki toleransi cukup tinggi menyangkut minuman beralkohol. Namun, sebisa mungkin, ia akan menghindari minuman tersebut jika tidak berada dalam kondisi terpaksa. Bisa dibilang bahwa Ksatria muda itu sangat menjaga tubuhnya dengan baik, karena ia tidak mencemari paru-parunya dengan tembakau, serta tidak merusak ginjalnya dengan minuman beralkohol.
“Bagaimana bisa kau kembali seorang diri?”
Sejak tadi putra sulung Khiev de Pexley itu sudah penasaran dengan jawaban dari pertanyaan tersebut. Namun, melihat kondisi calon pasangan adiknya itu, ia urung untuk langsung bertanya. Entah apa yang sebenarnya terjadi, sampai-sampai pemilik gelar Elang Muda Kekaisaran itu pulang seorang diri tanpa pengawal apalagi penjagaan.
“Kavaleri saya telah dikhianati,” cerita Elang Muda Kekaisaran. Artikulasinya ketika mengucapkan kalimat tersebut terdengar rendah. Bayang-bayang ketika ia menemukan tubuh rekan-rekannya yang sudah terbujur kaku, kembali terekam dengan jelas. “Rekan-rekan saya telah dihabisi secara membabi-buta.”
Khayansar tidak dapat menutupi rasa terkejutnya. Ia langsung menolah, menatap lawan bicaranya. Mencaritahu ekspresi apa yang tergambar di wajah Ksatria yang sudah menderita semenjak berada di dalam kandungan ibunya. Sebagai seorang Ksatria yang sudah kenyang bolak-balik berada di medan perang, ia tahu betul rasa sakit serta pedihnya ketika melihat rekan sesama Ksatria terbunuh dalam misi yang tengah mereka jalani. Seumur hidup, kesedihan tersebut tidak dapat dilupakan. Apalagi jika ia menjadi satu-satunya Ksatria yang selamat.
“Bagaimana bisa? Bukannya Kavaleri mu berisi orang-orang yang handal?”
“Ada ada pengkhianat di kavaleri kami,” ujar Kaezar. “Saya sempat terluka kemudian terpisah dari kavaleri ketika terjadi serangan dadakan. Ketika terbangun, saya diselamatkan istri dari putra Regent wilayah seberang perbatasan.”
“Istri dari putra Regent wilayah seberang perbatasan? Jendral Cade?”
“Benar,” kata Kaezar, membenarkan. Rupanya Khayansar mengenal Jendral Cade. “Yang lebih mengejutkan lagi, wanita itu ternyata adalah adik dari wanita bernama Karla Kannelite yang pernah menjalin hubungan istimewa dengan Klautviz de Meré.”
Khayansar sekarang terdiam. Adik Karla Kannelite? Khan pernah bercerita bahwa Karla Kannelite memiliki dua adik. Alasan utama kenapa Karla Kannelite harus bekerja banting tulang adalah demi menghidupi adik-adiknya. Setelah Karla Kannelite menghilang, keberadaan kedua adiknya juga menghilang.
Entah kemana mereka berdua pergi, masih hidup atau tidak, tidak ada yang tahu. Kedua adik Karla Kannelite seolah-olah ikut menghilang ditelan bumi. Sekarang, setelah belasan tahun berlalu, salah satu dari adik Karla Kannelite tiba-tiba muncul. Menjelma sebagai sosok yang dikenali sebagai istri dari putra Regent wilayah seberang perbatasan. Apa mungkin selama ini Karla Kannelite beserta kedua adiknya bersembunyi di wilayah seberang perbatasan?
“Apa terjadi sesuatu ketika kalian bertemu? Mereka mengenali mu sebagai Pangeran Kedua?”
Kaezar menganggukkan kepala. “Pertemuan di antara kami tidak seburuk yang Anda bayangkan. Mereka juga menolong saya, bukannya membiarkan saya begitu saja ketika ditemukan terluka.”
Dari cerita Kaezar, dapat disimpulkan bahwa adik Karla Kannelite tidak memiliki niat terselubung. Jika benar adik Karla Kannelite memang memiliki niat terselubung untuk balas dendam kepada anggota keluarga kerajaan, ia pasti sudah melakukannya lewat Kaezar. Namun, adik dari Karla Kannelite tidak melakukan apa-apa. justru ialah yang menolong Kaezar.
“Rupanya ada yang mempermainkan kita,” ujar Kaezar, kembali bercerita. “Ada pihak yang mengambil keuntungan lewat cara mengadu domba kedua belah pihak—pihak kerajaan Robelia dan wilayah seberang perbatasan.”
“Tidak salah lagi,” respon Khayansar kemudian. “Pasti pengkhianat itu ada kaitannya dengan pihak yang mengadu domba pihak kerajaan dan wilayah seberang perbatasan.”
Khayansar adalah orang yang jenius. Otaknya dapat memproses data atau informasi lebih cepat dari pada orang lain. Ketika dihadapkan dengan kumpulan teka-teki, otaknya secara mandiri mulai menerka dengan jeli. Satu per satu informasi akan diproses dengan segera, sebelum akhirnya dijadikan petunjuk untuk memecahkan teka-teki.
Kaezar kemudian menceritakan soal organisasi yang kemungkinan besar ada kaitannya dengan Klautviz de Meré. Jika benar pemimpin organisasi tersebut adalah Klautviz de Meré, maka terjawab sudah pertanyaan terkait kemana perginya pria itu selama ini. Jika benar Karla Kannelite beserta kedua adiknya melarikan diri ke wilayah seberang perbatasan, jelas Klautviz de Meré tidak akan membiarkan wilayah tersebut jatuh ke tangan kerajaan. Alasan untuk mengadu domba kedua belah pihak juga pasti berkaitan dengan keinginan untuk membuat Karla Kannelite membenci pihak kerajaan.
Satu per satu teka-teki terkait Klautviz de Meré juga mulai terkuak. Khayansar bisa menebak kebenaran apa yang tersembunyi dari teka-teki yang mereka dihadapi. Rupanya rahasia besar Klautviz de Meré ada kaitannya dengan wilayah seberang perbatasan yang sudah sejak lama diincar oleh kerajaan Robelia. Namun, karena kondisi internal wilayah seberang perbatasan yang tidak kondusif, pihak kerajaan juga kesulitan untuk mengambil alih wilayah tersebut.
Mengingat selain penduduk asli, di wilayah seberang perbatasan juga menjadi rumah bagi berbagai golongan penjahat kelas kakap. Para penjahat kelas kakap itu sejauh ini juga tidak pernah terlibat masalah, kemungkinan ada seseorang yang berhasil menaklukkan mereka. Seseorang itu pasti mengambil keuntungan besar setelah berhasil menjadi pemimpin dari berbagai golongan penjahat kelas kakap.
Ketika keduanya tengah serius mengobrol, satu sambaran petir yang terbilang paling besar semenjak hujan turun membasahi Robelia, menyambar wilayah perairan dekat lokasi istana. Suaranya yang menggelegar terdengar begitu memekikkan telinga. Bersamaan dengan itu, angin kencang serta hujan yang semakin lebat ikut serta menambah kengerian pada fenomena alam malam itu. Tidak sampai dua menit semenjak sambaran petir terakhir, hujan yang berbeda tiba-tiba datang dan menghujani tempat di mana Khayansar serta Kaezar berada.
Indra pendengaran yang lebih awas bekerja, sebelum mata menerka di antara kegelapan malam yang menyelimuti sekitar area, membuat Khayansar dan Kaezar bergegas bertindak mengandalkan indra pendengaran. Keduanya memasang posisi siaga dengan tubuh saling membelakangi. Dua bilah pedang dengan mata tajam sudah dia arahkan ke sumber datangnya serangan. Dalam satu menit kemudian, puluhan anak panah dari sembarang arah menghujani mereka berdua. Baik Khayansar maupun Kaezar sama-sama bertanggung jawab untuk melindungi diri sendiri, karena mereka tidak boleh mati di tempat ini.
“Tukar posisi,” perintah Khayansar. Ia tahu betul jika kondisi Kaezar tidak prima seperti dirinya.
Kaezar mengangguk kecil, tidak berniat untuk membantah. Mereka pun bertukar posisi dengan cepat, sembari kembali menangkis setiap anak panah yang datang mendekat.
“Kapten!”
Dari beberapa arah terdengar suara bawahan Khayansar yang semakin lama semakin jelas. Bala bantuan sepertinya sudah datang. Intensitas hujan anak panah juga mulai berkurang, namun bukan berarti sudah selesai.
“Sudah?”
Khayansar menatap ke sekeliling, ketika intensitas hujan anak panah yang menyerang mereka telah benar-benar berhenti. Bala bantuan juga sudah datang, walaupun belum benar-benar sampai ke hadapan mereka.
Di belakangnya, Kaezar juga sudah menukikkan pedangnya. Sehingga bagian ujung dari pedang sudah menyentuh permukaan tanah. “Sepertinya sudah.”
“Maaf,” ujar Kaezar sebelum memutar balikkan posisi mereka dengan kecepatan cahaya.
Walaupun dari segi porsi tubuh, Khayansar memiliki tubuh lebih tinggi, tegap, serta gagah darinya, namun Kaezar tidak kesulitan hanya untuk menggerakkan tubuh proposional tersebut. Ia hanya ingin pasang badan guna menghalau hujan anak panah susulan yang tidak pernah diduga.
“Tidak!” seru Khayansar ketika menyadari keterlambatan dirinya membaca situasi. Ia sempat terkecoh dengan suara anak panah serta tebakan dari arah mana lesatan itu datang. Alhasil, serangan yang ditargetkan pada dirinya malah mengenai lengan kiri Khayansar.
Satu anak panah tidak akan membunuh Elang Muda Kekaisaran, namun jika anak panah itu telah dilumuri oleh racun, maka kondisinya akan berbeda.
“Kenapa kau bertindak gegabah,” maki Khayansar ketika berhasil menangkap tubuh Kaezar yang hampir limbung. Pasukan bala bantuan juga langsung membangun perlindungan di sekitar mereka.
“Saya hanya tidak ingin Anda terluka.” Ada senyum tipis yang tersungging di bibir Elang Muda Kekaisaran. “Jika Anda terluka, kekasih saya juga akan merasakan sakitnya. Itu sama saja dengan menyakiti diri saya sendiri.”
Khayansar mendengus kecil mendengar ucapan calon adik iparnya. “Kayena akan lebih terluka ketika melihat mu menderita.”
“Saya …tidak berani membayangkannya, Kakak.”
“Lalu kenapa kau bertindak gegabah?” dengan gerakan pelan, Khayansar segera menarik anak panah yang melukai Kaezar. Sebelumnya, ia juga telah memberikan kode agar Kaezar menahan rasa sakitnya barang sejenak.
“Kunyah pil ini,” titah Khayansar setelah mengeluarkan sesuatu dari salah saku. Rupanya sebuah pil berwarna hijau. Ukurannya tidak terlalu besar, sehingga mudah untuk disimpan.
Tidak ditemukan bau yang mencurigakan pada anak panah yang berhasil melukai Kaezar, namun Khayansar tetap harus memberikan pil tersebut untuk jaga-jaga. Pil berdiameter kecil itu dibuat dari racikan 12 tanaman obat herbal yang dipercaya dapat menghambat penyebaran racun pada tubuh, melalui pembuluh darah. Selain menghambat penyebaran racun, pil tersebut juga dapat mengeluarkan sisa racun yang masuk ke dalam tubuh lewat pori-pori kulit. Selain ajaib, efek samping yang ditimbulkan pil tersebut juga tidak berbahaya.
“Bertahanlah. Armada laut kami memiliki tenaga medis yang mumpuni,” ujar Khayansar seraya memapah Kaezar ke arah penginapan sementara.
Khayansar sebelumnya sudah menduga, pasti akan ada sesuatu yang terjadi. Serangan tadi mungkin saja serangan yang tertunda karena kedatangan Kaezar. Alhasil mereka baru menyerang ketika Khayansar dan Kaezar lengah. Khayansar juga yakin jika terduga pelaku tidak hanya satu, tetapi berkelompok. Ia juga sudah meminta para bawahannya untuk menyelidiki penyerangan tersebut, kemudian mengirim pasukan berkuda cepat ke istana. Jika pihak istana ada sangkut pautnya dengan penyerangan ini, maka Khayansar akan balik memerangi mereka.
“Temukan pelakunya, kemudian bawa mereka ke hadapan ku. Berani-beraninya mereka menyakiti calon pasangan Adikku!” geram Khayansar yang tengah berdiri seraya berkacak pinggang di samping tempat tidur yang digunakan Kaezar untuk berbaring.
“Lukanya tidak dalam, Kak.”
“Kau lebih baik diam.”
Kaezar mengangguk lemah seraya tersenyum tipis. Ada luka baru di lengan kirinya, sedangkan luka lama di bagian perut bawah juga belum sepenuhnya kering. Entah reaksi apa yang akan diperlihatkan wajah cantik kekasihnya, ketika melihat kondisinya.
“Kayena paling tidak suka orang yang disayanginya terluka. Itulah alasan kenapa Ayah, aku, serta Cesare selalu menunda kepulangan jika kami masih memiliki luka yang terbuka.”
Kaezar tahu itu. Dulu, ketika ia masih berada di bawah bimbingan Khiev de Pexley, Kayena kecil pernah menangis seharian hingga matanya bengkak, karena sang ayah terkena luka gores ketika menguji kemahiran berpedang Kaezar. Alhasil Kaezar pun dimusuhi Kayena kecil untuk waktu yang cukup lama. Situasi yang sama juga pernah terjadi pada saat Cesare terluka akibat terjatuh dari kuda. Saat itu Cesare mengikuti kegiatan berkuda yang diselenggarakan oleh pihak istana. Ketika ia kembali dan membawa trofi kemenangan, Kayena kecil justru membuang trofi kemenangan tersebut, karena benda itulah alasan kakak kesayangannya terluka.
Kayena benci orang-orang terkasihnya terluka. Sejatinya, Kayena memang benci melihat darah dalam jumlah banyak. Oleh karena itu, sebisa mungkin para kesayangan Kayena menjaga tubuh mereka agar tidak terluka ketika terjun ke medan pertempuran. Alasan itulah yang membuat mereka menjadi Ksatria yang unggul dan tidak terkalahkan, supaya mereka tidak disambut dengan air mata kesedihan karena terluka, melainkan air mata kebahagiaan serta kebanggaan dari permata tercinta mereka.
“Saya sendiri yang akan bertanggung jawab soal luka-luka ini.”
Khayansar menyerah. Sejatinya ia merasa cemas karena serangan tersebut ditujukan kepadanya. Kaezar telah mendapatkan serangan lebih awal, ketika masih berada di wilayah seberang perbatasan. Lalu, tiba-tiba ia mengingat soal kepergian adiknya ke wilayah tersebut.
“Tunggu, kau tidak bertemu dengan Cesare?”
“Tidak,” jawab Kaezar. “Kak Cesare pergi ke wilayah seberang perbatasan?”
“Hm. Cesare pergi untuk memastikan kondisi mu.”
Kaezar terdiam. Begitu pula dengan Khayansar. Sekarang mereka mulai mencemaskan kondisi Cesare. Namun, mereka kenal betul kemampuan Cesare ketika menghadapi marabahaya.
“Saya datang ke Robelia dengan bantuan pejuang dari wilayah seberang perbatasan. Mereka juga setuju untuk bergabung dengan Kerajaan Robelia, asalkan hak dan kewajiban mereka tidak direnggut.” Kaezar kembali bercerita. “Rencananya saya akan segera bergegas pergi ke istana untuk memberikan pernyataan dari Regent wilayah seberang perbatasan, kemudian melepaskan gelar kebangsawanan dan kedudukan di militer Angkatan Laut Robelia.”
“Pergilah besok,” ujar Khayansar. “Pasukan inti dari kavaleri kami akan mengantar mu ke istana. Selesaikan tugas mu, sebelum kita menjemput Kayena.”
“Baik.” Kaezar menjawab setelah mengangguk. “Besok saya akan menyelesaikan segalanya yang berkaitan dengan Robelia. Kemudian, saya akan segera menjemput kekasih saya. Dia pasti telah menunggu begitu lama.”
“Ya. Segera jemput Adikku, kemudian berikan dia kebahagiaan yang kau janjikan. Ayah, aku, dan Cesare ingin sekali melihat kebahagiaan kembali menghiasi hari-harinya.”
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini? Kemarin Author kurang fit, puncaknya sampai siang tadi 🤧 baru mendingan sore, makanya baru bisa lanjut update. Buat yang masih nunggu up, jangan lupa klik PERMINTAAN UPDATE biar author semakin semangat nulisnya 🔥🔥
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 08-08-23