
00155. Punition continue pour Kaizen et Katarina (Hukuman bertubi-tubi untuk Kaizen & Katarina)
“Apa aku tidak salah mendengar?” tanya Kaizen yang baru saja mengurai tawanya pasca mendengar informasi terbaru dari salah satu penjaga penjara bawah tanah.
“Saya berani bersumpah dengan nyawa saya sebagai taruhannya, Yang Mulia.” Penjaga itu berkata jujur seraya berlutut di depan tempat tidur raja Robelia. “Saat ini Nona Katarina sedang mendapatkan perawatan intensif di pusat kesehatan istana.”
Kaizen yang sempat tidak percaya dengan informasi yang dibawa oleh penjaga penjara bawah tanah itu akhirnya mengutus Kaelus. Sebagai satu-satunya orang yang paling ia percayai di negeri ini, Kaizen menerjunkan Kaelus secara langsung untuk mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Katarina.
Ketika Kaizen tengah menikmati waktu istirahatnya seraya mendengarkan beberapa informasi terkini terkait urusan politik serta keamanan kerajaan, seorang penjaga penjara bawah tanah tiba-tiba datang dan membawa informasi mengejutkan tentang Katarina.
Penjaga itu berkata jika Katarina tiba-tiba mengalami pendarahan hebat—setelah hampir 24 jam dipenjara dalam ruang isolasi sangat dingin, kedap udara, serta lembab. Wanita itu kemudian jatuh pingsan dan dilarikan ke pusat kesehatan istana. Kondisinya bahkan disebut-sebut kritis.
“Bagaimana, Kael? Wanita itu benar-benar dalam kondisi kritis? Atau hanya bersandiwara?”
Si empunya nama yang baru saja kembali, tampak menundukkan wajah dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tanpa diberi komando, ia tiba-tiba mengambil posisi berlutut di samping tempat tidur.
“Kaelus, apa yang kau lakukan? Aku bertanya soal kondisi wanita itu. Kenapa kau tiba-tiba berlutut?” bingung Kaizen.
“Maaf, Yang Mulia.” Kaelus buka suara dengan wajah yang masih tertunduk. “Saya turut berduka cita atas kematian calon penerus Anda.”
Kaizen yang tadinya bertanya-tanya, sekali lagi dibuat kebingungan. Wajahnya langsung mengeras seketika. “Kau bercanda?” tanyanya dengan nada bicara yang menggambarkan jika ia tidak percaya sama sekali dengan informasi yang dibawa oleh tangan kanannya. “Siapa yang mengandung calon penerusku? Kau sedang mengada-ada?”
Kaelus menggelengkan kepala. Ia kemudian mengangkat wajah guna menatap langsung ke arah rajanya. “Nona Katarina baru saja kehilangan bayinya.”
Kaizen terdiam. Mulutnya yang sempat terbuka, hendak mengatakan sesuatu, langsung tertutup kembali.
“Nona Katarina mengalami keguguran pasca terjadi kontraksi dan pendarahan hebat. Saat ini kondisinya masih kritis, karena Nona Katarina sempat kehilangan banyak darah.”
“Kau bercanda, Kaelus?” sekali lagi, Kaizen mencoba meyakinkan pendengarannya lewat pengulangan pertanyaan.
“Tidak, Yang Mulia.” Kaelus pun menjawab dengan jawaban yang sama. Ia tidak berbohong sama sekali. “Rupanya selama ini Nona Katarina sedang mengandung penerus Anda, Yang Mulia. Tidak ada yang menyadari kehamilan Nona Katarina, bahkan Nona Katarina sendiri.”
Kaizen mengepalkan kedua tangan dengan mata yang tiba-tiba terpejam. “Katarina hamil?” ujarnya, masih berada di persimpangan; antara percaya dan tidak. Selama ini ia selalu bermain aman, jadi wajar muncul ketidakpercayaan. “Bagaimana mungkin dia bisa hamil dan kehamilannya tidak diketahui oleh siapa pun? Termasuk dokter kerajaan?”
Kaelus menunduk lagi. “Benar, Yang Mulia. Bahkan Saintess yang dulu pernah dipanggil oleh Nona Katarina juga mengatakan bahwa Nona Katarina tidak akan bisa memiliki keturunan—mungkin alasannya karena Anda menggunakan kontrar*sepsi setiap kali berhubungan. Dokter kerajaan atau dokter yang pernah Nona Katarina gunakan jasanya juga tidak ada yang dapat mendeteksi kehamilan Nona Katarina.”
Kaelus mendapatkan informasi tersebut dari mantan pelayan Katarina ketika mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi pada mantan selir agung itu. Beberapa bulan ke belakang, rupanya Katarina pernah memanggil salah satu Saintess (orang suci) paling terkenal di ibu kota untuk meramal masa depannya.
Sayangnya, Saintess (orang suci) itu mengatakan dengan gamblang jika Katarina tidak akan memiliki keturunan. Mantan pelayan itu juga mengatakan bahwa Katarina mendapatkan informasi jika ada seorang Saintess dari Calais, Prancis, yang mendapatkan “penglihatan” soal para penerus yang lahir dari rahim Kayena de Pexley. Salah satu penerus yang lahir dari rahimnya bahkan diklaim akan menjadi Raja paling berpengaruh di masa depan.
Mantan pelayan itu tidak tahu apa yang selanjutnya dilakukan Katarina. Ia hanya mengetahui bahwa Katarina sangat tidak senang ketika salah satu Saintess (orang suci) secara tidak langsung menuduh dirinya mandul, sedangkan Saintess (orang suci) lain meyakini jika Kayena akan melahirkan penerus yang hebat. Selain Saintess (orang suci), Katarina juga sempat beberapa kali melakukan konsultasi dengan dokter—baik dokter kerajaan maupun dokter lain—tetapi hasilnya tetap nihil. Tidak ada seorang pun yang memberikan jawaban positif.
Siapa yang menyangka jika hari ini kabar duka datang dari Katarina. Di penjara bawah tanah—lebih tepatnya di ruang isolasi yang menjadi momok menakutkan bagi beberapa penjahat kelas berat, wanita itu tiba-tiba mengalami kontraksi yang memicu pendarahan hebat.
Ketika dilahiran ke pusat kesehatan istana, nyawa janin dalam kandungannya tidak tertolong lagi. Hampir semua dokter yang ada di tempat “terkejut” mendapati kenyataan tersebut. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kehamilan mantan selir agung, termasuk si pemilik tubuh. Dugaan sementara, Katarina mengalami kehamilan yang tidak disadari atau Cryptic pregnancy.
“Usia kehamilan Nona Katarina diperkirakan sudah memasuki bulan ke-empat atau ke-lima, Yang Mulia. Jika dilihat dari postur tubuhnya yang kecil, pantas jika tidak ada yang menyadari adanya perubahan fisik pada Nona Katarina. Bahkan Nona Katarina sendiri tidak menyadari kehamilannya.” Kaelus mulai menjelaskan ketika rajanya terlihat mulai percaya. “Dokter menyimpulkan bahwa Nona Katarina kemungkinan mengalami kehamilan yang tidak disadari. Seorang wanita yang mengalami kehamilan ini biasanya tidak memiliki keluhan seperti wanita hamil pada umumnya. Oleh karena itu, Nona Katarina tidak menyadari jika dirinya sedang hamil, karena memang tidak adanya tanda-tanda kehamilan.”
“Kasus kehamilan yang tidak disadari seperti kasus ini memang tergolong sangat langka. Tetapi, kondisi tersebut memang benar adanya. Seorang wanita yang berasal dari wilayah utara French Empire juga pernah mengalami situasi yang sama dan baru mengetahui dirinya sedang hamil, beberapa hari sebelum melahirkan.”
Bersamaan dengan berakhirnya kalimat yang diucapkan Kaelus, Kaizen merasakan kesadaran menghantam dirinya dengan keras. Bohong jika ia hanya mendengarkan ucapan Kaelus tanpa memikirkannya. Mendengar perkiraan usia kandungan Katarina saja, isi kepalanya langsung berkelana pada malam terakhir yang mereka habiskan bersama—malam penuh dosa yang dibalut kenikmatan sesaat itu dilakukan di tempat suci milik mendiang ibu serta mantan istri istri tercintanya. Malam penuh dosa itulah yang menjadi awal mula kemarahan mantan istrinya, sebelum wanita itu kukuh meminta perceraian.
Jika dihitung mundur, maka perkiraan usia kehamilan Katarina tepat. Akan tetapi, bagaimana mungkin selama ini tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan gejala kehamilan? Katarina bahkan sempat kecanduan alkohol, pemberian kontr*sepsi lanjutan tidak dihentikan, lalu Katarina juga sempat dicekoki ramuan herbal yang berakhir membuat kedua kakinya kehilangan fungsi.
Bagaimana mungkin mahluk mungil yang tumbuh dan berkembang di kandungan Katarina itu bertahan dengan sangat baik?
“Kaelus.”
“Bawa aku ke tempat Katarina.”
Kaelus mengangkat wajah. Bersamaan dengan itu, ia melihat rajanya tengah berusaha menggerakkan kedua kakinya. “Yang Mulia, kondisi Anda …”
“Bawa aku ke tempat Katarina!” ulang Kaizen. Kali ini dengan suara setengah membentak. “Aku ingin melihatnya sendiri.”
“B-aiklah, Yang Mulia.”
Kaelus tahu jika berita duka ini sangat mengejutkan. Pria itu pasti sangat terpukul, mengetahui bahwa calon penerus yang selama ini ia tunggu-tunggu rupanya telah hadir di perut wanita yang tidak ia harapkan. Sebelum mengetahui kehadirannya, Tuhan bahkan telah mengambil calon penerusnya.
“Hati-hati, Yang Mulia,” ucap Kaelus, ketika membantu memapah rajanya yang keras kepala, ingin menemui mantan selirnya. Padahal kondisi Kaizen sendiri belum stabil.
Dengan kaki yang terpincang-pincang, Kaelus setia membantu pria itu mencapai pusat medis istana—tempat di mana Katarina mendapatkan perawatan.
“Yang Mulia.”
Melihat kedatangan Kaizen, orang-orang yang ada di tempat tersebut langsung menunduk hormat. Begitu pula dengan dokter senior yang baru saja mengecek kondisi Katarina yang terbaring lemah di atas tempat tidur pasien. Wajah wanita itu tampak pucat oasi, seperti tidak dialiri oleh aliran darah.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Kaizen ketika ia didudukkan di kursi samping, dekat tempat tidur pasien yang digunakan oleh Katarina. “Dia tidak sadarkan diri?”
Dokter senior yang juga menjadi bagian dari kaki-tangan Kaizen itu menjawab dengan segera. “Benar, Yang Mulia. Nona Katarina tidak sadarkan diri akibat efek dari obat bius dosis tinggi yang terpaksa harus kami gunakan.”
“Lalu, bagaimana dengan kondisinya?”
“Saat ini kondisi Nona Katarina masih sangat lemah. Selain kontraksi yang memicu pendarahan hebat, rupanya Nona Katarina juga mengidap beberapa masalah kesehatan lain yang menimbulkan komplikasi pada rahim. Kemungkinan besar, Nona Katarina tidak bisa mengandung selama sisa hidupnya” Dokter senior itu tampak berhati-hati sekali ketika menjelaskan kondisi pasiennya pada raja Robelia. “Setelah diperiksa, alasan utama yang menyebabkan Nona Katarina mengalami keguguran adalah karena efek samping pola hidup tidak sehat, depresi berat, serta adanya residu dari beberapa zat beracun yang dapat ditemukan dalam tubuh Nona Katarina. Saya pikir Yang Mulia paham zat apa saja yang saya maksud.”
Dengan berat hati, Kaizen yang duduk di samping Katarina menganggukkan kepala.
“Lalu, bagaimana dengan bayinya?”
“Kami telah mengeluarkannya dari perut Nona Katarina,” jawab dokter senior itu. “Saya pribadi mewakili jajaran dokter serta tenaga kesehatan istana, mengucapkan turut berdukacita atas gugurnya calon penerus Yang Mulia. Saat ini jasad dari janin Nona Katarina masih tersimpan di krematorium milik kerajaan Robelia. Menunggu keputusan Yang Mulia untuk langkah berikutnya.”
“....”
Keheningan sempat merajalela pasca dokter senior itu selesai bicara. Kaizen sendiri terdiam dengan tubuh yang sepenuhnya membeku. Bibirnya terkunci rapat, seolah-olah ia membiarkan dirinya ikut meresapi kehancuran ke sekian yang datang menghampiri Katarina dan dirinya.
Entah bagaimana jadinya jika informasi ini sampai ke telinga Katarina ketika bangun nanti. Wanita itu sangat ingin merasakan kehamilan. Pada kenyataannya, ia berhasil hamil. Namun, kehamilan itu tidak diketahui sama sekali olehnya atau siapa pun. Kini, janin yang telah tumbuh dan bertahan dengan kuat di kandungannya telah menyerah dan memilih kembali ke pangkuan sang Pencipta.
“Maaf.”
Kaizen berucap dengan lirih. Siapa pun yang mendengarnya, pasti akan ikut merasakan kesedihan yang mendalam.
Jauh di lubuk hati yang paling dalam, Kaizen merasa ikut menjadi pembunuh darah dagingnya sendiri. Pewaris yang selama ini ia inginkan, rupanya telah hadir tanpa diketahui. Jika menilik ke belakang, ia sudah membuat Katarina sangat menderita. Secara tidak langsung, ia ikut campur dalam membuat calon penerusnya gugur.
“Aku terlambat mengetahui keberadaannya,” tambah Kaizen ketika ia menatap wajah pucat mantan selirnya dengan pandangan sayu. “Tanpa disengaja, aku telah ikut membunuhnya.”
💰👑👠
Bersambung
Tanggerang 06-10-23