How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00104. Détermination à rompre les liens du sang (Tekad untuk memutuskan hubungan



00104. Détermination à rompre les liens du sang (Tekad untuk memutuskan hubungan darah)


“Cambuk Pangeran Kedua sampai dia mengakui kesalahannya!”


Pemuda yang baru menginjak usia 9 tahun dengan celana bagian betis yang digulung hingga lutut itu hanya bisa diam dan tertunduk, ketika bagian yang tidak terlindungi kain kembali dicambuk menggunakan sebilah tongkat kayu. Ia tengah menerima hukuman atas kesalahan yang tidak diperbuat dengan sengaja.


“Katakan, apa Pangeran Kedua sudah mengakui kesalahannya? Jika belum, jangan berhenti untuk memberinya hukuman cambuk.”


Mengingat sang Raja yang tengah tidak berada di istana, kekuasaan sepenuhnya dipegang oleh wanita yang berdiri sepuluh meter dari Pangeran Kedua. Siapa lagi jika bukan Ratu dari Raja Robelia yang saat ini berkuasa.


“Ibu, sudah. Hentikan hukumannya,” lerai seorang pemuda yang usianya baru menginjak 11 tahun. Ia adalah alasan dari hukuman yang diberikan kepada Pangeran Kedua. “Kami melakukan pertandingan secara adil. Guru pembimbing juga ada di area pertandingan. Dia …bukan sengaja melukai ku.”


Ratu Robelia yang tampil cantik, anggun, serta menawan seperti biasa tampak mengalihkan perhatian pada darah daging kesayangannya. “Pangeran Mahkota, dengarkan Ibu. Ini adalah hukuman untuk mendisiplinkan Pangeran Kedua, agar kedepannya dia tidak semena-mena terhadap calon Raja.”


“Tapi, Bu. Ini sudah …kelewatan.”


“Sekarang Putra Mahkota berani mengkritik tindakan Ibu?”


Putra Mahkota kerajaan Robelia yang bernama lengkap Kaezar Alexander Kadheston langsung terdiam. Ini memang salahnya yang kalah dalam pertandingan persahabatan antar sesama Ksatria junior. Ketika nama-nama para Ksatria diundi oleh guru pembimbing, kebetulan Kaezar harus menghadapi kakaknya sendiri, yaitu Kaizen.


Mereka mendapatkan 2 sesi pertandingan, di mana sesi pertama dilakukan tanpa alat bantu, sedangkan sesi kedua pertarungan diperbolehkan menggunakan alat bantu berupa pedang yang dibuat dari logam asli. Namun, sebelum bertanding, mereka juga sudah diberi arahan, serta diberi alat pelindung diri.


Sesi pertama pertandingan dimenangkan oleh Kaizan, karena ia berhasil menjatuhkan adiknya. Pada sesi kedua, adiknya—Kaezar—lebih unggul. Kaezar yang berguru pada Khiev de Pexley, diberi pelajaran ekstra oleh Khayansar de Pexley, kemudian memiliki rekan sekelas Cesare de Pexley, rupanya lebih mahir dalam mengayunkan pedang ketimbang Kaizen. Kedekatan Kaezar dengan keluarga dari calon pasangannya di masa depan sudah membuat hati Kaizen panas, ditambah lagi ia harus kalah di sesi kedua. Dikarenakan hasil pertandingan seri, maka dilakukan satu sesi pertandingan tambahan. Pada sesi tambahan, Kaizen mengerahkan segenap kekuatannya untuk mengalahkan sang adik.


Tak tanggung-tanggung, Kaizen bahkan tidak segan menggores beberapa bagian tubuh adiknya, padahal tindakan tersebut tidak diperbolehkan. Pada detik-deti terakhir, Kaezar justru berhasil membalikkan posisi, karena Kaizen yang sudah mulai kehabisan tenaga, kalah power dari Kaezar yang sejak awal permainan lebih rapih dan stabil. Menggunakan teknik pedang rahasia milik keluarga Pexley sebagai jurus pamungkas, Kaezar akhirnya berhasil mengalahkan Kaizen. Tanpa sengaja ia juga meninggalkan luka gores di pelipis kiri kakaknya. Ratu yang mendengar putranya terluka, langsung murka.


Sekarang, setelah lelah berlatih, Kaezar muda juga harus menghadapi hukuman yang mengakibatkan betisnya terasa begitu perih dan nyeri. Di istana ini tidak ada yang berani menolongnya, apalagi sang Raja tidak ada di istana. Ratu lah yang paling berkuasa, sehingga ia bisa bertindak semena-mena.


“Maaf, Ibunda Ratu. Saya tidak pernah berniat untuk sengaja melukai Kakak.” Itu adalah pengakuan jujur Kaezar muda, namun tidak pernah digubris oleh sang Ratu.


Sebagai kakak, Kaizen juga tidak dapat membantu banyak. Permusuhan di antara mereka tumbuh secara alami, semenjak mereka masih sangat kecil. Entah sampai kapan mereka harus bermusuhan, padahal Kaezar juga sudah berulang kali menjelaskan bahwa kelahirannya tidak akan merenggut hak serta kewajiban yang akan diberikan pada Kaizen. Kaezar tidak akan menuntut tahta kerajaan Robelia, karena ia memang tidak berminat menjadi Raja di tempat yang tidak pernah menerima kehadirannya.


“Mimpi itu lagi.”


******* gusar terdengar ketika pemilik gelar kehormatan Elang Muda Kekaisaran itu terbangun dari tidur singkatnya. Setelah mendapatkan pertolongan pertama, ia langsung memejamkan mata karena efek obat yang diberikan dokter dari militer angkatan laut di bawah kepemimpinan Khayansar.


“Mimpi buruk?”


Pertanyaan itu hadir bersamaan dengan sebuah gelas yang mengepulkan uap panas tersodor ke arahnya.


“Hm. Terima kasih, Kak.” Kaezar menerimanya, kemudian meneguk minuman hangat tersebut. Di luar, bunyi hujan yang cukup deras masih terdengar. Sepertinya hujan tidak akan reda dalam waktu dekat.


“Dalam tidur pun masih tertekan karena diskriminasi yang kau terima sejak kecil.”


Kaezar tidak menjawab, karena ucapan kakak sulung kekasihnya benar. Sejak dahulu, salah satu mimpi yang kerap menghantui adalah masa kecil yang kurang menyenangkan. Ingatan di saat beberapa kali ia dihukum karena bersinggungan dengan Kaizen—anak emas—yang sangat disayangi oleh keluarga kerajaan, padahal Kaezar tidak pernah berniat untuk bersinggungan dengannya. Beberapa kali ia juga pernah dihukum karena masalah yang sepele.


“Kebaikan mu memang terlihat kasat mata di hadapan mereka,” ujar Khayansar seraya menyibak tirai model overlay juga menjadi salah satu ciri khas gaya era Victoria. Membiarkan rinai hujan terlihat jelas dari balik jendela.


“Sebentar lagi matahari seharusnya terbit, tetapi cuaca masih terbilang buruk. Rencananya kami tidak akan menunda keberangkatan.” Khayansar kembali bersuara. Kali ini sembari memandang ke luar jendela. “Setelah memastikan kau menyelesaikan urusan mu dengan kerajaan, kita akan segera meninggalkan Robelia.”


Kaezar yang sudah mengambil posisi duduk seraya bersandar mengangguk, kemudian berkata, “lalu bagaimana dengan Kak Cesare? Apakah sudah ada kabar?”


“Cesare sudah bergabung dengan armada laut kita,” jawab Khayansar. “Dia baik-baik saja.”


Kaezar tentu saja lega mendengarnya. Sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Ia kemudian menatap ke arah yang sama dengan Khayansar. “Saya akan segera bersiap,” katanya. “Setelah fajar menyingsing, saya akan pergi ke istana.”


Kaezar tidak punya alasan lain untuk menunda. Tinggal selangkah lagi guna melepaskan diri dari marga Kadheston. Luka-luka yang diderita oleh fisiknya tidak akan menjadi penghalang. Oleh karena itu, sebelum fajar menyingsing, Kezar sudah dibantu oleh Cesare—yang telah datang dari wilayah seberang perbatasan—untuk mengenakan pakaian resminya sebagai tentara angkatan laut Robelia. Dibalik pakaian resmi tersebut, dua luka paling terbuka yang menghiasi tubuhnya telah diobati dengan baik.


Setelah fajar benar-benar menyingsing, Kaezar pergi seorang diri ke istana. Ia hanya dikawal oleh sisa Ksatria bayangan yang ada dibawah komando pribadinya. Tidak banyak Ksatria bayangan yang tersisa, hanya delapan orang. Sisanya masih ada di beberapa wilayah tertentu.


“Elang Muda Kekaisaran akan segera memasuki ruangan.”


Setelah kepala pengawal menyebutkan gelar kehormatannya, Kaezar baru diizinkan memasuki ruangan. Bukan aula istana yang dikunjungi olehnya pagi itu, melainkan ruang kerja sang Raja. Di dalamnya, sudah ada beberapa petinggi pemerintahan Robelia, termasuk Mayor Jendral Angkatan Laut Robelia. Rupanya tengah ada pertemuan privat pagi itu.


“Salam hormat kepada Yang Mulia Raja Robelia.”


Setelah sekian lama, dan mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya, Kaezar memberikan penghormatan secara simbolis pada Raja Robelia, yaitu kakak tirinya sendiri. Sosok yang sejak dulu tidak menyukai kehadiran Kaezar, karena merasa Kaezar dilahirkan sebagai saingannya.


“Saya datang untuk menghadap, sesuai perintah Raja Robelia.”


Sang Raja yang duduk di kursi kebesarannya, baru saja menelaah soal informasi yang disampaikan oleh Khayansar terkait penyerangan yang diterima rombongannya. Ia sempat didera kecemasan, takutnya insiden tersebut membuat Khayansar menyerang balik kerajaan Robelia. Padahal, pihak kerajaan tidak tahu menahu soal penyerangan tersebut.


“Duduklah, Elang Muda Kekaisaran.” Kaizen bersuara setelah menerima penghormatan Kaezar. “Saya dengar semalam Anda menjadi salah satu korban penyerangan. Apa kondisi Anda baik?”


Basa-basi yang sebenarnya sangat basi. Namun, karena disampaikan oleh Kaizen yang tidak pernah berperilaku demikian, maka Kaezar mau tidak mau harus memberikan respon.


“Saya berada dalam kondisi baik.” Setelah diberi izin untuk berbicara, Kaezar segera mengutarakan alasan utamanya datang ke istana. “Kedatangan saya kali ini untuk menyerahkan hasil dari misi terakhir yang Anda berikan kepada saya.”


Kaezar maju dua langkah, kemudian menunjukkan gulungan perkamen yang merupakan persetujuan Regent wilayah seberang untuk bergabung dengan wilayah kerajaan Robelia.


“Wilayah seberang perbatasan sudah resmi menyetujui penggabungan wilayah, dengan catatan hak serta kewajiban mereka terhadap wilayah seberang perbatasan tidak akan direnggut oleh kerajaan. Jika sampai terjadi kecurangan, maka detik itu juga wilayah seberang perbatasan memiliki kebebasan untuk memisahkan diri dengan kerajaan.”


Notaris kerajaan menerima perkamen tersebut, kemudian menyerahkannya pada Kaizen yang tampak terkejut. Namun, ia pandai mengolah ekspresi.


Siapa pula yang tidak terkejut dengan “kegilaan” Elang Muda Kekaisaran yang berhasil membuat wilayah seberang perbatasan setuju untuk bergabung dengan kerajaan Robelia dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Pencapaian yang mustahil dilakukan oleh orang lain selama bertahun-tahun.


“Kesepakatan ini dibuat dengan menggunakan nama saya sebagai perantara. Jadi, jika di kemudian hari pihak kerajaan mencurangi kesepakatan ini, saya sendiri yang akan turun tangan.”


Kaizen mendongkrak, menatap langsung ke arah lawan bicaranya. “Kerajaan pasti tidak akan mencurangi kesepakatan ini. Anda bisa memegang kata-kata saya.”


“Baik,” sahut Kaezar. “Dalam dua hari, perwakilan dari wilayah seberang perbatasan akan datang untuk mengambil salinan kesepakatan resmi yang dikeluarkan oleh istana. Saya harap Yang Mulia menyambut mereka dengan baik.”


“Tentu saja,” jawab Kaizen. “Untuk kerja keras Elang Muda Kekaisaran yang telah menyatukan wilayah kerajaan dan wilayah seberang, saya akan menghadiahkan dua juta Piéces d’or beserta sebidang tanah di pulai Iscel. Jabatan Anda di Armada Angkatan Laut juga akan dinaikkan dua tingkat.”


“Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia, namun saya tidak dapat menerima semua itu.”


“Kenapa? Ada hal lain yang Anda inginkan?”


Tanpa ragu Kaezar menjawab. “Saya hanya menginginkan kebebasan.” Tatapannya masih tertuju pada Kaizen. Tidak pernah berpaling, seolah-olah hanya ada mereka berdua di ruangan tersebut. “Tolong penuhi janji Anda, Yang Mulia. Setelah saya berhasil menyelesaikan tugas terakhir sebagai tentara Angkatan Laut Robelia, berikan izin untuk melepaskan gelar kebangsawanan serta izin untuk meninggalkan dari Angkatan Laut Robelia.”


Semua orang di raungan itu tercengang hebat tentunya, termasuk Kaizen yang kembali diingatkan tentang permintaan adiknya sebelum pergi ke wilayah seberang perbatasan. Rupanya Elang Muda Kekaisaran tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.


“Setelah saya keluar dari istana, saya hanya akan menggunakan nama Kaezar of Icrea. Bukan lagi Kaezar Kadheston.” Sorot mata yang dingin tampak melemparkan pandangan yang tidak dapat diartikan. Pandangan tesebut juga hanya ditujukan pada Raja Robelia yang saat ini berkuasa.


“Hari ini saya datang untuk melepaskan segala hal yang berkaitan dengan Robelia, termasuk gelar kebangsawanan, gelar kehormatan, sampai hubungan kekeluargaan. Saya akan melepaskan segalanya sebelum meninggalkan tanah Robelia.”


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 09-08-23