How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0095. Ceux qui vivent sont comme des cadavres (Mereka yang hidup layaknya mayat)



0095. Ceux qui vivent sont comme des cadavres (Mereka yang hidup layaknya mayat)


“Elang Muda Kekaisaran juga yang akhirnya memahkotai putra Anda sebagai Raja Robelia berikutnya.”


Kayena tidak tahu harus merespon bagaimana ketika Killian melontarkan kalimat tersebut. Penyataan soal ‘Elang Muda Kekaisaran yang menjadi pemimpin pasukan pemberontakan terhadap Raja Robelia yang saat itu berkuasa' saja sudah membuatnya berpikir keras. Sekarang, ditambah dengan pernyataan lain yang tidak kalah mencengangkan. Ia tidak pernah menyangka bahwa putranya akan naik tahta sebagai Raja Robelia berikutnya, menggantikan sang ayah. Namun, cara yang digunakan terbilang picik, sekaligus cerdik.


“Putraku, Cassel?”


“Benar. Pangeran Cassel tumbuh dengan baik, kemudian berhasil menjadi Raja paling berpengaruh dalam sejarah kerajaan Robelia.”


Lagi-lagi, Kayena dibuat bungkam dengan lontaran kalimat lawan bicaranya. Jadi, setelah ia memutuskan untuk bunuh diri di kehidupan sebelumnya, kehidupan mereka tetap berjalan dengan semestinya. Yang paling membuat Kayena tercengang adalah peristiwa-peristiwa besar yang terjadi akibat kematiannya, mulai dari pemberontakan hingga penggulingan tahta. Sampai bayi laki-lakinya yang mewarisi tahta kerajaan Robelia pada kemudian hari.


“Tunggu, bagaimana bisa Putra ku menjadi Raja? Siapa yang membesarkannya setelah aku tiada? Ayahku?”


Setelah menghabiskan sisa teh dalam cangkir, Killian baru kembali melanjutkan cerita. Raut wajahnya tampak tenang, sekalipun lawan bicaranya sudah dibuat over thinking.


“Pangeran Cassel dirawat oleh pelayan pribadi Anda yang bernama Kima, dia juga yang menjadi Ibu baptisnya. Kemudian Pangeran Cassel dibesarkan dan dididik langsung oleh Pangeran Kaezar yang ditunjuk sebagai wali sekaligus Master pribadinya. Di bawah pengawasan Duke of Edinburgh yang memutuskan untuk tidak menikah, karena ingin fokus merawat satu-satunya peninggalan Adik tercintanya.”


Kayena membekap mulutnya sendiri dengan tangan. Ia tidak menyangka jika dua pria kesayangannya telah mengorbankan masa depan mereka di kehidupan sebelumnya, demi putra kecil yang ia tinggalkan.


“Bersama Grand Duke Pexley dan Duke Cesare de Pexley, Pangeran Cassel tumbuh dan dibesarkan oleh empat pria yang hidup bagaikan mayat.”


“Maksud mu?” bingung Kayena.


“Bayangkan saja, Ratu. Bagaimana mereka akan hidup setelah kehilangan satu-satunya alasan mereka menikmati setiap ruas kehidupan? Anda adalah sumber kehidupan dan kebahagiaan mereka.”


“Maksud mu, mereka hidup seperti itu karena aku?” tebak Kayena dengan suara tercekat.


“Bukan karena Anda, melainkan karena takdir,” jawab Killian. “Mereka yang ditinggalkan oleh Anda merasa sangat terpukul dan menyesal, karena merasa tidak bisa menjaga dan memahami rasa sakit yang Anda dapatkan selama tinggal di istana.”


“…”


“Di hari yang sama ketika Anda dinyatakan tewas dengan kondisi mengenaskan, dua ribu pasukan khusus berangkat dari Kyen menuju ibu kota Robelia dibawah komando Grand Duke Pexley. Belum lagi Duke of Edinburgh yang langsung datang dari London, disusul Duke Cesare yang datang langsung dari medan perang.”


Ada jeda yang diambil Killian sebelum meneruskan ceritanya yang sangat berbobot. Saking berbobotnya, Kayena bisa merasakan sesak kian bertambah seiring banyaknya cerita yang dibagi oleh lawan bicaranya.


“Orang terakhir yang datang menemui Anda yang sudah terbujur kaku di dalam peti mati terbuat dari kaca adalah Pangeran Kaezar.”


“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi mereka hari itu,” gumam Kayena lirih. Mendengar ceritanya saja, sesak di dada sudah merajalela. Lantas, bagaimana bisa ia membayangkannya?


“Bersama kuda putihnya yang setia menemani, Pangeran Kaezar yang datang dari perbatasan langsung memberikan penghormatan terakhir di depan peti mati Anda tanpa bicara sepatah katapun. Raut wajahnya tidak menggambarkan ekspresi apa-apa, sama seperti Grand Duke Pexley, Duke of Edinburgh, serta Duke Cesare.”


“Elang Muda Kekaisaran, Grand Duke Pexley, Duke of Edinburgh, serta Duke Cesare kemudian membawa peti mati Anda ke Kyen setelah melawan dekrit Raja Robelia yang menginginkan Anda disemayamkan di pemakaman pribadi milik keluarga kerajaan. Sebagai bukti dari rasa kecewanya, Grand Duke Pexley bahkan tidak mengizinkan jasad putrinya disemayamkan di pemakaman pribadi milik keluarga kerajaan, namun disemayamkan di samping tempat peristirahatan terakhir istrinya. Hari itu, tidak ada yang baik-baik saja, kecuali mereka yang bahagia di atas kematian Anda”


“Siapa?” tanya Kayena to the point. Sepersekian detik berikutnya, ia baru paham maksud dari kalimat terakhir Killian. “Sebenarnya, tanpa kamu menjawab sekalipun, aku sudah mengetahuinya.”


“Kalau begitu, saya tidak perlu menjawab bagian itu.”


“Tentu,” sahut Kayena dengan suara yang mulai serak.


“Anda lagi yang ingin Anda ketahui?” Dengan perhatian, Killian mengeluarkan selembar kain lembut berbentuk persegi yang selalu tersimpan rapih di saku bajunya. Ia kemudian menyodorkan benda tersebut ke arah lawan bicaranya, agar digunakan untuk menyeka air mata yang dapat kapan saja terjatuh.


“Apa …apa yang terjadi setelah jasad ku disemayamkan?”


“Apa-apaan itu!” seru Kayena tidak terima. Tangannya bahkan sampai mengepal di atas meja. “Kenapa dia membunuh orang-orang yang tidak berdosa?”


“Jawabannya, karena Raja Robelia menggila.”


“Kamu bercanda?”


“Tidak, Yang Mulia. Raja Robelia memang menggila. Bahkan Selir Agung yang pada saat itu sangat dia cintai, tidak dapat meredakan kegilaan Raja Robelia karena kematian Anda.”


Kayena terdiam. Suaranya tertahan di tenggorokan. Setelah kematiannya, rupanya bukan hanya Grand Duke Pexley, Duke of Edinburgh, Duke Cesare, serta Elang Muda Kekaisaran yang menggila, melainkan Raja Robelia pula. Padahal, Kayena telah berpikir jika pria itu pasti akan sangat bahagia, sehingga mereka mungkin saja langsung menggelar pesta pora bersama kekasih tercintanya. Siapa yang menyangkan jika Raja Robelia yang berniat menyingkirkannya di kehidupan sebelumnya, malah menggila karena kematiannya?


“Kegilaan tidak berhenti sampai di sana, karena sebelum Grand Duke Pexley menurunkan perintah, dua ribu pasukan khusus dari Kyen mengepung setiap penjuru istana. Tidak ada yang dapat keluar-masuk dengan bebas.”


Kayena tahu kekuatan pribadi sang ayah, apalagi ketika masih memegang gelar Grand Duke. Lebih dari dua ribu lima ratus ksatria berada di bawah kepemimpinan Grand Duke Pexley. Belum lagi dua ribu pasukan khusus yang berasal dari kerajaan. Semua itu belum termasuk pasukan bayangan yang mengabdikan jiwa dan raganya kepada Grand Duke Pexley beserta keturunannya.


“Lalu, apa yang terjadi? Tidak mungkin Ayahku mengerahkan pasukan begitu saja untuk menyerang istana. Aku tahu betul bagaimana Ayahku.”


“Grand Duke Pexley memang tidak menyerang istana, namun langsung memutuskan hubungan dengan keluarga kerajaan. Beliau juga mengambil hak penuh terhadap perwalian Pangeran Cassel.”


“Pasukan kemudian ditarik mundur, dibawah pimpinan Elang Muda Kekaisaran. Namun, bukan berarti para pria kesayangan Anda diam begitu saja atas kematian Anda yang tragis. Mereka hanya …menunggu waktu yang tepat. Membiarkan Raja Robelia menanggung akibat dari kematian Ratunya terlebih dahulu, serta membuat para pembenci Anda merasa di atas awan.”


“…”


“Kematian Anda benar-benar membawa bencana bagi istana. Kondisi di dalam istana semakin tidak terkendali, semenjak posisi Ratu kosong.”


“Omong kosong,” balas Kayena. “Lalu apa gunanya itik buruk rupa yang selalu mengekori Raja Robelia?”


“Dia?” Killian terdiam sejenak, sebelum melemparkan pandangan ke arah lain. “Menanggung akibat dari perbuatannya. Dukungan untuk menjadikannya sebagai Ratu memang datang dari mana saja. Namun, dengan kondisinya yang tidak dapat mengandung, harapan untuk menjadi Ratu hanya mimpi belaka.”


“Itik buruk rupa itu tidak dapat mengandung?”


“Benar.” Killian kembali menatap Kayena. Kali ini tatapannya tampak semakin lekat. “Sepeninggalan Anda, hanya ada pertumpahan darah dan perseteruan di istana. Sampai pada akhirnya Raja Robelia yang saat itu berkuasa sadar jika orang-orang terdekatnya adalah musuh dalam selimut.”


Kayena lagi-lagi dibuat terdiam. Setiap informasi yang diberikan Killian benar-benar membuat kepalanya bekerja dua kali lipat. Sampai sebuah pertanyaan tercetus di kepalanya.


“Killian.”


“Iya, Yang Mulia Ratu. Ada yang ingin Anda tanyakan lagi?”


Kayena mengangguk lirih. Lantas bibirnya melontarkan pertanyaan yang tidak disangka-sangka oleh lawan bicaranya. “Kamu …sebenarnya siapa di kehidupan sebelumnya? Bagaimana bisa kamu mengetahui semua itu dengan sangat detail?”


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 24-07-23