How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00131. Dit lui; sa fille a besoin d'aide (Katakan kepada dia; putrinya membutuhk



00131. Dit lui; sa fille a besoin d'aide (Katakan kepada dia; putrinya membutuhkan pertolongan)


“Sial*n. Selama ini bajing*n brengs*k itu benar-benar mempermainkan aku.”


Umpatan seperti itu tidak henti-hentinya keluar dari bibir, sepanjang perjalanan sang Selir tingkat IV menuju kediaman barunya di ujung harem kerajaan. Air mata terus berderai, bersamaan dengan hati yang terasa kian berdenyut nyeri. Ia tidak lagi peduli pada sekitar, selain menyelamatkan dirinya sendiri yang hampir sekarat ditikam oleh rasa kecewa.


“Tinggalkan aku sendiri!” serunya, marah. Begitu berhasil memasuki tempat yang belakangan menjadi penjara tanpa sel baginya.


Dibandingkan dengan istana Selir Agung yang dulu ia tempati, paviliun pojok di harem kerajaan ini terbilang sangat kecil dan minimalis. Di tempat yang membatasi ruang serta geraknya, ia malah lebih leluasa merasakan kesepian. Di saat-saat seperti ini, ia sangat membutuhkan seseorang yang dapat menopang dirinya. Seseorang yang mampu memberinya penenang lewat sebuah pelukan hangat. Jenis pelukan yang tidak pernah ia dapatkan, kecuali dari Kaizen.


“Diam. Aku benci menyebut nama bajing*n itu,” hardiknya pada diri sendiri.


Tenggelam dalam rasa kecewa pasca mengetahui kebenaran di balik kegagalan yang selama ini ia alami—tidak dapat mewujudkan impian menjadi seorang ibu bagi calon penerus Raja Robelia. Tubuhnya yang kurus, gemetar entah sejak kapan, jatuh di atas ranjang yang kemarin malam masih sempat ditiduri oleh kekasihnya. Ada tangis pilu yang terdengar begitu sembilu, walaupun teredam oleh bantal lembut yang terbuat dari bulu angsa terbaik.


Katarina masih tidak menyangka, bahwa pria yang dicintainya setengah mati begitu tega. Selama ini Katarina tahu bahwa satu-satunya alasan pria itu mempertahankan dirinya adalah karena kebutuhan bilogisnya. Kebutuhan biologis yang tinggi, serta mudah lepas kendali, tidak dapat disalurkan dengan baik pada wanita yang dianggap begitu suci, sehingga ia membutuhkan wanita lain, yaitu Katarina. Wanita yang mampu mengimbangi setiap kegilaannya ketika bercin—ta.


“Tapi, bagaimana bisa kamu … tega membohongi aku selama ini?” Katarina kembali bertanya pada keheningan malam.


Ia masih tidak percaya bahwa selama ini hubungan mereka didasari oleh kebohongan. Pantas saja ia selalu merasa aneh, di saat mereka selalu berhubungan badan, namun tidak pernah ada tanda-tanda kehamilan. Berbanding terbalik dengan Kayena yang hanya dikunjungi pada tanggal-tanggal tertentu, namun dapat langsung mengandung. Rupanya Kaizen selama ini berperan besar dalam mengatur kelahiran calon pewarisnya. Kaizen bahkan menggunakan dokter kerajaan dan pelayan yang mengurusi kebutuhan pangan Katarina, guna melancarkan aksi bej*d tersebut.


Kaizen telah merencanakan semuanya sejak awal. Bahkan setelah apa yang mereka berdua lewati selama ini, Kaizen tetap teguh pada rencana awalnya. Hati pria itu tidak pernah tergerak sekalipun pada pesona Katarina. Padahal, Katarina sudah terlena, bahkan percaya jika Kaizen juga akan segera membalas perasaannya. Di akhir cerita mereka, Katarina percaya jika Kaizen akan mempersembahkan posisi wanita pertama di Robelia kepadanya. Namun, semua itu hanya menjadi angan belaka, semenjak ia mengetahui kebenaran yang ditutupi oleh Kaizen.


Semalaman penuh Katarina menghabiskan waktu untuk menumpahkan rasa kecewa, sakit, patah, hingga marah di dalam kamarnya. Barang-barang yang dapat dijangkau sudah menjadi sasaran kemarahan, sehingga kamar tersebut kini sudah mirip dengan tempat bekas jarahan. Ketika sinar kuning dan oranye mulai menghiasi langit, Katarina bangkit dari ranjang yang ia diami semalaman. Wajahnya yang biasa tampil segar dan cantik, pagi ini terlihat pucat dengan jejak-jejak air mata yang begitu kentara.


“Yang Mulia Selir, mantan kepala koki di istana Selir Agung datang menghadap.”


Pemberitahuan itu tidak membuat Katarina beranjak, namun ia memberikan izin agar orang yang dimaksud menghadap kepadanya. Sudah sejak semalam ia ingin bertemu dengan salah satu kaki-tangan kekasihnya.


“Kau selama ini bekerja untuk Yang Mulia Raja?”


“Benar, Yang Mulia Selir,” jawab lawan bicaranya. Seorang wanita paruh baya dengan seragam koki yang didominasi warna hitam dan putih.


“Apa saja yang diperintahkan Raja, selama kau bekerja untukku?” desak Katarina seraya berjalan lamban ke arah lawan bicaranya yang terlihat tidak gentar sama sekali.


“Memenuhi semua kebutuhan pangan Anda, Yang Mulia Selir. Contohnya jika Anda ingin menikmati hidangan hati angsa di tengah malah, saya harus siap dan sedia untuk membuatnya. Selain itu-”


Sebelum mantan kepala koki itu menyelesaikan ucapannya, suara tamparan yang terdengar nyaring menggema di seluruh penjuru ruangan. Wajah wanita paruh baya itu sampai tertoreh ke samping ketika tangan mungil wanita simpanan Raja Robelia menamparnya tanpa perasaan.


“Termasuk memberiku ramuan pencegah kehamilan?” tanya Katarina dengan sorot mata tajam. Terhunus ke satu arah. “Kau diperintahkan Raja untuk mencampurkan ramuan semacam itu ke dalam makanan ku? Jawab.”


Wanita paruh baya itu kembali menatap Katarina tanpa rasa takut. “Benar,” jawabnya. “Saya mencampurkan ramuan serta bubuk herbal yang diberikan Yang Mulia Raja kepada makanan Anda, setiap hati. Sehari tiga kali. Seperti kebiasaan Anda mengisi perut. Bahkan dapat lebih, jika intensitas hubungan badan antara Anda dan Yang Mulia Raja sedang tinggi.”


Satu tamparan Katarina layangkan lagi. Kali ini lebih bertenaga, sehingga berhasil membuat sudut bibir lawan bicaranya terluka.


“Berani-beraninya kau mengkhianati ku!” seru Katarina, murka.


Lawan bicaranya tetap tenang seraya menyeka darah segar yang merembes dari sudut bibir. “Saya hanya seorang pekerja yang telah disumpah untuk menjalankan tugas sesuai perintah,” tuturnya kemudian. “Saya menjadi seorang koki karena menjalankan tugas dari Matahari Kekaisaran. Sebenarnya saya adalah salah satu dokter spesialis yang bekerja di bawah naungan badan kesehatan internal istana.”


“Tugas saya telah selesai hari ini, sesuai dengan isi perjanjian,” kata mantan kepala koki itu seraya melepaskan apron yang penuh noda tepung dari tubuhnya. “Sekarang saya bisa kembali bekerja di labolatorium, bukan dapur kotor untuk membuatkan Anda makanan.”


“Sial*n!” umpat Katarina, ketika mengambil ancang-ancang untuk menampar lawan bicaranya lagi.


Kendati demikian, gerakannya dapat dengan mudah ditangkis oleh lawan bicaranya. “Saya sudah cukup bersabar.” Sorot mata wanita paruh baya itu kini tampak kelam. “Pekerjaan saya hanya memastikan bahwa Anda tidak mengandung, selama masih digunakan oleh Raja. Jadi, biarkan saya pergi dengan tenang, selagi masih menahan keinginan untuk menghajar Anda.”


Katarina shock? Tentu saja. Tiba-tiba lawan bicara yang ia anggap lemah, tidak sederajat dengannya, berubah menjadi sosok yang sangat menakutkan. Apa benar mantan koki itu hanya seorang dokter kerajaan?


Kemudian, tanpa dapat dicegah, wanita paruh baya itu meninggalkan Katarina seorang diri dengan tangan mengepal kuat di kedua sisi. Isi kepalanya mulai bertanya-tanya, kira-kira ada berapa banyak kaki-tangan yang disebarkan kekasihnya? Atau jangan-jangan, hampir semua orang yang bekerja untuknya adalah kaki-tangan Raja? Minus Kyara. Sekarang Katarina harus percaya pada siapa?


“Yang Mulia Selir, Anda memanggil saya?”


Mendengar suara lain yang tiba-tiba terdengar di kamarnya, Katarina yang masih tampak kacau segera menoleh ke sumber suara.


“Dokter Christoper?”


“Benar. Saya Dokter Christoper, kenalan Tuan Klautviz de Meré. Saya datang untu memenuhi panggilan.”


Katarina terdiam. Sebelum pergi ke daerah perbatasan, Klautviz de Meré memang merekomendasikan nama seorang dokter pada Katarina. Entah Klautviz de Meré sudah mengetahui rencana gila keponakannya atau belum. Namun, sekarang, selain pada Kaizen, hanya Klautviz de Meré yang dapat membantunya.


“Tolong periksa aku. Rahimku,” tuntut Katarina seraya mendekat pada dokter yang usianya berkisar sama dengan Cesare. “Selama ini aku tidak tahu bahwa ekstrak biji benih wortel, tanaman rue, akar tanaman stoneseed, biji buah papaya, akar dandelion, sampai tanaman tripterygium wilfordii dicampurkan pada makanan ku.”


“Baik, saya paham.” Dokter bernama Christoper itu mengangguk. “Saya akan memeriksa Anda, kemudian mengambil sempel untuk diujicoba.”


Katarina mengangguk paham. Saat ini ia tidak tahu harus percaya pada siapa. Namun, ia tetap berusaha untuk percaya pada ucapan Klautviz de Meré.


“Jaga kondisi kesehatan serta kewarasan Anda selama saya melakukan ujicoba,” pesan Dokter Christoper. “Jia Anda sudah merasa lelah dan muak menghadapi semuanya, Anda dapat meminta bantuan beliau.”


Katarina sebenarnya enggan meminta bantuan kepada sembarangan orang. Namun, kondisi saat ini cukup membuat hatinya patah, hingga hancur berkeping-keping. Efek sampingnya, ia tidak memiliki harapan lagi selain meminta pertolongan untuk menopang tubuh yang hampir tumbang.


“Dokter Christoper.”


“Yes, I'am?”


“Tolong katakan kepada dia,” ujar Katarina tiba-tiba. Sorot matanya yang sayu tampak berkilat, diselimuti oleh rasa kecewa, benci yang tengah meninggi. “Putrinya membutuhkan pertolongan.”


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa tiap hari SENIN, tabur bunga tau seclike, voteangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 14-08-23