How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00165. Une surprise qui arrive en cas d'urgence (Kejutan yang datang dalam keada



00165. Une surprise qui arrive en cas d'urgence (Kejutan yang datang dalam keadaan darurat)


Darurat. Darurat. Darurat.


Kalimat itu seperti alarm yang terus berdering di kepala Kaelus semenjak informasi penting terkait organisasi hitam yang dibangun Klautviz de Meré pada masa kepemimpinan mendiang Raja Klein, para bangsawan yang berhubungan serta bekerja sama dengan Klautviz de Meré sampai daftar kejahatan yang berkaitan dengannya. Catatan pembunuhan berencana para anggota keluarga Kadheston, mulai dari mendiang Raja Kyle, mendiang Raja Klein, mendiang Ratu Carlein, mendiang dua saudari perempuan Kaizen yang masih bayi, sampai mendiang Putra Mahkota Carcel.


Tidak luput pula tercatat kegiatan rahasia kembaran Charteris Killian de Meré selama menjadi selir Kaizen. Termasuk catatan seputar kasus penculikan dan percobaan pembunuhan yang menargetkan mantan ratu Robelia. Semua nama pelaku dan skenario di malam itu dituangkan secara rinci, lengkap dengan pesan yang mengatakan bahwa kebenaran akan segera terungkap, karena saksi kunci masih hidup.


Walaupun sudah hampir satu minggu semenjak kepergian mantan selir yang di-barter dengan informasi penting tersebut, kondisi di istana Robelia masih dilanda oleh kekacauan. Hingga hari ini—hari ke-enam dari kesepakatan yang dibuat Charteris Killian de Meré dengan Raja Robelia—Kaizen Alexander Kadheston—pencarian para anggota organisasi hitam masih dilakukan. Bahkan wilayah pencarian semakin diperluas. Mereka yang terbukti sebagai anggota organisasi hitam lewat ditemukannya tattoo heliks, langsung dijebloskan ke penjara. Sejauh ini sudah ada lebih dari 200 anggota organisasi hitam yang tertangkap.


Gerakan pemutihan—pembersihan para pengkhianat Negara—itu tentu saja sempat menggemparkan ibu kota Robelia. Terlebih lagi sebagian dari anggota organisasi hitam juga berasal dari kalangan berada, mulai dari seorang Lord, Baron, Viscount, Count atau Earl, Marquess, sampai pemegang gelar kehormatan Duke.


Selain para bangsawan, lewat gerakan pemutihan juga ditemukan anggota organisasi hitam yang berprofesi sebagai abdi Negara, saudagar kaya, pembisnis, seniman, konsultan pajak, bahkan sampai orang-orang yang menjalin kerjasama erat dengan pihak istana. Kaelus yang ikut turun tangan secara langsung dalam gerakan tersebut sampai-sampai tidak habis pikir. Rupanya selama ini kondisi Robelia memang tidak sehat karena digerogoti penyakit dari berbagai penjuru. Luar dan dalam.


Kondisi darurat bukan hanya datang dari terbukanya kebenaran tersebut, melainkan kondisi kesehatan raja Robelia yang semakin memburuk. Luka tusukan di kakinya memang sudah mulai mengering, tetapi efeknya masih kental terasa. Sang raja belum bisa bergerak dengan leluasa dan masih membutuhkan bantuan orang lain atau alat bantu—tongkat emas dan perak yang dibuat khusus—untuk membantunya menopang tubuh ketika berjalan.


Selain itu, kondisi kesehatan raja Robelia juga diperparah dengan gejala lemas, mual, dam muntah yang masih sering menghantui pagi hati sanga raja. Dokter kerajaan menyebut kondisi yang dialami oleh raja Robelia itu sebagai gangguan morningsickness karena hanya terjadi di pagi hari. Sedangkan sepanjang hari yang tersisa, penderita morningsickness akan merasa lemas dan selebihnya baik-baik saja.


Terkadang kondisi kesehatan rajanya juga diperburuk dengan munculnya hypoglycemia yang membuat tubuhnya kian lemas, jantung berdebar-debar, pusing, pandangan buram, hingga keringatan. Hypoglycemia sendiri adalah gangguan kesehatan yang muncul ketika kadar gula darah terlalu rendah atau berada di bawah kadar normal.


Belum lagi gangguan tidur yang belakangan ini juga diidap raja Robelia sehingga ia membutuhkan obat tidur dengan dosis menengah hingga tinggi. Raja Robelia mengalami insomnia atau masalah sulit tidur yang biasanya disebabkan oleh kebiasaan kurang tidur, depresi, kecemasan, kurang olahraga, penggunaan obat-obatan tertentu, dan masih banyak lagi. Kaelus yakin sang raja mengalami insomnia semenjak mengetahui fakta bahwa ada kemungkinan besar calon pewarisnya telah hadir di kandungan mantan istri tercintanya. Bahkan Kaelus kerap mendapati rajanya mengigau—memanggil nama mantan istri tercintanya.


Intinya kondisi saat ini adalah gawat darurat.


Kaelus yang baru mengemban tugas berlipat ganda juga sampai dibuat kewalahan. Ia bahkan bisa tidak tidur selama 2x24 jam dengan terus mengandalkan caffeine dengan dosis tinggi. Selagi sang raja tidak dapat bekerja dengan leluasa, di situlah Kaelus harus siap untuk bekerja terus-menerus.


“Semua anggota organisasi hitam telah ditahan dalam penjara istana, Yang Mulia.”


Malam itu, beberapa jam sebelum pukul dua belas malam—yang berarti perjanjian yang dibuat oleh Charteris Killian de Meré dan raja Robelia akan menginjak hari ke-tujuh. Kaizen yang tidak dapat tidur memilih untuk melanjutkan sisa evaluasi kerja para kaki-tangannya, termasuk Kaelus.


Setelah menghabiskan seperempat menu makan malam bersama Killian yang jelas-jelas diancam untuk tetap menjaga pola makan teratur oleh kekasih hatinya—Lady Cyerene, keduanya kembali ke peraduan pribadi raja Robelia untuk bekerja.


“Tidak ada lagi informasi yang harus saya sampaikan untuk saat ini. Yang Mulia bisa mulai istirahat. Saya akan segera memanggilkan pelayan untuk membawakan teh hangat dan lilin aroma terapi.”


“Tidak perlu,” tolak raja Robelia yang masih sibuk dengan pekerjaannya—mengevaluasi beberapa informasi dalam bentuk dokumen tertulis. “Aku belum mengantuk dan akan menyelesaikan sisa pekerjaan ini.”


Kaelus menghela napas berat dengan kedua tangan masih dalam posisi beristirahat di belakang tubuh. Ketika kembali bersuara, secara otomatis ia mengubah posisi tubuh ke posisi siap.


“Anda butuh tidur, Yang Mulia. Semenjak kemarin malam Anda bahkan belum memejamkan mata.”


“Aku mengalami gangguan tidur, kau tahu sendiri seberapa parah gangguan itu belakangan ini,” balas raja Robelia dengan sekenanya. Tidak ada emosi apa pun yang tergambar di wajahnya.


“Saya akan mempersiapkan tempat peristirahatan di kediaman mantan Ratu Kayena seperti biasa. Saya juga akan meminta resep obat tidur baru untuk Anda.”


“Tidak perlu repot-repot karena aku sudah memiliki obat tidur dosis tinggi racikanku sendiri.”


“Tidak, Yang Mulia. Anda tidak diperbolehkan terus-menerus mengonsumsi obat tidur berdosis tinggi.” Penolakan itu diajukan bukan tanpa alasan. Namun, obat tidur dengan dosis tinggi sangat berbahaya bagi tubuh dan dapat memicu overdosis. “Saya tahu masa ini sangat sulit dilewati oleh Anda. Akan tetapi, cobalah untuk terus berusaha. Saya yakin Anda dapat melewati semua ini, Yang Mulia.”


Raja Robelia yang sejak tadi abai, tiba-tiba mendongkrak. Menatap lurus melewati bingkai kaca transparan yang ia gunakan ketika bekerja terlalu giat di malam hari.


“Kondisimu juga tidak lebih baik dariku, Kael. Pergilah ke kamarmu untuk beristirahat. Kau harus tetap prima untuk mendampingiku di masa ini.”


Kaelus mengangguk patuh. “Saya pasti akan selalu mendampingi Anda. Selagi Anda tidak membuang saya dari sisi Anda.”


Kali ini raja Robelia itu tampak menyunggingkan senyum tipis. Bibir yang belakangan ini lebih banyak mengumpat, berkata-kata dingin dan datar, akhirnya kembali menyunggingkan senyum walaupun tipis.


“Seperti yang sudah kau ketahui, aku akan segera menjadi Ayah lagi. Itulah kenapa aku ingin segera menyelesaikan semua permasalahan yang ditimbulkan oleh Klautviz de Meré dan putrinya. Kemudian aku ingin bertemu Kayena.”


“…”


“Ada banyak hal yang harus aku bicarakan dengan dia,” lanjut Kaizen ketika lawan bicaranya memilih diam saja. “Dan apa kau tahu, Kael. Dua hari yang lalu aku mimpi bertemu dengan mendiang Ibuku.”


“Mendiang Ratu Carlein?”


Kaizen mengangguk dengan ringan. “Ya. Mendiang Ibuku berada di rumah kaca miliknya. Ditemani oleh Putraku—Pangeran Carcel dan putri kecilku—Catalina. Ibuku bicara banyak malam itu, tetapi aku hanya bisa menangkap permintaan maafnya. Di sebelah Ibuku juga ada mendiang Ayah dan seorang wanita yang hanya mengamatiku dengan senyum hangat. Wajahnya agak mirip dengan anak itu.”


Suara Kaizen terdengar kian mengecil di akhir. Kaelus yang masih mendengarkan dengan seksama juga ikut menebak-nebak, kira-kira siapa wanita yang wajahnya mirip dengan anak itu—alias Elang Muda Kekaisaran.


“Mungkinkah wanita yang Anda maksud adalah mendiang Putri Keiza of Icrea? Istri ke-dua mendiang Raja Klein?”


“Entahlah,” sahut Kaizen. “Di istana Robelia tidak ada satu pun dokumen tentang mendiang Putri Keiza of Icrea, karena atas perintah Ibuku semua hal yang berbau dengan wanita itu harus dihancurkan.”


“Bahkan Tuan Muda Kaezar juga tidak memiliki lukisan wajah mendiang Ibunya karena perintah tersebut, Yang Mulia.” Kaelus ikut bersuara dengan nada lirih. Ia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi Kaezar yang bertahun-tahun harus hidup di bawah tekanan. Bahkan setelah kehilangan ibunya, di Robelia tidak ada satu pun orang yang boleh menyimpan barang-barang yang berkaitan dengan Keiza of Icrea.


“Mendiang Ayahku memiliki satu lukisan wajah wanita itu.” Kaizen tiba-tiba berkata demikian. Membuat Kaelus langsung mengernyitkan kening. “Salah satu bawahan Ayahku pernah bersaksi jika lukisan wajah Putri Keiza of Icrea dipesan khusus oleh Ayahku dari seniman berdarah Chea, Icrea. Akan tetapi lukisan wajah itu tidak pernah terlihat di mana pun karena kemungkinan besar lukisan wajah itu diberikan pada anak itu.”


“Mungkin itu adalah cara mendiang Raja Klein untuk menebus rasa bersalahnya pada Tuan Muda Kaizen.”


“Entahlah.” Kaizen berkata dengan salah satu tangan memijit pelipis. “Ayah memang bukan suami yang sempurna, tetapi Ayah selalu berusaha untuk menjadi orang tua yang sempurna bagi anak-anaknya.”


Kaelus setuju dengan ucapan itu. Mendiang raja Klein sangat berbeda dengan mendiang ayahnya—Raja Kyle yang kerap menelantarkan anak-anaknya, termasuk anak dari mistress—wanita simpanannya. Mendiang Raja Klein selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang ia cintai juga sayangi. Sifat itu kemudian diturunkan pada kedua putranya, Kaizen dan Kaezar. Walaupun menuruni sifat yang sama, keduanya menunjukkan sifat tersebut dengan cara yang berbeda.


“Kelak Anda juga harus berusaha maksimal untuk menjadi Ayah yang terbaik.”


Kaizen mendongkrak, menatap lawan bicaranya dengan sorot mata gamang. Semenjak mengetahui kehamilan Kayena ditambah dengan fakta jika wanita itu sudah menjadi milik pria lain, ia dilanda ketakutan juga penyesalan yang begitu besar.


“Bagaimana … bagaimana jika anak yang Kayena lahirkan akan membenciku? Aku tidak yakin bisa menanggulangi kebencian anak kami.”


“Masa lalu tidak dapat di ubah, tetapi masa depan masih dapat diusahakan, Yang Mulia.”


“…”


“Jika Anda sudah menyadari kesalahan Anda terhadap Nona Kayena, maka seharusnya Anda sudah memikirkan bagaimana cara untuk meminta pengampunannya. Soal bayi yang dikandung Nona Kayena, saya yakin bahwa Nona Kayena dan Tuan Muda Kaezar akan menjadi orang tua yang baik. Kebencian tidak akan mereka tanamkan pada mahluk suci yang tidak tahu apa-apa. Selanjutnya adalah bagaimana cara Anda untuk menempatkan posisi.”


Kaizen masih terdiam setelah mendengar ucapan Kaelus. Belakangan ini ia memang mulai disadarkan lewat mimpi-mimpi buruk yang memutar ulang tindakan jahatnya pada sang mantan istri. Kaizen dikejar dan dihantui rasa bersalah serta penyesalan mendalam hingga ke alam mimpi.


Satu hal yang sekarang Kaizen inginkan adalah membawa Robelia ke kondisi aman. Barulah ia akan mencari mantan istri tercintanya untuk meminta maaf dan jika memungkinkan ia ingin menikah lagi dengan calon ibu dari penerusnya itu.


“Yang Mulia.”


“Hm?”


“Terkait laporan titik perkumpulan organisasi hitam yang dikirimkan oleh kurir asing sore tadi, saya sudah mengirimkan satu kavaleri pasukan dengan 4 orang pengantar surat berkuda cepat.”


“Lalu bagaimana hasilnya?” tanya Kaizen kemudian.


Sore tadi memang ada kurir asing yang datang ke istana atas nama Charteris Killian de Meré. Kurir itu menyampaikan pesan yang meminta agar pasukan istana datang ke lokasi yang telah disebutkan, karena di sana organisasi hitam akan membuat pertemuan rahasia. Awalnya Kaizen dan Kaelus tidak langsung percaya. Namun, dalam surat tersebut dibubuhkan tanda tangan Killian serta sebuah lambang pribadi milik Killian—selaku pemilik toko pakaian bernama Assogaté. Seperti yang telah mereka ketahui, Killian memiliki banyak identitas. Akan tetapi, identitasnya yang jelas-jelas asli adalah Killian— sang pemilik Assogaté.


“Ada merpati pos yang datang sebelum saya menghadap Anda. Rupanya titik lokasi yang diberikan memang akurat. Pasukan yang kita kirim kemudian diminta untuk melakukan pengintaian terlebih dahulu, baru melakukan penyergapan setelah mereka selesai melakukan pertemuan. Semua rencana telah disusun oleh Sir Killian lewat kaki-tangannya.”


“Bagaimana dengan pengguna pedang ganda itu? apa di tidak ada di sana?”


“Ada, Yang Mulia. Justru Sir Killian ikut bergabung dalam pertemuan tersebut. Kemungkinan besar Sir Killian adalah salah satu anggota organisasi hitam yang disegani. Itulah kenapa Sir Killian tahu banyak tentang organisasi hitam.”


“Jadi, dia menipu kita?”


“Bukan seperti itu, Yang Mulia.” Kaelus menggelengkan kepala dengan keras-keras. “Sir Killian sepertinya sengaja masuk organisasi hitam untuk mengorek informasi tentang organisasi tersebut.”


Kaizen menyeringai tipis mendengarnya. “Anak pengkhianat itu memang gila semua,” responnya kemudian. “Lalu apa lagi yang kau dapatkan?”


“Belum ada informasi tambahan untuk saat ini, Yang Mulia. Mungkin …” kalimat Kaelus terpotong oleh ketukan pintu yang datang dari luar.


Kaizen sendiri sempat kebingungan, karena jarang ada yang menganggu waktunya di jam malam bahkan hampir tengah malam seperti saat ini.


“Masuk,” perintahnya.


Tidak lama kemudian, datang dua orang prajurit memasuki ruangan. Satu prajurit menggunakan seragam penjaga di istana raja, sedangkan satu prajurit lagi menggunakan pakaian dinas lapangan Ksatria Robelia.


“Ada apa?” Kaizen bertanya dengan kedua tangan menopang dagu.


“Ada kiriman dari wilayah semenanjung Kyen, Yang Mulia.”


“Kiriman? Dari siapa?” Kaizen tentu saja semakin dibuat kebingungan ketika ada kiriman yang datang dari semenanjung Kyen pada jam malam bahkan hampir tengah malam seperti saat ini.


“Saya tidak tahu namanya, Yang Mulia. Saya hanya diminta untuk mengantarkan kiriman ini,” ujar prajurit yang menggunakan pakaian dinas lapangan Ksatria Robelia itu seraya menunjukkan barang bawaannya yang dibungkus karung goni. Bagian bawah karung berwarna coklat itu bahkan sudah basah—kemungkinan besar terkena rembesan air atau cairan yang berhubungan dengan bau anyir. “S-aya pikir barang ini ada hubungannya dengan pertarungan hebat yang melibatkan pemimpin organisasi hitam dengan salah satu anggotanya. Barang ini tidak boleh dibuka, kecuali atas perintah Yang Mulia Raja Robelia.”


Kaizen semakin dibuat kebingungan. “Kenapa benda yang dikirimkan oleh seseorang tanpa identitas jelas bisa masuk ke istana? Bagaimana jika benda itu berbahaya?”


Kemarahan jelas menyelimuti Kaizen karena merasa prajurit di hadapannya teramat ceroboh dan bodoh. Alhasil kedua prajurit itu langsung berlutut dan memohon pengampunan.


“Kaelus, buka dan pastikan isi dari kiriman itu.”


Kaelus mengangguk dan segera berjalan ke arah prajurit yang membawa barang kiriman tadi. Aroma anyir langsung terhirup oleh indra penciuman Kaelus yang peka ketika berhasil mendekat.


“Darah,” katanya dengan suara amat lirih.


Karung yang terdiri dari dua lapis dan diikat dengan tali itu kemudian berpindah ke tangan Kaelus untuk dibuka. Tanpa pikir panjang, Kaelus langsung memutar posisi benda tersebut setelah ikatannya dibuka—bagian bawah dibawa ke atas, sedangkan bagian atas berubah posisi menjadi menukik ke bawah agar memudahkan keluarnya isi dari benda tersebut.


Tidak sampai satu menit, isi dari karung tersebut berhasil keluar dengan gerakan menggelinding yang dramatis. Lengkap dengan cairan merah kental berbau anyir yang mulai mengering di beberapa bagian isi dari karung tersebut.


“Yang Mulia.” Kaelus berkata seraya menatap isi karung goni tadi, kemudian menatap Kaizen dengan bola mata terbelalak. “Ini … kepala manusia.”


💰👑👠


Bersambung



Tanggerang 17-10-23