How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00164. Une dette qui doit être payée avec la vie (Hutang yawa yang harus dibayar



00164. Une dette qui doit être payée avec la vie (Hutang yawa yang harus dibayar dengan nyawa)


“Bawa aku ke pada Kaisar.”


Perintah itu diucapkan Killian pada orang-orang yang telah menunggu kehadirannya. Selepas meninggalkan pelabuhan dan memastikan kapal layar yang membawa kembarannya kembali ke perairan, ia langsung bergegas pergi. Titik temunya tidak jauh dari pelabuhan yang tadi ia singgahi. Menggunakan identitas palsu sebagai salah satu anggota organisasi hitam, Killian bisa ikut bergabung dalam berbagai pertemuan penting dengan modal token khusus untuk para anggota organisasi hitam.


Guna menyempurnakan penyamarannya, Killian juga tidak segan-segan untuk membuat tattoo heliks yang menjadi tanda pengenal para anggota. Killian telah bergabung semenjak tiga tahun yang lalu. Ia bahkan menjadi salah satu anggota ter-muda yang aktif mengikuti pertemuan atau perkumpulan tertutup. Itulah mengapa Killian memiliki hampir 80% informasi penting tentang organisasi hitam. Selain mudah berteman untuk membangun relasi, Killian juga cerdas dalam mengatur strategi.


“Sir Killian?”


Seorang pria setengah baya menyapa kehadiran Killian dengan keterkejutan.


“Belakangan ini Sir Killian jarang terlihat di perkumpulan. Apa Anda kembali memulai tur keliling dunia?”


Killian tertawa renyah seraya menggelengkan kepala. “Tidak. Hanya ada beberapa urusan pribadi yang harus diselesaikan.”


Ketika tiba di tempat perkumpulan, rupanya sudah banyak anggota organisasi hitam yang berkumpul. Mungkin karena titik perkumpulan ini dekat dengan pusat kota Robelia sehingga mudah bagi orang-orang penting seperti mereka—anggota yang berasal dari kalangan bangsawan dan pengusaha sukses—yang dapat menghadiri perkumpulan. Wilayah yang saat ini digunakan memang sudah termasuk wilayah terluar Kyen.


“Apa Sir Killian akan segera melangsungkan pernikahan? belakangan ini Anda sepertinya sibuk dengan urusan pribadi.”


Killian menggelengkan kepala seraya mengambil posisi duduk di seberang lawan bicaranya. “Tentu saja tidak. Aku masih ingin melajang selama semua keinginanku belum tercapai.”


Rata-rata anggota inti dari organisasi adalah orang-orang yang sudah berumah tangga. Walaupun minim ras perempuan, dominan anggota juga telah memiliki pasangan. Hanya sebagian kecil anggota muda yang masih belum memiliki pasangan, salah satunya adalah Killian. ia memang cukup akrab dengan beberapa anggota inti, mereka bahkan tidak segan memperkenalkan putri mereka pada Killian. Walaupun bukan bangsawan, Killian begabung dengan organisasi hitam sebagai saudagar kaya raya yang terkenal memiliki asset dan kekayaan di mana-mana.


Bekerjasama dengan Killian juga dinilai menjanjikan dari berbagai segi. Itulah mengapa ia sangat disegani, walaupun masih sangat muda.


“Di mana sang Kaisar?”


“Beliau belum datang,” jawab seorang pria yang sejak tadi sibuk dengan cerutunya. Menikmati opium yang jelas-jelas dilarang digunakan secara sembarangan. “Kudengar putri sang Kaisar telah diturunkan dari posisinya sebagai selir. Kalian sudah mengetahuinya?”


“Aku juga menerima informasi yang sama dari kaki-tanganku yang bekerja di istana. Putri sang Kaisar dirumorkan sakit keras, lalu secara tiba-tiba membuat raja Robelia terluka. Bukankah itu adalah keuntungan juga bagi kita?”


“Hm. Saat ini kondisi pertahanan kerajaan masih belum terlalu stabil. Apa lagi kondisi pemerintahan yang dipimpin oleh raja muda yang gila wanita itu.”


“Gila wanita? Kudengar raja tidak tertarik dengan wanita manapun selain mantan ratu, yaitu Nona Kayena. Wanita-wanita itu hanya alat untuk membangun relasi dan pondasi baru bagi raja Robelia, setelah kehilangan kartu AS-nya.”


Killian diam-diam menikmati obrolan ringan para kaki-tangan pemimpin organisasi hitam. Rupanya informasi mengenai Katarina sudah sampai ke telinga mereka. Bahkan rencana tentang pernikahan raja Robelia juga sampai ke pada mereka. Kaki-tangan pemimpin organisasi hitam memang banyak dan tersebar di mana-mana. Maka tidak heran jika perputaran informasi bisa cepat sampai ke organisasi hitam.


“Ada berita darurat. Apakah Kaisar belum tiba?”


Seorang pria dengan visual british—rambut pirang keemasan dan bola mata biru—serta lihat bicaranya yang khas sekali, tiba-tiba memasuki ruangan dengan raut wajah dipenuhi kecemasan.


“Ada apa?”


“Baru saja ada merpati pos yang datang dari ibu kota. Setengah dari anggota kita yang tersebar di istana telah ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.”


“Bagaimana bisa?”


Pria setengah baya yang tadi menyambut kehadiran Killian dan pria yang asik menikmati cerutu sama-sama dibuat terkejut dengan informasi tersebut. Kecuali Killian. Bagaimana dia mau terkejut, jika alasan di balik kejadian tersebut adalah dirinya. Tidak sampai tiga puluh menit berlangsung, informasi tersebut sudah cukup membuat para anggota organisasi hitam yang sedang berkumpul carut-marut.


Pemimpin mereka datang tidak lama kemudian. Kondisi ruangan yang sempat tidak kondusif, berangsur-angsur kondusif—lebih tepatnya dipaksa kondusif. Acara pertemuan tertutup itu kemudian dibuka dengan penyampaian informasi apa saja yang telah terjadi, termasuk tentang identitas anggota organisasi yang telah telah diketahui. Banyak anggota organisasi hitam yang ditangkap. Rupanya raja Robelia juga bergerak sangat cepat setelah menangkan para anggota organisasi yang ada di istana, ia bergas mengirimkan surat undangan pada beberapa bangsawan yang namanya ada dalam daftar pemberian Killian.


Para anggota organisasi tentu saja ketar-ketir. Identitas mereka sebagai sekutu pengkhianat mulai terbongkar. Hal itu tentu saja sangat berbahaya, karena organisasi hitam belum sempat memenangkan apa-apa dan belum merealisasikan tujuan utama mereka; merebut tahta kerajaan Robelia agar kepemimpinan digantikan oleh kaisar mereka yang dianggap satu idealisme.


“Kau datang, anak muda?”


Killian yang sedang memainkan pedang kanannya tampak terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba datang dari sang kaisar. Pria yang sudah tidak muda lagi itu datang dengan baju jirah yang menandakan jika dirinya selalu siap menghadapi peperangan.


“Kebetulan saya sudah kembali dari perjalanan,” jawab Killian seraya menyarungkan kembali pedang kanannya. Ia sempat menitipkan kedua benda tajam legendaris miliknya selama menghadiri pertemuan.


“Jadi kau sama sekali tidak mengetahui masalah besar apa yang sedang terjadi dengan organisasi?”


Killian menoleh agar dapat menatap lawan bicaranya secara langsung. “Saya sudah cukup mendengar dan memahami kondisi organisasi saat ini.”


“Ada yang aneh.” Alih-alih terus mendesak Killian, pria itu malah mengutarakan pernyataan lain. “Aku merasa ada pengkhianat di antara sekelompok manusia yang selama ini aku peralat.”


Killian tentu saja paham maksud dari ucapan Klautviz de Meré. Pria itu sedang mencurigai salah satu kaki-tangan atau bahkan anggotanya sendiri. Ia adalah orang yang teliti dan mudah baginya menyadari adanya tikus di antara para anggota organisasi hitam. Bagi tikus yang telah diketahui keberadaannya, maka mereka akan dibunuh dengan cara sangat tragis.


“Instingmu biasanya bagus, anak muda. Bagaimana jika sekarang kau menggunakan instingmu itu untuk membantuku?”


“Saya merasa sangat terhormat jika bisa membantu Anda,” jawab Killian seraya menunduk hormat. Saat ini kebetulan ia hanya tinggal berdua di ruangan tersebut. “Akan tetapi saya sendiri kurang yakin dengan kemampuan yang saya miliki,” lanjutnya seraya menggaruk bagian belakang kepala.


Gerakan sederhana itu rupanya membuat Klautviz de Meré bisa melihat sebuah tanda yang menghiasi pergelangan tangan Killian.


“Apa itu?”


Killian menautkan kening mendengan pertanyaan tanpa keterangan yang jelas itu.


“Tanda di tanganmu.”


“Ah, ini,” sahut Killian seraya menunjukkan pergelangan tangannya. “Semicolon. Saya membuatnya beberapa tahun yang lalu sebagai pengingat.”


Killian mengangguk. “Pengingat setiap kali saya ingin menyerah dan berhenti. Jika melihat tanda ini, maka saya akan berusaha untuk bangkit lagi.”


“…”


“Saya juga baru memberikan tanda yang sama pada adik saya.”


“Semicolon?”


Lagi, Killian mengangguk dengan ringan. “Lebih tepatnya butterfly semicolon. Tanda yang akan menjadi pengingat untuknya berhenti ketika hendak menyakiti diri sendiri atau bahkan berniat untuk mengakhiri hidup.”


Klautviz de Meré tampak terkejut mendengar ucapan lawan bicaranya. “Beban apa yang sampai membuat anak muda seperti kalian berkeinginan untuk mengakhiri hidup?”


Mendengar pertanyaan itu, kilat di manik Killian langsung berubah. Ada kegelapan yang samar-samar muncul ke permukaan. Semicolon “cont;nue” dalam kepenulisan adalah tanda baca yang digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu kalimat bisa saja berakhir, tetapi sang penulis untuk tidak mengakhirinya. Gambar semicolon ini dianggap sebagai simbol harapan bagi orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental dan memilih untuk berjuang, daripada mengakhiri hidup.



Sedangkan semicolon butterfly menjadi simbol bagi awal baru yang penuh dengan pengharapan, setelah melewati masa-mas sulit seperti percobaan mengakhiri hidup.


Bagi manusia berhati batu seperti Klautviz de Meré, ia mana tahu seberapa pentingnya memiliki harapan baru setelah berulang kali mencoba mengakhiri hidup. Ia hanya hidup sebagai manusia pendosa yang tidak pernah memikirkan akibat dari perbuatannya.


“Beban dan luka dari sifat egois seseorang yang menghadirkan kami ke dunia.”


“Orang tuamu?”


“Lebih tepatnya pria yang telah membuat Ibu kami menderita. Pria itu bahkan tidak tahu jika keegoisannya telah membunuh Ibu kami.”


Klautviz de Meré tersentak mendengarnya. “Aku turut berduka cita untuk ibumu. Lalu sekarang di mana pria bajing*n itu?”


Ketika bertanya demikian, Klautviz de Meré tidak pernah berpikiran negatif. Namun, jawaban yang kemudian dilontarkan oleh Killian, berhasil membuatnya membeku. Ia yang sudah mengenal sosok Killian dengan identitas berbeda langsung merasa asing dengan sosoknya


“Ada di dekatku.”


“Maksudmu?”


“Pria bajing*n itu adalah dirimu,” tambah Killian dengan sorot mata kelam yang menghunus tepat ke arah Klautviz de Meré. “Kau tidak mengenali saya? Anak laki-laki yang dulu berusia lima tahun ketika kabur dari cengkraman Ayahnya sendiri?”


Klautviz de Meré tentu saja terkejut dengan ledakan fakta tersebut. Ia memang kehilangan jejak putranya semenjak berusia 5 tahun. Anak laki-lakinya yang ia rebut dan pisahkan dari ibu kandungnya sejak bayi itu tiba-tiba menghilang. Ada salah satu anggota organisasi hitam yang sempat melihat putranya berada di sekitar kapal bongkar-muat barang yang akan berlayar ke negeri di seberang Barat Daya Robelia. Namun, ketika dicari ke negeri di seberang Barat Daya Robelia, ia tidak menemukan jejaknya sama sekali.


Pada masa dahulu, putranya itu bertubuh sangat kurus dan selalu terlihat tidak bernyawa. Sorot matanya kosong dan dipenuhi kebencian untuk ukuran anak berusia 5 tahun. Putranya pernah tinggal di rumah bordil selama setengah tahun, karena markas rahasia organisasi hitam berpusat di tempat hiburan tersebut. Klautviz de Meré juga tidak pernah secara khusus memperhatikan tumbuh kembang dan asupan gizi putra kecilnya. Ia hanya berpikiran sederhana—selama masih bernapas dan bergerak aktif, itu artinya masih hidup dan sehat.


Lima tahun masa anak-anak yang dihabiskan Killian di bawah asuhan ayahnya, hidup Killian tidak lebih baik dari kehidupan Katarina di manor Grand Duke Pexley. Killian kecil bahkan pernah mengidap busung lapar karena asupan gizi untuknya tidak diperhatikan dengan baik. Untung saja Killian sudah menjelajahi waktu—time travel—berulang kali. Jadi, sedikit banyak ia telah belajar dari kehidupan sebelumnya. Pada usia 5 tahun, Killian kecil memutuskan untuk kabur dan menjadi penumpang gelap di kapal yang akan berlayar ke negeri di seberang Barat Daya Robelia.


“Kau … Charteris?”


“Saya Killian.” Killian menjawab dengan nada suara tanpa emosi. “Charteris adalah nama anak yang sudah mati bertahun-tahun lalu.”


“Aku tidak salah. Kau adalah Charteris, putraku.” Klautviz de Meré berkata seraya mengikis jarak di antara mereka. Namun, Killian dengan cepat mundur dan menarik satu pedangnya.


“Saya hanya putra mendiang Karla Kannelite yang dibesarkan oleh pasangan suami-istri Count Cardinal. Anda tidak pernah ada dalam kehidupan saya, begitu pula kehidupan Katarina.”


Wajah Klautviz de Meré langsung mengeras ketika mendengar nama Katarina juga dibawa-bawa. “Tahu apa kau? Setelah kau pergi melarikan diri, Adik sial*nmu itu selalu aku perhatikan tumbuh kembangnya.”


“Ya, itu karena Anda ingin menggunakannya sebagai pion.”


“Memangnya kenapa? Dia memiliki potensi seperti Ibu kalian, menjadi wanita murahan demi memenuhi kebutuhannya.”


“Jaga bicaramu!” seru Killian dengan kemarahan yang kian berkobar. Kendati demikian, ia masih berbesar hati untuk menekannya dalam-dalam. “Ibu kami adalah wanita baik-baik sebelum bertemu dengan pria bajing*n seperti dirimu.”


“Anak kecil sepertimu tidak akan tahu apa-apa.”


“Dan orang biasa sepertimu juga tidak pernah mengerti bagaimana hancurnya kehidupan anak-anak yang kau gunakan sebagai alat.”


Klautviz de Meré tertawa lepas seraya menarik sebuah pedang dari patung prajurit berbaju jirah. “Jadi kedatanganmu hari ini adalah untuk menasihati Ayahmu ini? atau untuk mengantarkan nyawamu yang tidak berguna itu?”


Killian mencabut pedangnya yang lain. Pedang bagian kiri yang telah ia persiapkan secara khusus. “Saya datang untuk mengakhiri kejahatan Anda,” ucap Killian kemudian. Ia sudah bersiap dengan kedua pedang di tangan. Tanpa rasa takut, ia akan menghadapi pria yang merupakan dalang dari segala bentuk kejahatan. “Saya tidak akan berhenti sampai salah satu di antara kita mati.”


“Baik.” Klautviz de Meré menyanggupi dengan enteng. “Coba tunjukkan pada Ayahmu ini, kemampuan yang kamu miliki sehingga merasa begitu sombong.”


Killian mengayunkan pedang dengan pandangan tertuju pada Klautviz de Meré—ayahnya yang tampak tenang dengan pedang di tangan. Sebelum datang dan melakukan tindakan ini—yang terbilang bunuh diri—ia telah mempersiapkan segalanya, termasuk mempelajari semua teknik bela diri lawan dari ingatan di kehidupan sebelumnya yang berhasil ia gali.


“Atas nama tiga wanita yang aku sayangi serta orang-orang tidak bersalah yang nyawanya berakhir di tangan bajing*n ini, akan kupertaruhkan sisa keberuntungan yang tersisa,” ujar Killian di dalam hati, sebelum duel maut antara ayah dan anak itu dimulai.


💰👑👠


Bersambung



Tanggerang 15-10-23