
00166. Enfant; preuve claire de l'existence du karma (Anak; bukti nyata dari adanya karma)
“Dari mana kau mempelajari semua keahlian ini?”
Pertanyaan itu dilontarkan oleh pria dengan baju jirah yang sudah tidak muda lagi. Masa kejayaannya sebagai seorang ksatria mungkin sudah terlewati. Kendati demikian, kemampuannya dalam bertarung satu lawan satu masih patut untuk diacungi jempol. Setengah jam berlalu semenjak duel maut tercipta di antara ia dan darah dagingnya sendiri, masing-masing telah mendapatkan luka di beberapa bagian tubuh. Namun, semua luka yang didapatkan masih belum seberapa, karena tujuan utama dari duel maut tersebut adalah merenggut nyawa salah satunya.
“Anda rupanya begitu penasaran dengan kemapuan yang saya miliki,” jawab pria muda dengan dua bilah pedang di tangan.
Klautviz de Meré—ayah dari pria muda itu tampak menggeram marah. Pada masa jayanya, ia adalah salah satu ksatria yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Bahkan kemampuan duelnya di arena pertarungan lebih mahir ketimbang mendiang raja Robelia pada masanya, yaitu Raja Klein Alexander Kadheston. Dengan kemampuan perang yang dimiliki, Klautviz de Meré dapat membunuh puluhan manusia dalam sekejap mata. Itulah salah satu alasan yang membuatnya kerap dikirim ke medan pertempuran yang teramat berbahaya. Namun, “slogan” itu tidak berlaku pada darah dagingnya sendiri.
Sebagian besar hidup Klautviz de Meré padahal sudah dihabiskan untuk bertahan hidup dengan cara memenangkan pertarungan demi pertarungan serta terus peningkatan kekuatan. Kendati demikian, ia menemukan jati diri jenius baru pada darah dagingnya yang telah lama menghilang. Selain menguasai hampir semua teknik bermain pedang yang ia miliki, darah dagingnya juga mahir menggunakan teknik pedang ganda, teknik pedang legendaris, sampai teknik pedang terlarang.
Untuk usia Killian yang tergolong masih sangat muda, Klautviz de Meré penasaran dengan caranya mendapatkan semua ilmu berpedang. Entah dari mana dan siapa saja sword master yang menjadi guru darah dagingnya itu, mengingat seorang ahli pedang ganda—ambidextrous—sangat langka bahkan sudah jarang sekali ditemukan di Robelia.
Kemungkinan besarnya, sang putra belajar secara otodidak melalui berbagai sumber dan referensi tertulis di dalam catatan kuno. Jika benar seperti itu, maka Klautviz de Meré seharusnya bisa berbangga diri terkait kejeniusan putranya yang dulu hendak dijadikan kartu AS dalam permainan balas dendam.
“Jika saya berkata mempelajari keahlian dan teknik ber-pedang dari Anda, apakah Anda akan percaya?”
Klautviz de Meré yang berdiri dengan napas diatur baik-baik tampak menautkan kening. Kapan ia memberikan pelajaran terkait keahlian dan teknik berpedang? Mengingat putranya saja menghilang—lebih tepatnya kabur—semenjak berusia 5 tahun. Sejak dulu Klautviz de Meré bertanya-tanya, memangnya apa yang dipikirkan anak berusia 5 tahun ketika lari dari pengawasannya? Anak laki-laki yang masih sangat kecil dan tidak mengetahui kejamnya dunia itu tahu-tahu melarikan diri dengan cara menjadi penumpang gelap di kapal bongkar-muat barang yang akan berlayar ke negeri di seberang Barat Daya Robelia.
Jika dipikir-pikir, Charteris Killian de Meré memiliki pola pikir yang sudah rumit semenjak masa kanak-kanak. Mungkin isi pikirannya sudah dewasa di saat tubuhnya masih kecil—karena tidak ada yang tahu jika ia telah berulang kali menjelajahi waktu.
“Anda pasti tidak akan percaya dengan apa yang saya bicarakan,” lanjut Killian. Ia kemudian kembali menatap lurus ke arah Klautviz de Meré yang menjadi target kedua bilah pedang di tangan. “Saya lari karena ingin lepas dari cengkraman Anda.”
“…”
“Saya lari karena tidak ingin dijadikan sebagai senjata Anda untuk merebut tahta kerajaan Robelia.”
“Jaga bicaramu, anak sial*n. Aku tidak mungkin menggunakanmu—“
Killian menggelengkan kepala dengan cepat seraya melangkah maju. “Saya lebih dari tahu apa yang akan terjadi jika saya memilih untuk tetap tinggal.”
Klautviz de Meré dibuat semakin kebingungan. Ucapan yang dilontarkan putranya terdengar seolah-olah tahu segalanya; tentang rencananya menggunakan anak sendiri sebagai senjata untuk merebut tahta kerajaan Robelia.
“Saya akan menyelesaikan segalanya hari ini.”
“Majulah jika kepercayaan dirimu memang sudah menyentuh langit. Sejauh ini tidak ada yang bisa lolos dari tebasan pedangku.”
Killian tersenyum miring dengan salah satu bilah pedang di arahkan ke depan. “Tetapi saya telah dilahirkan sebagai karma bagi Anda,” ucapnya tiba-tiba. “Seorang anak adalah cerminan dari perilaku orang tua di masa lalu. Terkadang seorang anak juga dilahirkan untuk menjadi teguran bagi orang tua berhati batu seperti Anda.”
Setelah berkata demikian, Killian maju tanpa keraguan. Melaju dengan mengandalkan kecepatan angin yang membuat ayunan kakinya lebih ringan dan gerakan pedangnya yang agresif tidak mudah dideteksi oleh lawan. Perjalanannya mengelilingi dimensi waktu—time travel—adalah untuk menyelesaikan tugas ini. Tugas berat yang ia emban sebagai manusia berlumuran dosa dari kehidupan sebelumnya.
Di kehidupan ini, walaupun tidak dapat menyelamatkan sang ibu—salah satu dari tiga wanita yang ia sayangi dan cintai—setidaknya masih ada dua wanita yang dapat ia selamatkan. Pada kehidupan sebelumnya Killian harus kehilangan ketiganya, maka pada kehidupan kali ini ia berusaha maksimal untuk mengurangi efek dari rencana jahat sang ayah.
“Aku telah berjanji untuk tidak berakhir di tempat ini,” ujar Killian dengan suara kecil. Indra pendengarannya yang peka mulai menangkap suara-suara keributan dari luar ruangan. Ia langsung memprediksi bahwa pasukan bala bantuan dari istana pasti telah tiba.
“Kau ingin membunuh Ayahmu sendiri, Charteris?”
Algojo muda yang telah memperdalam ilmu bela diri sepanjang hidup itu tidak lagi basa-basi. Setiap ayunan pedangnya tegas dan jelas. Walaupun target masih dapat menangkis, mengelak, bahkan meluncurkan serangan balasan, sang algojo muda tidak gentar sama sekali. Semakin lama durasi duel maut itu berlangsung, satu per satu teknik rahasia dan terlarang yang dikuasi olehnya dipergunakan.
“Untuk penderitaan yang telah kau berikan pada Ibuku,” ujar Killian, setengah berteriak ketika berhasil menebas lengan Klautviz de Meré. Darah segar langsung mengotori sebagian bilah pedang dan wajahnya. Erangan kesakitan juga langsung terdengar mengisi seluruh penjuru ruangan.
Lengan Klautviz de Meré yang terluka adalah bagian kanan. Pedang yang ia gunakan juga langsung terjatuh ke lantai. Walaupun menggunakan baju jirah yang melindungi tubuhnya, salah satu pedang milik Killian dapat membelah besi hingga baja ringan dalam serangan dengan kecepatan tertentu. Sedangkan satu bilah pedang yang ada di tangan kanan Killian, didapatkan dari seorang rounin—samurai tanpa tuan—yang diberi nama pedang katsujin-ken yang bermakna pedang yang melindungi kehidupan.
Itulah kenapa Killian menyerang menggunakan pedang kanan, sedangkan pedang kiri dipersiapkan untuk mengakhir pertarungan. Ketika digunakan secara bersamaan, kedua bilah pedang itu akan menghasilkan serangan antara pelindung juga pembasmi yang sama-sama bertekad kuat untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
“Ahk!”
Jeritan kesakitan itu terdengar sangat nyaring ketika Killian juga mendapatkan luka pada salah satu lengannya. Namun, ia masih memiliki cukup kekuatan untuk memberikan serangan bertubi-tubi pada ayah kandungnya sendiri.
“Pergilah ke neraka!” serunya dengan sorot mata yang sudah diliputi kegelapan. Seolah-olah kebencian dan rasa sakit yang ia dapatkan dari kehidupan pertama hingga kehidupan saat ini berkumpul menjadi satu dan merasuki jiwanya. Mengambil alih semua kewarasan.
“Pergilah ke neraka. Ibu pasti tidak akan sudi melihatmu tinggal lebih lama di dunia.”
Itu adalah kalimat terakhir Killian sebelum melempar pedang di tangan kanan, kemudian memilih menggunakan pedang di tangan kiri untuk mengakhir serangan. Ujung tajam dari pedangnya berhasil membuat luka gores di leher sang ayah. Walaupun diameternya tidak besar dan dalam, Killian sangat yakin jika letak goresan yang ia buat pas pada titik vital. Buktinya, detik itu juga Klautviz de Meré langsung muntah darah dengan napas yang semakin melemah.
“A-ku menyesal telah membiarkan wanita itu melahirkan moster seperti kalian,” ucap Klautviz de Meré dengan suara terbata-bata.
Killian yang tidak lagi memiliki kebaikan untuk membiarkan lawannya selamat, langsung mengarahkan pedang di tangan kirinya untuk menusuk organ vital sang ayah yang terletak di bagian dada sebelah kiri.
“Dan aku juga menyesal telah dilahirkan sebagai anakmu, tetapi aku, Katarina, atau pun Ibu, tidak pernah bisa memilih. Semua kesalahan dan kemalangan yang terjadi tetap berasal dari dirimu!”
Hidup Klautviz de Meré berakhir di tangan anaknya sendiri. Tanpa menutup mata, adik tiri dari raja Robelia sebelumnya itu menghembuskan napas terakhir setelah meneriakkan erangan kesakitan yang begitu memilukan. Namun, sang putra yang sudah diliputi ambisi dan rasa benci sama sekali tidak peduli.
Setelah menghabisi sang ayah, ia mencabut pedangnya tanpa perasaan. Tidak berselang lama, datang seorang kaki-tangannya, menyampaikan kondisi di luar ruangan yang sudah mulai kondusif.
“Kirimkan kepalanya ke istana Robelia,” perintah Killian tanpa menoleh lagi ke arah tubuh sang ayah yang sudah tak berdaya dengan darah bersimbahan di sekitarnya. Raut wajahnya sendiri masih dingin dengan aura kegelapan yang sangat kental. “Pastikan jika raja Robelia yang langsung menerimanya.”
Setelah memberikan perintah itu, Killian segera meraih kedua pedang miliknya. Tanpa dikembalikan ke dalam sarungnya, ia langsung berlalu dengan kedua bilah pedang berlumuran darah di masing-masing tangan.
💰👑👠
Bersambung
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Jangan lupa dukung Author dengan cara LIKE, VOTE, TONTON IKLAN SAMPAI HABIS, RATE BINTANG 5 🌟 KOMENTAR & FOLLOW, Author Kaka Shan + IG Karisma022 😘👇
Mampir juga ke cerita keren punya teman Author 👇
Tanggerang 19-10-23