
Arthan pun berjaga di sebuah tiang teras rumah Ghibran yang menghadap ke arah kolam renang. Sedangkan yang lainnya bersiap untuk bersembunyi.
"Gw itung sampai sepuluh, kalau sampai kalian belum sembunyi berarti kalian kena." ucap Arthan sebelum mulai menghitung.
"Sayang kamu mau sembunyi di mana?" tanya Ghibran.
"Rahasia, pokoknya kamu gak boleh ikut aku." jawab Aretha.
"Lah kok gitu sih, kan biar aku sekalian jagain kamu."
"Pokoknya aku bilang gak ya gak. Udah sana kamu sembunyi." tegas Aretha yang mau tak mau harus Ghibran lakukan.
"Enam, tujuh delapan...." Arthan berhitung sudah sampai di angka delapan.
Dengan secepat kilat, Ghibran pun berlari dan bersembunyi di balik tanaman yang rimbun. Sedangkan Aretha entah berlari kemana dia tadi.
"Sepuluh." Arthan segera membalikkan tubuhnya dan melihat keadaan sekitar yang sudah sepi tidak ada Abi Umar, Ghibran dan Aretha.
"Males banget dah gw mainan kayak gini, coba aja tuh Aretha bukan adik gw. Udah gw gorok dia." ngedumel Arthan, dan berjalan mencari keberadaan mereka bertiga.
"Loh Abi kok ada di sini." kaget Ghibran saat melihat ternyata bukan hanya dirinya yang berada di balik tanaman ribun itu, melainkan ada Abi Umar juga di sana.
"Ssttt... nanti Arthan denger." Abi Umar menyuruh Ghibran agar tidak berisik.
Ghibran pun menuruti apa yang di katakan Abi Umar. Dia diam dan memperhatikan Arthan yang tengah kebingungan mencari keberadaan mereka.
Ingin rasanya Ghibran tertawa melihat tingkah Arthan yang mencari keberadaan mereka di dalam tempat sampah. Bagaimana bisa Arthan kepikiran mereka bersembunyi di sana, sedangkan saja mereka sangat jijik mencium baunya saja.
"Bi coba deh lihat, anak Abi bodoh banget." ucap Ghibran pada Abi Umar.
"Kamu jangan berisik, nanti dia dengar." balas Abi Umar dan tetap terus memperhatikan Arthan.
"Ini mereka di mana sih. Awas aja kalau sampai mereka pulang." gerutu Arthan yang sudah lelah mencari keberadaan tiga orang itu.
Arthan mencari mereka di kolong kursi duduk yang ada di sana dan juga di balik tempat yang menurut Arthan bisa untuk bersembunyi tapi tak kunjung juga dia menemukan mereka bertiga.
"Nih lama lama nih tempat gw ratain." kesal Arthan sambil menendang batu krikil yang ada di hadapannya.
"Aduh." keluh Ghibran karena kerikil yang di tendang Arthan mengenai jidatnya.
"Suara apa tuh." Arthan segera menghampiri asal suara itu.
"Ooh jadi kalian sembunyi di sini. Sekarang kalian kena." senang Arthan yang berhasil mendapatkan Ghibran Dan Abi Umar.
"Kamu sih gak bisa diam, jadi ketangkap kan." Abi Umar menyalahkan Ghibran.
"Lah kok Ghibran, salahin bang Arthan dong kenapa main tendang krikil segala, jadi kena jidat Ghibran kan." tak terima Ghibran.
"RET, RETHA, ARETHA...." teriak Arthan mencari keberadaan Aretha.
"Dimana sih nih anak, jago banget sembunyinya. Woy Ghibran bini lo sembunyi di mana?" tanya Arthan pada Ghibran yang tengah duduk di sebuah kursi yang ada di teras rumah belakang.
"Mana gw tahu, tadi aja gw mau ikutan dia sembunyi gak di bolehin." jawab Ghibran.
"Kamu beneran gak tahu nak?" tanya Abi Umar tidak percaya, pasalnya tadi dia melihat Ghibran dan Aretha seperti tengah berbincang bincang sebelum bersembunyi.
"Iya Bi bener, Ghibran gak tahu." balas Ghibran.
"Trus sekarang tuh anak kemana coba, gak tahu apa kalau gw udah capek." kesal Arthan menghampiri Ghibran dan Abi Umar.
Arthan menggambil tempat duduk di samping Abi Umar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah.
"Lah lo kok udah nyerah sih, ayo dong cari bini gw sampai dapat." suruh Ghibran.
"Bentar gw masih capek. Bantuin gw yok!" ajak Arthan.
"Dih ogah banget, mendingan gw tiduran di kamar." tolak Ghibran.
"Ayo lah, nanti gw bantuin lo deh buka warung di Malaysia." iming-iming Arthan.
"Oke dell." setuju Ghibran.
Dengan semangat empat lima, Ghibran berdiri dan mulai mencari keberadaan Aretha di semua sudut bagian belakang rumah tapi tak kunjung juga dia mendapatkan Aretha.
"Gimana dapet gak?" tanya Arthan di balas gelengan kepala oleh Ghibran.
"Terus kita harus cari ke mana." Putus asa Arthan.
"Udah biarin aja, palingan nanti Retha juga keluar sendiri." ucap Abi Umar tenang.
"Bener juga apa kata Abi." setuju Arthan.
Mereka berdua pun kembali duduk di posisi semula sambil menunggu Aretha keluar dari tempat persembunyiannya sendiri.
Klunting.
Ponsel Arthan berbunyi menandakan ada pesan masuk. Arthan segera membuka dan membacanya dengan teliti. Perlahan mata Arthan melotot yang membuat Abi Umar dan Ghibran bertanya tanya.
"Kenapa?" tanya mereka berdua.
Arthan menunjukkan room chat miliknya pada Ghibran dan Abi Umar agar membacanya.
...***...