
Menatap Aretha penuh harap sambil tangannya setia menggenggam tangan Aretha.
"Kamu tidak perlu memohon seperti itu, bukankah aku sudah bilang kalau kamu memang berhak memegang seluruh bagian dari tubuhku." balas Aretha menatap Ghibran dengan serius.
"Aku tahu aku memang berhak, tapi aku gak mau kamu mengizinkan aku dengan terpaksa."
"Maaf aku belum bisa mencintai kamu, maaf aku belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu. Bahkan aku meragukan keseriusan kamu." balas Aretha entah bagaimana bisa air matanya sampai menetes.
"Ssttt... udah jangan nangis lagi, aku gak suka melihat kamu menangis. Ini rasanya sakit." mengarahkan tangan Aretha ke arah dadanya.
"Janji ya sama aku gak boleh nangis lagi." Aretha mengganguk dan berhambur ke pelukan Ghibran.
"Hiks maaf, bantu aku untuk bisa mencintai kamu." ucap Aretha sambil sesenggukan dalam pelukan Ghibran.
"Ssttt... aku selalu mendoakan kamu di setiap sholat ku, kalau memang kita berjodoh kamu pasti bakalan bisa membalas perasaanku." mengelus kepala Aretha yang tertutup hijab pashmina sambil sesekali mencium kening Aretha.
"Kita pulang ya." ajak Ghibran dan Aretha mengganguk.
Ghibran menghapus air mata yang ada di pipi Aretha dengan lembut, setelah itu dia juga yang memasangkan sabuk pengaman untuk Aretha dan hal itu membuat pipi Aretha bersemu merah.
Ghibran menjalankan mobilnya kembali menuju rumahnya, setelah berkendara kurang lebih lima belas menit akhirnya mereka sampai di rumah.
"Selamat datang tuan nyonya." sapa bi Wati dan pak Tomo yang menyambut kedatangan mereka.
"Assalamualaikum." salam Ghibran dan Aretha membuat raut wajah mereka berdua cemas.
"Wa-waalaikum salam tuan nyonya." balas mereka berdua dengan terbata bata.
"Ini untuk terakhir kalinya saya mengingatkan pada kalian, ucapkan salam di mana pun kalian berada." tegas Ghibran memandang mereka berdua dengan datar.
"Ba-baik tu-an, maafkan kesalahan kami."
"Hmm."
"Yuk yang kita masuk." ajak Ghibran merangkul pinggang Aretha.
"Gak usah di dengerin apa kata suami saya, tapi kalau soal mengucapkan salam kalian harus melakukannya ya." ucap Aretha sebelum pergi dari sana.
"Terimakasih nyonya." lega bi Wati dan pak Tomo karena memiliki majikan sebaik Aretha.
"Kamu apaan sih yang, mereka itu salah jadi harus di tegur biar gak di ulangi lagi." ucap Ghibran setelah sampai di kamar.
"Kamu itu jangan keras keras, nanti mereka gak akan nyaman berkerja di sini." balas Aretha memandang Ghibran.
"Tapi kan...."
"Suamiku sayang, katanya mau bikin aku nyaman berada di sisi kamu. Kalau kamu suka marahin orang kayak gitu nanti aku juga bakal takut sama kamu. Aku takut kalau kamu marahin aku juga kalau aku berbuat salah."
"Itu gak akan mungkin sayang."
Cup.
Mencium tangan Aretha yang berhasil membuat jantung Aretha diskoan lagi.
"Aku ke kamar mandi dulu ya mau cuci muka." izin Aretha agar Ghibran melepaskan tangannya.
"Jangan lama lama ya, aku gak sabar pengen peluk kamu."
"Iyah."
Ghibran pun melepaskan Aretha dari jangkauannya, meskipun dekat tapi Ghibran seakan tidak rela kalau Aretha berada jauh dari dirinya. Entah nanti bagaimana kalau mereka berdua sudah kembali melakukan aktivitas mereka lagi, pasti nanti Ghibran gak bakalan betah di tinggal jauh oleh Aretha.
Ghibran pergi ke kamar mandi yang lain agar nanti saat Aretha selesai dia juga selesai. Kan kalau dia sudah bersih dan ganteng akan pede mendekati Aretha. Padahal mah tanpa mandi satu Minggu pun badan Ghibran tetap wangi dan wajahnya tetap tampan.
-
"Aduh mana sih, kok gak ada taksi lewat." Gerutu seorang wanita yang tengah berdiri di bahu jalan untuk mencari sebuah taksi.
Saat akan menghidupkan ponselnya, tiba tiba ada sebuah mobil sport yang berhenti di depannya.
"Yuk masuk, gw antar pulang." ucap seorang yang berada dalam mobil dan ternyata dia adalah laki-laki.
"Tunggu deh, muka lo kok kayak gak asing ya." ucap Aretha mencoba mengingat di mana dia bertemu dengan orang itu.
"Lo, lo kan yang tadi siang beli kue gak mau bayar itu." teriak wanita itu yang tak lain adalah Ruby.
"Ya elah gitu aja pakai teriak teriak, sini cepat masuk sebelum gw berubah pikiran."
"Apa lo bilang, gitu aja? Heh, asal lo tahu ya, kue yang lo beli tuh harganya gk murah. Itu duit bisa untuk biaya hidup gw seminggu sama adik gw." sungut Ruby.
"Udah mau masuk gak?" ucap lelaki itu tak menghiraukan Ruby yang tengah marah.
"Lo...."
"Mau masuk gak, kalau lo gak masuk gw gak bakal ganti uang Lo." potong laki-laki itu.
"Auw...." ringis Ruby karena kakinya yang kejeduk mobil lelaki itu.
"Makanya gak usah sok mau marah, untung aja mobil gw gak kenapa kenapa." ledek laki laki itu.
"S**l*n nih cowok kayaknya ngajak perang gw." umpat Ruby dalam hati.
"Gw hitung sampai tiga kalau lo gak masukkan juga gw tinggal plus gw juga gak bakal ganti uang Lo. Apalagi yang gw denger denger dari orang orang katanya jalanan ini agak angker, biasanya kalau ada cewek sendirian suka di gangguin."
Mendengar itu, Ruby yang sangat penakut pun bulu kuduknya berdiri.
"Satu... dua... ti...."
"Iya iya gw masuk." Ruby pun masuk kedalam mobil laki-laki itu.
Dan tanpa Ruby ketahui kalau laki-laki itu tengah menyunggingkan senyum devilnya. Mungkin kalau Ruby tahu Ruby sudah kabur keluar dari mobil, gak papa kalau uangnya gak kembali asal nyawanya aman aman saja.
Lelaki itu menjalankan mobilnya membelah jalanan yang sudah agak sepi lalu lalang kendaraan. Padahal biasanya di jalanan yang mereka lewati ini macet kalau siang.
"Rumah lo di mana?" tanya lelaki itu sambil fokus menatap ke arah depan.
"Jalan XX no 10." jawab Ruby dengan pandangan yang menatap keluar jendela.
"Lo gak mau kenalan sama gw?" tanya laki-laki itu untuk memecahkan keheningan.
"Gak penting." balas Ruby sinis.
"Ooh gitu, ya udah gw gak usah gantiin uang lo kalau gitu."
"Ehh jangan dong, gw butuh banget uangnya."
"Kenalin nama gw Arthan, kalau lo?" ucap lelaki itu yang tak lain adalah Arthan orang yang bertemu dengan Aretha di taman tadi sore.
"Ruby." balas Ruby malas.
"Nih lo tulis nomor lo, biar nanti gw enak kalau mau bayar hutang. Soalnya gw gak ada uang cas." menyodorkan HP nya yang sudah terbuka layar kuncinya.
Tak banyak berfikir, Ruby segera menuliskan nomor ponselnya agar nanti uangnya cepat kembali dan keuangan dia kembali aman seperti semula.
"Nih." mengembalikan ponsel Arthan.
Arthan pun menerimanya dan kembali memasukkannya ke dalam kantong jaketnya.
Sebenarnya tadi Arthan bohong kalau dia tidak ada uang cas, padahal mah di dompet dan sakunya banyak. Apalagi dia juga selalu menyediakan uang di dasbor mobilnya. Kalau untuk membayar hutangnya pada Ruby mah masih lebih lebih.
Arthan kembali fokus memegang kemudi menuju rumah Ruby dengan keheningan yang menyelimuti.
...***...