
JEDER.
Ternyata oh ternyata selama ini Aretha tidak tahu kalau sebenarnya Ghibran lah pemilik cafe itu. Tapi gapapa, nanti Ghibran akan memberikan kejutan buat istrinya yang pintar ini.
"Maksud kamu?" tanya Ghibran pura pura tidak faham maksud Aretha.
"Iya mending kamu jadi tukang pijat aja dari pada kerja ikut orang. Pijatan kamu enak loh, aku yakin nanti pasti bakalan jadi tempat pijat yang besar kalau kamu buka jasa pijat." jelas Aretha.
"Emang kamu beri izin aku buat pijitin orang lain, kayak kaum wanita gitu?" tanya Ghibran memancing Aretha, Ghibran ingin tahu apakah nanti Aretha ngizinin atau tidak kalau tidak bisa di katakan kalau Aretha itu cemburu. Dan kalau cemburu itu artinya sudah....
Kalian pikir sendiri lah.
"Ya, ya gak harus kaum wanita juga, kan bisa orang laki laki." jawab Aretha agak gagap.
"Ya kan bisa saja nanti yang datang itu wanita, apalagi kalau wanitanya itu masih jomblo."
"Apa, kenapa kalau masih jomblo, mau kamu deketin HAH? Ingat ya kamu tadi sudah mengucapkan janji di hadapan Allah." garang Aretha menatap tajam pada Ghibran seolah memberikan ancaman.
Ghibran mengerjapkan matanya sejak sebelum berbicara, "Kamu kenapa marah kayak gitu? Kamu cemburu?" selidik Ghibran.
"Siapa juga yang cemburu, pede amat. Sebagai istri kamu yang baik aku harus mengingatkan kamu agar tidak berbuat dosa. Udah ahh sama udah sembuh kakinya." menurunkan kakinya dari pangkuan Ghibran.
"Loh ini belum selesai loh."
"Udah gak usah, udah baikan juga, Makasih." tolak Aretha dan berusaha untuk berdiri mengunakan kakinya yang habis terkilir.
"Awas pelan pelan." peringat Ghibran membantu Aretha berdiri.
"Gimana masih sakit?" tanya Ghibran di balas gelengan oleh Aretha.
"Aku mau ke kamar mandi dulu." izin Aretha, entah mengapa kalimat itu keluar sendiri dari bibirnya, padahal kan tadi dia tengah kesel pada Ghibran.
"Mau aku bantu?"
"Gak usah aku bisa sendiri." berjalan meninggalkan Ghibran dengan kaki agak pincang.
"Hati hati, jangan lupa sekalian ambil wudhu juga." pesan Ghibran membuat Aretha menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Ghibran penuh tanya.
"Kenapa?" tanya Ghibran heran.
"Ambil wudhu?" balik tanya Aretha.
"Iya ambil wudhu, kamu belum sholat isya kan? Biar nanti kita sholat jamaah bersama di kamar." jawab Ghibran membuat Aretha malu sendiri dengan dirinya.
"Oh iya hehehe." cengir Aretha dan membalikkan badannya lagi berjalan menuju kamar mandi sambil menggerutu.
"Aretha bodoh, ngapain sih lo mikir yang kayak gitu. Dasar nih otak kotor banget." gerutu Aretha yang dapat di dengar oleh Ghibran.
Ghibran tersenyum mendengar itu sebelum dia membalas geruntuan Aretha.
"Kamu tadi mikir kalau aku mau ajak kamu sholat dua rakaat ya? Udah gak usah kamu pikirkan, aku gak bakalan minta hak aku kalau kamu belum siap." ucap Ghibran membuat langkah kaki Aretha terhenti.
"Kamu gak perlu mikir itu dulu sampai buat kamu jatuh kayak tadi. Aku akan berusaha buat kamu jatuh cinta sama aku sampai kamu merasakan apa yang aku rasakan sekarang." lanjut Ghibran tetap berada di tempat.
"Aku ke kamar mandi dulu." ucap Aretha dan berjalan agak cepat tanpa menengok ke belakang.
"Hufft...." hela nafas Ghibran sebelum dia mengambil peralatan buat sholat dirinya dan Aretha sambil menunggu Aretha selesai dari kamar mandi.
-
Aretha yang berada di dalam kamar mandi pun menggerutuki dirinya lagi, akibat kecerobohannya dalam berbicara membuat dia mendengar isi pikiran Ghibran. Dia tidak menyangka kalau Ghibran akan berbicara seperti tadi. Bahkan dia juga tidak percaya kalau Ghibran setulus itu sama dirinya.
"Jangan baper Aretha jangan baper, ini baru permulaan. Bisa jadikan sifat aslinya bukan seperti itu. Bisa juga kan yang tadi itu hanya pemanis saja." ucap Aretha berbicara pada bayangannya sendiri di dalam cermin.
"Pokoknya lo harus cari tahu dulu semua sifat dia." lanjutnya.
Tok tok tok.
"Sayang kamu gak papa kan?" tanya Ghibran mesra dari luar kamar mandi.
Blus.
Tuh kan lagi lagi Aretha di buat blusing oleh Ghibran. Katanya tadi mau cari tahu tentang Ghibran, tapi kalau gini caranya bagaimana?
"I-iya bentar." jawab Aretha agak berteriak.
Aretha pun segera mengambil wudhu dan setelah itu bergantian dengan Ghibran.
...***...