
Keesokan harinya, Ghibran sudah siap menjemput ibu Yuni untuk dia bawa ke rumah Aretha. Ghibran melajukan mobilnya menuju panti asuhan sambil di belakangnya ada mobil yang mengikutinya untuk membawakan beberapa barang yang akan dia bawa ke rumah Aretha.
Sampai di panti Ghibran di sambut anak anak panti, karena ini hari Minggu jadi anak anak pada libur sekolah.
"Assalamualaikum adik adik kakak." sapa Ghibran pada anak anak panti yang sudah berdiri di depan pintu.
"Waalaikum salam kak Ghibran." balas mereka kompak.
"Kita masuk yuk." ajak Ghibran.
Ghibran pun mengiring anak anak panti masuk ke dalam, dan dia akan meluangkan waktunya sebentar untuk main sambil menunggu ibu Yuni bersiap.
"Kita main yuk." ajak Ghibran.
"Ayok." balas mereka senang.
Mereka pun mengeluarkan semua mainan yang telah di sediakan oleh panti asuhan. Ada mobil mobilan, lego dan ada juga bongkar pasang untuk anak perempuan dan ada lagi yang lainnya.
"Kak Ghibran kak Ghibran." pangil salah satu dari anak panti.
"Iya Rafa kenapa?" balas Ghibran pada anak yang bernama Rafa.
"Kemaren Rafa waktu di sekolah di kasih tebak tebakan sama temen Rafa." curhat Rafa pada Ghibran.
"Oh ya! Apa tuh tebak tebakan nya, kak Ghibran mau tahu dong?"
"Tapi nanti kak Ghibran harus kasih jawaban ya."
"Iya nanti kalau kakak bisa pasti bakal kakak jawab."
"Doni punya tiga apel, dan dini minta 2 apel milik Doni. Pertanyaannya berapa sisa apel Doni?" tanya Rafa pada Ghibran.
Ghibran pura pura berfikir dengan sangat ekstra, padahal mah tanpa berfikir Ghibran sudah tahu jawabannya.
"Eemmm....berapa ya...." Ghibran berfikir sambil tangannya mengetuk ketuk dagunya.
"Ayo kak berapa?" tanya Rafa menunggu jawaban Ghibran.
"Aha... kakak tahu, jawabannya adalah satu. Benar kan?" jawab Ghibran.
"Salah." balas Rafa.
"Iya salah, jawabannya adalah tiga." balas Rafa membenarkan jawaban Ghibran.
"Kok tiga, kan yang dia udah di ambil sama dini."
"Kan Doni pelit jadi apelnya dia tidak kasih dini untuk mengambil apel miliknya." jelas Rafa membuat Ghibran melongo.
"Yeee Rafa menang kak Ghibran kalah." seru Rafa dan berlari lari karena saking senangnya dapat mengalahkan Ghibran.
"Bisa gitu ya." gumam Ghibran.
"Ghibran ayo kita berangkat, ibu sudah siap." ucap ibu Yuni yang sudah cantik dengan balutan gamis warna coksu.
"Oh iya Bu aku pamit sama anak anak dulu." balas Ghibran.
"Adik adik kakak, kak Ghibran sama ibu Yuni pamit pergi dulu ya, nanti kapan kapan kita main lagi." pamitnya Ghibran pada anak anak panti.
"Iya kakak, nanti kembali ke sini lagi kan?" tanya salah satu dari mereka.
"In syaa Allah nanti kakak ke sini lagi." balas Ghibran.
"Ya udah kakak sama ibu Yuni pergi dulu, Assalamualaikum." salam Ghibran.
"Ibu pergi dulu ya, kalian jangan nakal nakal sama mbak mbak." pamit ibu Yuni.
"Iya ibu." balas mereka semua.
"Assalamualaikum." salam ibu Yuni.
"Waalaikum salam." balas anak anak panti.
Ibu Yuni dan Ghibran pun berjalan keluar dari dalam panti, sampai di tempat mobilnya Ghibran membukakan pintu untuk ibu Yuni.
"Makasih nak." ujar ibu Yuni di balas senyuman manis oleh Ghibran.
Setelah itu Ghibran memutari mobilnya dan masuk ke dalam mobil. Mobil Ghibran berjalan meninggalkan pelataran panti menuju jalanan ibu kota yang padat lantaran hari Minggu.
...***...