
"Assalamualaikum Bi, Mi." salam Ghibran menghampiri Abi Umar dan Umi Fatimah yang tengah bersantai di belakang rumah.
"Waalaikum salam nak, ada apa?" balas keduanya.
Ghibran segera membuka ponselnya dan mencari sesuatu, setelah dapat dia tunjukkan kepada Umi serta Abi Umar.
"Innalilahi, ya Allah anak ku." kaget Umi Fatimah setelah membaca artikel yang Ghibran tunjukkan.
"Di mana kejadian itu nak, ayo kita ke sana." sambung Abi Umar.
"Di daerah X dekat dengan toko roti Aretha bi." jawab Ghibran.
"Abi ayo kita ke sana, kita cari Arthan bi." ajak Umi Fatimah yang sekarang sudah menangis.
"Umi yang sabar jangan panik seperti ini. Umi di rumah saja ya tungguin Aretha bangun, biar Abi pergi sama Ghibran aja, Umi tunggu kabar dari Abi saja." balas Abi Umar memberikan pengertian buat Umi Fatimah.
"Enggak Bi, Umi mau ikut cari Arthan." keras kepala Umi Fatimah.
"Umi, dengerin Abi. Umi di rumah saja biar kita bisa leluasa mencari Arthan. Umi sholat dan bantu doa supaya Arthan baik baik saja." tegas Abi Umar.
"Ayo Ghibran kita siap siap pergi." ajak Abi Umar.
"Baik bi, Umi Ghibran titip Aretha ya, nanti kalau Aretha bangun bilang saja kalau Ghibran lagi ke cafe. Umi jangan kasih tau dulu masalah ini sama Aretha, takut nanti dia syok." ucap Ghibran pada Umi Fatimah yang sudah agak tenang setelah Abi Umar menenangkan.
"Iya nak, kalian hati hati. Jangan lupa kasih kabar buat Umi." balas Umi Fatimah.
"Kamu jangan nangis lagi ya, lebih baik kamu banyakin berdoa sama Allah." ucap Abi Umar lembut.
"Iya Bi."
Abi Umar dan Ghibran pun pergi ganti baju untuk bersiap ke lokasi di mana tempat mobil Arthan jatuh.
-
Sementara itu, orang orang yang tadi mengejar Arthan pun mendapatkan hukuman dari bos mereka. Mereka di cambuki dengan membabi buta oleh bos mereka sendiri tanpa rasa kasihan.
"Dasar bodoh, kalian sudah membunuh calon pemimpin kalian sendiri. Kalian sudah tidak pantas untuk hidup di dunia ini."
Dor dor dor....
Suara tembakan menggema di ruangan itu. Dan satu persatu dari mereka meregang nyawa akibat tembakan yang tepat mengenai jantung mereka semua.
"Bereskan semua ini, dan cari Arthan sampai ketemu. Kalau sampai tidak ketemu, kalian akan bernasib sama seperti mereka." perintah psikopat itu pada anak buahnya yang lain.
"Ba-baik bos." balas mereka gagap.
Psikopat itu pun langsung pergi dari sana dan membiarkan anak buahnya membersihkan mayat mayat tak berguna dari mantan anak buahnya yang telah menyebabkan Arthan hilang.
-
Abi Umar dan Ghibran sudah sampai di lokasi kejadian, di sana sudah terpasang garis polisi dan ramai orang berkerumun.
"Permisi permisi, saya adik korban." ucap Ghibran memecahkan kerumunan agar memberikan dia dan Abi Umar jalan untuk melihat ke pinggir sungai.
"Ya Allah Ghibran, itu memang tas Ruby. Itu hadiah dari Aretha waktu ulang tahu Ruby satu tahun yang lalu." tak menyangka Abi Umar saat melihat dengan jelas tas yang di letakkan di atas aspal jalanan.
"Iya Bi Ghibran tahu, tadi waktu di mall Ghibran juga melihatnya." balas Ghibran.
"Permisi pak, apakah dengan keluarga korban?" tanya dua orang polisi yang menghampiri Ghibran dan Abi Umar.
"Iya pak, saya adik iparnya dan ini ayah salah satu korban." jawab Ghibran.
"Begini pak, setelah penelusuran kami kemungkinan besar rem mobil blog akibat cairan rem yang habis. Karena terlihat dari jalan yang sebelumnya mobil ini lewati terdapat tetesan air rem dan kemungkinan itu berasal dari mobil korban." jelas salah satu polisi.
"Ya Allah, kenapa engkau buat anak hamba menderita lagi setelah engkau pertemukan dia dengan keluarganya." ucap Abi Umar yang menyadari kalau ini adalah perbuatan seseorang.
"Sabar bi, Abi harus tenang biar kita bisa membantu mencari keberadaan bang Arthan." ucap Ghibran menenangkan Abi Umar.
"Terus sekarang apakah sudah di lakukan pencarian pak?" tanya Ghibran pada polisi.
"Sudah pak, para tim sar sudah mulai mencari. Namun karena sekarang debit air yang naik kemungkinan besar mobil sudah terseret sangat jauh dari lokasi kejadian." jelas polisi itu.
"Saya minta pencarian ini di tambah personilnya dan juga harus ada yang mulai mencari dari jauh agar lebih mudah menemukan mobilnya." pinta Ghibran.
"Baik pak, akan segera saya tambahkan. Kalau begitu kami permisi dulu." para polisi itu pun pergi dengan membawa barang-barang bukti yang ada, seperti tas dan juga ponsel yang di temukan warga tadi.
"Kita harus gimana nak, Abi bingung." tanya Abi Umar.
Benar Abi Umar memang tidak menangis sama sekali, tapi Ghibran tahu kalau Abi Umar tengah menahan diri agar dia tetap kelihatan kuat di mata orang orang. Tapi Ghibran tahu kalau Abi Umar tengah bersedih, terdengar dari nada suaranya.
"Abi yang tenang, Ghibran sudah menghubungi orang orang Ghibran untuk membawa perahu karet ke sini, biar kita bisa ikutan juga mencari bang Arthan." jawab Ghibran.
"Ayo kita pergi ke lokasi orang orang Ghibran dulu, mereka berada di jembatan dekat jalan raya." ajak Ghibran.
Mereka pun pergi untuk mencari Arthan dan juga Ruby. Arthan juga menyuruh Adam untuk datang ke kontrakan Ruby agar nanti bisa menemani adik Ruby yang pastinya akan menghawatirkan kakaknya.
-
"emmhh...." lengkuh Aretha mengerakkan tubuhnya.
"Loh Umi." kaget Aretha saat pertama yang dia lihat adalah Umi Fatimah.
"Kamu sudah bangun sayang."
"Mas Ghibran kemana mi?" tanya Aretha memandang ke seluruh penjuru kamar tapi tidak mendapati Ghibran di sana.
"Ghibran tadi pamit sama Umi katanya mau ke cafe, trus Umi di suruh jaga kamu, takut kalau kamu bangun nanti cariin dia." jawab Umi Fatimah.
"Kok gak pamit sama aku sih."
"Dia tadi buru buru, katanya ada klien yang mengajak dia kerja sama. Terus dia tadi mau bangunin kamu juga gak tega, soalnya kamu tidurnya pules banget." jelas Umi Fatimah.
"Ya udah yuk kamu bangun terus sholat ashar, udah sore ini." suruh Umi Fatimah.
"Iya mi." balas Aretha dan beranjak pergi ke kamar mandi.
"Maaf Umi sudah bohong sama kamu." lirih Umi Fatimah setelah tidak melihat tubuh Aretha yang sudah di telan oleh pintu kamar mandi.
Umi Fatimah pun beranjak pergi dari kamar Aretha, dia akan menunggu Aretha di ruang tengah saja sambil bersantai. Tak lupa dia juga mematikan sambungan internet dan saluran televisi agar Aretha tidak melihat berita tentang kecelakaan Arthan dan Ruby.
...***...